Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 51


__ADS_3

Karena kejadian semalam membuat Fadil atau Fazar sama-sama tidak bisa tidur.


Fadil yang tidak bisa tidur karena merasa bersalah kepada abangnya karena ia telah bicara kasar sampai membentak abangnya itu.


Sedangkan Fazar tidak bisa tidur karena ucapan Fadil yang masih terngiang ngiang di kepalanya.


Dua manusia berbeda yang bersatu karena hubungan darah. Sama sama merasakan yang namanya rasa bersalah karena ulah mereka sendiri. Andai waktu bisa diputar pasti mereka tidak akan mau mengulang kelakuan yang membuat orang-orang sakit hati atau merasa kecewa karena ucapan mereka yang tidak bisa menjaga lisan atau amarah mereka sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi waktu memang tidak bisa di putar yang membuat mereka hanya bisa berandai-andai dalam kenyataan.


Flashback Off.


Mengingat itu Fadil hanya bisa kesal tapi bersyukur karena amarahnya membuat keluarganya bisa berkumpul dan abangnya bisa kembali kerumah utama untuk menemui sang bunda karena selama tiga tahun Fazar menghindar akhirnya mereka kembali berkumpul yaitu dua bulan yang lalu.


" Iya bang aku ulang lagi bakar." Ucap Fadil saat melihat tatapan dari Fazar.


Fadil tahu kalau abangnya itu pasti kesal karena tadi ia makan sate yang mereka buat padahal ia baru saja datang tapi langsung makan saja sedangkan orang yang membuat semua sate dengan usaha mereka belum merasakannya.


" Bagus bikin yang banyak." Ucap Fazri ketus.


" Iya, aku akan bikin yang banyak sampai satu rumah bisa merasakannya.'' Ucap Fadil sombong.


" Orang cuman bikin sate.'' Ucap Fadil kembali..


" Emangnya bisa pakai alat ini." Tanya Fazri sambil memperlihatkan alat tradisional khusus untuk membakar sate.


" Bisa." Jawab Fadil yang mulai sombong.'' Cuman alat tradisional saja, itu tidak sulit." Ucap Fadil kembali melangkah mendekati alat tradisional itu untuk membantu membakar sate.


" Awas hangus." Cibir Fazar.


" Enggalah bang." Jawab Fadil yakin yang terus mengipasi sate.


Keluarga itu hanyut dalam kebersamaan mereka, yang selama tiga tahun ini menghilang karena masalah.


🌾🌾🌾


Tidak terasa siang kini berganti menjadi malam, siang yang tadi panas dan terang kini berganti dengan gelapnya malam dan dingin karena suasana malam. Malam yang cerah dengan bulan yang menerangi bintang ikut terlihat karena sinar dari rembulan itu.


Malam yang begitu indah yang akan menggantikan hari esok.


Hari esok yang sudah menuliskan sebuah takdir untuk seseorang karena permainan kehidupan yang kita jalani. Melewati dengan ikhlas setiap ujian yang kita dapatkan, yang akan membuahkan hasil di kemudian hari dan akan ada keindahan karena kesabaran itu.


.


.


Kediaman Haidar.


Keluarga Haidar sekarang sedang berkumpul di ruang keluarga, meluangkan waktu mereka dengan cara berkumpul.


Setiap selesai makan malam, Haidar dan keluarga kecilnya akan berkumpul di ruang keluarga. Walaupun hanya sebentar tapi keluarga itu akan meluangkan waktu. Untuk berbincang bincang atau hanya menemani kedua anaknya dan juga Wiyah yang sedang mengerjakan tugas mereka.


Seperti malam ini sedang tidak ada perbincangan karena mereka fokus ketugas mereka masing-masing.


Haidar yang sedang menonton televisi, Windi yang sedang menemani Fanesya yang tertidur, Rafa dan Rafi yang sedang belajar karena besok adalah ulangan. Sedangkan Wiyah yang sedang mengerjakan tugas kampus dadakan dari dosennya.


" Acil Wiyah." Panggil Rafa dan Rafi bersamaan.


" Iya, kenapa, Rafi, Rafi." Jawab Wiyah yang masih memfokuskan pandangannya kearah layar laptop sedangkan tangannya sedang mengetik.

