
Sampai berapa detik. Pandangan mereka saling mengunci. Fazar maupun gadis itu sama sama terdiam dalam pikiran mereka sendiri.
Sampai.
" Astaghfirullah." Ucap gadis itu yang tidak lain adalah Wiyah. Wiyah menyadari apa yang telah dia lakukan salah. Karena merasa nyaman didalam pelukan seseorang yang baru saja beberapa kali dia temui tanpa sengaja, dan pria itupun bukan mahramnya.
Wiyah yang menyadari itu, Langsung melepaskan tangan Fazar dari pinggang nya sedangkan pandangannya iya alihkan kearah lain.
Wiyah menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fazar yang begitu sangat dekat dengannya
Termasuk Fazar yang menyadari itu sama sama menjauh. Mereka terdiam, Karena sama sama merasa sangat canggung karena pelukan tidak sengaja itu. Walaupun hal itu tidak sengaja. Tapi mereka telah berbuat dosa,
Menyentuh lawan jenisnya tanpa ada ikatan apapun itu. Wiyah atau Fazar hanya diam,
Sampai Fazar menyadari kalau mereka dari tadi di perhatikan oleh pengunjung restoran dan pelayanan di situ, karena tadi mereka menjadi penonton saat kejadian tadi.
Fazar berdehem dengan keras membuat pelayan dan pengunjung yang memperhatikan mereka mengalihkan pandangan mereka kearah lain.
Pandangannya kembali tertuju kearah bagian bawah, Yang memperlihatkan ponselnya tergeletak di atas tangga. Ponsel yang harganya sampai jutaan kini tergeletak di atas tangga, Dengan layar yang sudah rentak.
Fazar mengingat kalau ponsel nya sengaja dia jatuhkan, Karena Fazar memilih menolong gadis itu daripada ponselnya.
" Dasar ceroboh." Gerutu Fazar dingin. Sambil membungkuk mengambil ponselnya yang layarnya sudah rentak.
Fazar kembali ke posisi semula, Sedangkan pandangannya lurus ke arah Wiyah, Yang sedang menundukkan pandangannya.
" Semua itu karena kamu." Ucap Fazar yang menyalakan Wiyah." Seharusnya saya tidak menolong mu." Ucap Fazar dingin sambil menatap Wiyah dengan tatapan tajam.
Kesal tentu saja, Ponsel yang baru saja di beli satu minggu yang lalu, Ponsel yang harganya sampai berjuta juta mahal nya kini telah rusak.
Fazar tidak mempermasalahkan masalah harga, Karena dia memang orang kaya. Tapi yang di permasalahkan isi di dalam ponselnya terdapat hal penting.
" Maaf tuan, Saya benar benar tidak sengaja " Ucap Wiyah merasa bersalah, Karena kecerobohannya membuat pria yang berada di depannya itu marah lagi, Apalagi ini pertemuan mereka yang kesekian kalinya.
Wiyah tahu dalam mata pria itu hanya ada tatapan kebencian untuk nya.
Kebencian karena hal yang tidak di sengaja olehnya.
" Kata maaf mu itu, tidak akan bisa Menganti ponsel saya yang berharga jauh lebih mahal daripada dirimu " Jawab Fazar dengan begitu sangat menyakitkan. Menusuk sampai ke ulu hati Wiyah." Harga ponselku tidak sama dengan harga t**uhmu yang selalu kau jajakan ke orang lain." Hinaan Fazar membuat Wiyah marah, Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa walaupun harga dirinya kembali di hina untuk ke sekian kalinya, Karena pertemuan tidak sengaja mereka untuk yang kesekian kalinya selama kejadian dua bulan yang lalu.
Padahal kejadian itu memang tidak sengaja, Tapi Fazar begitu sangat dendam padanya, Sampai sampai pertemuan mereka pasti Fazar akan melontarkan kata kata kasar. Padahal pertemuan mereka benar benar tidak sengaja.
" Itu tidak benar tuan." Lirih Wiyah hampir tidak terdengar.
" Sekali lagi maafkan saya tuan, Saya benar benar tidak sengaja." Ucap Wiyah. Sedangkan Fazar hanya melirik sebentar lalu kembali mengalihkan pandangan kearah lain.
" Pusing saya berurusan terus dengan kamu, Lebih baik saya pergi dari sini." Ucap Fazar yang merasa muak jika harus berhadapan dengan Wiyah. Padahal gadis berhijab itu tidak tahu kalau pertemuan mereka, Akan seperti ini.
" Tunggu tuan." Cegah Wiyah, Saat melihat Fazar akan pergi.
" Apalagi sih, Kamu mau jebak saya lagi, Seperti kamu menjebak pria lain." Jawab Fazar yang terdapat hina dalam nada bicaranya.
