Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 24


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain.


Di dalam kamar Haidar masih memikirkan kata kata sang penelepon semalam.


" Paman akan kembali bulan depan Haidar.


paman akan memberitahukan rahasia itu ke pada Wiyah.


Ucapan dari pria itu masih terbayang bayang di kepala Haidar. Karena perkataan itu membuat Haidar tidak bisa tidur semalaman karena ucapan pria itu.


Ucapan pria itu membuat Haidar takut kalau akan menyakiti Wiyah kembali. Yang mungkin Wiyah belum bisa menerimanya.


Apalagi Wiyah yang baru berusia delapan belas tahun, yang belum bisa mendengar rahasia besar apapun, seperti rahasia itu.


Haidar takut kalau rahasia itu semakin membuat Wiyah merubah dirinya dan akan menyalakan dirinya karena rahasia itu.


Sekarang Saja Wiyah begitu berubah dari jahil dan cerewet menjadi pendiam dan suka menyendiri. Selalu menyimpan lukanya sendiri, menangis secara diam-diam karena perpisahan kedua orang tuanya, tanpa ada alasan yang jelas sama sekali menurut pemikiran Wiyah.


Karena perubahan Wiyah membuat Haidar begitu sangat rindu dengan Wiyah yang dulu. Wiyah yang super jahil dan cerewet saat sedang bercerita. Apalagi kalau sudah berkumpul, Pasti ide jahil nya akan timbul, yang membuat semua menjadi riuh.


Tapi sifat nya yang dulu seperti menghilang karena perceraian kedua orang tuanya. Karena perceraian kedua orang tuanya membuat Wiyah memakai topeng ke Tengaran, agar orang-orang mengira kalau Wiyah kuat dan tegar menghadapi perceraian kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu. Bukan saja kuat saat menghadapi perceraian kedua orang tuanya, tapi Wiyah begitu sangat kuat saat di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya selama tiga tahun, tanpa ada kabar sama sekali.


Tapi orang-orang tidak tahu di balik topengnya itu terdakwa luka yang belum sembuh karena di torehkan oleh kedua orang tua Wiyah. Luka yang sengaja di ukir dalam ingatan dan hati Wiyah.


Di saat luka itu belum sembuh sepenuhnya, tiba tiba saja luka itu akan kembali timbul karena ada orang yang akan mengorek nya kembali. Luka yang mungkin tidak akan sembuh lagi, Karena luka yang akan susah untuk di obati untuk Wiyah.


Di saat Haidar sedang duduk terdiam karena melamun memikirkan nasib Wiyah nanti seperti apa jika luka itu kembali di korek.


Saat Haidar sedang melamun tanpa Haidar sadari Windi yang sudah masuk kedalam kamar dan sedang melihat ke arahnya.


Windi tahu apa yang sedang Haidar pikirkan sekarang.


Windi melangkah mendekati Haidar yang sedang duduk di kasur sambil memikirkan sesuatu.


" Mas." Panggil Windi lembut sambil memegang pundak Haidar. Sedangkan Haidar merasa ada yang memegang pundaknya langsung tersadar dari lamunannya.


Haidar melihat ke arah samping yang sudah berdiri sosok yang paling Haidar cintai dan ibu untuk anak anak.


" Mas ngga usah di pikirkan." Ucap Windi yang memang sudah tahu apa yang membuat Haidar kepikiran.


" Mas, takut sayang jika nanti paman mengatakan rahasia itu kepada Wiyah. Mas takut kalau wiyah akan semakin sedih dan merasa bersalah jika mengetahui rahasia itu. Mas, takut kalau Wiyah akan semakin menyalakan dirinya terus menerus karena rahasia itu." Jawab Haidar sambil menceritakan apa yang sedang di pikirkan nya sekarang.


Windi yang mendengarkan cerita Haidar bisa merasakan kesedihan Haidar dan juga kegelisahan Haidar. Windi merasa sedih mengingat Wiyah yang tidak tahu apa apa harus menjadi korban dari perceraian kedua orang tuanya.


