Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 11


__ADS_3

Ya, ke jadian tiga tahun yang lalu masih terngiang-ngiang di ingatan Wiyah, bagaimana tidak setelah Wiyah berpisah dengan kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu dan Sampai sekarang dia tidak pernah bertemu kembali dengan kedua orang tuanya Termasuk saudaranya. Entah kemana mereka pergi sampai tidak memberikan dia kabar sama sekali.


" Sepertinya aku terlalu lama terbang ke masa lalu sampai sampai membuat ku lupa dengan waktu, aku ngga sadar kalau sekarang sudah jam 05:44." Gumam Wiyah yang melihat ke arah jam.


Wiyah mengambil jilbab yang sudah ada di sampingnya lalu mengenakannya. Setelah itu dia keluar dari kamar menuju dapur. disaat Wiyah melangkah kearah dapur dia sudah melihat Kakak iparnya yang sudah bergulat dengan wajan penggorengan.


Wiyah mendekati Windi lalu memeluknya dari belakang sedangkan dagunya dia simpan di atas bahu Windi. Kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang Windi.


Windi yang mendapat pelukan dadakan membuatnya begitu sangat terkejut." Astaghfirullah, Wiyah bikin kaget Kakak saja kamu." Ucap Windi terkejut yang kini mengusap dadanya karena kaget.


Wiyah terkekeh." Maaf, kakak." Ucap Wiyah yang masih memeluk Windi. Wiyah merasa Windi seperti orang tua kedua bagi Wiyah. Karena selama ibu Wiyah pergi hanya Windi yang bisa menjadi tempat dia bersandar untuk bermanja-manja seperti yang di lakukan pagi ini. Merasa kalau Windi seperti ibu yang dia rindukan.


" Kakak, lagi masak apa." Tanya Wiyah


" Masak nasi goreng." Jawab Windi sambil mematikan kompornya.


" Nasi goreng saja." Tanya Wiyah


" Iya, Emangnya kami mau makan apa." Tanya Windi melepaskan pelukan Wiyah lalu berbalik menghadap Wiyah.


" Wiyah maunya makan sup." Jawab Wiyah yang kembali memeluk Windi.


" Iya, nanti kita bikin, bayi besar." Canda Windi.


" Masa aku di bilang bayi besar." Rengek Wiyah tidak terima." Orang aku bisa bikin sendiri koh." Jawab Wiyah kembali.


" Iya, iya. Bukan bayi besar tapi kenapa masih peluk peluk." Tanya Windi yang membuat Wiyah melepaskan pelukannya.


" Masa ngga boleh peluk." Jawab Wiyah memasang wajah sedihnya.


" Boleh, tapi ngga disini juga." Ucap Windi menarik hidung Wiyah.


" Nanti kalau di lihat sama 2R bisa bisa Meraka ketawa nantinya. Entar 2R bilang masa Acil Wiyah masih suka peluk peluk bunda." Sambung pria yang berdiri di ambang pintu dapur sambil menyilangkan tangannya di atas dada sedangkan kepalanya ia sandarkan ditembok.


Wiyah dan Windi yang mendengar jawaban dari Haidar tidak terkejut. Karena Haidar tidak pernah berubah selalu datang seperti jelangkung, Datang tidak di undang pulang tidak di antar.


" Kak Idar kalau datang itu jangan sambung sambung ucapan orang, engga sopan." Tegur Wiyah sambil melihat kearah Haidar.


Sedangkan Haidar hanya terkekeh. mendengar ucapan sang adik." Hehehe, Maaf Maaf, Soalnya udah terbiasa." Jawab Haidar dengan terkekeh.


" Jangan di biasakan mas, nanti jadi tambah kebiasaan." Sambung Windi Menegur suaminya itu.


" Iya sayang, Nanti mas engga ulangi lagi." Jawab Haidar sambil melangkah mendekati Windi, lalu merangkul punggung Windi.


" Ehem." Wiyah berdehem." Ingat di dapur masih ada anak kecil." Sindir Wiyah sambil tersenyum.


" Iya dik, Kaka tau." Jawab Haidar yang melepaskan rangkulannya. Sedangkan Windi hanya tersenyum karena melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil. Yang selalu usil dan jahil.


" dik kalau gitu kamu siapin makanannya di meja meja." Suruh Windi menatap kearah Wiyah." Kakak mau bangunin 2R dan Fanesya." Ucap Windi.


" Oke kakak " Jawab Wiyah sambil memberikan jempol kearah Windi.


Windi pergi bersama dengan Haidar meninggalkan Wiyah di dapur yang sedang menyiapkan makanan.


Lima belas menit kemudian semua sudah berada dimeja makan.

__ADS_1


Windi yang sedang melayani Haidar dengan cara menyiapkan makanan untuk Haidar. Sedangkan Wiyah membantu menyiapkan makanan untuk ketiga keponakannya dan terakhir untuk dirinya. Mereka makan dengan tenang tanpa bersuara hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling berbenturan memecahkan keheningan dimeja makan itu. Sampai mereka menyelesaikan sarapan paginya dengan tenang.


