
Rido yang melihat Fadil yang merana
hanya bisa bingung sendiri. Pasalnya dirinya tidak pernah melihat kalau bos berkedok sahabat itu merana seperti ini. Hanya karena perempuan yang tidak jadi iya temui.
Biasanya juga dia yang membuat wanita merana karena menunggu Fadil yang kapan datangnya.
" Dil kita mau kemana sekarang." Tanya Rido yang menatap ke arah Fadil yang lagi duduk di sebelahnya yang sedang diam merana.
" Dil, punya telinga ngga Lo." Teriak Rido tapi tidak di tanggapi oleh Fadil, Karena Fadil yang sedang merana sambil melamun.
" Dasar tuli." Gerutu Rido kesal. Karena mobil yang mereka duduki sekarang tidak sama sekali berjalan membuat mobil itu hanya diam seperti tidak ada orang di dalamnya dan masih terparkir sempurna di pinggir jalan.
Sukur jalan nya sedikit sepi kalau tidak mungkin mobil yang mereka tumpangi udah di derek oleh polisi.
Rido terus melihat ke arah
Fadil yang tidak bergeser sama sekali
Rido yang diam seperti Fadil jadi merasa kesal
orang Fadil yang merana masa harus dia
juga yang kena.
Rido yang sudah lama menunggu
akhirnya mempunyai ide konyol yang keluar dari otak nya. Ide jahil yang akan membuat Fadil sadar dan keluar dari rasa merana.
Rido mendekati Fadil mendekati kuping Fadil.
Dan menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
" Woy Fadil sadar." Teriak Rido yang menggelegar seisi mobil. Sedangkan Fadil yang mendengar teriakkan dari Rido langsung kaget, refleks langsung memegang kuping nya yang berdenyut karena sakit.
"Astaghfirullah." Ucap Fadil beristigfar sambil Mengelus lembut dadanya karena kaget. Dengan tangan satunya memegang kuping nya karena berdenyut sakit." Lo kira gue tuli apa, Sampai Lo teriak teriak." Ucap Fadil kesal dan menatap Rido dengan tatapan tajam.
" Gue kira Lo tadi ngga dengar makanya gue teriak Lo tadi." Jawab Rido tanpa dosa.
" Lo kira gue tuli." Bentak Fadil kesal.
" Memang Lo tuli." Jawab Rido." Kalau Lo ngga tuli mana mungkin Lo di panggil beberapa kali tapi ngga dengar." Ucap Rido kembali membuat
Fadil Lang diam tidak menjawab.
" Emangnya Lo ngga bisa panggil secara halus gitu." Tanya Fadil kesal saat tadi sempat terdiam.
" Udah sering." Jawab Rido ketus.
" Mana ada sering orang baru tadi." Jawab Fadil.
" Menurut Lo." Tanya Rido kesal.
Mereka berdua terus mengomel
dan saling mencibir satu sama lain
sampai beberapa lama akhirnya mereka terdiam.
Bagaimana dengan Fadil, dia sudah tidak merana lagi, karena kejahilan sahabat berkedok sekertaris itu.
__ADS_1
" Fadil kita mau kemana" Tanya Rido saat sudah berhenti di acara debat mereka.
" Rumah Abang." Jawab Fadil, yang membuat Rido bingung.
Bukannya Fazar baru saja pindah di rumahnya yang baru saja di beli kemarin malam.
Fazar juga tidak memberitahukannya ke Fadil, tapi kenapa Fadil tahu." Pikir Rido.
Rido mengira bahwa Fadil tidak mengetahui kalau Fazar baru saja membeli rumah dan Fazar baru saja pindah di rumah barunya.
" Aku sudah tahu, Abang baru saja beli rumah dan sekarang Abang sudah pindah ke rumah barunya." Ucap Fadil seperti tahu apa yang di pikirkan oleh Rido.
" Kenapa Lo tahu." Tanya Rido heran.
" bukan Fadil namanya kalau ngga tau " Jawab Fadil sombong, yang membuat Rido memutar matanya malas.
" Aku akan mengetahui apa yang Abang akan lakukan, seperti Abang mengetahui apa yang kami lakukan." Batin Fadil tersenyum.
Pasti Rido akan bertanya-tanya kenapa Fadil bisa tahu. Sedangkan Fadil tidak di beri tahu sama sekali oleh Fazar. Jadi bagaimana Fadil bisa tahu.
Fadil mengetahui itu semua dari orang yang sering mengawasi Fazar Dan semalam orang itu memberitahukan ke Fadil, kalau Fazar baru saja membeli rumah baru semalam.
Kalau Fazar baru saja membeli rumah dan Fazar sudah pindah ke rumah barunya. Itu semua berkat mata mata yang mengatakan hal itu. Mata mata yang tidak lain adalah Zain.
Yap, Zain adalah mata mata dari Fadil
selama ini untuk mengawasi sang Abang.
Zain yang selalu memberikan informasi tentang Fazar kepada Fadil. Makanya
Fadil selalu tahu seperti apa Fazar, setelah Fazar putus dari tunangannya. Yang kini berubah menjadi pria yang super dingin dan juga arogan.
