
Lima belas menit Jabir dan wiyah sudah sampai di depan rumah, Jabir memarkirkan motornya di halaman rumah,
" Alhamdulillah, sampai juga." Ucap Wiyah yang turun dari motor disusul Jabir
Wiyah melihat ke arah Jabir." Bang" Panggil Wiyah menghadap Jabir.
" Hmm" Jawab Jabir, Tanpa melihat kearah Wiyah yang membuat Wiyah kesal.
Wiyah memasang muka kesalnya." Bang kalau adek Panggil itu di dengarkan, Jangan di cuekin." Ucap Wiyah dengan wajah mengerut Kesal.
Jabir mendengar Ucapan dari adik kesayangan itu langsung berbalik, Menghadap Wiyah yang sedang mengerut kesal. Jabir yang melihat Wajah Wiyah yang sedang mengerut membuat dia tersenyum." Kenapa adeknya Kakak, hmm, Apa yang kamu ingin tanyakan." Tanya Jabir dengan suara lembut nya.
Wiyah melihat ke arah Abang nya itu" Bang bukanya abang ngga bisa pulang bulan ini karena banyak tugas kuliah." Tanya Wiyah." Tapi koh bulan ini Abang pulang. Emangnya udah selesaikan tugas kuliahnya." Tanya Wiyah kembali.
" Iya memang rencananya sih bulan depan abang baru pulang soalnya banyak tugas kuliah. Tapi tadi pagi ayah telfon abang. Katanya ayah sih ada yang mau di bicarakan sama kita dan abang di suruh pulang sama ayah, Makanya Abang pulang. Masalah tugas kuliah tinggal sedikit soalnya kemarin abang sudah dibantu sama temennya abang." Jawab Jabir sambil melihat kearah Wiyah yang mengangguk mengerti.
" Hmmm" Wiyah mengangguk mengerti.
" Tapi bang kenapa ayah telfon abang, Apa yang mau ayah bicarakan." Tanya Wiyah penasaran kembali sambil menyilangkan tangannya diatas dada.
" Abang juga ngga tau kenapa ayah telfon abang, dan mau membicarakan apa." jawab Jabir.
" Oh " Wiyah Hanya ber oh ria mendengar Jawaban dari Jabir.
" Tapi ayah mau ngomong apa sama kita bang." Tanya Wiyah Sedangkan jari telunjuknya dia simpan di atas dagunya tanda kalau dia sedang berfikir.
" Ngga tau, nanti tanya aja sama ayah." Jawab Jabir.
" Apa ayah mau bicarakan soal semalam ya. Astaghfirullahaladzim, Wiyah berpikir positif lah." Batin Wiyah Merasa sangat cemas. Membayangkan jika ayahnya membahas soal keributan semalam, Yang Mungkin akan berakhir perceraian. Membayangkan itu saja Wiyah menjadi takut apalagi memang kenyataannya seperti itu.
Jabir melihat kearah adiknya itu hanya diam. merasa bingung, biasanya dia yang paling cerewet." Dek, kenapa diam." Tanya Jabir.
Wiyah yang diam tersadar karena Jabir memanggil nya." Kenapa bang." Tanya Wiyah.
Jabir tersenyum." Ditanyain malah balik nanya." Ucap Jabir sambil geleng-geleng melihat tingkah adiknya itu." Abang tadi tanya, kenapa diam, hmm." Tanya Jabir kembali. Wiyah yang mendengar pertanyaan dari abangnya hanya terkekeh.
" Ngga ada bang." Jawab Wiyah. Jabir hanya mengangguk mengerti tidak Meu bertanya kembali.
Saat Wiyah dan jabir sedang asyik berbincang-bincang.
Haidar datang dengan mengayuh sepedanya. Keringat yang membasahi baju dan rambutnya yang membuatnya basah. Wajah Haidar terlihat begitu sangat kelelahan karena Haidar tidak terbiasa menggunakan sepeda. Haidar yang selalu biasanya mengunakan motor atau mobil kini dia harus berusaha mengayuh sepeda yang dia pakai.
Haidar masuk ke halaman rumah Wiyah dan memarkirkan sepeda yang dia naikin. Haidar turun dan duduk diatas tanah Tanpa pengalas sama sekali. Haidar tidak perduli baju yang di gunakarya kotor. Karena dia hanya ingin mengatur nafasnya yang kehabisan gara-gara mengayuh sepeda.
