Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 12


__ADS_3

Tur.


Tur.


Suara ponsel membangunkan seorang pria yang masih tidur dan berada di Dunia mimpinya. Suara ponselnya seperti tidak menggangunya saat pria itu masih tertidur.


" Siapa sih yang ganggu pagi pagi kaya gini." Gerutu pria itu mengambil ponselnya. Lalu mengangkatnya.


" Halo, Assalamualaikum." Salam pria itu dengan suara kas orang bangun tidur.


" Waalaikumsalam Dil. kamu masih tidur. " Tanya seseorang di seberang sana saat Pria itu mengangkat telponnya.


Saat pria itu mendengar suara orang yang berada di seberang sana, membuatnya langsung tersadar dari tidurnya membuatnya langsung terduduk tegap di atas ranjang.


" Dil, abang sudah sampai di Indonesia, dan sekarang abang sudah kearah kantor." Ucap pria yang berbeda di sebrang sana.


" Apa abang sudah berada di Indonesia. bukanya Minggu depan baru abang pulang." Tanya pria itu kaget mendengar ucapan dari abangnya itu. Ya. Pria yang tidak lain Muhammad Fadil Al Fazar


" Jangan bilang kalau kamu lupa lagi, kalau hari ini abang sudah sampai di Indonesia." Tebak pria di seberang sana.


" Sepertinya begitu bang aku lupa kalau hari ini abang sudah sampai di Indonesia." Jawab Fadil.


" Astaghfirullahaladzim, Dil memang kamu tidak pernah berubah. Selalu saja pelupa." Ucap pria itu." Abang ngga mau tau tiga puluh menit lagi kamu sudah berada ada di kantor." Ancam pria itu dengan suara tegasnya.


" Apa bang tiga puluh menit." Pekik Fadil terkejut." Bang ngga bisa dikasih waktu satu jam gitu, Dari sini kekantor menghabiskan hampir setengah jam. Belum mandi belum ganti baju. pokoknya banyak yang Fadil belum lakukan kalau di kasih tiga puluh menit." Jawab Fadil tidak terima.


" Abang ngga mau tau, tiga puluh menit Kamu sudah harus berada disini ngga lebih ngga kurang." Ancam pria itu kembali.


" Tapi bang." Ucapan Fadil terpotong karena sang penelepon sudah mematikan telfonnya.


" Ahhh, abang ngga pernah berubah, selalu datang mendadak. Tiga tahun pergi keluar negeri, Tapi pas datangnya mendadak seperti ini." Gerutu Fadil kesal." Apa dia ngga capek duduk di pesawat pulang langsung ke kantor." Gerutu Fadil kembali yang melangkah turun dari kasurnya untuk pergi kearah kamar mandi.


Tidak butuh berapa menit Fadil sudah selesai mandinya. Maksudnya membilas badannya.


Fadil memakai kemeja dengan cepat walaupun tidak rapi. Dengan langkahnya Fadil segera memakai sepatunya. Berjalan mengambil surat surat yang dia butuhkan setelah dirasa tidak ada yang tertinggal Fadil melangkah keluar dari kamarnya untuk turun kelantai bawah. Dibawah Fadil melihat kearah meja makan yang memang sedikit dekat dengan ruang keluarga.


Fadil melangkah mendekati ibunya dan juga adiknya yang sedang menyantap sarapan mereka.


" Bunda Fadil berangkat ke kantor dulu." Ijin Fadil. Sisi atau ibu Fadil melihat kearah Fadil dan hal itu membuatnya cukup terkejut karena melihat penampilan anaknya yang terbilang tidak rapi. Kemeja yang berwarna hitam bergaris putih berlengan pendek terlihat sedikit kusut. Sedangkan jas yang berwarna hitam bukanya di pakai melainkan dipegang seperti tas, surat surat yang amburadul dan juga rambut yang berantakan.


" Fadil tumben berantakan kaya gini penampilanmu bisanya rapi." Tanya Sisi heran dengan penampilan putra keduanya kali ini.


" Iya bunda. Soalnya aku buru buru mau kekantor." Jawab Fadil.


" Buru buru kenapa. Biasa kamu turunnya jam delapan. Sedangkan ini baru jam setengah tujuh." Tanya Sisi heran.


" Soalnya abang udah Balik ke Indonesia bunda. dan aku di suruh turun cepat sama abang dari Kemarin cuman aku lupa. Jadinya abang kasih hukuman ke aku kalau tiga puluh menit aku harus berada di kantor makanya aku buru buru." Jawab Fadil Jujur.

__ADS_1


" Emangnya Fazar sudah sampai ke Indonesia. Tapi kenapa ngga ngabarin bunda." Tanya Sisi.