Bagaimana dengan Fazar. Ya Fazar juga sama seperti Fadil dia memiliki mata mata sama seperti Fadil, yaitu Rido.
Rido akan memberitahukan apa saja yang di perbuat Fadil, sama seperti Zain memberitahukan apa saja yang di perbuat oleh Fazar.
Mereka tahu, Tapi Fazar atau Fadil hanya sama sama diam, mereka hanya mengikuti alurnya saja.
Mereka berdua terjebak dalam permainan mereka. Yaitu sama sama mengawasi satu sama lainnya. Saling Mengetahui tapi tidak mau mengungkapkan. saling menjaga walaupun dari jarak jauh. Kalau di bilang mereka adalah saudara yang unik.
" Cepat Lo jalan sebelum mobil ini di derek sama polisi karena parkir sembarangan." Suruh Fadil.
" Dari tadi ay, Sekarang baru ngomong, karena baru sadar kalau kita parkir sembarangan." Cibir Rido, sambil memutar matanya malas.
" Kan baru sadar " Jawab Fadil.
Rido kembali menyalakan mobilnya dan mulai menjalankan nya sesuai perintah Fadil.
" Rido kita singgah di apotek." Ucap Fadil.
" Emangnya Lo mau ngapain di apotek." Tanya Rido bingung, tumben di suruh ke apotek.
" Gue mau beli vitamin." Jawab Fadil.
Sedangkan Rido hanya ber oh ria mendengar jawaban dari Fadil, tanpa curiga sama sekali atau bertanya kembali.
Sesampainya di depan apotek.
Rido menawarkan dirinya untuk membeli apa yang Fadil Butuhkan, tapi dengan sopan Fadil menolak nya.
Yang membuat Rido merasa aneh, bisanya Fadil tidak mau turun kalau mau membeli hal yang tidak penting menurut nya dan akan menyuruhnya untuk turun, menyuruhnya membeli apa yang di suruh oleh Fadil.
Tapi sekarang Fadil turun sendiri untuk membeli nya. Apa ngga merasa aneh gitu.
tapi Rido tidak mau ambil pusing karena Fadil bos berkedok sahabat itu. Anggap saja Fadil.
__ADS_1
sekarang sedang kerasukan hantu baik yang tidak suka menyuruh orang.
Tapi jika hantu penyuruh nya telah kembu, mungkin Rido akan di suruh kembali.
Setelah membeli apa yang di butuhkan di apotek, Fadil kembali masuk ke dalam mobil Fadil bisa melihat Rido yang sedang bermain dengan ponsel.
" Tunggu pembalasan ku Rido." Senyum jahil Fadil tapi tidak terlihat kalau terukir di bibir Fadil, yang sedang menatap Fadil dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Sudah." Tanya Rido saat dia merasakan kalau Fadil telah masuk kedalam mobil.
" Sudah." Jawab Fadil yang sudah duduk di sebelah Rido." Cepat Lo jalan." Suruh Fadil, yang mendapatkan anggukan oleh Rido.
Rido kembali menjalankan kembali mobilnya yang sempat terhenti tadi. Mengarah ke rumah Fazar.
Sukur Rido sudah tau alamat rumah
Fazar. Kalau tidak, Mungkin dia harus menelfon
menanyakan itu ke Fadil.
.
.
Lima belas menit, Rido dan Fadil telah sampai
di depan rumah Fazar. Karena jarak dari jalan yang tadi mereka lewati dengan rumah Fazar tidak terlalu jauh.
" Ternyata rumah Abang dekat dengan tempat kerja Wiyah." Gumam Fadil saat sudah turun dari mobil.
Sedangkan Rido tidak mendengar gumaman Fadil karena dia sedang memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, Kalau saja Rido mendengar apa yang di ucapkan Fadil, Mungkin akan ribet urusannya.
Fadil melihat rumah Fazar yang terkesan mewah tapi sederhana, Yang membuat Fadil kagum terhadap selera dari Fazar yang tidak suka menghamburkan uang walaupun Fazar itu kaya.
Beda banget dengan dirinya yang selalu menghamburkan uang setiap saat hanya karena kepentingannya sendiri.
Fadil melangkah memasuki teras rumah Fazar
meninggalkan Rido yang masih setia di dalam mobil. Entah apa yang dia lakukan.
Bagaimana dengan Rido,
dia sekarang sedang asyik menelfon.
Entahlah siapa yang sedang dia telfon sekarang.
.
.
Setelah sampai di depan pintu, Fadil segera menekan bel pintu.
Agar sang pemilik rumah tau kalau dia datang
dan mungkin dia tidak perlu capek capek mengetuk pintu
Ting tong ( anggap suara bel berbunyi ya.
Tidak berselang lama pintu rumah di terbuka, dan memperlihatkan sang pemilik rumah
yang sedang berdiri di depan pintu.
" Kamu." Ucap sang pemilik rumah, yang melihat Fadil sedang berdiri sambil tersenyum
melihat ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa komen like dan vote nya ya author ngga maksa ko 😁