Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 15


__ADS_3

Malam yang dingin akan hangat jika berkumpul dengan keluarga. Tapi tidak untuk Fazar, Malam yang dingin adalah malam ke sendirinya malam yang akan berganti siang, malam yang akan menggantikan bulan dan tahun.


Tapi tidak bisa menggantikan rasa sakit yang dia alami selama bertahun-tahun. Walaupun kejadian sudah tiga tahun yang lalu tapi tetap saja masih membekas dalam ingatannya. Menerima kesunyian karena rasa sakit dan meninggalkan ke bahagian karena takut akan terulang lagi.


Memilih membenci dari pada memaafkan kesalahan di bandingkan masa lalunya. Fazar masih takut di khianati seperti dulu.


Membenci orang orang yang tidak melakukan kesalahan, dan memilih memendam dendam sendiri dari pada di obati dengan bercerita.


Muhammad Yusuf Al Fazar, pria yang terkenal baik kepada siapapun kini berubah 180 derajat dari sifat aslinya menjadi pria yang dingin dan arogan kepada setiap wanita.


Pria yang selalu tersenyum kini bersembunyi dari balik wajah dinginnya dan datarnya.


Jika malam yang indah orang orang akan menghabiskan waktu dengan berkumpul dengan keluarganya atau dengan sahabat, Tapi tidak dengan Fazar. Malam yang sunyi dia akan menghabiskan waktu dengan kesendirinya dari pada berkumpul dengan keluarga.


Menghabiskan waktu dengan berjalan jalan dekat taman hotel. Ya kalau bisa di bilang itu keseharian Fazar sebelum tidur, Fazar akan melakukan itu dengan berjalan jalan sedikit sampai Fazar merasakan Lela dan ngantuk, setelah merasa ngantuk dia akan kembali untuk tidur.


Tapi berbeda dengan malam ini, walaupun jam sudah menandakan pukul sepuluh malam tapi matanya tidak merasakan ngantuk sama sekali. Padahal tubuhnya begitu lelah karena dari pesawat dia langsung ke kantor dan tidak beristirahat sama sekali. bukanya merasa dia akan tidur jika sudah secapek ini.


" Selamat malam tuan." Sampa sekertaris Zain yang melihat Fazar yang sedang duduk di taman dekat hotel.


Fazar yang mendengar namanya di sebut melihat ke arah samping. Fazar bisa melihat Zain yang sedang berdiri sambil menatapnya.


" Apa tuan belum beristirahat." Tanya Zain sopan.


" Saya belum merasa Lela Zain." Jawab Fazar membuat Zain mengangguk anggukan kepalanya tanda kalau dia mengerti.


" Apa mungkin anda membutuhkan sesuatu." Tanya Zain kembali.


" Tidak Zain, saya tidak membutuhkan sesuatu." Jawab Fazar.


" Zain apakah kamu bisa menemaniku di sini." Tanya Fazar.


" Bisa tuan." Jawab Zain, Zain ikut duduk di sebelah Fazar.


" Zain"


" Iya tuan."


" Apa dulu kamu pernah merasakan sakitnya patah hati atau di khianati." Tanya Fazar sambil melihat ke arah Zain. Zain mendengar pertanyaan itu membuat dirinya menggeleng.


" Tidak tuan saya belum pernah merasakan patah hati atau sakitnya di khianati." Jawab Zain yang bingung dengan pertanyaan Bos nya itu.


" Bagaimana mau merasakan sakitnya patah hati atau sakitnya di khianati tuan, pacaran saja saya belum pernah tuan." Batin Zain yang merasa konyol dengan pertanyaan tuanya itu.


Mendengar jawaban dari sekertaris nya membuat Fazar membuang nafasnya kasar. Fazar berpikir bahwa hanya dia yang merasakan sakit, padahal masih banyak orang yang jauh merasakan sakit seperti dirinya.


Hening, Karena Fazar dan Zain hanya saling diam dan bergulat dengan pikiran mereka masing-masing. Walaupun Zain sudah lama menjadi sekertaris dari Fazar selama delapan tahun terakhir Setelah tuan besar Al meninggal, tapi Zain sama sekali tidak tau seperti apa sifat tuan mudanya yang satu ini.


