
Wiyah memasuki rumahnya. Dia bisa melihat diruang keluarga yang sudah ada, kedua orang tuanya, Windi, 2R. anak dari Kakak Idar. dan juga ke empat adiknya. Wiyah melangkah mendekati kedua orang tuanya.
" Assalamualaikum, ayah, ibu Kaka Windi." Salam Wiyah sambil melangkahkan mendekati mereka lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan juga Windi.
" Waalaikumsalam." Jawab Windi tersenyum kearah Wiyah.
" Waalaikumsalam." Jawab kedua orang tua dengan ekspresi datar mereka.
Wiyah yang melihat kedua orang tuanya yang duduk terpisah cukup bingung. Karena Wiyah belum pernah melihat ayah atau ibunya duduk berjauhan seperti itu.
Windi melihat kearah Wiyah." Wiyah, mas Haidar udah pulang." Tanya Windi.
Wiyah mengangguk." Udah Kakak Windi. Kak Idar berada di depan sama abang." Jawab Wiyah.
Ayah Wiyah melihat kearah Wiyah dengan tatapan dingin dengan ekspresi wajah datar mereka." Suruh mereka, cepat masuk." Potongan Jambri dengan wajah datarnya. Wiyah yang melihat ekspresi dari ayahnya hanya mengangguk. Sedangkan Windi cukup terkejut karena pertama kali dia melihat paman dari suaminya seperti itu.
Wiyah melangkah menuju dapur, sampai di dapur bukanya Wiyah mengambil air minum Wiyah malah berdiri didepan kulkas sambil membayangkan betapa dinginnya ayah dan juga ibunya tadi. Ekspresi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
" Ya Allah, apa yang terjadi kepada orang tuaku, baru semalam aku mendengar mereka bertengkar. Tapi hari ini aku melihat mereka duduk berjauhan. Ekspresi dingin yang belum pernah aku lihat." Batin Wiyah yang berpikir kemana mana.
" Ya Allah aku takut, kalau orang tuaku... Astaghfirullahaladzim, apa yang kamu pikirkan Wiyah orang tuamu akan baik baik saja, yang kamu pikirkan tidak akan terjadi." Gumam Wiyah yang masih berdiri di depan kulkas sampai Ara datang membuatnya tersadar dari lamunannya.
" Kakak, apa yang Kakak lakukan di depan kulkas." Tanya Ara.
Wiyah melihat ke arah Ara." Eh. Ara Kakak lagi mau ambilkan Kakak Idar air minum." Jawab Wiyah yang sudah menghadap kearah adiknya itu.
" Tapi kenapa Kakak diam dan beldiri didepan kulkas." Tanya Ara dengan ekspresi bingungnya yang membuat Wiyah berpikir harus Menjawab apa.
" Emm, Kaka tadi berdiri di sini karena Kaka habis ngeliat cicak yang lagi makan nyamuk." Jawab Wiyah ngasal karena mana mungkin Wiyah menceritakan apa yang sedang dia pikirkan.
" Iya kah, mana Kakak Wiyah ala ngga lihat." Ucap Ara antusias sambil memutar pandangannya mencari cicak yang wiyah sebutkan tadi.
" Kakak, bohongin Ala ya." ucap Ara kembali dengan tatapan tajamnya saat tadi mencari apa yang Wiyah sebutkan tidak ada.
" Ngga, Kakak ngga bohong" Jawab Wiyah.
" Tapi koh ngga ada." Tanya Ara kembali sambil melihat ke arah atas.
" Mungkin cicaknya udah pergi karena tadi dia sudah makan nyamuknya." Jawab Wiyah ngasal sambil membuka pintu kulkas lalu mengambil satu botol air dingin yang berada di dalam kulkas. Sedangkan Ara hanya diam sambil melihat kearah Wiyah. Wiyah yang melihat tatapan adiknya segera mengambil langkah kaki seribu untuk meninggalkan Ara yang masih di dapur, Karena Wiyah ingin menghindari pertanyaan Ara yang mungkin akan panjang jika dia tidak segera menghindar.
" Kakak, kenapa tinggalin ala, ala belum selesai beltanya." Teriak Ara kesal yang masih berada di dapur, sedangkan Wiyah tidak menghiraukan panggilan Dari Ara.
Wiyah melangkah melewati ruang keluarga
" Wiyah, kasih tau Jabir cepat masuk ada yang ayah mau ayah bicarakan sama kalian." Ucap Jambri yang masih wajah Tapa ekspresi
" Iya ayah." Jawab Wiyah kembali melanjutkan langkahnya yang tadi berhenti, Saat Wiyah berdiri di depan pintu dia menghentikan langkahnya dan melihat persaingan Haidar dan juga Jabir yang tidak pernah selesai dari dulu sampai sekarang.