Wiyah dan Jabir yang masih berada di halaman itu cukup terkejut karena melihat penampilan Haidar yang duduk diatas tanah, baju yang tadi di pakai rapi kini basah karena keringat, Wajahnya yang tadi tampan kini kusut seperti benang.
__ADS_1
Wiyah yang melihat Haidar merasa kasian. Sedangkan Jabir hanya tersenyum seperti sedang mengejek Haidar." Cih, baru saja mengayuh sepeda dari sekolah kerumah sudah secapek ini. apalagi dia mengayuh dari kota S ke T mungkin udah mati kelelahan ini orang, dasar abang-abang lemah. kelihatannya aja tampan tapi fisiknya lemah." Batin Jabir tersenyum mengejek sambil melihat ke arah Haidar.
Jabir dan Haidar, Memang dari dulu sampai sekarang tidak bisa akur karena persaingan mereka. Walaupun keduanya di bedakan 11 tahun. Haidar dan Jabir tetap akan bersaing dari halterkecil sampai halterbesar.
Padahal Haidar sudah memasuki usia 31 tahun dan Jabir berusia 20 tahun, tapi mereka akan tetap bertengkar dan saling mengerjai dari hal apapun itu Persis seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.
Walaupun mereka sering bersaing tapi keduanya tetap saling menyayangi seperti yang lain. Jika mereka berpisah mereka akan saling merindukan tapi di saat mereka bertemu maka begini la jadinya. Entah siapa yang duluan dan siapa yang akan mengakhiri.
Keduanya mendekati, Haidar." Kakak Idar apa Kakak Idar ngga apa-apa." Tanya Wiyah merasa kasian dan bersalah. Kasian karena melihat Haidar begitu kelelahan dan duduk diatas tanah tanpa ada kursi atau pengalas sama sekali sedangkan wajahnya begitu lusuh karena keringat.
Wiyah merasa bersalah karena Haidar mengantarkan sepedanya dengan cara mengayuh dari sekolah sampai kerumahnya. Padahal cuacanya yang sangat panas sampai sampai Haidar berjemur diteriknya matahari, hanya karena bersaing dengan Jabir.
" Iya dek, Kakak baik-baik saja." Jawab Haidar dengan nafas naik turun seperti orang yang akan mati karena sesak nafas.
Jabir melangkah mendekati Haidar." Bang, apa kamu baik baik saja." Tanya Jabir tersenyum mengejek.
Haidar melihat kearah Jabir." Iya, aku baik-baik saja." Jawab Haidar ketus, sedangkan Wiyah yang melihat keduanya hanya geleng-geleng karena dia sudah tau tentang persaingan keduanya.
" Dek tolong ambilkan kakak air." Suruh Haidar lembut.
Wiyah mengangguk." Iya, Kaka idar, tunggu biar adek ambilkan." Jawab Wiyah sambil melangkahkan memasuki rumah meninggalkan kedua pria yang berada usia itu. Saat Haidar sudah melihat kepergian Wiyah, Haidar berdiri dari duduknya untuk mendekati Jabir.
Haidar berdiri di hadapan Jabir. Pandangan Haidar begitu menakutkan menatap kearah Jabir.
" Udah puas mengerjai ku." Tanya Haidar sinis.
" Tentu bang, aku begitu senang mengerjai abang, seperti abang lakukan padaku tadi." Balas Jabir tidak kalah sinis nya.
" Bagaimana pembalasanku abang Haidar." Ejek Jabir kembali sambil melihat kearah Haidar. Jabir masih ingat, apa yang Haidar perbuat. Sampai sampai membuat Jabir begitu sangat kesal karena Haidar mengerjainya.
Jabir masih mengingat apa yang Haidar lakukan kepada nya. Haidar mengerjainya dengan cara mendandaninya saat dia masih tidur. Jabir tidak tahu kalau wajahnya yang tampan kini berubah menjadi badut karena di coret coret oleh Haidar mengunakan alat make up, Yang entah alat make up itu Haidar dapat dari mana. Jabir disaat itu masih tertidur, tidak menyadari kalau Haidar sudah mencoret-coret wajah nya.
Di saat Haidar puas mencoret coret wajah Jabir dengan lipstik dan bedak dari istrinya, Haidar segera membangunkan Jabir untuk menjemput Wiyah.
Jabir yang tidak tau kalau wajahnya yang kini berubah menjadi mengerikan, Segera turun kebawah tanpa memeriksa terlebih dahulu seperti apa wajahnya sekarang. Jabir melangkah dengan santainya turun ke bawah tanpa menghiraukan tatapan dari keluarganya. disaat Jabir melewati ruang tamu yang sudah di penuhi oleh keluarganya.
