
Cukup melelahkan karena satu hari penuh
harus di hadapkan dengan pekerjaan yang begitu banyak.
Itu yang di rasakan oleh Fazar yang harus bekerja satu hari penuh tanpa beristirahat, kalau pun dia beristirahat itu juga pas waktu makan siang atau mengerjakan solat nya.
Selesai itu Fazar akan melanjutkan pekerjaannya.
Fazar begitu gila dalam hal pekerjaan tapi dalam hal kewajibannya sebagai seorang muslim dia akan mengerjakan nya walaupun dia dalam keadaan sesibuk apapun.
" Cukup melelahkan hari ini." Gumam Fazar yang meluruskan otot otot nya yang kaku Akibat terlalu banyak duduk di kursinya.
Tok.
Tok.
Tok.
Terdengar suara ketukan pintu.
Fazar melihat ke arah Pintu." Masuk." Perintah Fazar. Sekertaris Zain masuk kedalam ruangan Fazar.
" Zain aku akan pulang ke rumah yang baru saja saya beli kemarin, jadi kamu tidak perlu mengantarkan ku ke sana, karena aku akan pergi sendiri." Ucap Fazar saat melihat Zain yang sudah masuk kedalam ruangannya.
" Baik tuan." Ucap Zain membungkuk hormat.
" Apa semua pekerjaan Fadil sudah selesai." Tanya Fazar.
" Sepertinya belum tuan." Jawab Zain, sedangkan Fazar hanya mengangguk mengerti.
" Terus awasi dia, Zain," Perintah Fazar." Dan jangan membantunya, biarkan dia lembur malam ini." Ucap Fazar kembali.
" Baik tuan." Jawab Zain.
Fazar berdiri dari kursinya mengambil jas yang dia gantung dekat dengan meja kerjanya, lalu Fazar memakai nya, Melangkah keluar dari ruangannya.
Fazar melangkah mengarah keruangan Fadil yang memang berdekatan dengan ruangannya Saat Fazar masuk, Fazar bisa melihat penampilan Fadil yang begitu acak acakan.
" Apa kamu sudah selesai Fadil." Tanya Fazar menatap adiknya itu. Sedangkan Fadil memalingkan pandangannya dari berkas menatap ke arah Fazar dengan menampilkan tatapan sinis nya.
Bagaimana tidak Fazar menyimpan banyak dokumen di ruangan Fadil.
Jika saat itu hanya dokumen yang seperti biasa pasti Fadil akan menyelesaikannya dengan cepat dan tidak harus lembur sampai malam hanya karena mengerjakan sebuah dokumen, tapi berbeda dengan dokumen kali ini. Dokumen yang di berikan Fazar jauh lebih berbeda dengan dokumen yang lain, Karena Fazar memberikan dokumen tentang proyek yang berada di luar negeri yang tentunya akan membuat Fadil bingung, karena semua menggunakan bahasa Inggris.
Sepintar pintarnya Fadil kalau masalah bahasa Inggris dia akan merasa bingung sendiri, Karena Fadil tidak seperti Fazar yang begitu pintar dalam hal bahasa.
Fadil begitu benci dengan pelajaran bahasa Inggris yang terbilang sulit baginya.
Tapi tidak untuk Fazar yang menganggap bahasa Inggris itu adalah bahasa yang begitu sangat mudah untuk di mengerti.
" Andai aku mendengar kata almarhum ayah, yang mengatakan kalau aku harus pintar dalam hal bahasa Inggris. Agar aku tidak perlu repot-repot mencari juru bahasa atau membuka kamus seperti ini." Batin Fadil yang merasa menyesal.
Andai ada sekertaris nya Rido pasti Fadil akan melampiaskan semua ke Rido, untuk menyuruh Rido menjadi kamus bahasa Inggris.
" Ngapain Abang ke sini." Tanya Fadil ketus.
" Ini kan- " Ucapan Fazar di potong oleh Fadil.