" Sepertinya persaingan mereka belum selesai." Batin Wiyah, sambil menggeleng gelengan kepalanya dan pergi menghampiri kedua pria itu.
Di ruang keluarga
Wiyah begitu tegang menunggu apa yang ingin ayahnya ucapkan. Dari tadi Wiyah terus meremas ujung jilbabnya karena takut apa yang ada dipikirannya akan terjadi. Seketika itu hening sampai Jambri membuka suaranya.
" Ada, yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua'' Ucap Jambri memecahkan keheningan di ruangan itu yang tampak hening. Karena Jambri masih takut untuk menyampaikannya Jambri melihat kearah Widya. Widya yang melihat kearah jambri langsung mengerti apa yang di maksud calon mantan suaminya itu.
" Aku dan Jambri akan bercerai." Sambung Widya. Seketika Jabir, Wiyah, Jaaz dan Jami terkejut dengan ucapan Widya. Sedangkan Haidar dan Windi tidak terkejut karena mereka sudah tau tentang perpisahan Jambri dan Widya. Karena sebelumnya Jambri pergi kerumahnya dan menceritakan rencana perpisahannya dengan Widya
" Ya Allah apa maksud ayah dan ibu, mereka ingin bercerai, tapi kenapa." Batin Jabir bingung.
" Ya Allah, apa yang aku takutkan tadi malam kini sudah terjadi. Baru saja tadi malam aku mendengar pertengkaran kedua orang tuaku dan hari ini juga aku mendengar perpisahan keduanya, Tapi apa yang membuat mereka ingin berpisah." Batin Wiyah penuh tanda tanya. Kini pikiran Wiyah sudah pergi kemana karena membayangkan yang tidak ingin dia bayangkan. Belum pernah dia mendengar pertengkaran keduanya. Tapi disaat dia mendengar pertengkaran kedua orang tuanya untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan kini Wiyah harus menerima kabar yang paling dia tidak suka yaitu kabar perceraian keduanya.
Rasanya dunia Wiyah hancur dalam sekejap mendengar ucapannya Jambri dan Widya. Tapi apa yang akan dia perbuat dia hanya anak yang
__ADS_1
akan menanggung beban perceraian kedua orang tuanya. Seperti anak-anak yang lainnya yang sudah merasakan betapa beratnya perpisahan kedua orang tua mereka.
" Apa, Ayah sama bunda sedang mengerjai kami semua." Tanya Jabir
" Tidak nak, apa yang di katakan ibumu itu benar." Ucap Jambri membenarkan sambil menatap Jabir.
" Tapi apa alasan kalian ingin berpisah." Tanya Jabir kembali dengan ekspresinya begitu dingin sama seperti Jambri.
" Apakah ada alasan jika kami ingin berpisah. Apakah kami juga harus mengatakannya." Jawab Jambri.
" Tentu, Ayah semua itu harus ada alasannya. Kami sebagai seorang anak harus tau alasan orang tua kami bercerai. Karena itu adalah masalah kami sebagai seorang anak, masa depan adik-adikku akan hancur karena perpisahan kalian Tapa ada alasan sama sekali.'' Ucap Jabir kembali.
" Aku tau pasti kamu akan menanyakan alasan kami berpisah Jabir. Tapi kami tidak bisa memberi tahukan alasan kami bercerai. Biarpun itu sebagai rahasia kami sebagai orang tua, dan masalah masa depan adik-adikmu kami sudah memikirkan itu semua sebelum kami memberitahukan perceraian kami kepada kalian." Jawab Jambri.
" Tapi kenapa kami tidak boleh tau. Kami sebagai anak-anak harus tau alasannya kenapa kalian ingin berpisah. Kami harus tau karena ini untuk masa depan adik-adikku, jika kalian berpisah Tampa ada alasan yang jelas." Jelas Jabir.
" Karena kalian masih kecil. Walaupun kalian semua sudah dewasa kami tidak akan pernah memberi taukan apa alasannya kenapa kami sampai berpisah. Biarlah ini menjadi rahasia kami sebagai orang tua agar masa depan kalian tidak hancur karena alasan ini." Jawab Jambri sambil menatap Widya.
" Jika ayah sama ibu tidak memberi taukan alasannya maka, aku tidak akan menerima perpisahan ini." Ucap Jabir berdiri dari duduknya tapi di cegah oleh Wiyah.