Jabir hanya acuh saat melihat keluarganya yang sedang tertawa. Karena Jabir tidak tahu kalau sekarang keluarga nya sedang menertawakannya.
Tapi saat Jabir menaiki motor tidak sengaja dia melihat wajahnya dari kaca spion motor. Yang memperlihatkan wajah Jabir seperti badut.
Jabir yang melihat wajahnya begitu sangat terkejut karena melihat wajah tampannya kini berubah menjadi badut.
Jabir sadar kenapa tadi dia ditertawakan saat dia melewati ruang tamu. Ternyata alasannya itu karena wajahnya yang sama seperti badut.
Selesai membasuh wajahnya Jabir melihat kearah Haidar yang begitu senang seperti anak yang habis mendapatkan permen. Jabir tau siapa yang mengerjainya dan berencana untuk membalas orang itu dengan cara memanggilnya Haidar untuk mengikuti Jabir dengan alasan ada yang mencarinya.
__ADS_1
" Cukup menarik, tapi tunggu juga pembalasan ku nanti Jabir." Ucap Haidar sambil menekan perkataannya.
" Aku tunggu abang Haidar, maaf salah maksudnya Haidar Malik." Balas Haidar dengan senyuman mengejeknya. Haidar dan Jabir masih asyik bersaing sampai Wiyah datang mengantarkan air untuk Haidar.
Wiyah melangkah mendekati Haidar dan Jabir.
" Kakak ini airnya." Ucap Wiyah sambil menyerahkan satu botol air dingin. Haidar menerima air itu, Lalu meminumnya sampai habis. karena dia begitu haus mengayuh sepedanya di bawah teriknya matahari.
" Makasih dek." Ucap Haidar yang sudah selesai minum.
Wiyah tersenyum dengan manisnya." Iya Kaka Idar sama-sama" Jawab wiyah.
Wiyah melihat kearah Jabir." Bang kata ayah, cepat masuk soalnya ada yang mau di bicarakan sama ayah." Ucap Wiyah sambil melirik Jabir.
" Iya dek, Nanti Kakak masuk. Ade duluan aja nanti Abang nyusul." Jawab Jabir.
" Iya bang, kalau gitu Ade duluan ya." Pamit Wiyah Sambil melangkah memasuki rumah.
Saat Wiyah sudah hilang di ambang pintu Jabir kembali melihat ke arah Haidar." Bang, tinggal beberapa hitungan lagi aku akan menyamai mu." ucap Jabir dengan percaya dirinya sambil menatap kearah Haidar.
" Cih, masih jauh Jabir. Sekorku 586 dan kamu masih di bawahku 573. Tentu aku yang tertinggi sebelum kamu menyaingiku. Aku akan menghindarinya." Jawab Haidar tidak mau kalah sambil tersenyum jahat.
" Oke, Tunggu pembalasan ku, aku akan menyeimbangkan seekorku." Ucap Jabir kembali sambil berbalik melangkah memasuki rumahnya.
Haidar melihat ke arah Jabir yang sedang melangkah masuk ke dalam." Aku tunggu adikku." Ucap Haidar tapi Jabir tidak mendengarkan karena dia sudah masuk ke dalam rumah.
Haidar membuang nafasnya dan ikut masuk kedalam rumah, dia tidak tahu apa yang akan di bicarakan oleh pamannya itu
Di dalam rumah
Di ruang keluarga sudah di penuh oleh manusia
entah apa yang ingin Jambri katakan sampai sampai Jambri memanggil Haidar dan juga Jabir yang sedang berada di uar kota.
Disitu sudah ada, Widya ibu dari Wiyah, Windi istri Haidar, Wiyah, Jabir, Haidar. dan juga 2J jaaz dan Jami.
Termasuk jambri yang sudah duduk di sofa sambil melihat kearah lainnya. Kalau anak-anak. Seperti seperti 2R atau Rafa Rafi anak-anak dari Haidar, Arin adik bungsu Wiyah, dan juga Ara mereka ada di dalam kamar karena di suruh oleh jambri. Agar tidak menggangu apa yang ingin di sampaikan oleh Jambri
Di ruang tamu itu kelihatan hening dan juga tegang karena melihat ekspresi Jambri yang tidak seperti biasanya, memanggil tanpa ada alasannya itu yang membuat mereka tegang.
Hingga jambri membuka bersuara.
" Ada, yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua." Ucap Jambri memecahkan keheningan.
bersambung
__ADS_1