Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 57


__ADS_3

Sedangkan di ruang tamu tampak sunyi karena keduanya hanya saling diam mereka sama sama canggung berada di posisi ini, sampai Fadil berdehem membuat ruangan yang tadi hening kini kembali bersuara walaupun hanya Fadil yang berdehem.


" Aku tahu kalau kamu, Pasti bingung dengan aku bukan." Fadil duluan membuka pembicaraan karena dia tahu, kalau mereka hanya diam saja pasti tidak akan selesai urusannya.


" Kita yang baru berkenalan dua bulan yang lalu, itupun hanya sebagai teman. Tapi hari ini aku datang dengan maksud tertentu, yaitu melamar mu.


Tapi Wiyah, aku benar benar serius dengan maksud kedatanganku kerumahmu karena datang hanya ingin melamar kamu. Aku ingin kamu menjadi sahabatku, bukan hanya kata sahabat melainkan lebih dari kata itu." Jelas Fadil menjelaskan kenapa ia datang kerumah Wiyah malam ini. Sedangkan Wiyah hanya diam tidak menjawab mendengar ucapan dari Fazar.


Wiyah Bingung harus menjawab apa. Apakah iya atau tidak, dalam posisi seperti ini dia mempunyai kebingungan sendiri.


ketika hati dan pikiran yang harus memilih.


Ketika hati mengatakan tidak, kerena kamu tidak mempunyai perasaan padanya.


sedangkan pikiran mengatakan, terima saja karena dia temanmu. Masalah hati bisa di atur nanti.


Dalam hati dan pikiran saling beradu, karena mereka memiliki pilihan tersendiri. Tapi Wiyah tidak bisa memilih keduanya.


" Jika Wiyah tidak bisa menjawab sekarang. Kamu bisa menjawabnya nanti." Ucap Fadil yang seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Wiyah sekarang." Saya akan menunggu apapun jawaban darimu Wiyah. " Ucap Fadil sambil tersenyum. Wiyah bisa melihat kalau Fadil sedang tersenyum kearahnya.


Melihat senyuman itu, membuat Wiyah merasa begitu bersalah kepada pria yang berada di hadapan. Pria yang sangat sabar saat menanti jawaban darinya.


Begitu sangat mencintai dirinya sampai membuatnya seperti itu.


Tapi Wiyah tidak memiliki perasaan apapun terhadap pria yang dari tadi tersenyum kearah nya. Wiyah tidak bisa membayangkan seperti apa kecewa nya Fadil jika ia menolak lamaran dari Fadil. Pria yang begitu sangat berani datang kerumahnya hanya untuk melamarnya. Datang kerumah karyawannya sendiri membuat Fadil menutupi rasa malunya hanya demi seorang wanita yang seperti dirinya, yang tidak sesempurna seperti wanita lain padahal masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik daripada dirinya yang begitu banyak Kekurangannya, Tidak seperti wanita lainnya.


" Aku akan menerima apapun jawaban darimu." Ucap Fadil kembali sambil terus menatap Wiyah.

__ADS_1


" Terimakasih kak Fadil, sudah mau menunggu jawaban dariku." Ucap Wiyah yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Bukannya Wiyah ingin menggantung harapan Fadil, hanya saja Wiyah akan memikirkan betul betul ali keputusan yang akan dia ambil dan ia berikan ke Fadil.


" Aku akan tetap setia menunggu jawaban mu Wiyah kapan pun itu. Mau Minggu depan, bulan depan atau mungkin tahun depan, aku akan selalu menunggu jawaban darimu." Ucap Fadil dengan sedikit candaan membuat suasana di ruangan itu tidak tegang seperti tadi karena membahas soal lamaran Fadil.


Flashback Off,


Mengingat itu membuat kepala Wiyah begitu sangat pusing. Perkataan Fadil begitu sangat terngiang-ngiang di kepalanya.


Aku akan tetap setia menunggu jawaban mu Wiyah kapan pun itu. Mau Minggu depan, bulan depan atau mungkin tahun depan, aku akan selalu menunggu jawaban darimu.