__ADS_1


" Acil tolong bantu kami mengerjakan soal matematika." Ucap Rafa.


Wiyah melihat kearah Rafa dan Rafi yang sedang memegang buku pelajarannya.


" Kata ayah, Acil Wiyah bisa mengerjakan tugas matematika." Sambung Rafi.


Wiyah memutar pandangannya kearah Haidar yang sedang melihat kearahnya dengan senyuman meminta bantuan.


" Oke Acil, bantuin, tapi Rafa dan Rafi harus memperhatikan bagaimana acil ngerjain tugasnya.'' Ucap Wiyah dengan tersenyum.


Wiyah menutup laptopnya lalu menggesernya sedikit, agar dia bisa leluasa membantu Rafa dan Rafi untuk mengerjakan tugas mereka.


" Baik cil." Jawab Rafa dan Rafi membuat mereka duduk dekat dengan Wiyah,


Wiyah mulai mengajarkan Rafa dan Rafi bagaimana caranya mengerjakan matematika dengan mudah.


" Sulit banget cil." Keluh Rafi yang mulai pusing mendengar semua penjelasan dari Wiyah apalagi soal matematika.


" Ngga sulit Rafi, cuman Rafi kurang fokus saja makanya sulit.'' Jawab Wiyah melihat kearah Rafi yang memasang muka cemberutnya.


" Iya cil, Rafi ngga fokus makanya nggak bisa.'' Cibir Rafa." Orang hanya pengurangan sama perkalian tapi kamu ngga bisa." Ucap Rafa kembali membuat Rafi semakin cemberut.


" Udah-udah, lanjutan kita lanjutkan lagi tugasnya.'' Lerai Wiyah karena Wiyah tahu tidak akan ada ujungnya jika perdebatan itu dimulai


Wiyah mulai mengajari Rafa dan Rafi dari menghafal, sampai cara pengurangannya yang sering di kerjakan oleh anak kelas tiga.


apalagi Rafa dan Rafi yang mau masuk kelas empat membuat keduanya harus bisa menghafalkan matematika. Menurut Wiyah muda tapi bagi anak yang seumuran mereka itu sangat sulit.


" Sudah ngerti.'' Tanya Wiyah.


" Ngga cil. Tapi insyaallah ngerti." jawab rafi.


" Kalau Rafa" Tanya Wiyah menatap kearah Rafa.


Wiyah yang melihat senyuman itu hanya bisa menggeleng kecil.


" Acil kasih tugas untuk Rafa dan Rafi, terus kalian kerjakan ya." Wiyah mulai menuliskan beberapa pelajaran yang mudah dikerjakan dan di mengerti oleh anak anak seusia keduanya.


" Dan Acil kasih waktu satu jam untuk mengerjakannya, kalau berhasil nanti acil ajak jalan jalan sama traktir nasi goreng." Ucap Wiyah kembali yang mendapatkan mata berbinar-binar dari kedua anak keponakannya.


" Benar cil." Tanya Rafa dan Rafi antusias membuat Wiyah mengangguk.


" Iya, nanti Acil traktir." Jawab Wiyah.


Mendengar jawaban dari Wiyah. Rafa dan Rafi mengambil tugas yang Wiyah berikan dan langsung mengerjakannya dengan semangat.


sedangkan Wiyah kembali ketugasnya kuliahnya.


Semua apa yang Wiyah lakukan tidak luput dari tatapan Haidar. Membuat Haidar tersenyum ternyata adiknya itu semakin hari semakin dewasa lihatlah kesabarannya menghadapi anak-anaknya selama ini.


" Acil.'' Panggil Rafi.


" Iya Rafi kenapa." Jawab Wiyah yang masih menfokuskan pandangannya kearah laptop.


" Kenapa sih acil pintar betul." Tanya Rafi memasang muka polosnya.


Wiyah yang fokus kearah laptop memalingkan pandangannya dari laptop melihat kearah Rafi karena pertanyaan tadi. Begitupun dengan Rafa dan Haidar yang melihat kearah Rafi dengan muka polosnya


Wiyah tersenyum." Karena acil rajin belajar Rafi " Jawab Wiyah seadanya.

