
Mobil Fazar membelah ibukota yang sangat padat jika di waktu sore.
Mobil Fazar begitu sangat cepat melewati setiap jalan yang di lalui, melewati kendaraan lain tanpa memikirkan sang pengendara yang akan akan marah dan mencaci maki nya secara diam karena mobil Fazar yang menerobos jalur orang. Fazar tidak memikirkan hal itu tapi yang sekarang Fazar pikirkan adalah keselamatan adiknya itu yang sekarang sedang tidak sadar karena pingsan.
Sampai beberapa menit kemudian Fazar sudah sampai di depan rumah sakit. Dengan sigap Fazar memapah Fadil yang di bantu oleh bodyguard lainnya.
Sedangkan Sisi yang begitu sangat lemas melihat keadaan anaknya Fadil tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya untuk menginjak Rumah sakit itu sampai sampai Fazri yang harus membantu bundanya itu untuk berjalan keluar dari mobil.
" Perawat." Panggil Fazar dengan suara Tinggi tapi terdengar begitu sangat khawatir menggelegar di keseluruhan rumah sakit. membuat orang orang melihat kearah Fazar.
Perawat laki-laki yang mendengar panggilan dari Fazar dengan langkah cepatnya membawa Brankar kearah Fazar yang sedang memapah tubuh tidak berdaya Fadil.
Kedua perawat laki laki itu membantu memindahkan tubuh Fadil di atas Brankar.
lalu dengan dengan cepat mengantarkan nya di ruang IGD untuk segera di tangani, Apalagi para perawat itu sudah mengenal siapa Fadil sebenarnya, Mereka tahu kalau Fadil adalah pasien khusus yang Sering di tangani oleh dokter Faris.
Dokter Faris yang tidak sengaja lewat di situ melihat ke arah Fazar dan Fadil yang terbaring lemah di atas Brankar rumah sakit.
Melihat itu, membuat Faris khawatir. Faris melangkah cepat ke arah Fazar Dan Keluarganya.
Fazar melihat kearah lorong Rumah sakit yang terdapat seorang dokter pria yang melangkah dengan cepat mengarah ke mereka di tambah dengan wajah dari dokter itu yang begitu sangat Khawatir. Fazar yang melihat dokter itu begitu sangat mengenal siapa pria yang berjas putih itu. Siapa lagi kalau bukan dokter Faris sahabatnya dan juga Fadil.
Fazar juga tahu kalau dokter Faris adalah dokter khusus untuk penyakit Kanker.
." Apa yang kamu lakukan di sini Faris." Tanya Fazar sambil mengikuti brankar yang membawa tubuh Fadil, yang di dorong oleh perawat mengarah ke ruang UGD.
Faris melihat kearah Fazar." Aku mau memeriksa pasienku yang baru saja masuk." Jawab dokter Faris tanpa memberitahukan siapa pasien yang di sebut nya barusan.
Faris terus mengikuti brankar itu sampai masuk ke dalam ruangan UGD.
Faris berhenti terlebih dahulu sebelum dia masuk untuk memeriksa keadaan Fadil.
Mendengar jawaban dari Faris membuat Fazar mengerutkan keningnya bingung." Emangnya siapa pasien mu." Tanya Fazar penasaran. Karena setahunya hanya adiknya yang masuk ke dalam ruangan UGD itu dan tidak ada yang lain
" Aku akan menjelaskan nya nanti setelah aku memeriksa pasien ku." Jawab dokter Faris lalu melangkah masuk kedalam ruangan UGD, tempat Fadil di periksa sekarang.
Kepergian dokter Faris membuat Fazar semakin bertanya-tanya. Fazar tidak bodoh, dia tahu apa yang di maksud oleh dokter Faris, tapi Fazar akan berpikir positif dan mencoba untuk tenang.
Fazar kembali melihat kearah bundanya yang berjalan dengan begitu sangat lemah. Fazar tahu kalau bundanya itu pasti sangat syok melihat keadaan Fadil sekarang yang terbilang mendadak.
Fazar mendekati bundanya dan juga Fazri yang sedang memapah bunda Sisi yang sedang berjalan pelan." Sini dik, biar abang yang bantu bunda untuk berjalan." Ucap Fazar sambil memapah tubuh Sisi untuk berjalan.
Sedangkan Fazri hanya mengangguk sambil mengikuti langkah dari Fazar dan Sisi.
" Fazar, apakah Fadil akan baik baik saja." Tanya Sisi di selah selah langkahnya sedangkan pandangannya lurus ke depan.
Fazar melihat ke arah bundanya." Iya bun, Fadil akan baik baik saja. Tenanglah. Mungkin Fadil sedang kelelahan makanya dia mimisan seperti tadi." Ucap Fazar sambil menenangkan bundanya itu dengan cara memberikan sedikit pikiran positif. Walaupun dia sendiri memikirkan hal yang sama seperti ibu nya itu pikirkan.
