
Malam ini malam yang begitu indah, malam yang akan menentukan masa depan seorang pria yang dari tadi gugup bercampur dek dekan saat ia akan pergi ke tempat seseorang yang akan menentukan masa depannya.
Sampai makan saja tidak selera..karena kegugupnya yang dari tadi melanda hatinya. Pria itu tidak lain Fadil, Ya Fadil sedang bingung karena dia akan menemui orang yang akan menentukan masa depannya.
Apalagi ini kali pertama dia pergi kerumah orang itu yang membuat Fadil semakin dek-dekan.
" pakai baju apa ya." Ucap Fadil yang sedang memilih beberapa baju yang cocok untuknya
Sampai seluruh baju yang berada di ruangan itu hampir berhamburan karena ulah Fadil.
" Mungkin yang ini cocok." Ucap Fadil saat melihat baju yang menurutnya sangat cocok untuk pergi bertamu dengan orang itu.
Fadil mengambil kemejanya setelah itu mengatainya.
Baju yang terlihat begitu sangat sederhana tapi sangat cocok untuk Fadil saat ia memakainya.
Fadil tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin begitu sangat tampan tidak kalah dari abangnya Fazar.
Tapi, apakah dirinya akan di terima.
Pertanyaan itu selalu membuat Fadil takut, tapi
bukannya harus di coba dulu ya.
Fadil memegang dadanya yang berdegup sangat kencang karena rasa gugupnya yang kian melanda.
" Ayo Fadil." Ucap Fadil menyemangati dirinya sendiri." Huu" lalu mengatur detak jantungnya yang tidak karuan.
Setelah mengatur detak jantungnya yang tidak karuan Fadil keluar dari ruang ganti.
Melangkah mengambil kunci mobil yang berada diatas kasur.
Tapi baru saja dia berjongkok saat ingin mengambil kunci mobil yang berada diatas kasur. Terasa dari hidungnya yang terasa basah dan satu tetes darah berhasil jatuh diatas seprai. Untung saja seprai itu berwana hitam jadi tidak memperlihatkan darah yang mengenai seprainya.
" Ah kenapa malah berdarah sih." Ucap Fadil kesal lalu menutup hidungnya dengan kedua tangannya agar darah itu tidak berceceran di lantai karena hidungnya yang sedang berdarah karena mimisan. Dengan langkah cepat Fadil mengarah kekamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi, Fadil mengambil tisu yang berada dekat dengan wastafel. mengambil, membersihkannya, tapi semakin Fadil membersihkan darah itu semakin banyak darah yang keluar membuat tisu itu hampir setengah habis.
" Ya Allah ijinkan aku menyelesaikan misiku, baru lah engkau membawa ku pergi " Doa Fadil saat melihat dirinya dari kaca kamar mandi.
memperhatikan wajahnya yang tadi tampan kini seperti pucat bagaikan mayat.
Wajahnya yang pucat menandakan kalau dia sedang tidak baik baik saja. Apalagi darah yang keluar dari hidungnya itu sangat banyak membuat setiap orang akan merasa sangat panik jika melihatnya. Tapi tidak dengan Fadil yang selama ini merasakan hal ini hampir setiap saat yang membuat dirinya tidak membuatnya merasa panik sama sekali.
Fadil membasuh wajahnya yang bisa memperlihatkan wajah tampan yang sangat pucat, darah yang keluar bagaikan air kini sudah berhenti mengalir. Membuat Fadil tersenyum di balik wajah yang tampan bagaikan mayat berjalan itu.
Cinta yang selalu membuatku kuat.
__ADS_1
Kebahagiaanmu itu adalah obatku.
senyumanmu yang bisa membuatku kembali.
Rasa cinta itu akan tetap sama walaupun kamu bersama dengan orang lain. Aku bahagia jika bisa melihat dirimu bahagia bersama dengan orang yang bisa membuatmu bahagia. Kebahagiaan yang belum pernah kamu dapatkan, walaupun diriku nantinya akan pergi dan menjadi sebuah kenangan.
Tidak tahu kenapa kata-kata itu muncul
membuat Fadil tersenyum miris tentang kehidupan yang sekarang dia jalani.
apakah hidupnya akan singkat tanpa merasakan yang namanya cinta.
🍁🍁🍁🍁
Fadil yang sudah rapi untuk kedua kalinya,
karena kejadian tadi membuat Fadil harus mengganti bajunya untuk kedua kalinya.
baju yang tadi sangat susah untuk dicari tapi harus di ganti karena darah yang tadi jatuh di kemejanya membuat kemeja itu kotor. Walaupun warna kemeja itu gelap, tapi terlihat seperti kecoklatan akibat darah yang mengenai kemeja itu.
Fadil Menganti kemejanya dengan warna yang gelap. Takut kalau nanti dia harus mimisan lagi bajunya tidak akan terlihat kotor seperti tadi. kalau di bilang buat penjagaan takutnya akan seperti tadi.
