
Waktu terus berganti.
tidak terasa sekarang sudah dua bulan saja setelah banyaknya kejadian yang Wiyah lewati hampir beberapa tahun ini dan sekarang dia seperti sedikit lebih tenang dan tidak menutup diri seperti tiga tahun yang lalu.
Perubahan Wiyah juga membuat Haidar ikut senang kalau Wiyah akan kembali seperti dulu lagi walaupun hanya sedikit perubahan dalam dua bulan terakhir tapi, Haidar Ikut Merasa senang. Haidar tahu perubahan yang terjadi kepada Wiyah itu karena sedikit demi sedikit Wiyah sudah bisa menerima perpisahan keduanya orang tuanya yang terbilang banyak mengundang banyak pertanyaan atas perpisahan kedua orang tuanya. Yang selalu Wiyah tanyakan kepada dirinya sendiri.
Walaupun Wiyah tidak tahu keberadaan keluarganya tapi Wiyah. Akan selalu setia menunggu mereka dengan ikhlas dan perasaan yang selalu setia menanti pulangnya kedua orang tuanya dan juga saudaranya.
Perubahan Wiyah juga sudah banyak terlihat. Selama tiga tahun Wiyah tutupi. Walaupun luka kekecewaannya kepada kedua orang tuanya tidak pernah di perlihatkan.
Haidar tidak mengira dengan menceritakan sedikit rahasia kepada Wiyah di malam itu yang masih ada kebohongan dalam menceritakan kebenaran tapi sedikit demi sedikit Wiyah mau menerima kebenaran itu. Walaupun Wiyah masih ragu dengan ucapan Haidar sendiri tapi Wiyah akan tetap berusaha menerima apa yang di katakan Haidar itu benar.
Walaupun nantinya akan ada kebenaran yang terbuka dan akan ada menyisakan sebuah luka lama yang akan di ingat kembali, membuat sebuah luka baru yang membuat luka itu susah untuk di obati.
Luka apa itu, Luka yang tidak bisa di hapus dalam ingatan seseorang.
Sekip 😁
Pagi yang indah pagi yang begitu di nanti.
Pagi yang membuat orang orang bangun dari tidurnya lalu melakukan aktivitas mereka masing masing.
Matahari yang masih malu malu untuk timbul hanya memperlihatkan cahaya yang menyilaukan mata sampai sampai awan tidak berni menutupi matahari yang kini bersinar dengan terangnya, membuat hawa dingin kini menjadi hangat.
Bukan saja para manusia yang mulai sibuk dengan urusan mereka masing tapi hewan hewan juga sudah mulai aktif dengan aktivitas mereka.
" Masyaallah hari ini, Begitu sangat indah." Kagum Wiyah saat membuka jendela yang berada di belakang, Memperhatikan keindahan pagi hari yang masih terlihat tetesan embun yang melekat di tanaman.
Wiyah menghirup udara yang masih segar yang belum tercemar oleh udara kotor.
Senyumannya Wiyah bagai kembang yang bermekaran saat disinari sang suria.
Selesai memandang keindahan di pagi hari Wiyah melangkah mendekati kursi yang berada di meja makan.
Wiyah menggeser kursinya lalu duduk sambil berpikir." Mau masak apa ya." Wiyah yang sedang duduk di kursi, sambil berpikir.
Karena hari ini hari Minggu membuat Wiyah tidak di sibukkan dengan pekerjaan yang membuatnya santai duduk di kursi, Tangan kanannya menopang dagunya sedangkan tangan kirinya lurus ke depan sambil mengetuk ngetuk diatas meja.
__ADS_1
Sedangkan keluarga Haidar mungkin masih tidur karena setiap hari minggu mereka akan bangun sedikit siang. Setiap selesai menunaikan sholat subuh Haidar dan keluarganya akan kembali untuk tidur.
Wiyah terus berpikir untuk masak apa hari. karena hari ini hari minggu yang cerah seperti.
Lama berpikir Wiyah memutuskan untuk memasak makanan sederhana sambil menunggu Haidar dan keluarga kecilnya itu.