" Semoga apa yang Fazar ucapkan itu memang benar. Kalau Fadil hanya kelelahan." Batin Fazar mencoba menenangkan hatinya yang sama gelisahnya seperti Sisi. Apalagi melihat Faris yang masuk ke dalam ruang UGD bersama dengan Fadil. semakin membuat pikiran Fazar tidak tenang.
Fazar memapah tubuh Sisi untuk duduk di kursi yang berada di sekitaran rungan itu.
Lalu Fazar berjongkok, bersimpuh dihadapan Sisi sambil mengambil kedua tangan Sisi.
Fazar mencium lembut kedua tangan yang sudah merawatnya itu. Tangan yang masih terasa lembut walaupun usianya tidak mudah lagi karena usia.
" Bunda, yakinlah kepada Allah kalau Fadil akan baik baik saja." Ucap Fazar menenangkan Sisi.
Sisi menatap kearah Fazar yang berjongkok di hadapannya." Semoga saja begitu Fazar, bunda akan terus berdoa semoga Fadil baik baik saja." Jawab Sisi mencoba untuk tenang tapi tetap hatinya tidak bisa tenang sama sekali." Bunda hanya takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Fadil." Ucap Sisi kembali.
" Fazar tahu itu bun, Tapi kita harus berpikir positif. Mungkin Fadil sedang kelelahan." Ucap Fazar kembali sambil menenangkan bundanya itu. Fazar mencoba untuk terus berpikir positif karena dia tahu kalau adiknya itu akan baik-baik saja, Fazar yakin itu.
__ADS_1
Fazri menatap kearah Fazar dan Sisi." bang, ibu. Fazri mau keluar sebentar mau mengambilkan air minum untuk bunda, Biar enakan." Ijin Fazri membuat Fazar mengangguk memberikan ijin.
Fazri yang di berikan ijin melangkah keluar meninggalkan bunda dan abangnya itu.
Setelah kepergian Fazri, Fazar berdiri dari duduknya. Melangkah mendekat kearah kaca kecil yang bisa memperlihatkan keadaan di dalam.
Lewat kaca kecil Fazar bisa melihat apa saja yang dokter Faris lakukan didalam sana.
Fazar yang melihat kalau adiknya itu di periksa merasa sangat takut, kalau sampai terjadi sesuatu kepada adiknya itu. Fazar terus berdoa dalam hatinya semoga apa yang Fazar pikirkan tidak benar.
Lantunan zikir terus terucap di bibirnya untuk meredakan rasa khawatir dan juga rasa takutnya.
.
.
Beberapa menit kemudian barulah dokter Faris keluar dari ruangan Itu. Fazar yang melihat dokter Faris keluar dari ruangan UGD langsung berdiri, sama halnya dengan Sisi dan juga Fazri yang sudah kembali.
Dokter Faris melangkah mengarah ke Fazar." Kamu pasti tahu apa yang aku maksud tadi." Tanya Dokter Faris membuat Fazar mengangguk ngerti. Fazar tahu apa yang terjadi ke Fadil sebenarnya.
" Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari kamu, Apa yang terjadi kepada adikku kenapa kamu mengatakan kalau Dia pasien mu." Tanya Fazar karena Fazar tidak mau menduga duga tanpa mendengar penjelasan dari dokter.
" Pasti kamu dengan keluarga yang lain belum mengetahui, apa yang terjadi kepada Fadil selam empat tahun terakhir, Karena Fadil merahasiakan ini semua dari kamu dan juga Tante Sisi." Jawab dokter Faris yang membuat Fazar semakin bingung.
" Katakan Apa Yang terjadi kepada adik saya. Apa yang dia rahasiakan kepada kami." Tanya Fazar tidak sabaran Fazar ingin mendengar langsung ke intinya tidak mau bertele-tele. Sedangkan Faris bisa melihat dari Wajah Fazar Terpancar raut khawatir di sana.
Dokter Faris melihat ke arah Fazar dan keluarganya yang lain." Fadil terkena Kanker leukimia stadium empat, atau yang di bilang stadium akhir." Jawab Dokter memberikan tahukah apa yang Terjadi kepada Fadil dan Fadil rahasiakan selama empat tahun ini
Deg.
Seakan Jantung Fazar berhenti berdetak saat mendengar Jawaban dari Dokter Faris.
Apa kenapa sampai Fadil merahasiakan itu semua ke mereka kalau dirinya terkena penyakit yang sangat mematikan itu. Kenapa hampir Empat tahun Fazar tidak menyadari itu kalau Fadil sakit padahal dia seorang Kaka yang berjanji untuk menjaga adiknya.