Fadil sedikit menggulung lengan kemejanya sampai di bawah siku karena memang dia lebih suka seperti itu.
Setelah dirasa cukup, Fadil mengambil kunci mobil dan dompetnya, setelah itu Fadil melangkah keluar dari kamarnya untuk turun kebawah.
Walaupun mereka melakukan kegiatan mereka masing masing. Tapi keluarga itu tetap berkumpul seperti keluarga lainnya, karena mereka tahu kalau besok mereka akan memiliki kesibukan masing-masing.
Apalagi kita tidak tahu kalau kehidupan itu akan berakhir kapan. Bisa sajakan malam ini kita tidur dan pas bangun kita berada di mana.
Fadil melihat ibunya sedang asyik menonton Film, Fazri yang bermain ponsel, Sedangkan Fazar yang sedang memegang laptopnya.
Fadil yakin kalau Fazar pasti sedang mengerjakan pekerjaan kantornya yang entah kapan selesainya. Pekerjaan kantor yang selalu banyak membuat Fazar memiliki banyak tanggungjawab terhadap perusahaan
nya dan juga karyawan. Sekali saja Fazar lalai pasti akan ada musuh yang sedang mencari cara untuk menjatuhkan perusahaan Fazar dengan mudah.
" Bun, bang aku mau keluar." Ijin Fadil yang sudah berdiri diruang keluarga.
Mendengar suara dari Fadi, mereka yang tadi fokus dengan kegiatan mereka masing masing, Kini melihat kearah Fadil yang sudah terlihat rapi dan juga tampan tentunya.
" Mau kemana bang Fadil kenapa rapi banget." Tanya Fazri melihat penampilan Fadil yang terlihat rapi.
" Mau jalan." Jawab Fadil
" Jalan kemana, dil." Tanya bunda Sisi.
" Mau kerumah teman." Jawab Fadil memperlihatkan senyumnya yang paling manis.
__ADS_1
" Kerumah temankah atau kerumah Pacar." sambung Fazri sambil memberikan godaan membuat kedua alisnya menekuk keatas.
apalagi Fazri tahu kalau Abang keduanya ini sedang jatuh cinta atau hanya sekedar main-main saja.
" Tuh jawaban kedua kamu benar." Fadil membeberkan ucapan Fazri, membuat bunda Sisi membulatkan matanya tidak percaya mendengar ucapan dari Fadil barusan.
" Benar Dil " Tanya bunda sisi tidak percaya.
" Iya Bun.'' Jawab Fadil dengan senyuman yang masih tercantum di bibirnya." Doakan Fadil Bun biar sukses." Ucap Fadil kembali.
" bunda selalu mendoakan kamu nak" Jawab bunda Sisi." bunda senang banget akhirnya anak bunda sudah bisa jatuh cinta, padahal dulu paling anti sama yang namanya perempuan." ucap bunda Sisi dengan terkekeh kecil membuat Fadil hanya tersenyum membetulkan ucapan dari bunda nya itu,
Sedangkan Fazar yang berada di ruangan itu hanya menatap mereka dengan datar semua yang mereka katakan tanpa sedikitpun ia menjawab atau memberikan solusi.
" Jangan terlalu mencintai seseorang kalau belum halal. Karena belum tentu cinta mu itu semulus jalan tol." ucap Fazar yang berdiri dari duduknya melangkah meninggalkan mereka yang masih ada si ruang keluarga itu.
Sedangkan mereka hanya bisa melihat kepergian Fazar deng sedikit gelengan.
Mereka tidak marah atau menyalakan Fazar karena mereka tahu Fazar seperti itu karena masalalunya. Perubahan Fazar juga akibat cinta.
" Kalau gitu aku pergi dulu bunda takut kemalaman." Ijin Fadil.
" Iya Dil, hati-hati." Jawab bunda Sisi.
Fadil mendekati bunda Sisi, lalu mencium tangan bundanya itu.
" Iya Bun.'' Jawab Fadil dengan senyuman yang masih sama.
Fadil mendekati Fazri yang duduk disofa sambil melihat kearahnya.
" Semangat bang, semoga sukses." Ucap Fazri sambil mencium tangan Fadil.
" Iya Faz."
" Fadil pamit Bu, dek, assalamualaikum." Pamit Fazri yang melangkah keluar.
" Waalaikumsalam." Jawab bunda Sisi dan Fazri bersamaan.,
Fadil melangkah keluar dari rumah utama dengan riangnya, tidak luput dari senyuman manis yang masih menghiasi bibirnya itu.
Bersambung.
Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran.
Maaf author baru up. Soalnya ada tugas di dunia nyata yang ngga bisa author tinggal.
sampai sampai dunia halu terlupakan.
Makasih buat teman teman yang sudah mau mendukung author 🤗
__ADS_1
Salam manis dari author 🤗😊