Wiyah yang mendengar itu hanya bisa meremas gamis nya karena merasa sangat sedih. Pria yang selalu dia temui tidak pernah berkata baik padanya, Malahan selalu menghinanya.
"Seharusnya pertemuan ini tidak pernah terjadi, Kalau hinaan yang aku terima, Karena kejadian itu. Batin Wiyah menjerit sakit.
Rasanya dia ingin marah dan menampar pria yang berada di hadapannya, Tapi Wiyah masih berpikir untuk melakukan itu.
Wiyah hanya bisa beristighfar dalam hatinya, Agar di berikan kesabaran lebih agar bisa menghadapi pria yang menganggap remeh seorang wanita.
__ADS_1
" Saya hanya ingin berterima kasih kepada tuan, Karena tuan telah menolong saya tadi. Jika tuan tidak menolong saya, Mungkin saya sudah jatuh dari tangga " Ucap wiyah tulus, Walaupun nantinya akan ada hinaan. Tapi Wiyah akan tetap berterimakasih, Apalagi pria yang berada di depannya sudah menolong nya. kalau tidak ada pria itu, Mungkin Wiyah sudah jatuh dari tangga karena kecerobohannya.
Fazar kembali menatap gadis berhijab itu,
Menatap sinis ke arah Wiyah.
" Saya menolongmu karena tidak sengaja, Saya hanya refleks saja menolong mu." Ucap Fazar dengan dingin." Dan ingat jangan pernah kamu ceroboh seperti tadi, Memanfaatkan situasi hanya untuk mencari mangsa." Ucap Fazar kemudian membalikkan tubuhnya, Melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga. Tampa memikirkan seperti apa persamaan gadis berhijab yang telah dia hina dan dia sakiti secara batin.
Pertemuan untuk kesekian kalinya dan hinaan untuk yang beribu-ribu kali nya itu yang di rasakan oleh Wiyah.
Sedangkan Wiyah hanya bisa menatap punggung dari pria yang telah menolong nya dan juga menghinanya tadi. tanpa memikirkan perasaan gadis berhijab itu.
.
.
Fazar melangkah dengan gagahnya sedangkan hatinya menahan amarah karena pertemuan tidak sengaja tadi.
Fazar melangkah dengan hati yang bergemuruh panas. Fazar melangkah tanpa memerhatikan arah jalan nya sampai dia di menabrak seseorang.
" Maaf tu_" Ucapan orang itu terhenti saat melihat orang yang dia tabrak barusan " Abang " Ucap orang yang tidak lain adalah Fadil.
Sedangkan Fazar menatap orang yang menabraknya yang tidak lain adalah adiknya sendiri. Orang yang dia cari kini berada tepat di hadapannya.
" Abang ngapain disini " Tanya Fadil.
" Ngapain juga gue nanya kaya gitu, Orang gue sudah tahu kalau abang lagi ngecek restoran nya." Batin Fadil yang merasa bodoh telah menanyakan pertanyaan yang menurutnya sudah memiliki jawaban.
" Seharusnya saya yang bertanya sama kamu, ngapain kamu di sini." Bukannya menjawab Fazar malah memberikan pertanyaan." Apa kamu lupa ini restoran siapa " Tanya Fazar.
Fazar merasa aneh dengan pertanyaan adiknya itu,Yang sudah tahu jawabannya apa Tapi masih saja bertanya.
" Aku kesini habis makan siang bareng temen bang." Jawab Fadil." Aku tahu bang, Ini restoran abang dan abang kesini karena ingin mengecek restoran, Sekalian meeting sama klien." Jelas Fadil. Sekalian memberikan jawaban dari pertanyaan nya barusan, Yang seharusnya di jawab oleh Fazar.
Sedangkan Fadil tampak kesal dengan ucapan abangnya itu.
" Kalau gitu abang lanjutkan pekerjaan abang. aku mau keluar." Pamit Fadil yang ingin menghindar dari abangnya itu. Sebelum pertanyaan nya semakin jauh. Apalagi semalam dia tidak pulang kerumah karena penyakitnya yang kambuh.
" Kamu mau kemana." Tanya Fazar menatap adiknya itu dengan tatapan dingin.
" Mau nganter calon istri bang." Jawab Fadil seadanya, Tapi memang nyata seperti itu.
" Calon istri." Tanya Fazar bingung." Emangnya ada yang suka sama kamu "
" Iya bang." Jawab Fadil " Orang Fadil ganteng gini masa ngga ada yang suka sih." Ucap Fadil menatap Fazar kesal.
" Jangan sampaikan." Sindir Fazar. Membuat Fadil mendengus kesal.
