Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 17


__ADS_3

Dari jauh Fadil bisa melihat Wiyah yang sedang berjalan kaki.


" Cantik." Satu kata itu yang keluar dari bibir Fadil karena melihat Wiyah dari kejauhan. Walaupun Fadil melihat wiyah dari kejauhan tapi Fadil masih bisa melihat gadis itu begitu cantik mengenakan gamis warna navy yang begitu cocok dengan kulit putihnya.


Saat melihat Wiyah yang sudah melewati mobilnya, Fadil langsung turun dari mobil, ikut berjalan kaki seperti yang Wiyah lakukan. Seakan akan Fadil juga sedang berjalan kaki. Padahal dia mengunakan mobil.


" Wiyah." Panggil Fadil. Wiyah yang mendengar namanya di panggil membalikkan tubuhnya, Wiyah bisa melihat ada orang yang kemarin yang tidak sengaja dia temui sedang berjalan mengarah kepadanya.


" Iya, ada apa tuan." Tanya Wiyah saat Fadil sudah berdiri dua meter dari nya.


" Ya Allah getaran apakah ini." Batin Fadil merasakan ada sesuatu getaran dalam jantung nya.


" Tuan." Panggil Wiyah saat melihat orang dihadapannya itu sedang melamun sambil menatap ke arahnya, Karena hal itu membuat Wiyah menjadi risi karena tatapan dari orang itu. Karena orang di hadapannya tidak merespon panggilan nya. Wiyah memutuskan untuk pergi meninggalkan pria itu, karena Wiyah tidak mau nanti akan timbul fitnah jika dia bersama seorang laki laki yang bukan mahram nya, apalagi tempat nya yang terbilang kurang ramai karena hanya di lewati satu atau dua kendaraan.


Apalagi Wiyah yang baru kemarin mengenal pria itu membuat Wiyah sedikit was was karena Wiyah tidak tau seperti apa Fadil sebenarnya.


Wiyah yang tidak pernah berteman dengan seorang pria jika sudah di hadapkan seperti ini jadi kaku sendiri.


Fadil yang menyadari Wiyah yang sudah pergi tersadar dari lamunannya.


" Ya ampun aku sampai lupa kalau aku di hadapkan oleh wanita yang selalu menjaga pandangannya.( Fadil memukul Pelan jidatnya). Tapi aku malah menatapnya seperti tadi yang membuat gadis itu merasa risi karena tatapan ku. " Gumam Fadil melihat Wiyah yang hampir jauh darinya.


" Dek Wiyah " Panggil Fadil sambil berjalan cepat mengikuti langkah Wiyah yang sudah hampir menjauh dari nya.


" Kenapa sih dengan pria itu." Batin Wiyah yang merasa kesal dengan pria yang mengejarnya itu. Wiyah mengehentikan langkanya, berbalik melihat ke arah Fadil.


" Ada apa tuan." Tanya Wiyah yang kembali menahan kekesalannya karena pria yang berada di hadapannya itu.


" Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya bertanya kepada mu." Jawab Fadil, yang sudah berdiri sekitar dua meter dari Wiyah.


" Apa yang ingin tuan tanyakan." Wiyah kembali bertanya karena dia tidak mau banyak membuang waktu hanya meladeni pria yang berada di hadapannya, apalagi dia hampir telat masuk di kerjaannya.


" Dek Wiyah mau kemana." Tanya Fadil, karena dia sendiri bingung harus menanyakan apa,


ini juga pertama kalinya dia mau buang buang waktu hanya karena seorang wanita, bisanya juga wanita yang mau membuang buang waktu hanya ingin menemui Fadil, mungkin ini karma dari para wanita yang Fadil tolak.


" Aku mau turun kerja tuan." Jawab Wiyah. Sedangkan Fadil hanya mengangguk mengerti, padahal dia sendiri sudah tau Wiyah bekerja, ya demi merebut hati seorang wanita dia harus bisa bersikap seperti hari ini, Apalagi hati yang ingin dia luluhkan adalah wanita yang berhasil merebut hatinya.


" Kamu berkerja di mana." Tanya Fadil yang berusaha basa basi.


" Saya bekerja di depan sana tuan." Tunjuk Wiyah mengarah ke tempat kerjanya yang tidak jauh lagi dari pandangannya. Sedangkan Fadil mengikuti arah dimana Wiyah menunjuk hanya mengangguk mengerti." Apa saya bisa pergi tuan, soalnya saya hampir telat untuk bekerja " Tanya Wiyah


" Tentu" Jawab Fadil.


Saat Wiyah ingin pergi Fadil kembali memanggilnya.