" Aku tau bang ini kantor, Tapi ini juga bukan jam kantor, karena semua karyawan sudah pada pulang termasuk aku, tapi karena punya bos yang sangat menyebalkan jadinya aku di suruh lembur sampai malam." Sambung Fadil panjang lebar dengan tatapan terus mengarah ke Fazar." dan satu lagi, Abang jangan pernah menggangu pekerjaan saya" Ucap Fadil sedikit tegas.
" Sekarang Abang boleh keluar, dan jangan menyuruh aku untuk memanggil Abang dengan tuan, karena ini bukan jam kantor." Jelas Fadil kembali dengan penuh penekanan.
Entah apa yang terjadi dengan Fadil. Sangking kesalnya dia bisa ngomong seperti itu ke Fazar.
" Oke aku akan ke luar." Ucap Fazar setelah mendengar ucapan Fadil barusan. Fazar tau kalau Fadil pasti sangat kesal dengannya karena dia telah menyuruh Fadil mengerjakan sesuatu yang bukan ke ahlinya, apalagi Fadil begitu kurang paham dalam bahasa Inggris, hal itu membuat Fadil hanya bisa menggunakan beberapa kata yang mudah di ingat untuknya, Padahal Fadil terkesan pria pintar seperti dirinya hanya saja Fadil paling tidak suka dengan yang namanya Bahasa Inggris.
Walaupun Fazar yang berikan berkas itu tapi pada akhirnya Fazar juga yang akan membacanya ulang untuk memastikan apa yang di kerjakan Fadil itu betul atau tidak.
" Maafkan aku bang." Batin Fadil penuh sesal saat melihat Fazar yang sudah keluar dari ruangannya.
Fazar yang sudah sampai ke parkiran
dia langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya dan segera menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.
Fazar menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalan yang di lewati Fazar sedikit macet karena memang jam pulang kantor. Karena hal itu membuat Fazar harus lebih sabar menunggu.
Suara klakson mobil dan motor yang saling bersahut sahutan yang membuat sore itu seperti paduan music yang sedang berirama di sore hari.
Sampai Fazar harus menghentikan mobilnya di depan lampu merah, Karena Fazar hanya sendiri di dalam mobil membuat Fazar memutar pandangannya melihat lihat ke arah samping, untuk melihat berapa padatnya kemacetan jika sudah waktunya jam pulang seperti ini.
Fazar mengarahkan kembali pandangannya ke arah samping kanan dan dia tidak sengaja melihat seorang yang tidak asing dalam ingatannya.
Yang Fazar lihat yang tidak lain adalah karyawan nya Haidar.
__ADS_1
Ya, Haidar adalah karyawan tempat di mana perusahaan Fazar berada.
Walaupun jarang bertemu tapi Fazar selalu ingat yang mana saja karyawan nya termasuk Haidar.
" Bukannya itu Haidar, karyawan di kantorku." Batin Fazar saat melihat ke arah Haidar yang sedikit menoleh melihat ke arah mobil Fazar
" Apakah dia baru pulang. Terus siapa wanita yang dia bonceng itu, apakah istri nya. Tapi tidak mungkin itu istrinya, wanita itu jauh lebih mudah dari istrinya, atau jangan-jangan itu adiknya, tapi tidak mungkin bukannya saudara perempuan Haidar semua sudah menikah, dan mungkin tidak ada semudah gadis itu." Gumam Fazar penuh tanda tanya saat melihat ke arah wanita itu.
Fazar juga sudah mengetahui siapa keluarga dari Haidar karena setiap pekerja yang berbeda di situ akan di cari tau, apakah mereka orang yang baik atau tidak.
Apalagi Haidar sudah bekerja di perusahaan tempat Fazar selama lima tahun yang tentunya Fazar sudah mengetahui semua tentang para karyawan nya termasuk Haidar.