" Mas, apapun yang nanti di katakan oleh paman, kita harus bisa menerimanya apapun yang akan terjadi. Karena itu ke putusan paman sendiri untuk menceritakan rahasia itu ke pada Wiyah.


Terima tidak terima. Kita akan tetap menerima ke putusan dari paman, untuk menceritakan rahasia itu kepada Wiyah. Mungkin saja dengan paman menceritakan rahasia itu kepada Wiyah, Maka Wiyah tidak akan bertanya-tanya lagi tentang perpisahan kedua orang tuanya.


Mungkin dengan menceritakan rahasia itu Wiyah bisa mengambil pelajaran dari rahasia kedua orang tuanya. Karena rahasia yang selama ini kita rahasiakan kepada Wiyah begitu sangat banyak pelajarannya untuk Wiyah. Walaupun nantinya akan ada luka lama yang akan terukir kembali tapi itulah yang terbaik untuk Wiyah.


Mungkin dengan paman bercerita yang sebenarnya, itu juga akan mengurangi beban paman selama ini. Karena takut Wiyah akan mendengar rahasia itu dari orang lain." Windi mencoba untuk menenangkan suaminya yang sedikit bingung dan merasa tidak tenang memikirkan perihal masalah keluarga Wiyah. dan disini Wiyah sendiri akan menjadi korbannya.


Andai masa lalu bisa di putar maka Haidar akan kembali ke masa lalu untuk menghentikan masalah ini agar tidak terjadi. Dan sepupu nya tidak akan tidak menjadi korban dari rahasia itu dan keegoisan dari kedua orang tuanya.


Windi terus memperhatikan suaminya


yang tidak tenang dari semalam. Karena habis menerima telfon semalam Haidar terlihat tidak tenang. Tapi bukan saja Haidar yang merasa tidak tenang tapi Windi juga merasakan nya. Tapi Windi berusaha untuk bisa menutupinya dari Haidar. Agar Windi bisa menghibur Haidar yang sedang dalam keadaan tidak tenang seperti ini.


Windi mengusap lembut tangan kekar suaminya itu, memberikan nya ketenangan


dan ke sabaran.


" Makasih sayang." Ucap Haidar yang sudah merasa baikan mendapatkan sentuhan dari istri tercintanya itu.


" Sama sama, mas. Kita harus bisa saling menguatkan satu sama lainnya." Jawab Windi, menyandarkan kepalanya di pundak Haidar." Kita harus mendukung Wiyah apapun yang terjadi mas." ucap Windi menatap ke arah Haidar. Haidar mengangguk setuju.


Apapun yang akan terjadi terhadap Wiyah mereka akan selalu ada untuk saudara sepupunya nya itu, Walaupun bukan sedarah.


🥀🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


" Acil " Panggil 2R yang melangkah mendekati Wiyah.


Sedangkan Wiyah yang mendengar panggilan dari 2R, berbalik ke arah suara


" Iya, Ada apa." Tanya Wiyah menatap 2R.


" Acil, habis kita ke taman bermain, kita singgah di tempat nya harum ya." Ajak Rafa.


" Iya acil kita udah lama ngga ketempat nya harum." Sambung Rafi. Wiyah yang mendengar permintaan 2R hanya tersenyum.


" Iya, Insyaallah nanti kita singgah." Jawab Wiyah mengiyakan permintaan dari 2R." Acil juga udah lama ngga bertemu dengan harum, maka dari itu Acil juga ingin menemui harum." ucap Wiyah kembali.


Rafa dan Rafi yang mendengar jawaban dari Wiyah, membuat 2R tampak begitu sangat senang. Keduanya melangkah mendekati Wiyah lebih dekat lagi lalu keduanya berhambur dalam pelukan Wiyah.


". Makasih ya Acil yang baik." Ucap keduanya yang masih memeluk Wiyah.


" Iya sama sama Sayang." Jawab Wiyah mengusap lembut kepala 2R.