" Lebih baik aku pergi daja, Daripada berurusan sama abang." Kesal Fadil yang melangkah pergi.
" Berhenti." Cegah Fazar membuat Fadil menghentikan langkahnya, Fadil berbalik melihat kearah Fazar dengan wajah kesalnya.
" Apalagi sih bang." Kesal Fadil menatap abangnya itu." Soal semalam aku ngga pulang kerumah." Ucap Fadil yang seperti tahu pertanyaan yang akan di lontarkan abangnya itu.
Fazar ternganga keheranan mendengar ucapan dari Fadil, Yang seperti tahu apa yang akan dia tanyakan, Padahal dia belum bertanya, Tapi sudah ada jawaban nya.
" Nanti sampai di rumah baru aku jelaskan " ucap Fadil " sekarang aku mau pergi dulu "
Ucap Fadil yang melangkah pergi, Tanpa mendengar jawaban dari Fazar, Apakah dia boleh pergi atau tidak.
__ADS_1
" Dasar adik ngga ada akhlak, Pergi tanpa mendengarkan ucapan dari abangnya " Fazar mendengus kesal. Melihat punggung Fadil yang makin menjauh.
Fazar menghela nafasnya. Karena pertemuannya dengan Fadil, Fazar sampai lupa dengan rencananya untuk kembali ke dalam ruangan Zain. Bukan itu saja Fazar juga sampai lupa dengan amarahnya yang tadi.
Kini Fazar kembali tenang seperti tidak terjadi sesuatu padanya.
Fazar kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena pertemuannya dengan Fadil. Kembali melanjutkan langkahnya ke ruangan VIP tempat Zain dan klien nya berada
.
.
Sedangkan di sisi lain.
Wiyah yang sudah keluar dari restoran, melangkah mengarah ke parkiran, Tempat Fina menunggu nya.
Dengan langkah lesunya Wiyah melangkah mengarah kearah Fina.
" Akhir nya lo datang juga." Ucap Fina kesenangan saat melihat Wiyah yang sudah berdiri di depannya." Hampir saja aku berjamur aku yah nungguin kamu."
" Maaf ya Fin, Kamu nungguin nya jadi lama " Ucap Wiyah merasa tidak enak dengan Fina karena menunggunya sangat lama.
Fina tersenyum mendengar ucapan Wiyah, Apalagi Fina tahu sifat Wiyah yang tidak enakan kalau ada yang menunggunya terlalu lama.
" Ngga apa-apa Wiyah, Aku cuman bercanda saja, Santai" Ucap Fina.
Wiyah hanya tersenyum kecil mendengar ucapan dari Wiyah. Fina yang melihat wajah Wiyah merasa ada yang aneh. Apalagi wajah Wiyah yang terlihat sedih, beda saat Dia masuk ke dalam restoran tadi.
" Ada apa Wiyah, Kenapa kamu terlihat sedih " Tanya Fina.
" Ngga apa-apa Fina" Jawab Wiyah dengan senyuman kecil nya.
" Yakin kamu ngga apa-apa Wiyah." Tanya Fina membuat Wiyah hanya mengangguk memberikan jawaban iya. Fina yang mendapatkan jawaban dari Wiyah walaupun hanya mengangguk hanya bisa mengerti tanpa bertanya kembali.
Walaupun Fina merasa penasaran, tapi Fina tidak mau kepo dan bertanya lagi yang nantinya akan membuat Wiyah merasa tidak nyaman padanya.
🍂🍂🍂🍂🍂
" Paman mau kemana." Tanya seorang wanita muda, Yang melihat pria paruh baya yang sudah rapi dengan baju santainya.
" Paman mau kerumah Haidar." Jawab pria paruh baya itu.
" Kerumah Haidar." Pria paruh baya itu hanya mengangguk.'' Apa paman akan memberitahukan rahasia itu." Tanya wanita muda itu.
" Iya, paman ingin memberitahukannya sebelum dia mendengar di orang lain "
" Tapi paman, apakah tidak Terlalu cepat untuk memberitahukan nya." Tanya wanita itu, yang tahu apa resiko jika rahasia itu di ungkapan.
" Lebih cepat lebih baik, paman Juga sudah memikirkan itu Dan paman tahu resiko nya." Jawab pria paruh baya itu.
" Baiklah jika itu keputusan paman, Erna hanya bisa mengikuti nya." Wanita muda itu hanya bisa mengalah dan mengikuti kemauan dari pamannya itu.
Bersambung.
Banyak Typo Yang Bertebaran.
Maaf Baru Bisa Up.
Karena author ngga enak badan.
__ADS_1
Makasih buat teman teman udah mau baca karya author yang belum rapi dan masih banyak typo nya.
Salam manis dari author 😉