Seingatnya sebelum Fazar dan tunangannya putus, Fazar adalah orang yang begitu Rama seperti Fadil bedanya Fadil orang yang selalu tersenyum sedangkan Fazar hanya di butuhkan dia akan tersenyum.


Tapi setelah Fazar sudah putus dengan tunangannya sifat Fazar berubah menjadi orang yang dingin dan terbilang arogan, mungkin kalau Zain bisa berpikir mungkin ini namanya sakit hati.


Zain sama sekali tidak tau menahu apa dan kenapa Fazar dan tunangannya putus, padahal tinggal menghitung hari untuk pergi ke pelaminan.


Fazar dan Zain hanya saling diam karena mereka saling bergulat dengan pikiran mereka sendiri.


Tampa mereka sadari ada orang yang mengendap gendap di belakang Fazar dan Zain seperti pencuri. Sampai dalam hitungan.


Satu.


Dua.


Tiga.


Door.


Fazar dan Zain terkejut karena telah di kejutkan oleh seseorang yang mereka kenal suara siapa itu. Fazar dan Zain sama sama berbalik ke belakang dan melihat Fadil yang sedang berdiri di belakang mereka sambil terkekeh geli


" Astaghfirullah." Ucap Zain beristigfar karena terkejut sambil mengelus dadanya.


" Fadil!!" Teriak Fazar kesal melihat ke arah Fadil yang sedang terkekeh geli melihat ke arahnya.


" Hehe, maaf bang, kalian sih asik betul melamun nya." Jawab Fadil sambil terkekeh geli karena melihat wajah Fazar yang sudah merah padat karena kesal sedangkan sekertaris Zain hanya mengelus dada sambil beristigfar karena terkejut.

__ADS_1


" Apa begini caramu menegur orang." Tegur Fazar kesal dengan mata menatap Fadil dengan tatapan membunuh.


Sedangkan Fadil yang melihat Fazar kesal dan juga tatapan yang membunuh membuat Fadil menelan silvernya dengan kasar.


" Kalau sudah tatapan seperti ini, artinya Abang begitu marah. kenapa si Fadil kamu menggangu macan yang sedang istirahat." Batin Fadil sambil menyalakan dirinya karena lupa kalau Abang yang sekarang dan yang dulu itu berbeda.


" Iya bang, itu namanya menegur orang yang sedang melamun di malam hari." Jawab Fadil ngasal sambil berusaha menetralkan rasa takutnya.


" Emangnya itu cara menegur orang kalau sudah malam." Tanya Fazar sambil menekan kata terakhir.


" iya bang." Jawab Fadil bergidik Geri melihat Fazar.


Fazar berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Fadil.


Tak. sedikit sentilan mendarat di kening Fadil dah hal itu membuatnya terasa sakit


" Aww, Sakit bang." Keluh Fadil seperti anak kecil.


" Sekarang kamu sudah dewasa ya makanya sudah pintar berbohong." Ucap Fazar sambil mengacak rambut Fadil.


" Iya dong bang Fadil sudah dewasa, orang umur Fadil sudah 25 tahun." Jawab Fadil." kalau Fadil masih kecil mana mungkin Fadil bisa menghandle perusahaan selama tiga tahun." Fadil menyombongkan dirinya sedangkan Fazar hanya bisa geleng-geleng mendengar jawaban dari Fadil yang terbilang konyol tapi memang kenyataannya seperti itu


" Kamu ngapain ke sini." Tanya Fazar.


" Aku mau bawa berkas yang tadi Abang tinggal di kantor." Jawab Fadil sambil memperlihatkan berkas yang di bawahnya tadi.


Fazar mengambil berkas itu dari tangan Fadil dan melangkah pergi tanpa mengatakan terimakasih.


" Mau ngapain kamu." Tanya Fazar yang melihat Fadil yang sedang mengikutinya menuju hotel tempat Fazar menginap.