__ADS_1


" Tapi Rafi belajar ngga pintar pintar.." Tanya Rafi lagi. membuat mereka yang berada di ruangan itu terkekeh.


" Kadang dewasa kadang polos ya kamu nak.'' Sambung Haidar sambil terkekeh.


" Rafi bukan ngga pintar, cuman Rafi harus lebih giat lagi dalam belajarnya biar cepat pintarnya." Jelas Wiyah " Acil juga dulu kaya Rafi, merasa ngga pintar pas lagi ngerjain tugas."


" Masa cil." Wiyah mengangguk.


" Karena Acil berusaha untuk terus belajar supaya pintar." Jelas Wiyah lagi.'' Malahan dulu acil paling susah ngerjain matematika, tapi karena Acil berusaha untuk belajar. Alhamdulillah acil bisa dan malahan acil yang paling suka kalau di suruh ngerjain matematika "


" Belajar itu memang susah tapi kalau di bawah happy di jamin belajar itu menyenangkan." Ucap Wiyah kembali membuat Rafa, Rafi mengangguk.


" Kalau gitu lanjutkan pelajarannya nanti keburu satu jamnya habis entar ngga acil traktir." Suruh Wiyah.


" Oke cil, siap di laksanakan." Jawab keduanya yang kembali ke posisi untuk mengerjakan tugas yang Wiyah berikan.


Itung-itung mengajari mereka walaupun Wiyah sendiri memiliki tugas membuatnya harus tetap fokus mengerjakan tugasnya. Tapi karena besok ulangan matematika mau tidak mau Wiyah harus membagi tugasnya dan juga waktu untuk bersama dengan anak keponakan kesayangannya itu. Agar bisa membantu mereka walaupun dia sendiri sedang sibuk.


Setelah merasa aman dengan Rafa dan Rafi, Wiyah kembali ke tugasnya lagi tugas dadakan dari dosen. Untungnya Wiyah bisa mengerti tugas yang dosennya berikan. Kalau tidak mungkin dia akan bingung sendiri.


Ruang tamu itu kembali hening, hanya suara telivisi dan suara laptop yang menjadi terdengar. Karena orang yang berada di ruang keluarga itu sedang fokus ke tugas mereka masing masing


Sampai suara ketukan pintu membuat mereka mengalihkan pandangan mereka ke sumbernya suara.


Tok,


Tok,


Tok,


Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.


" Biar Kakak saja yang buka dek." Ucap Haidar saat melihat Wiyah akan berdiri dari duduknya.


" Kamu lanjutkan kerjakan tugas mu." Ucap Haidar yang mendapatkan anggukan dari Wiyah.


" Siapa yang datang mas." Tanya Windi yang baru keluar dari kamar.


" Ngga tahu sayang, mungkin ada teman mas yang mau datang berkunjung, apalagi ini belum malam betul karena baru selesai solat Isya " Jawab Haidar yang melangkah kearah ruangan tamu.


Karena seperti biasanya setiap habis salat Isya, pasti akan ada tamu yang datang bertemu sebatas teman atau yang lain.


Windi kearah belakang untuk mengambil beberapa camilan dan air minum. Sedangkan Haidar kembali kearah depan untuk mengecek siapa yang datang.


Sesampainya didepan pintu Haidar seperti mengenal suara dari orang itu.


" Siapa ya kaya ngga asing suaranya." Gumam Haidar sambil membukakan pintu untuk mengetahui siapa yang datang berkunjung ke rumahnya.


" Tuan." Ucap Haidar tergagap gagap setelah membuka pintu dan melihat siapa orang yang datang bertamu di rumahnya. Melihat orang di hadapannya membuat Haidar gugup, tapi berusaha untuk di tutupi.


Mata Haidar tidak percaya membuatnya gugup saat berhadapan dengan orang yang berada di hadapannya itu.


" Assalamualaikum Pak."


Bersambung.


Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran. Maaf author baru bisa up karena terlalu banyak kesibukan di dunia nya membuat author susah untuk up setiap saat.


apalagi suasana hati yang tidak menentu

__ADS_1


membuat malas untuk menulis. Buat teman teman makasih udah mau mampir πŸ€—


salam manis dari author πŸ˜‰.


__ADS_2