Kemudian Wiyah sedikit berjongkok karena tinggi 2R hampir sama dengan pinggang Wiyah.


" Jika kita ke tempat harum apa yang kalian bawakan." Tanya Wiyah membuat 2R, tampak keduanya berpikir.


" Aku akan membawakannya baju Acil." Jawab Rafi.


" Baju apa " Tanya Rafa.


" Baju sekolah." Jawab Rafi." Kemarin aku lihat kalau harum tidak memiliki baju sekolah dan bajunya terlihat sedikit robek." Ucap Rafi menjelaskan.


" Tapi kan harum perempuan dia tidak akan memakai baju baju laki laki apalagi itu bekas mu." Sambung Rafa tidak setuju.


" Aku akan membelikannya." Jawab Rafi yang mulai kesal.


" Emangnya kamu dapat uang dari mana." Tanya Rafa.


" Aku mendapatkan uang dari, hasil tabungan ku sendiri " Jawab Rafi." Kalau kamu mau bawakan apa." Tanya Rafi sambil terus menatap ke arah Rafa.


" Aku akan membawakan sepatu untuk Harum, karena sepatu Harum kekecilan." Jawab Rafa yang tidak mau kalah.


" Dari nabung." Jawab Rafa yang hampir sama seperti jawaban dari Rafi tadi.


Wiyah yang melihat dan mendengar perdebatan 2R itu hanya bisa geleng-geleng. Wiyah kembali teringat tentang dua saudaranya 2J yang tidak berhenti berdebat sama seperti 2R walaupun itu masalah kecil sedikit pun.


Mengingat itu membuat Wiyah merasa sedih kembali. Wiyah semakin rindu terhadap empat saudaranya. Bagaimana kabar saudaranya sekarang.


" Udah udah ngga usah berdebat" lerai Wiyah yang memisahkan keduanya yang sedang berdebat. Sedangkan 2R langsung diam setelah Wiyah melerai keduanya.


" Kenapa kalian malah berdebat sih." Tanya Wiyah.


" Ngga acil, kita ngga berdebat." Tolak Rafa sedangkan, Rafi hanya mengangguk.


Melihat itu, membuat Wiyah semakin gemas melihat tingkah keduanya. Sudah ketahuan berdebat tapi masih aja tidak mau mengakuinya. Kenapa tingkah keduanya hampir sama seperti saudara nya.


Belum selesai dengan 2R datang lagi bocah kecil yang tidak kala cerewet dari 2R.


" Acil." Panggil Fanesya yang berlari ke arah Wiyah dan 2R. Wiyah yang mendengar panggilan dari Fanesya, membuat Wiyah mengalihkan pandangannya ke arah si kecil Fanesya yang super cerewet tapi tetap mengemaskan.


" Acil." Panggil Fanesya lagi.


" Iya kenapa Fanesya." Tanya Wiyah.


" Acil, Fanesya mau ikut acil ke taman bermain." Rengek Fanesya yang memegang kaki Wiyah. Sedangkan Wiyah hanya tersenyum melihat tingkah Fanesya yang sangat mengemaskan yang hampir sama seperti arin adik bungsu Wiyah.


Apa karena mereka seumuran yang hanya membedakan bulan saja.' Pikir Wiyah yang Melihat tingkah Fanesya.


Melihat tingkah Fanesya membuat Wiyah semakin merindukan saudaranya.


Apa sekarang Arin sudah sebesar Fanesya.


Pertanyaan itu selalu hadir dalam diri Wiyah.

__ADS_1


" Kenapa kerinduan yang selama tiga tahun ini semakin dalam ya Allah." Batin Wiyah merasa begitu sangat sedih melihat ke arah Fanesya yang masih bergelantungan manja di kakinya.


Kemudian Wiyah berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Fanesya.


" Bukannya Fanesya akan ikut sama bunda." Tanya Wiyah lembut. Sedangkan Fanesya masih menekuk wajahnya.