" Ikut Abang lah, masa mau ngapain." Jawab Fadil.


" Terus kenapa kamu mengikuti sampai kedalam hotel." Tanya Fazar menghentikan langkahnya.


" karena Abang nginap di sini, jadi Fadil ikutan juga nginap di sini." Jawab Fadil, Sedangkan Fazar hanya mengerutkan keningnya merasa heran dengan jawaban dari Fadil.


" Ada ada aja kamu Fadil." Ucap Fazar sambil geleng-geleng kepala karena tingkah Fadil seperti anak kecil jika sudah di dekatnya tapi jika di kantor dia akan bersikap profesional.


Fazar dan Fadil sama sama pergi ke dalam hotel, Sedangkan sekertaris Zain di tinggal begitu saja oleh keduanya Tampa memikirkan kalau masih ada Zain yang masih duduk di kursi taman sendirian.


Sedangkan di dalam hotel


" Fadil kenapa kamu terus mengikuti ku sampai ke dalam kamar." Tanya Fazar yang melihat fadil ikut masuk ke dalam kamar hotel tempat dia menginap.


" Mau tidur lah bang." Jawab Fadil yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Kenapa kamu tidur di sini." Tanya Fazar


" Kamar hotel penuh bang." Jawab Fadil.


" Fadil, Abang ngga lagi becanda." Geram Fazar yang mendengar jawaban yang Fadil keluarkan.


" Iya bang, Fadil juga lagi ngga becanda. memang kamar hotelnya penuh semua." Jawab Fadil beralasan.


" Kalau sudah penuh kenapa kamu masuk ke kamarku harusnya itu kamu pulang." Ucap Fazar yang semakin kesal.


" Malas bang. udah jauh jauh dari rumah ke sini masa di suruh pulang lagi." Jawab Fadil.


" Kalau kamu ngga mau pulang, harusnya kamu itu cari hotel lain, jangan di kamarku juga kamu tidur."


" Fadil malas bang cari hotel lain lagi." Jawab Fadil." Jadi biarkan Fadil tidur di sini bersama dengan Abang, malam ini aja." Ucap Fadil sambil dengan muka melasnya.


" Ngga aku ngga mau tidur sama kamu." Jawab Fazar.


" Bang malam ini aja." Fadil masih membujuk Fazar.


" Ngga Abang ngga mau." Jawab Fazar mendekati Fadil dan menarik tangan Fadil agar Fadil keluar dari kamarnya.


" Bang ayolah bang malam ini aja." Fadil masih memohon.


" Ngga." Jawab Fazar tegas.


Fazar membuka pintu kamarnya dan menyuruh Fadil untuk keluar.

__ADS_1


" Bang masa Fadil di usir." Lirih Fadil memasang muka sedihnya.


" Dil kamu udah dewasa jadi ngga usah pasang muka sedih mu di hadapanku." Ucap Fazar yang melihat wajah Fadil yang sudah sedih.


" Bang, apa Abang ngga kasian sama aku keluar malam malam, sendirian. terus kalau aku di culik kaya apa bang." Ucap Fadil dramatis. Fazar yang mendengar itu memutar matanya malas dengan tingkah Fadil adiknya itu.


" Masih banyak hotel lain Dil. Pasti Ngga ada orang yang mau culik orang yang kaya kamu." Ketus Fazar yang heran dengan tingkah Fadil.


" Tapi bang." Ucapan Fadil langsung di potong oleh Fazar.


" Ngga ada tapi tapian." Sambung Fazar." Kalau kamu masih mau tidur di hotel ini mungkin kamu bisa nginap sama Zain." Ucap Fazar melirik Zain yang keluar dari kamarnya


Sedangkan zain hanya heran dengan lirikan Fazar.


" Udah aku mau masuk." Ucap Fazar melangkah melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu kamarnya. Sedangkan Fazar hanya membuang nafas kesal.


" Sepertinya rencana ku gagal." Batin Fadil yang cukup sedih dengan kelakuan sang Abang.


Fadil melangkah mendekati Zain yang masih setia berdiri di pintu kamarnya.


