Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 44


__ADS_3

Wiyah membuka pintu Rafa dan Rafi yang masih nyenyak dalam tidurnya.


" sudah setengah delapan tapi keduanya masih tidur." Ucap Wiyah yang berdiri di ambang pintu sambil melihat Rafa dan Rafi yang masih tidur dengan nyenyaknya.


" Rafa, Rafi bangun ini udah siang." Wiyah yang sudah duduk di pinggir kasur Rafa dan Rafi. Sambil menggoyang goyangkan tumbuh mereka satu persatu.


" Iya cil bentar lagi." Jawab Rafa yang masih setia menutup matanya.


" Acil ini juga baru jam enam dikit lagi ya." Sambung Rafi yang masih tidur.


Wiyah menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya." Ya sudah kalau ngga ada yang bangun, entar makanan yang Acil buat, Acil makan sendiri.'' Ucap Wiyah sambil berdiri dari duduknya.


Mendengar kata makanan membuat Rafa Rafi bangun dari tidurnya.


" lya Acil ini kami udah bangun." Ucap keduanya sambil duduk diatas kasur dengan mata yang terpejam.


" Kalau gitu kalian mandi, terus kumpul di meja makan, Acil tunggu ya." Suruh Wiyah melihat kearah Rafa dan Rafi


" Iya Acil." Jawab keduanya mendengar jawaban dari keduanya Wiyah tersenyum sambil melangkah keluar meninggalkan kamar Rafa dan Rafi.


" Kak Windi baru bangun." Tanya Wiyah yang sudah berada di dapur melihat kalau Windi sedang membuat kopi.


" Iya dek." Jawab Windi sambil melihat kearah Wiyah.


Tidak berselang lama, Haidar, Rafa, Rafi dan juga Fanesya sudah berkumpul di meja makan.


Mereka menikmati makanan yang di buat oleh Wiyah yang selalu terasa enak dan pas dilidah mereka.

__ADS_1


" Masakan acil selalu enak." Puji Fanesya di sela sela sedang mengunyah makanannya. Semua yang berada di meja makan mendengar pujian yang Fanesya berikan mengangguk menyetujui apa yang Fanesya ucapkan barusan.


" Makasih Fanesya atas pujiannya." Jawab Wiyah sambil tersenyum ramah dan kembali melanjutkan makannya.


Haidar dan Windi yang melihat senyum Wiyah


ikut senang. Apalagi ketiga anak mereka seperti obat yang akan membuat Wiyah tersenyum terus.


" Aku bersyukur paman tidak datang satu bulan yang lalu untuk menceritakan rahasia perpisahan mereka. Jika saja paman datang mungkin senyuman Wiyah akan hilang satu bulan yang lalu dengan luka lama yang kembali terbuka." Batin Haidar Yang terikat telfon dua bulan yang lalu,


" Semoga senyum mu tidak akan hilang Wiyah."


batin Windi yang ikut tersenyum melihat Wiyah yang sedang tersenyum senang seperti tidak ada beban dalam kehidupnya.


Windi dan Haidar mulai melihat perubahan yang Wiyah perlihatkan walaupun sedikit tapi Wiyah mulai berubah seperti dulu saat orang tuanya masih bersama.


Wiyah akan berubah walaupun sedikit, Tapi dia senang kalau adik sepupunya itu berubah seperti dulu, wiyah mulai terbuka dan tidak menyendiri lagi seperti beberapa tahun yang lalu.


Biasanya Haidar atau Windi selalu melihat Wiyah yang senang termenung sendiri atau menangis secara diam selama tiga tahun terakhir. Tapi berbeda dengan dua bulan ini selama Haidar menceritakan rahasia orang tua Wiyah. Kenapa mereka sampai berpisah. Walaupun didalam cerita itu ada kebohongan tapi dengan cerita itu membuat Wiyah berubah dan Wiyah juga sedang berusaha untuk menerima perpisahan kedua orang tuanya dengan ikhlas.


Tapi Haidar dan windi tidak tahu kalau Wiyah yang berusaha untuk ikhlas menerima perpisahan kedua orang tuanya masih menyimpan kesedihan dan rasa rindu terhadap keluarganya. Wiyah sering menangis secara diam seperti tadi tanpa Windi atau Haidar tahu.


Tapi kalau mereka tahu Wiyah masih menangis secara diam mungkin Haidar dan windi akan merasa sedih melihat kesedihan Wiyah karena perpisahan kedua orang tuanya.


🌹🌹


Selesai sarapan pagi, Wiyah kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke pasar

__ADS_1


Karena hari ini hari Minggu Wiyah akan pergi ke pasar untuk membeli bahan bahan dapur yang mulai habis.


Biasanya satu Minggu sekali Wiyah atau Windi pergi ke pasar untuk membeli bahan bahan dapur yang mulai habis. Sepertinya sayuran atau yang lainnya.


Dengan mengunakan gamis hitam berpadu dengan jilbab abu abu yang menutup dari atas sampai kebawah untuk menutupi sebagian tubuh Wiyah, Terlihat sederhana tapi tetap memperlihatkan kecantikan natural dari Wiyah.


Di rasa tidak ada yang tertinggal.


Wiyah melangkah keluar sambil membawa tas yang tergantung indah di pundaknya.


Hari ini Wiyah akan pergi sendiri kepasar. Karena Windi dan Haidar, bersama ketiga anak mereka sedang keluar untuk pergi kerumah Kakak dari Windi.


Dengan langkahnya Wiyah meninggalkan rumah Haidar yang terlihat sepi karena orang rumah hampir semuanya pergi.


" Permisi Bu, nek" Ucap Wiyah dengan senyuman ramahnya saat melewati nenek dan seorang wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan ibunya.


" Iya nak, silahkan." Jawab mereka membalas senyuman dari Wiyah.


Untuk sampai tempat dimana Wiyah sering menunggu angkot Wiyah harus berjalan kaki agar sampai di tempat itu.


Tapi langkahnya di hentikan oleh mobil putih yang berhenti di sampingnya dan Wiyah kenal siapa pemilik dari mobil di sampingnya.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya


biar author makin semangat buat up.

__ADS_1


kalau cerita author kurang bagus silakan di keriting teman teman.


__ADS_2