" Gadis itu, bukanya dia yang aku tabrak kemarin. Ada hubungan apa Haidar dengan gadis itu." Gumam Fazar kembali saat melihat Wiyah yang sedang tersenyum sambil mengerahkan bibirnya seperti orang sedang bercerita ( Padahal yang Fazar lihat itu di saat Wiyah sedang mengulang ngulang hafalannya dan tersenyum saat dia berhasil menghafalkan nya ).
" Apa jangan jangan gadis itu adalah pacar Haidar, dan Haidar berselingkuh dengan gadis itu." Pikiran buruk itu tiba-tiba muncul dalam benak Fazar. Tanpa tahu cerita yang sebenarnya." Dasar gadis murah*n, ternyata bajunya telah berhasil menutupi sikap buruknya yang suka merebut suami orang, hanya kelihatannya aja polos dan alim ternyata suka berdekatan dengan dengan pria atau lebih parahnya lagi suka sama suami orang." Kata kata Fazar bagaikan silet jika orang mendengarnya. Entah kenapa kata itu keluar dari mulut Fazar saat melihat gadis yang sedang tersenyum dan Haidar juga menanggapinya dengan tersenyum. Padahal yang Fazar lihat bukan seperti dalam perkiraannya.
Fazar menatap wanita itu dengan tatapan sinis
kebencian nya terhadap wanita semakin menjadi saat melihat wanita itu sedang tersenyum sambil bercerita kepada Haidar, dan entah mengapa rasa benci itu kembali timbul di hati Fazar saat melihat wanita itu sedang bersama dengan Haidar, pikiran buruk terus terlintas di pikirannya, menganggap bahwa wanita itu sama seperti wanita lain, sok alim hanya ingin menutupi keburukan mereka.
Tidak lama lampu merah berganti dengan lampu hijau, yang menandakan kalau kendaraan boleh melanjutkan perjalanan mereka.
Fazar melanjutkan kendaraannya
termasuk Haidar. Mereka melewati jalan yang sama tapi tujuan yang berbeda.
.
.
Tidak lama Fazar telah sampai di depan rumahnya yang baru kemarin dia beli.
Rumah yang terlihat sederhana tapi berkesan begitu sangat mewah.
( Visual rumah Fazar Sekarang )
Fazar melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Rumah yang baru kemarin Fazar beli.
Fazar melihat lihat seisi rumah yang terlihat begitu sangat mewah bergaya Atlantis
Di lantai bawah terdapat, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan juga tiga kamar tamu,
Ruangan yang sebelah kanan adalah Kamar Fazar. Sedangkan Ruangan yang sebelah kiri itu kamar Juga, Hanya saja kamar itu tidak tahu untuk apa. Sedangkan Di sebelah kamar Fazar terdapat satu ruangan lagi, Yaitu ruang kerja khusus untuk Fazar.
Setelah puas berkeliling, Fazar melangkah masuk ke dalam kamarnya. Yang terlihat begitu sangat luas.
( Visual kamar Fazar )
Fazar membaringkan tubuhnya di atas kasur
karena merasa lelah setelah bekerja satu hari penuh. Tapi Fazar bukan saja merasa lelah dalam bekerjanya tapi Fazar juga lelah dengan permainan takdir, entah apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Fazar hanya bisa berdoa, agar kedepannya akan berubah menjadi lebih baik
Fazar memandang langit langit kamar,
sampai matanya merasakan kantuk, dan akhirnya dia tertidur dengan posisi terlentang tanpa Menganti terlebih dahulu pakainya.
.
Malam yang gelap hanya di hiasi oleh bintang,
angin malam bagaikan butiran air yang begitu dingin jika berhembus mengenai kulit. Hewan hewan kecil, bagaikan alat musik yang sedang bermain dengan nadanya.
Setelah menyelesaikan makan malam
keluarga Haidar berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Haidar dan Windi yang sedang mengobrol sambil menemani Fanesya yang sedang asyik bermain dengan bonekanya, sedangkan 2R yang sedang fokus mengerjakan tugasnya sambil sesekali melirik ke arah televisi, yang sedang menayangkan acara televisi kesukaan mereka, ya itu tom and Jerry
Sedangkan Wiyah yang fokus ke laptop nya
mengerjakan tugas kuliah nya.