" Soal itu bunda tanya saja sama abang. aku mau telat, nanti kalau aku datangnya sebelum Abang, bisa di kasih hukuman nanti." Jawab Fadil yang sudah melangkah meninggalkan ruang makan.


" Fazri nanti Fazri di antar sama pak Tatang ya, Kakak ngga bisa antar." Teriak Fadil di selah selah langkahnya.


" Iya Kakak." Jawab Fazri.


Fadil keluar dari rumahnya dan segera bergegas pergi ke garasi mengambil mobilnya. menjalankannya mobilnya membela ibu kota yang sedikit macet karena banjir yang di sebabkan hujan semalam.


" Kalau seperti ini mungkin aku akan telat sampai di kantor." Gerutu Fadil sambil memukul setir mobil karena kesal.


" Lebih baik aku mencari jalan yang bisa aku lalui." Gumam Fadil yang mulai mengambil ponselnya lalu Fadil mencari jalan yang bisa di lalui dengan mengunakan G**gle.


Sampai dia menemukan jalan yang tidak terlalu macet. Fadil melajukan kendaraannya kembali dan melewati jalan yang sedikit tergenang air. Tampa dia sadari genangan air yang tadi dia lewati mengenai seorang Gadis yang memang melewati jalan itu.


Saat Fadil melihat ke arah spion sekilas Fadil bisa melihat seorang gadis yang sedikit membersihkan baju gamis yang terkena air. Fadil yang peka dengan hal itu membuat dirinya menyakini kalau itu karena ulahnya.


" Sepertinya saat aku melewati jalan yang tergenang air tadi, air itu tidak sengaja terkena baju Gadis itu." gumam Fadil memberhentikan mobilnya.


" Apa aku harus turun, Tapi bagaimana dengan abang nanti jika aku terlambat, pasti aku akan mendapatkan hukuman." gumamnya sambil berpikir.


" Biarkan saja, kalau pun aku turun sama tidaknya juga aku akan tetap mendapatkan hukuman. Waktuku Juga sudah habis." Gumam Fadil sambil melihat kearah jam tangannya yang menunjukkan waktu yang di berikan Abangnya sudah habis.


Fadil turun dari mobilnya. Berlari kecil menghampiri Gadis yang sedang berdiri sambil melihat ke arah baju yang dia kenakan basah akibat terkena cipratan air tadi.


" Masya Allah, begitu indah ciptaan mu ya Allah." Batin Fadil kagum dengan gadis yang ada di hadapannya sekarang.


" Masya Allah." Satu kata keluar dari bibir Fadil saat melihat gadis itu. Gadis itu yang tidak Wiyah merasa heran dengan pria yang di hadapannya bukan kata maaf yang keluar malahan kata pujian yang keluar.


Wiyah mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pria yang di hadapannya, satu kata jika bisa dia ungkapkan kalau dia kagum melihat pria yang di hadapannya.


" Astaghfirulla.. Maafkan aku ya Allah telah kagum kepada yang bukan mahram hamba." Batin Wiyah beristigfar karena kagum dengan pria yang bukan mahram nya. Wiyah kembali menundukkan kepalanya karena takut kagum kepada seseorang yang dia tidak kenal dan juga yang bukan mahram nya.


" Mbak, apa mbak tidak apa apa." Tanya Fadil melihat ke arah Wiyah.


" Tidak apa-apa tuan." Jawab Wiyah.


Fadil yang melihat Wiyah yang menundukkan kepalanya semakin kagum karena masih ada wanita yang menjaga pandangannya kepada seseorang yang bukan mahram nya.


" Tolong maafkan saya mbak. Saya tidak melihat mbak kalau ada melewati jalan ini. Jika saja saya melihat saya akan melambatkan lanjut kendaraan saya, dan mungkin mbak tidak akan basa terkena cipratan genangan air ini." Ucap Fadil meminta maaf sambil melihat ke arah Wiyah.


" Tidak apa tuan itu bukan salah tuan, tuan juga tidak sengaja melewati genangan air itu. sampai mengenai saya dan juga tuan tidak melihat saya kalau saya melewati jalan ini." Ucap Wiyah yang masih setia menundukkan kepalanya.


" Tapi baju yang kamu kenakan sampai basah."


" Tidak apa tuan jika basah begini saya bisa menggantinya."

__ADS_1


" Kalau begitu biar saya antar mbak untuk mencari baju yang bisa mbak ganti." Tawar Fadil.


" Tidak usah tuan, saya membawa baju sendiri. Jadi tuan tidak usah mengganti baju yang saya gunakan." Tolak Wiyah lembut.