" Wiyah." Panggil Fadil yang berhasil memberhentikan langkanya, membuat Wiyah kembali menghadap Fadil.


" Apakah kita bisa berteman." Ucapan itu tidak sengaja keluar dari mulut Fadil seakan akan keluar hati.


Wiyah tidak menjawab dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda


Fadil yang melihat senyum wiyah, mengisyaratkan kalau Wiyah mau berteman dengan nya


" Yes." Teriak Fadil yang langsung mendapatkan tatapan dari pengendara yang lewat di jalan itu. Sedangkan Wiyah tidak mendengar karena dia sudah pergi menjauhi Fadil.


Fadil Kembali ke dalam mobilnya, Rencananya tadi ingin berjalan kaki bersama dengan Wiyah. Hanya Saja Fadil menundanya terlebih dahulu karena Fadil akan melaksanakan nya besok.


Besok dia akan membawa sekertaris nya agar dia tidak bosan menunggu.


Sekip

__ADS_1


Fazar yang dari tadi fokus ke berkas, memalingkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk.


" Masuk." Perintah Fazar." Kamu." Fazar mengeraskan rahangnya melihat orang yang baru masuk kedalam ruangan kerjanya, orang yang dari tadi dia tunggu baru saja datang setelah berkas yang berbeda di hadapannya hampir habis.


" Masih ingat juga ya Lo sama kerjaan di kantor." Tanya Fazar ketus menatap orang yang di hadapannya dengan tatapan sinis.


Sedangkan orang yang tidak lain Fadil hanya terkekeh kecil, kalau Fazar sudah mengatakan Lo gue artinya dia sedang marah.


" Maaf bang." Ucap Fadil.


" Ini kantor Fadil bukan rumah. Jadi jangan Lo panggil gue Abang" Tegur Fazar dengan menekan kata Abang.


" Iya tuan Muhammad Yusuf Al Fazar, anak Ayah yang pertama, dari ayah Al, pemilik perusahaan Al group perusahaan terbesar, di kota ini, CEO mudah yang berhasil menduduki tiga dari sepuluh orang terkaya. yang baru dua puluh delapan tahun tapi sudah sukses." Jawab Fadil yang entah menyindir atau memuji.


" Ngga usah menyindir." ketus Fazar.


" Ngga tuan aku ngga menyindir, tapi memang begitu kenyataannya." Jawab Fadil. Sedangkan Fazar mengacak kepalanya frustasi. Sudah di hadapkan dengan tumpukan berkas yang hampir tinggi seperti gunung sekarang dia harus di hadapkan oleh Fadil yang entah kapan berubah nya.


" Kembalilah Fadil ke ruangan mu." Perintah Fazar.


" Apa tuan tidak ingin memarahiku terlebih dulu." Tanya Fadil. Sedangkan Fazar memijat kepalanya yang sedikit pusing karena ulah sang adik.


" Kembalilah di ruangan mu, atau tidak aku akan membuang kamu dari gedung ini." Ancam Fazar Karena sudah begitu sangat kesal terhadap adiknya itu.


" Tuan, tuan tidak menggunakan Lo gue lagi." Tanya Fadil kembali. Tidak tahu Kenapa, Tapi Fadil begitu senang mengerjai Abangnya itu agar Fazar mau Marah.


" Fadil!!." Teriak Fazar, sambil melempar pulpen yang berbeda di meja kerjanya. Sedangkan Fadil yang mendapat lemparan itu berhasil menghindar, dengan langkah cepat Fadil keluar dari ruangannya Fazar, karena Pitu dari ruangan itu tidak tertutup membuat Fadil yang memang dekat dengan pintu yang membuat dia leluasa berlari dari amukan Fazar.


Sedangkan Fazar kembali duduk di kursinya. Sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing


Di ruangan Fadil.


" Dasar Abang, tau aja kalau aku belum mengerjakan semua ini." Gumam Fadil kesal mendapati banyaknya tumpukan berkas.


Fadil melangkah mendekati kursinya dengan lesu.


" Kalau aku tau tadi aku ngga usah kembali" gumam Fadil kembali sambil membaca berkas.


Fadil membaca satu persatu berkas yang harus di tandatangani, kalau dia bisa bilang mungkin dia akan berakhir lembur kali ini karena tumpukan berkas yang lebih banyak dari berkas yang berbeda di ruangan Fazar tadi.


Jika ada sekertaris nya Rido mungkin dia akan membantunya, tapi apa lah daya Rido sekarang sedang mengurus sesuatu yang langsung di perintahkan oleh Fazar.


Skip.


Sore menjelang malam


Wiyah dan Fina baru saja menyelesaikan kuliahnya dan keluar dari kampus menuju parkiran.