Padahal Dia sudah mengawasi adiknya itu tapi kenapa dia tidak menyadari itu semua.
Pikir Fazar penuh tanda tanya dalam pikirannya.
Sedangkan Sisi yang mendengar itu semakin terkejut karena tidak percaya dengan apa yang dokter Faris katakan kalau Putra terkena penyakit yang sangat mematikan itu, yang belum tentu orang yang terkena penyakit itu akan sembuh." Ya Allah, Fadil kenapa Kamu merahasiakan semua itu, kenapa Kamu merahasiakan kalau kamu terkena penyakit leukemia." Ucap Sisi yang begitu sangat lirih tidak percaya dengan perkataan yang di lontarkan oleh dokter Faris.
Dokter Faris dan Fazar melihat kearah bundanya itu yang akan tumbang karena tidak bisa mengendalikan perasaannya sekarang." bunda." Panggil Fazar pelan saat melihat bundanya itu akan jatuh. Dengan langkah cepatnya Fazar memeluk tubuh ibunya itu yang akan jatuh ke lantai.
Fazri yang menyadari itu sama sama terkejutnya sama seperti Fazar." bunda." Panggil Fazri
Dokter Faris yang melihat itu mendekati Fazar dan Sisi." Sepertinya Tante Sisi pingsan Zar, lebih baik kamu Atar Tante Sisi untuk beristirahat setelah itu Kita akan membicarakan kenapa Fadil merahasiakan penyakitnya dari kalian semu." Ucap Dokter Faris yang mendapatkan anggukkan dari Fazar.
" Kita akan membicarakan hal itu setelah aku membawa bunda untuk di periksa." Ucap Fazar yang langsung mengendong tubuh bundanya itu, Untuk segera di tangani di ruangan lainnya. Sedangkan Fadil akan di bawa keruangan lain untuk mendapatkan Perawatan lebih lanjut lagi.
.
.
Di Rungan lain. Tubuh Sisi yang terbaring di atas kasur rumah sakit dengan tangan di sebelah kiri terpasang infus.
Fazar dan Fazri yang berada di ruangan itu terus memperhatikan seorang dokter wanita yang sedang memeriksa keadaan Sisi yang masih pingsan.
" Bagaimana keadaan nya dok." Tanya Fazar saat melihat kalau dokter wanita itu sudah selesai memeriksa bunda Sisi.
dokter wanita itu melangkah mendekati Fazar." Tekan darahnya tinggi dan nyonya Sisi juga sedang kelelahan. Nyonya Sisi hanya perlu beristirahat setelah itu nyonya akan baik baik saja. Tolong jaga kesehatannya jangan biarkan nyonya Sisi tertekan." Jawab dokter wanita itu sambil menjelaskan membuat Fazar mengangguk.
" Terimakasih dokter." Ucap Fazar." Tapi kapan bunda saya akan sadar dari pingsannya dokter." Tanya Fazar sambil melihat kearah tempat tidur.
__ADS_1
" Mungkin sebentar lagi nyonya akan sadar." Jawab dokter Wanita itu." Jika tidak ada yang di tanyakan lagi saya ijin keluar, tuan Fazar." Ijin dokter wanita itu.
" sekali lagi terimakasih dokter." Ucap Fazar yang di tanggapi dengan senyuman oleh dokter wanita itu.
Dokter wanita itu keluar dari ruangan rawat Sisi meninggalkan Fazar dan Fazri di sana.
Fazar melihat ke arah bundanya, melangkah mendekati bundanya itu. Fazar menatap bunda Sisi itu dengan sedih. Baru saja mereka berkumpul tapi kini ada cobaan kembali datang menerjang keluarga mereka yang akan memisahkan keluarga yang baru saja kembali berkumpul dan merasakan kebahagiaan.
" Ya Allah lindungi keluarga ku. Berikanlah mereka keikhlasan hati agar bisa menerima cobaan ini dengan sepenuh hati mereka ya Allah."Doa Fazar sambil menggenggam tangan bunda Sisi dengan lembut mencium tangan itu.
" Bang." Panggil Fazri membuat Fazar melihat kearah Fazri.
" Iya Zri, ada apa." Tanya Fazar menoleh kearah Fazri yang sudah berdiri di sampingnya.
" Tadi kak Faris berpesan ke Fazri kalau kak Faris nungguin abang di rungannya." Jawab Fazri. membuat Fazar mengangguk mengerti.
" Abang akan ke sana." Ucap Fazar.
Fazar melihat kearah bunda Sisi kembali Sebelum Fazar keluar dari ruangan rawat bunda Sisi nya. Fazar terlebih dahulu mencium punggung tangan Sisi dengan sayang." Bun, Fazar tinggal sebentar." Ijin Fazar yang berdiri dari duduknya.