" Tapi karena ini ke ceroboh saya mbak bisa basah seperti ini, Jadi biarkan saya menggantinya, sebagai tanda minta maaf saya." Ucap Fadil merasa tidak enak. Fadil berusaha untuk membujuk gadis di hadapannya itu.


" Tidak tuan, Tuan tidak usah menggantinya. Baju saya juga hanya basa tidak rusak, Walaupun baju saya rusak saya tidak akan meminta tuan untuk menggantinya, tuan juga tidak sengaja, jadi tuan tidak usah merasa bersalah seperti ini kepada saya, saya juga tidak kenapa Napa hanya basa terkena air, Jika tuan meminta maaf kepada saya, saya sudah memaafkan tuan jadi tuan tidak usah terus meminta maaf kepada saya, hanya karena masalah kecil." Ucap Wiyah yang Berusaha menyembunyikan ke kesalnya karena ini pertama kalinya dia melihat orang yang merasa bersalah hanya karena mobilnya melewati jalan yang tergenang air dan air itu mengenai pejalan kaki. Bisanya orang tidak akan turun atau minta maaf.


" Tapi mbak bagaimana dengan mu bukanya kamu akan pergi ke sesuatu tempat, karena saya mungkin mbak akan terlambat." Tanya Fadil yang masih merasa bersalah.


" Saya tidak pergi ke sesuatu tempat saya hanya ingin pergi bekerja tuan." Jawab Wiyah kembali.


" Kalau begitu biar saya antar, Jika mbak menolak saya untuk mengganti baju yang mbak gunakan jadi biarkan saya mengantar mbak ke tempat kerja Mbak." Tawar Fadil.


" Tidak usah tuan, Tempat kerja saya juga sudah dekat, jadi tuan tidak perlu mengantarkan saya." Jawab Wiyah." Kalau gitu. Permisi tuan, Assalamualaikum." Pamit Wiyah karena pusing berurusan dengan pria yang berbeda di hadapannya itu.


" Dasar pria aneh," Batin Wiyah kesal sambil meninggalkan Fadil.


Fadil yang melihat ke arah Wiyah yang pergi meninggalkannya. karena Fadil tau pasti Wiyah kesal dengan semua pertanyaan yang membuat Wiyah merasa bingung dan mungkin ini pertama kali mereka bertemu.


" Mbak tunggu." Panggil Fadil melangkah mendekati Wiyah yang sudah sedikit menjauh darinya. Wiyah merasa di panggil memberhentikan langkanya dan berbalik melihat ke arah orang yang memanggilnya tadi.


" Ada apa lagi ya tuan." Tanya Wiyah yang masih menyembunyikan ke kesalnya.


" Kita belum berkenalan." Jawab Fadil." Kenalkan nama saya Muhammad Fadil Al fazar, panggil saja Fadil." Ucap Fadil memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


" Wisyah Hanifah Putri. Panggil saja Wiyah." Jawab Wiyah menengkupkan kedua tangannya di atas dada tandanya jika dia tidak ingin disentuh oleh orang yang bukan mahram nya.


Fadil yang melihat Wiyah yang menengkupkan tangannya di atas dada tanda tidak ingin di sentuh jadi salah tingkah. Biasanya wanita yang melihatnya tidak sungkan sungkan untuk berjabat tangan ke padanya walaupun dia tidak menginginkannya.


" Ya Allah aku semakin kagum kepada manusia yang kamu ciptakan ini. begitu sempurna ciptaan mu ya Allah, maafkan aku yang terlalu memujinya." Batin Fadil.


" Tuan, Tuan." Panggil Wiyah karena melihat kalau orang yang ada di hadapannya ini sedang terdiam.


" iya." Jawab Fadil yang sadar dari lamunannya. Fadil melihat ke arah Wiyah. Fadil semakin salah tingkah tapi dia berusaha untuk dia sembunyikan agar tidak terlihat aneh.


" Kalau gitu saya permisi dulu tuan jika tidak ada yang ingin di bicarakan." Ijin Wiyah kembali


" Tunggu biar saya, antar." Fadil menghentikan langkah Wiyah.


" Tidak usah tuan kerjaan saya sudah dekat." Jawab Wiyah lembut." Assalamualaikum" pamit wiyah meninggalkan Fadil yang masih setia berdiri menatap Wiyah.


" Waalaikumsalam." Jawab Fadil melihat ke arah Wiyah yang sudah menjauh pergi.


Fadil melangkah pergi kembali ke mobilnya. Pergi bukan untuk kearah kantor tapi pergi mengikuti Wiyah yang sedang berjalan kaki.


" Aku akan mencari tau siapa kamu." Gumam Fadi tersenyum.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2