" dik." Panggil Haidar melihat kearah Wiyah.


" Iya kak." Jawab Wiyah ikut melihat kearah Haidar.


" Apa kamu akan kuliah sambil bekerja." Tanya Haidar.


" Iya Kak Idar, aku akan kuliah sambil berkerja." Jawab Wiyah.


" Apa kamu ngga capek nanti, Kuliah sambil berkerja, takutnya nanti waktu kuliah kamu ngga ada dan lebih banyak waktu kamu untuk bekerja daripada dengan kuliah." Tanya Haidar.


" Insyaallah ngga Kaka, aku juga kerja ngga berat juga koh." Jawab Wiyah kembali." aku juga bisa bagi waktu kerja dan kuliah." Ucap Wiyah kembali.


" Apa kamu ngga bisa fokus kuliah saja." Sambung Windi yang dari tadi mendengarkan obrolan keduanya.


" Ngga Kak Windi. aku Ngga bisa cuman fokus kuliah saja, aku juga harus kerja." Jawab Wiyah.


" Kenapa. Apa kamu takut masalah biaya, bukanya kamu mendapatkan beasiswa. Walaupun kamu tidak mendapatkan beasiswa, Kakak juga masih sanggup untuk membiayai kuliahmu, karena itu tangung jawab kakak sebagai seorang Kakak." ucap Jabir.


" Aku tidak takut dengan masalah biaya." Jawab Wiyah." Hanya saja aku sudah terbiasa untuk bekerja, jadi biarkan aku untuk bekerja sambil kuliah." Ucap Wiyah menatap keduanya.


" Tapi kamu bisa fokus kuliah tidak usah berkerja." Ucap Haidar.


" Iya dek. Kamu bisa fokus kuliah saja tidak usah berkerja." Sambung Windi kembali


" Maafkan aku, Kakak idar Kakak Windi, bukanya aku menolak permintaan kalian tapi aku tidak mau semakin menyusahkan kalian, jadi biarkan aku kuliah sambil bekerja." Jawab Wiyah mencoba menyakinkan kedua Kaka nya itu.


" Tapi dek." Ucap Windi terpotong.


Wiyah mengatakan dia tidak mau menyusahkan Haidar dan Windi. Walaupun mereka masih sanggup untuk membiayai Wiyah Tapi mendengar penolakan dari Wiyah membuat mereka mengangguk menyetujui permintaan dari Wiyah. Mau tidak mau Haidar membiarkan Wiyah bekerja dari tiga tahun yang lalu dan sampai sekarang Wiyah tetap bekerja, syukur bos Wiyah mengerti tentang Wiyah dan membiarkannya bekerja sambil bersekolah. Sampai sekarang Wiyah tetap bekerja ditempat itu.


" Makasih kakak Idar." Ucap Wiyah tulus. " Insyaallah aku tidak maksain diri untuk berkerja." Ucap Wiyah kembali sambil tersenyum. Sedangkan Haidar dan Windi hanya menanggapinya dengan senyuman.


" Ya sudah kita beres-beres. Nanti kamu telat kerja loh." Ucap Windi yang berdiri dari duduknya untuk membersihkan piring yang berada di atas meja yang dibantu Wiyah.


" 2R sama kamu biar ayah aja yang bantuin ganti bajunya." Tawar Haidar melihat ke marah kedua putranya itu.


" Emangnya ayah tau kami hari ini menggunakan seragam apa." Tanya Rafa melihat kearah ayahnya itu.


" Ayah tau." Jawab Haidar. Walaupun dia sendiri juga bingung seragam apa yang akan di gunakan oleh anaknya hari ini karena biasanya juga Windi yang menyiapkan semuanya.


" Apa." Tanya Rafi melirik ayahnya itu.


" see_seragam coklat." Jawab Haidar ngasal karena memang dia tidak terlalu tahu dengan hal itu.


" Ayah salah. Biasanya abang kalau hari Senin pakai baju merah putih." Sambung Fanesya gadis kecil berusia 4 tahun itu dengan suara cendelnya.


" Adik salah juga. Hari ini abang pakai baju bantik, karena hari ini hari Kamis." Sambung Rafi yang menyalahkan jawaban dari adiknya itu.


" Rafi salah juga, hari ini hari Jum'at, jadi kita pakai baju olahraga." Jawab Rafa yang sama sama menyalahkan ketiganya.


" Iyakah, bang adik ngga tau." Tanya Rafi bingung.


Sedangkan Wiyah dan Windi yang menyaksikan perdebatan kempatnya hanya bisa geleng-geleng karena jawaban mereka semu salah termaksud Haidar.

__ADS_1


" Semua jawaban kalian salah, hari ini, hari Rabu, dan Abang menggunakan seragam kotak-kotak." Sambung Windi yang membuat ke empatnya berhenti berdebat.


" Iyakah bunda." Tanya ketiganya tidak percaya. Windi hanya menganggukkan kepalanya membenarkan.