" Fin kamu duluan aja soalnya, aku di jemput sama kaka Idar, Kita ngga bisa barang sama kamu pulangnya." Ucap Wiyah, Sedangkan Fina mengangguk mengerti.


" Tapi besok kita pulang nya barang." Tanya Fina


" Bukannya besok kita libur ya Fina." Jawab Wiyah


" Astaghfirullah. Aku lupa kalau besok kita libur kuliah." Fina memukul Pelan jidatnya, sedangkan Wiyah hanya terkekeh geli melihat tingkah Fina yang pelupa tingkat akut.


" Masih muda Lo Fin." Canda Wiyah.


" Iya masih muda tapi suka pelupa."


" Itu namanya tanda tanda terkena amnesia Fina, kamu sih suka betul ke ciduk pintu." Ucap Wiyah yang selalu ingat kalau setiap Fina jalan menuju ruangan tempat mereka kuliah pasti dia akan terciduk di pintu, bukan hanya sekali dua kali tapi hampir sering.

__ADS_1


" Mungkin betul yang kamu ucapkan Wiyah" Fina membetulkan ucapan Wiyah." Seperti aku harus periksa di dokter " Ucap Fina, kembali.


" Nanti aku antar ke dokter hati." Ucap Wiyah


" Ko dokter hati, Harus nya kan di dokter penyakit amnesia." Tanya Fina heran.


" Ya Allah Fin, kamu lupa kalau dokternya kan namanya hati, makanya di panggil dokter hati." ucap Wiyah sambil geleng-geleng kepala.


" Iya juga sih." Fina membenarkan ucapan dari Wiyah. Sedangkan Wiyah hanya tersenyum kecil melihat ke arah sahabatnya itu.


Sangking asyiknya bercanda Wiyah dan Fina tidak menyadari kalau Haidar sudah datang untuk menjemput Wiyah.


" Assalamualaikum." Salam Haidar, Fina dan Wiyah mendengar salam itu melihat ke arah Haidar.


" Kaka idar, udah lama." Tanya Wiyah, mencium punggung tangan Haidar.


" Ngga dek, Kaka baru aja datang." Jawab Haidar.


" Tapi kenapa kami ngga tau." Sambung Fina.


" Kalian keasikan ghibah." Jawab Haidar.


" Engga Wiyah ngga ghibah. "Ucap Wiyah tidak setuju dengan tuduhan Haidar." Kalau ngga percaya tanya sama Fina." Ucap Wiyah kembali.


" Iya adek nya Kaka yang Soleha Kaka percaya." Ucap Haidar sambil tersenyum.


" Fin duluan aja, Kaka idar juga udah datang." Suruh Wiyah.


" Ngga apa-apa aku tinggal." Tanya Fina.


" Iya Fin ngga apa-apa." Jawab Wiyah." Makasih ya udah mau temenin nungguin Kaka idar." Ucap Wiyah


" Iya sama." Jawab Fina." Kalau gitu aku duluan ya, Assalamualaikum." Pamit Fina meninggalkan Wiyah dan Haidar.


" Waalaikumsalam." Jawab Wiyah, Fina meninggalkan Wiyah dan pergi mengarah ke motor bit kesayangannya.


" Dek ngga pulang." Tanya Haidar yang sudah duduk di atas motor.


" Iya kaka." Jawab Wiyah, setelah melihat Fina yang sudah pergi.


" Dek udah." Tanya Haidar memastikan kalau Wiyah sudah duduk dengan benar di atas motor atau belum.


" Sudah Kaka." Jawab Wiyah.


Haidar menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan parkiran kampus menuju jalan raya yang cukup ramai karena jam pulang kantor.


Haidar memberhentikan motornya karena ada lampu merah, Haidar menunggu lampu merah dengan tentram karena mendengar suara Wiyah yang sedangkan yang sedang asyik mengulang ngulang hapalannya Al Qur'an nya.


Tanpa mereka sadari dari tadi mereka berdua sedang di perhatikan oleh seorang dari balik mobil hitam yang sedang berhenti tepat di sebelah motor Haidar.


Orang itu tersenyum sinis melihat ke arah Wiyah. Entah mengapa rasa bencinya kepada Seorang wanita makin menjadi saat melihat Wiyah yang sedang bersama dengan seorang pria, tanpa dia tau siapa pria itu sebenarnya.


Assalamualaikum W.B


Dari lubuk hati yang terdalam saya,


mengucapkan.


Selamat hari raya idul Fitri 1442 H


mohon maaf lahir dan batin.

__ADS_1


__ADS_2