" Apa yang di katakan ayah itu benar, apapun itu alasannya, kita tidak berhak untuk mengetahuinya. Karena kita hanya anak-anak. Jika kedua orang tua kita ingin berpisah, biarkanlah mungkin itu keputusan yang terbaik untuk kedepannya, kita harus menerima apapun keputusan mereka.
Karena kita hanya seorang anak, jangan pernah ikut campur dalam urusan kedua orang tua kita." Sambung Wiyah sambil menatap punggung Jabir. Walaupun di hati kecilnya juga menanyakan hal yang sama seperti Jabir. Tapi dia tidak mau egois dengan cara ikut campur dengan masalah kedua orang tuanya.
" Tapi dek." Ucapan Jabir di potong.
" Kaka kita harus bisa menghargai ke putusan kedua orang tua kita, mungkin itu yang terbaik untuk mereka, Walaupun didalam agama dilarang yang namanya perceraian. Tapi jika itu keputusan yang terbaik maka jalankanla, kita tidak bisa ikut campur dalam hal rumah tangga orang tua kita." Jelas Wiyah kembali.
Jabir mengembuskan napasnya. Bagaimana tidak berita perceraian kedua orang tua mereka begitu mendadak. Jika saja dia tau kalau ayahnya menyuruhnya pulang hanya ingin mengatakan perceraian mereka maka dia tidak akan pulang. Tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah terjadi. Jabir melihat kearah Wiyah yang terdiam. Jabir tau kalau Wiyah Juga merasa sedih tentang perceraian orang tua mereka. Tapi apa yang akan mereka perbuat mereka hanya anak yang tidak tau masalah apa yang di hadapi kedua orang tua mereka sampai memilih jalan perceraian.
Seketika hening kembali sampai Widya berdehem menyadarkan semua yang sedang terdiam.
" Dan satu lagi yang ibu ingin bicarakan." Ucap Widya serius.
" Apa itu bu." Tanya Wiyah.
" Apa maksud ibu, rumah ini sudah di jual." Tanya Jabir kaget tidak percaya.
" Iya, bukan saja rumah ini tapi juga toko ayah." Sambung Jambri. Membuat Wiyah dan Jabir semakin terkejut karena tidak percaya.
" Apa karena masalah ini kalian memutuskan untuk berpisah." Tanya Jabir.
" Tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian ini Jabir." Jawab Jambri tegas.
" Tapi apa, kalau ngga ada sangkut pautnya." Ucap Jabir kembali.
" Kami memutuskan untuk bercerai setahun yang lalu, dan masalah toko baru satu Minggu kemarin ayah mendapatkan kabar kalau toko ayah mengalami kerugian makanya ayah memilih langsung menjual toko dan juga rumah ini untuk membayar karyawan yang sudah beberapa bulan ini belum diberi gaji." Jawab Jambri.
" Jika memang benar yang ayah katakan itu." Tanya Jabir memastikan.
" iya" Jawab Jambri singkat.
" Sudah, jangan kalian lanjutkan." Ucap Widya memotong pembicaraan jambri dan Jabir.
" Kita tidak membahas soal, toko atau rumah, yang kita bahas tentang hak asuh kalian." Sambung Widya kembali.
" Hak asuh, Maksud ibu." Tanya Jabir.
" Kami akan bercerai maka hak asuh akan jatuh dari salah satu dari kami." Jawab Widya kembali.
" Jadi kami akan di bagi " Tanya Jaaz dan Jami bersamaan, karena mereka sudah tau itu dari sahabat Jaaz, yang orang tuanya sudah berpisah.
" Kami tidak mau Bu, kami tidak mau berpisah." Ucap Jaaz menolak sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Kalian tidak akan berpisah, karena kalian berempat akan bersama ibu." Jawab Widya membuat kedua berbinar bahagia.
" Benarkah itu ibu." Tanya Jami.
" Iya." Anggukan dari Widya.
" Tidak aku tidak setuju, jika adik-adikku berpisah." ucap Jabir tidak setuju." Kalian bisa berpisah, tapi tidak dengan kami." ucap Jabir kembali.
" Itu sudah keputusan kami Jabir, jadi tidak ada yang menolak." Sambung Jambri dengan tegas.
" Tapi kenapa ayah, kalian yang berpisah, tapi kami yang menjadi korban dari perpisahan kalian." Tanya Jabir.
" Kalian tidak menjadi korban, kami memilih memisahkan kalian karena kami memiliki usaha kami masing-masing, dan itu berbeda di kota lain." Jawab jambri.