" Tapikan Fanesya mau ikut." Jawab Fanesya masih menekuk wajahnya. Wiyah memegang dagu Fanesya lalu mengangkat dagu Fanesya. Wiyah bisa melihat wajah Fanesya yang sudah mulai berkaca-kaca.


" Jika Fanesya ikut Acil, Itu artinya Fanesya ngga ikut bunda." Tanya Wiyah menatap Fanesya.


" Fanesya ikut Acil saja." Jawab Fanesya.


" Yakin." Fanesya mengangguk menyakinkan pertanyaan dari Wiyah.


" Baiklah Fanesya akan ikut bersama dengan Acil." Ucap Wiyah yang membuat Fanesya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya." Tapi Fanesya harus ngomong dulu sama Bunda." Ucap Wiyah kembali membuat Fanesya mengangguk.


" Dasar manja." Cibir Rafa." Iya sangat sangat manja."Sambung Rafi ikut menimpali.


Bagaimana dengan Fanesya, bocah yang berumur empat tahun itu langsung menatap keduanya.


" Abang, Kaka." Pekik Fanesya dengan suara cendel nya.


Sebelum akan ada keributan. Haidar yang datang tiba-tiba langsung menangkap putrinya itu.


Haidar dan Windi yang baru keluar kamar sudah di suguhkan adegan menyediakan antara si kembar dan juga si cerewet Fanesya yang ingin ikut dengan Wiyah ke taman bermain.


Entah apa yang Wiyah lakukan sampai sampai ketiga bocah itu sangat suka jalan bersama dengan Wiyah, Ketimbang Windi dan Haidar.


Padahal mereka bisa memintanya kepada Haidar atau Windi. pasti kedua orang tua itu akan mengabulkan nya.


Memang Wiyah sang Pawang anak


batin keduanya.


" Ayah turunkan Fanesya, Fanesya pengen cubit Abang sama Kaka." Teriak Fanesya yang sedang berada di gendongan Haidar yang terus berusaha memberontak.


Sedangkan Haidar berusaha menaklukkan tubuh kecil itu." Fanesya" Tegur Haidar tapi sih kecil Fanesya masih sama yaitu memberontak. Membuat Haidar memberikan Fanesya yang lagi memberontak ke Windi.


" Sayang masukkan Fanesya ke dalam kamar. aku akan mengantar Wiyah ke tempat kerja." Ucap Haidar yang ingat tujuan nya tadi.


Rencananya tadi ingin mengantar Wiyah turun kerja tapi sudah di suguhkan oleh adegan menyediakan. Yang membuat mereka diam sambil menyaksikan.


" Dek ayo, kamu sudah telat." Ajak Haidar yang langsung mendapatkan anggukan dari Wiyah." Sayang aku antar Wiyah dulu." Pamit Haidar. yang langsung mendapatkan dari Windi.


" Dek, Kaka duluan di depan ya." Ucap Haidar.


" Iya Kaka Idar." Jawab Wiyah.


Wiyah melangkah mengambil tasnya yang sudah di siapkan dari tadi.


Rencananya sih tadi Wiyah ingin turun kerja. Tapi harus terhalang oleh ajakan 2R yang ingin bertemu dengan sahabatnya.


Belum selesai dengan 2R, Sih kecil Fanesya datang juga yang membuat Wiyah lupa dengan pekerjaannya padahal sekarang sudah jam setengah delapan.


Wiyah melangkah mengikuti Haidar.


" Rafa, Rafi Acil turun kerja dulu." Pamit Wiyah.


" Iya acil." Jawab 2R sambil mencium tangan Wiyah." Hati hati ya Acil " Ucap keduanya kembali.


" Assalamualaikum." Salam Wiyah sambil melangkah keluar.


" Waalaikumsalam." Jawab 2R.


Sedangkan Windi yang berada di dalam kamar menenangkan Fanesya yang dalam mode


ngamuk.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya


supaya author makin semangat 😁


__ADS_2