" Astaghfirullahaladzim." Wiyah mencoba untuk tetap beristigfar agar hatinya tetap tenang.


" Lebih baik aku istirahat dulu, nanti besok baru aku pikirkan lagi apa keputusan yang harus aku ambil." Ucap Wiyah yang masih setia memandang di langit langit kamarnya.


Lama memandang langit langit kamarnya, Perlahan lahan mata Wiyah mulai tertutup,


...----------------...


Jam terus berputar, tidak terasa sekarang sudah pagi. Jam menunjukkan pukul enam pagi dan seperti biasa keluarga Haidar akan berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.


Seperti biasa mereka akan menikmati sarapan pagi mereka dengan diam dan tenang tanpa ada perbincangan jika tidak ada hal yang penting yang mau di bahas.


Haidar yang sedang menikmati sarapannya melirik kearah Wiyah yang dari tadi hanya diam sambil melamun.


Haidar tahu apa yang sedang Wiyah pikiran sekarang. Pasti Wiyah sedang memikirkan keputusan atau jawaban yang tepat untuk Fadil.


" Dik." Panggil Haidar membuat Wiyah yang di panggil melihat kearah Haidar." Iya kak." Jawab Wiyah.

__ADS_1


" Jangan melamun, di makan makanan nya." Tegur Haidar lembut membuat Wiyah mengangguk.


" Iya kak Idar." Jawab Wiyah. Haidar dan Wiyah kembali ke sarapan mereka masing masing, sampai Haidar kembali melirik adiknya yang sedang menikmati sarapannya.


Windi yang duduk bersebelahan dengan Haidar mengikuti pandangan suaminya itu yang ternyata sedang memperhatikan Wiyah.


" Mas kenapa." Tanya Windi sambil berbisik membuat Haidar melihat kearah Windi.


" Sayang bisa lihat ( Sambil menunjuk kearah Wiyah yang sedang menikmati sarapannya tanpa ada selera sama sekali ) Dia sepertinya tidak menikmati sarapannya, sepertinya pagi pagi kemarin." Jelas Haidar sambil berbisik." Sepertinya Wiyah sedang bingung mau mengambil keputusan apa." Ucap Haidar kembali yang membuat Windi mulai mengerti apa yang di maksud oleh Haidar.


" Mas mau minta tolong sama sayang, untuk berbicara ke Wiyah. agar Wiyah tidak memikirkan sesuatu yang membuat dia pusing." Suruh Haidar." Mas ngga mau sampai Wiyah jadi pusing karena masalah lamaran dadakan semalam." Jelas Haidar kembali membuat Windi mengangguk angguk menganti.


" Insyaallah mas. Aku akan berbicara ke Wiyah agar dia tidak memikirkan sesuatu yang membuat dia pusing." Jawab Windi yang membuat Haidar tersenyum senang.


" Makasih sayang." Ucap Haidar tulus sambil menatap istrinya itu.


" Iya mas, sama sama." Jawab Windi yang membalas senyuman dari Haidar.


Haidar begitu sangat bersyukur memiliki istri seperti Windi yang sangat mengerti dirinya dan juga adiknya Wiyah, jika ada masalah yang Wiyah hadapi maka Windi akan turun tangan untuk berbicara ke Wiyah, Menjelaskan agar Wiyah mau mengerti. Apalagi Windi seperti ibu kedua untuk Wiyah yang sangat mengerti apa saja yang Wiyah pikirkan selama tiga tahun terakhir selama Wiyah tinggal di rumahnya. Membuat Windi begitu sangat tahu seperti apa Wiyah jika ia sedang terluka. Walaupun Wiyah tidak pernah bercerita, tapi sifat Windi yang memang sangat peka dengan masalah orang membuat Windi begitu sangat mengerti perasaan Wiyah yang suka sekali menyembunyikan kesedihannya sendiri tanpa bercerita atau membaginya kepada orang walaupun itu orang terdekatnya.


.


Bersambung.


Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran.


Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat

__ADS_1


__ADS_2