" Dek abang titip bunda dulu, Abang mau keluar untuk menemui kak Faris." Ucap Fazar yang mendapatkan anggukan dari Fazri.
" Iya bang." Jawab Fazri.
Mendengar jawaban dari Fazri, Fazar meninggalkan bunda Sisi, melangkah keluar dari ruangan rawat Sisi.
Fazar melangkah melewati Lorong rumah sakit untuk menemui dokter Faris yang sudah menunggunya di ruangannya.
Tidak berselang lama Fazar telah sampai di depan rungan dokter Faris. Sebelum masuk Fazar mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Tok.. tok.. tok.
Sampai orang di dalam menyuruh Fazar untuk masuk kedalam ruangan itu.
Fazar melangkah masuk kedalam ruangan dokter Faris.
" Duduklah." Suruh Faris.
Fazar mengikuti suruhan dokter Faris untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan dokter Faris.
" Katakan apa yang terjadi kepada Fadil, kenapa dia menyembunyikan penyakitnya selama empat tahun." Tanya Fazar langsung ke intinya. setelah iya duduk di kursi berhadapan dengan Faris. langsung ke intinya.
Mendengar pertanyaan dari Fazar membuat Faris menghela nafasnya. Sebenarnya Faris tidak mau memberitahukan rahasia kenapa Fadil menyembunyikan penyakitnya dari mereka karena Faris sudah berjanji ke pada Fadil untuk tidak mengatakan kepada siapapun kalau dirinya terkena penyakit leukemia. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksa Faris untuk mengatakan hal itu.
" Fadil terkena penyakit leukemia stadium awal itu Sejak empat tahun yang lalu, Yaitu saat keadaan perusahaan mu yang sedikit terguncang dan hampir gulung tikar karena meninggalnya almarhum paman Al. Dari situ Fadil Sudah merasakan tanda-tanda penyakit itu menyerang tubuhnya. Karena Fadil begitu sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada tubuhnya membuat dia memeriksakan keadaannya kepada ku. dan empat tahun yang lalu aku menyatakan kalau Fadil posesif terkena kanker ganas itu.
Empat tahun yang lalu Fadil begitu sangat frustasi karena terkena penyakit itu yang terbilang sangat tidak tepat karena penyakit itu menyerang nya saat keadaan perusahaan mu hampir gulung tikar. Karena Fadil merasa waktu yang tidak tepat untuk memberitahukan soal penyakitnya ke kalian membuat Fadil menyembunyikan penyakitnya itu semua dari kalian.
Sampai di waktu yang tepat Fadil akan mengatakannya kembali, Tapi itu juga waktu yang sangat tidak tepat karena kamu baru saja membatalkan pertunangan mu dengan wanita itu. yang Fadil tidak jadi memberitahukan kalau dia terkena penyakit. Sampai sampai Fadil berfikir untuk menyembunyikan penyakitnya dan tidak akan memberitahukan nya kepada kalian karena masalah yang menimpa kalian hampir tiga tahun. Fadil tidak mau menambah beban pikiran kalian makanya dia memilih memendam penyakit nya dan rasa sakitnya demi membuat kalian tersenyum walaupun Fadil harus menahan rasa sakit akibat penyakitnya itu." Ucap Faris memberitahukan alasan kenapa Fadil menyembunyikan penyakitnya selama ini.
Fazar yang mendengar cerita Faris semakin merasa bersalah terhadap adiknya Fadil, Karena masalahnya membuat sang adik menyembunyikan apa yang sekarang dia rasakan.
Rasanya Fazar ingin menangis sekarang, berteriak memberitahukan kepada dunia kalau dia bukan abang yang baik untuk adik adiknya. Karena dia tidak pantas di panggil abang karena dia tidak tahu apa yang terjadi kepada sang adik.
Fazar begitu sangat bersalah mementingkan dirinya tanpa tahu kalau sang adik terkena penyakit yang memastikan itu.
Faris seperti melepaskan beban nya setelah merahasiakan apa yang Fadil perintahkan kemarin, rasa tenang dan bersalah seperti menjadi Satu. Rasa tenang karena menceritakan beban selama ini Fadil tangung sendiri akan terbagi. Sedangkan merasa bersalah karena mengingkari janjinya terhadap Fadil." Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan rahasia yang selama ini Fadil simpan dan pendam sendiri, Tapi mau bagaimana lagi. keadaan yang memaksa ku untuk mengatakannya." Ucap Faris menatap Fazar yang sedang diam karena rasa bersalah nya.
Bersambung.
Jangan lupa like dan Vote nya biar author makin semangat buat up.
__ADS_1