Semuanya fokus ke dalam kegiatan mereka masing masing.
Sampai suara ponsel yang membuat mereka menghentikan kegiatan mereka. Memalingkan pandangan mereka ke arah ponsel yang sedang berbunyi.
__ADS_1
" Ponsel siapa yang berdering." Tanya Haidar yang bingung, Karena ke tiga ponsel itu sama sama berbunyi, bukan itu saja ketiganya juga memiliki nada yang sama.
" Sepertinya ke tiganya yah." Jawab Rafi melihat kalau ketiga ponsel itu berdering.
" Sepertinya begitu." Sambung Windi sambil memegang ponselnya lalu mengangkatnya.
" Siapa yang menelepon sayang." Tanya Haidar.
" Kaka yang menelfon mas." Jawab Windi sambil mengangkat ponselnya.
" Kalau Kaka idar siapa." Tanya Wiyah
" Bukan siapa siapa dek." Jawab Haidar melihat ke arah ponselnya." Kaka idar ke kamar dulu ya." Pamit Haidar sebelum mengangkat ponselnya.
Wiyah hanya mengangguk, Melihat Kaka nya itu sudah masuk kedalam kamarnya.
Haidar melangkah masuk ke dalam kamarnya, sambil membawa ponsel yang masih berdering.
Sedangkan Wiyah yang melihat Haidar merasa bingung sendiri.
Wiyah Juga melihat ke arah ponsel,
yang tertera nama.
Sih jahil salsa 😘
Wiyah yang melihat nama yang tertera di ponselnya hanya tersenyum. Padahal baru tiga hari kemarin dia menelfon Sahabatnya Salsa tapi sekarang dia kembali menelponnya
📱" Wiyah, kenapa baru di angkat " Pekik Salsa dari seberang sana, karena sedang vidio kol Wiyah bisa melihat seperti apa ekspresi sahabat nya itu yang tampak begitu sangat lucu.
" Assalamualaikum dulu salsa." Tegur Wiyah yang heran dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu. Sedangkan Salsa hanya menyingir kuda.
📱" Assalamualaikum, maaf Wiyah soalnya aku terlalu senang bisa lihat kamu sekarang." Ucap Salsa.
" Waalaikumsalam. Ya Allah Salsa sangking senangnya, sampai segitunya, kaya orang yang baru ketemu aja, Karena selama bertahun-tahun ngga pernah ketemuan sama sekali, Padahal baru kemarin kami vidio kol sama kamu Sal" ucap Wiyah sambil geleng-geleng.
📱" Memang kita udah lama nggak ketemu Wiyah, selama tiga tahun Lo." Sambung Salsa memperlihatkan tiga jari nya.
" Iya tiga tahun, Tapi kitakan sering vidio kol. Sering telponan sering cat, malahan kita memiliki grup sendiri yang berisi kita bertiga aja lo, ngga ada yang lain." Jawab Wiyah.
📱" Tapi kan beda Wiyah, kalian berdua di sana dan Sedangkan aku sendiri di sini, tanpa kalian berdua." Terdengar rengek Salsa di sebrang sana.
"Walaupun jauh Sal, tapi kita sering berkomunikasi, itu semua akan terasa dekat utuk kita bertiga." Ucap Wiyah." dan Sal ingat kamu tidak sendiri di sana, kamu masih memiliki keluarga yang lengkap. Yang akan selalu bersamamu, Walaupun bunda mu hanya bunda sambung untukmu tapi dia juga adalah orang tua mu juga.
Jangan pernah kamu beranggapan kalau kamu sendiri jika masih ada orang-orang yang menyayangi mu. Walaupun kamu sendiri tapi ada Allah yang akan selalu menemani mu, kemana saja." Jelas Wiyah panjang lebar.
" Ingat masih ada Allah yang akan menemani kita, jadi jangan merasa sendiri." Ucap Wiyah kembali.