" Tapi kenapa adik-adikku semua harus ikut dengan ibu, tidak dengan ayah." Tanya Jabir tidak terima.
" Itu karena mereka masih kecil jadi harus ikut dengan ibu tidak bisa ikut dengan ayah." Jawab Jambri.
" Tapi bagaimana dengan abang, sama kakak." tanya Jaaz sambil melirik kedua kakaknya.
" Abang akan ikut ayah sedangkan Wiyah."ucap Widya dipotong oleh Jambri.
" Wiyah akan tinggal bersama dengan Kakak Haidar." Sambung Jambri.
" Apa maksudnya ayah, Wiyah akan tinggal bersama kakak Idar, tapi kenapa.'' Tanya Jabir bingung dengan keputusan ayahnya itu.
" Ayah sudah memutuskan bahwa Wiyah harus tinggal bersama dengan Haidar, karena dia masih sekolah disini." Jawab Jambri.
" Tapikan yah, kita bisa urus surat pindah untuk Wiyah.'' Tanya Jabir." Wiyah bisa ikut dengan ayah atau ibu dan bisa bersekolah di sana." Ucap Jabir kembali.
" Kita tidak bisa mengambil surat perpindahan karena ini semester akhir untuk Wiyah." Jawab Jambri.
" Tapi kenapa Jaaz dan Jami bisa, sedangkan Wiyah tidak bisa." Tanya Jabir yang menahan emosinya agar tidak keluar.
" Itu karena mereka berbeda, Wiyah kelas tiga SMP. Sedangkan Jaaz dan Jami kelas lima SD, dan kita juga tidak bisa memindahkan Wiyah karena Wiyah mendapatkan beasiswa di sekolah itu. Wiyah adalah anak pintar, ayah tidak mau karena perpisahan kami Wiyah harus pindah dari sekolah itu dan beasiswanya di cabut." Ucap Jambri kembali.
" Bisa ayah, karena Wiyah pintar dia akan mendapatkan beasiswa kembali jika dia dipindahkan kesekolah lain, Wiyah bisa ikut bersama ayah atau ibu" Jawab Jabir.
" Wiyah tidak bisa ikut bersama ibu." Sambung Widya.
" Kenapa bu." Tanya Jabir bingung.
" Karena ibu sudah membawa keempat adik kalian, dari itu ibu ngga bisa membawa Wiyah untuk ikut ibu. Karena ibu takut ibu ngga bisa menjaganya." Jawab Widya.
" Yang ibu katakan itu ada benarnya, ibu sudah membawa dan menjaga kempat adik kita, lebih baik aku tinggal di tempatnya Kaka Idar." Sambung Wiyah yang dari tadi diam sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
" Tapi jika ibu tidak bisa, maka ayah bisa kan." Tanya Jabir melirik kearah Jambri.
" Ayah juga tidak bisa Jabir. Ayah takut, ayah tidak bisa menjaga Wiyah dikota itu. Kamukan tau seperti apa kota yang kamu tinggalin itu." Jawab Jambri.
" Iya ayah Jabir tau, tapi kan Jabir ada di sana Jabir bisa menjaga Wiyah, dan jika Jabir tidak bisa maka Ayah ada disana untuk menjaga Wiyah." Jawab Jabir.
" Tidak bisa Jabir, kita tidak tau. kapan kita akan lalai dari itu ayah tidak bisa membawa adikmu." ucap Jambri menolak saran dari Jabir.
" Kamu tau keadaan kota itu berbahaya untuk Wiyah, apalagi Wiyah belum pernah merasakan kerasnya kehidupan dikota." Ucap Jambri kembali.
" Bang yang dikatakan ayah itu benar, jadi biarkanlah Wiyah tinggal bersama Kaka Idar." Ucap Wiyah tersenyum." Wiyah tidak masalah jika harus berpisah dengan kalian." Jawab Wiyah kembali. Walaupun Wiyah mengatakan seperti itu tapi Wiyah masih merasa sedih, kecewa, dan bingung, semua menjadi satu dalam pikirannya.
Merasa Tidak di inginkan ya mungkin yang Wiyah pikiran sekarang. Apakah karena dia orang tuanya bercerai. Entahlah hanya Waktu yang bisa menjawab.
Setelah pembicaraan selesai dan tidak ada yang di bicarakan lagi. Semua orang yang berada di ruang keluarga bubar dan masuk kedalam kamar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban mereka, sebagai muslim.
__ADS_1
Mampir dikarya kedua ku
bersambung