" Jadi kita bertiga salah bunda." Tanya Fanesya dengan Wajah polosnya.


Windi hanya mengangguk." Iya, kalian bertiga salah, Termasuk ayah." Jawab Windi.


" Jadi hari ini hari Rabu sayang kenapa ngga bilang sama mas." Ucap Haidar yang mulai panik sendiri.


Windi bingung melihat suaminya itu panik." Emangnya kenapa mas." Tanya Windi bingung yang melihat suaminya itu panik.


" Sayang hari ini di kantor mas, akan kedatangan bos mas yang dari luar negeri, jadi kami karyawan diminta untuk datang lebih cepat lagi untuk menyambut kedatangan bos kami." Jawab Haidar." Jadi bantu mas menyiapkannya semuanya sebelum mas telat." Ucap Haidar kembali sambil berdiri dari kursinya dan bergegas pergi ke kamarnya.


" Cepat sayang." panggil Haidar dari arah ruang keluarga.


" Iya mas." Jawab Windi yang pergi menyusul suaminya." Dek tolong bereskan semuanya, Kakak mau bantu mas Haidar dulu." Ucap Windi menoleh kearahnya Wiyah hanya mengangguk setuju.


Setelah Windi pergi di susul ketiga anak ponakannya Wiyah membereskan dan merapikan dapur. Setelah menyelesaikan semuanya. Wiyah melangkah pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap untuk berkerja.


Mengganti bajunya dengan baju yang bisanya ia pakai saat bekerja.


Setelah di rasa tidak ada yang tertinggal, Wiyah bercermin memoleskan sedikit bedak tabur di wajahnya dan juga lipstik di bibirnya agar tidak terlihat pucat. Di rasa semua sudah cukup Wiyah mengambil satu pasangan baju syar'i dan memasukkannya di dalam tas. Menyiapkan baju untuk dia pergi kuliah nanti.


Dengan gamis biru tua dan juga jilbab abu abu sedikit polesan bedak membuat Wiyah semakin terlihat cantik, Walaupun terlihat sederhana baginya tapi di mata kaum adam Wiyah begitu cantik kerena kesederhanaannya itu.


Wiyah melangkah keluar dari kamar mendapati Windi yang sedang duduk di sofa sambil melihat Fanesya yang sedang asyik bermain. Saat Windi mendengar pintu kamar Wiyah terbuka Windi berdiri dari duduknya melangkah mendekati Wiyah.


" Dek, kata mas Haidar dia ngga bisa ngantar kamu, karena mas sudah mau terlambat, jadi mas Antar 2R saja." Ucap Windi tidak enak, karena biasanya Wiyah akan selalu di antar Haidar, tapi hari ini Haidar tidak bisa mengantarkan Wiyah karena hari ini Haidar harus cepat cepat datang di perusahaan untuk menyambut bos baru mereka yang terkenal dingin baru saja datang dari luar negeri.


" Iya Kakak. Engga apa apa, Kerjaan aku dekat saja kalau jalan kaki cuman dua puluh menit saja aku udah sampai. Aku juga bisa berjalan kaki." Jawab Wiyah sambil tersenyum.


" Atau biar Kaka antar aja." Tawar Windi membuat Wiyah menggeleng.


" Engga usah Kakak, Wiyah bisa jalan kaki sendiri, kerjaannya dekat saja." Jawab Wiyah mencium punggung tangan Windi.


" Yakin nih ngga mau di antar." Tanya Windi kembali. Wiyah hanya mengangguk.


" Yasudah kalau gitu kamu hati hati ya kalau kerja, jangan lupa ingat kuliahnya." Ucap Windi kembali sambil mengingatkan.


" Iya Kakak, aku akan ingat pesan kakak." Jawab Wiyah." Kalau gitu aku berangkat kerja dulu sambil kuliah, Assalamualaikum." Pamit Wiyah melangkah keluar dari rumah.


" Waalaikumsalam, hati hati dek jangan lupa makan." Teriak Windi karena melihat Wiyah yang sudah keluar dari rumah.


" Iya Kaka, aku akan ingat itu." Jawab Wiyah memundurkan langkahnya melihat kearah Windi sambil melambaikan tangannya. Windi Juga melakukan hal yang sama seperti Wiyah.


Wiyah pergi sambil berjalan kaki. Wiyah melihat banyak genangan air yang di sebabkan hujan semalam yang membuat setengah jalan. tertutup oleh genangan air. Wiyah terus melangkah dengan riang walaupun dalam hati merasa sedih. Sampai mobil putih melaju kencang melewati genangan air yang ada di samping Wiyah yang membuat genangan air itu mengenai baju Wiyah. Akibat cipratan genangan air yang di lewati mobil itu.


" Astaghfirullahaladzim." Kaget Wiyah yang melihat bajunya basah karena terkena cipratan air.


Sedangkan mobil yang tadi melaju kencang berhenti dan keluar seorang pria sambil berlari mendekati Wiyah.


" Masya Allah." Ucap pria itu saat sudah mendekati Wiyah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2