📱" Iya Wiyah, Makasih Udah mau ngingetin aku." Ucap Salsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Iya" jawab wiyah sambil tersenyum." Jangan nangis juga kali." Ledek Wiyah, Sedangkan Salsa hanya tersenyum.
Ya hampir tiga tahun Salsa pergi meninggalkan kedua sahabatnya karena pindah ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya.
Setelah lulus SMP salsa dan keluarga memutuskan pindah ke luar negeri, karena ayah salsa yang ingin mengurus perusahaannya di sana ( nanti kita akan bahas ya kenapa orang tua Salsa memutuskan pindah ke luar negeri, kita akan bahas di mencintaimu dalam gelapnya malam )
" Kamu lagi ada di mana Sal. Kenapa ruangannya putih semua." Tanya Wiyah yang baru menyadari kalau ada yang salah dengan sahabatnya itu, Karena Wiyah melihat Salsa yang sedang berbaring di kasur, dan ruangan yang di tempati Salsa serba putih semua seperti rumah sakit.
📱" hehe, Aku ada di rumah sakit wiyah." Jawab Salsa sambil terkekeh.
" Astaghfirullah, Kenapa bisa." Tanya Wiyah khawatir, Sedangkan orang yang di tanya hanya terkekeh.
📱" Biasa " Jawab Salsa begitu sangat santai.
" Terkena tembak lagi." Tebak Wiyah, membuat Salsa hanya mengangguk tanpa ada dosa sama sekali.
Melihat Salsa mengangguk membuat Wiyah hanya bisa beristighfar karena dia tahu seperti apa sahabatnya itu." Astaghfirullah Sal, Orang masih ingin hidup, tapi kamu malah mencari kematian mu sendiri." Wiyah hanya bisa beristigfar dengan kelakuan Salsa yang terbilang babar dan terlalu berbahaya. Jika bisanya orang yang terkena tembak akan merasakan sakit, tapi tidak untuk Salsa. Salsa malah tersenyum dan menelfon nya tanpa mengeluh sama sekali.
" Kamu masih bekerja di agen rahasia Sal." Tanya Wiyah yang membuat Salsa hanya mengangguk." Apa om burham sudah mengetahuinya." Tanya Wiyah kembali yang membuat Salsa hanya menggeleng.
Wiyah sudah mengetahui semua apa yang Salsa kerjakan selama ini, karena sebelum Salsa masuk ke dalam dunia Agen rahasia. Salsa terlebih dahulu bercerita kepada Wiyah dan Fina apa tujuannya masuk ke dunia Agen rahasia yang terbilang begitu sangat berbahaya, apalagi Agen rahasia itu terdapat banyak kekerasan.
Kalau di bilang putra adalah orang ketiga yang mengetahui tujuan Salsa, Sedangkan orang pertama Dan orang kedua yang tidak lain Wiyah dan Fina yang duluan mengetahuinya.
" Astaghfirullah, Salsa, Sampai kapan kamu akan tetap menjadi agen rahasia." Pekik Wiyah kesal, Kalau saja Salsa ada di hadapannya mungkin dia akan mencubit pipi salsa sampai bengkak sangking gemasnya.
📱 " Aku udah pernah bilang Wiyah kalau ini rahasia jadi papi tidak boleh mengetahuinya." Jawab Salsa sambil terkekeh." Daripada kita bahas itu lebih baik kita bahas yang lain." Ucap Salsa mengalihkan pembicaraan karena tidak mau melihat wajah marah dari sahabatnya itu.
Sedangkan Wiyah yang memang tau kalau Salsa hanya mengalikan pembicaraan hanya bisa ikut karena Wiyah tahu kalau Salsa tidak mau membahas hal itu lagi.
Wiyah tahu tujuan utama Salsa masuk ke dunia Agen rahasia, Hanya ingin menghapus dunia gelap seperti mafia Dark Black.
Bersambung
__ADS_1
Mungkin author akan jarang up karena
author sudah mulai bekerja kembali seperti biasa.