Wiyah berdiri dari duduknya melangkah kearah kulkas, melihat apakah ada bahan untuk memasak.
" Sepertinya bahan semua masih cukup untuk membuat beberapa makan." ucap Wiyah menatap seisi kulkas menyisakan beberapa bahan masakan.
lalu dengan langkah cepat Wiyah mulai mengambil semua bahan dan membuat makan yang dia pikirkan tadi.
Wiyah bukan saja pintar mengurus anak tapi Wiyah juga pintar soal dapur. Soal rasa tidak perlu di ragukan lagi. Dengan cetakan Wiyah mulai memasak hampir beberapa makan Untuk di santap di pagi hari.
Hampir satu jam Wiyah mengelola bahan-bahan makanan yang kini telah terjejer rapi diatas meja.
Orak Arik telur sayur.
Telur dadar sayur
Nasi goreng sayur campur
Semua terjejer rapi di atas meja. Wiyah yang melihat itu merasa puas. Walaupun keseluruhan makanan yang Wiyah buat dari sayur dan telur tapi rasanya akan tetap terasa enak.
Wiyah masih mengingat di mana sang ibu yang sering mengajarkan dia banyak hal termasuk memasak.
Mengingat itu membuat Wiyah semakin rindu terhadap keluarganya
" Ibu, Apa ibu tahu kini aku semakin pintar dalam memasak." Gumam Wiyah dengan suara lirihnya " Apa ibu tahu selama kalian pergi tiga tahun yang lalu, pergi meninggalkanku tanpa memberikan aku kabar, Dari situ aku belajar untuk dewasa dan tidak manja lagi, Agar nanti jika kalian semua datang menemuiku. Aku tidak akan menyusahkan kalian lagi.'' Gumam Wiyah yang sedang bercerita mengeluarkan semua isi hatinya dan kerinduannya terhadap ibu yang sudah melahirkannya dan pergi meninggalkannya tiga tahun yang lalu. Karena sebuah perceraian.
__ADS_1
Wiyah sudah mencoba untuk menerima apa yang takdir berikan untuk keluarganya.
Tapi hati kecilnya sebagai seorang anak yang masih membutuhkan sosok orang tua menolak takdir perpisahan itu,
" Wiyah kenapa kamu nangis, hiks.. " Ucap Wiyah yang sudah mengeluarkan air matanya yang membasahi pipinya." Aku sudah berusaha untuk menerima perpisahan keluargaku ya Allah tapi kenapa rasa sakit masih terasa.
apakah karena rasa kecewaku terhadap mereka yang pergi tanpa mengabariku,
Meninggalkanku tanpa membawaku pergi dan ikut salah satu dari mereka." Entahlah setiap Wiyah mengingat tentang perpisahan kedua orang tuanya pasti Wiyah akan menangis secara diam.
Dia berusaha kuat setelah mendengar cerita dari Haidar dua bulan yang lalu. Kenapa orang tuanya berpisah yang di sebabkan oleh perjodohan. Tapi kenapa Wiyah tidak yakin dengan cerita itu.
Wiyah sudah berusaha untuk kembali seperti dulu, tapi selalu terhalang sebuah luka lama.
Pagi yang tadi Wiyah lewati dengan senyuman kini pudar karena kerinduannya terhadap keluarganya.
Orang lain akan melihat Wiyah tersenyum, tertawa, Tapi berbeda dengan hati kecilnya yang selalu merasakan kerinduan dengan sosok orang tua yang sudah lama tidak dia rasakan.
Walaupun Haidar dan Windi menyayanginya seperti orang tuanya. Tapi yang Wiyah rasakan berbeda.
.
.
Lama Wiyah terdiam memendam rasa rindunya dengan air mata. Menangis secara dia kini Wiyah kembali seperti bagi tadi.
Walaupun sedikit sebab karena habis menangis tapi Wiyah berusaha untuk menutupinya dengan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.
Kemudian Wiyah pergi ke kamar kedua keponakannya yang mungkin masih tidur
untuk membangunkan mereka.
Bersambung.
Jangan lupa komen like dan vote nya ya
biar author makin semangat buat up.
__ADS_1