" Zain." Panggil Fadil yang sudah berdiri di hadapan sekertaris Zain.


" Iya tuan." Jawab Zain yang menatap heran ke arah Fadil.


" Aku boleh ikut menginap bersamamu." Tanya Fadil.


Mendengar pertanyaan dari Fadil membuat Zain sedikit bingung, tapi tetap mengiyakan." Tentu tuan" Jawab Zain.


" Ada apa dengan tuan Fadil." Batin Zain heran dengan kelakuan Tuanya itu.


Apa ngga apa-apa" tanya Fadil.


" iya tuan tidak masalah," Jawab Zain.


" *Ini kan hotel tuan, jadi semua kamar tuan boleh tepati*." Batin Zain.


" Silahkan tuan." Zain mempersilahkan Fadil untuk masuk.


" Makasih." Ucap Fadil dengan tersenyum sambil melangkah masuk kedalam kamar Zain.


" Ini kan hotel tuan tapi kenapa tuan malah ikut menginap dengan ku." Gumam Zain heran.


Zain ikut masuk ke dalam kamar menyusul tuan nya Fadil.


Zain melihat Fadil yang sudah berbaring di kasur dan mungkin sudah terbang ke dunia mimpi, padahal baru saja beberapa detik.


" Sepertinya malam ini aku harus tidur di sofa." Gumam Zain melangkah mendekati sofa.


Zain melihat Fadil yang terlelap dalam tidurnya padahal baru beberapa detik yang lalu dia masuk.


" Ternyata kedua tuan muda ini begitu berbeda sifatnya." Batin Zain menatap ke arah Fadil.


" Memilih tidur di kamarku dari pada memesan kamar lain. Padahal ini hotel milik tuan Fadil sendiri." Gumam Zain sambil terkekeh geli melihat tingkah kedua tuannya yang terbilang aneh.


Zain merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tidak lama Zain ikut terbang ke dunia mimpi menyusul Fadil.


Tanpa Zain sadari ternyata Fadil belum tidur sama sekali. Fadil hanya merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya seperti orang tidur. Padahal dia belum tidur sama sekali, Fadil merasa lelah dan juga merasakan kalau kepalanya begitu sakit seperti tertusuk tusuk.


" Ya Allah, aku ngga tau apa aku masih bisa melihat keluargaku seperti dulu lagi." Batin Fadil yang merasa sedih dengan keluarganya tidak seperti tiga tahun yang lalu. Fadil hanya terdiam sampai Fadil merasakan ngantuk dan Akhirnya Fadil ikut menyusul Zain yang te tidur.


Sedangkan di kamar lain yaitu kamar Fazar.


Fazar masih setia berhadapan dengan laptop nya. Dia masih enggan untuk tidur padahal dia sudah menguap beberapa kali, rasa capek nya dia buang jauh-jauh asal kerjanya selesai.


Tidak berselang lama Fazar sudah menyelesaikan beberapa berkas dia melihat jam 12:00 kalau malam sudah larut


Fazar berdiri dari kursinya melangkah pergi ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya yang begitu lelah karena satu hari dia bergulat dengan perkejaan, Padahal dia baru saja sampai di kota S.


Fazar mengingat rencana Fadil yang menemuinya hanya ingin membuat Fazar kembali ke rumah, Tapi sebelum Fadil melaksanakan rencananya Fazar sudah duluan mengetahuinya.


Fazar juga yang sudah membuat semua kamar hotel penuh dengan memberitahukan resepsionis agar semua kamar yang kosong terisi penuh jika Fadil memesan kamar, agar Fadil tidak jadi menginap di hotel tempat Fazar menginap. Tapi sifat keras kepala Fadil yang tetap ingin tetap melaksanakan rencananya membuat Fadil harus ikut menginap dengan sekertaris nya Zain. Padahal dia belum pernah tidur dengan orang selain dirinya dan juga adiknya Fazri.


Fazar terus memandang langit langit kamarnya Sampai Fazar merasakan ngantuk yang Akhirnya Fazar ikut tertidur, terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2