
Ruangan yang dominan berwarna putih, yang berbau aroma khasnya yaitu aroma obat obatan.
Seorang pria yang sedang terbaring dengan lemahnya. Sambil memandang langit didalam ruangan yang dominan berwarna putih dengan bau kasnya yaitu obat obatan itu. Pria yang tidak lain Fadil hanya bisa tersenyum miris dengan kehidupannya yang entah kapan akan berakhir.
Ya. Pria yang sekarang sedang terbaring itu adalah Fadil, pria yang sangat kuat untuk menghadapi penyakit yang dia derita selama Empat tahun terakhir, menahan sakit hanya ingin membuat orang orang tidak khawatir atau bersedih karena nya, Fadil hanya ingin melihat orang yang dia sayangi bahagia termasuk saudaranya yaitu Fazar.
Sampai cinta yang membuatnya bisa melupakan kalau hidupnya bisa saja berakhir, tanpa bisa tahu seperti apa indahnya cinta.
Tapi karena cinta juga membuat dia berani mengungkapkan perasaannya yang selama dua bulan dia pendam, perasaan yang akan membawanya dalam cinta yang mungkin akan terakhir, atau masih ada lagi jika dia masih bisa merasakan indahnya dunia.
Malam ini Fadil berani mengatakan kalau dia mencintai Wiyah, tapi tidak tahu besok bisakah dia mengatakan kalau dia menunggu jawabannya.
Apakah dia masih bisa melihat senyum yang selalu ingin ia lihat setiap saat walaupun hanya sesaat. Bisakah senyum itu membuat luka seseorang terobati tanpa harus mencari obat nya.
Fadil hanya bisa berdoa, semoga dengan lamaran malam dia bisa menyelesaikan misinya.
" Minumlah obat mu, dan jangan sampai seperti tadi." Ucap pria yang masuk kedalam ruangan Fadil yang membuat lamunan pria yang dari tadi diam sambil berbaring di atas kasur rumah sakit melihat kearah pria yang sedang melangkah kearahnya.
Sedangkan Fadil hanya tersenyum, lalu mengikuti permintaan dari pria itu untuk meminum sebuah obat yang tadi dibawahnya.
" Jangan tersenyum jika kamu sedang sakit menahan sakit itu " Ucap pria itu atau dokter yang selalu merawat penyakit Fadil hampir empat tahun terakhir. Dokter yang sering di panggil dengan sebutan dokter Faris.
Dokter Faris yang melihat senyum Fadil hanya bisa geleng-geleng dengan pasien yang satu ini, sedang sakit tapi berusaha untuk terlihat baik baik saja sampai melupakan waktu kontrolnya malam ini hanya untuk melamar seorang wanita.
Memang benar-benar pasien yang luar biasa menurut dokter Faris.
Fadil yang mendengar ucapan dari dokter Faris Hanya bisa terkekeh kecil." Dokter Faris, bukankah anda yang mengatakan kalau saya harus selalu tersenyum, karena dengan saya selalu tersenyum atau bahagia maka penyakit yang ada pada dirinya saya bisa sembuh " Jawab Fadil
" Ya. Saya yang menyuruhmu untuk selalu tersenyum tapi jangan sampai seperti tadi, karena senyummu itu hampir membuatmu meninggal." Ucap dokter Faris begitu sangat kesal." Karena senyummu itu sampai membuatmu melupakan untuk cek kontrol setiap satu Minggu sekali.'' Ucap dokter Faris kembali sambil menatap kearah Fadil.
" Harusnya malam ini kamu harus di kemoterapi lagi, tapi karena kamu terlalu ngeyel, malahan ngga datang. Buang buang waktu saja hanya untuk menemui wanita." Fadil hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari dokter yang sudah merawatnya begitu sangat lama itu.
__ADS_1
" Jangan seperti tadi, sudah mau pingsan baru telfon." Ucap dokter Faris kembali, yang mengingat beberapa jam yang lalu saat Fadil membutuhkannya saat Fadil dalam keadaan begitu sangat genting.
Flashback.
Fadil yang baru saja pulang dari rumah wiyah, memberhentikan mobilnya di pinggir jalan karena tiba tiba saja merasakan sakit pada kepalanya. Sakit yang begitu sangat sakit sampai sampai membuat pandangannya mulai gelap. Darah yang keluar dari hidungnya begitu sangat deras membuat tubuh Fadil seketika menjadi lemas.
Fadil kembali membersihkan darahnya mengunakan tisu, tapi darah itu tetap keluar malahan jauh lebih banyak dari pada di rumah tadi.
" Astaghfirullahaladzim, ya Allah pantas saja seperti ini kalau aku sampai melupakan kalau malam ini aku harus kemoterapi." Gumam Fadil di sela-sela ia membersihkan darah dari hidungnya.
Karena menurut Fadil mungkin dia tidak akan bisa menjalankan mobilnya di saat dia seperti ini untuk pergi ke rumah sakit. Apalagi tidak ada tempat untuk meminta bantuan.
Karena tidak ada jalan lain Fadil menelfon dokter Faris." Dil kamu ngga Kmo." Tanya dokter Faris yang sudah mengangkat ponselnya di sebrang sana.
" Tolong dokter Faris datang di jalan xxx." Ucap Fadil yang tidak menjawab pertanyaan dari dokter Faris.
" Ada apa Dil." Tanya dokter Faris khawatir saat mendengar suara Fadil yang begitu sangat lemah.
Mendengar itu dokter Faris bergegas pergi ketempat yang di ucapkan oleh Fadil.
Untung tempat yang dikatakan Fadil tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Jadi dengan cepat dokter Faris bergegas menemui Fadil.
Sesampainya di jalan xxx dokter Faris bisa melihat mobil Fadil yang terparkir di pinggir jalan dan untungnya lagi jalan itu tidak terlalu ramai. Dengan langkahnya yang begitu cepat dokter Faris melangkah mendekati mobil Fadil.
Dokter Faris mengetuk pintu mobil Fadil.
Sedangkan Fadil yang berada di dalam mobil menggunakan sisa tenaganya untuk membuka pintu mobilnya dan berusaha menyadarkan dirinya agar tetap sadar sampai dokter Faris berhasil membantunya.
Dokter Faris dan bersama dengan perawat laki-laki yang sengaja di bawa oleh dokter, dengan sigap membopong tubuh Fadil yang begitu sangat lemas dan pucat untuk segera membawanya ke dalam mobil dokter Faris, sedangkan mobil Fadil akan di bawa oleh orang suruhan dari dokter Faris lainnya.
Dengan sangat cepat dokter Faris mengantarkan Fadil ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Flashback OFF
Mengingat itu Fadil sangat bersyukur karena Allah masih menyayanginya dengan memberikan dia keselamatan dan Umur panjang untuk menikmati keindahan dunia lagi, walaupun hanya sementara.
" Iya dokter Faris saya tahu, saya salah." Jawab Fadil membuat dokter Faris duduk di kursi dekat dengan kasur rumah sakit Fadil.
" Jadi bagaimana dengan lamaranmu." Tanya dokter Faris yang menjadi penasaran dengan urusan Fadil yang katanya sih sedang melamar seorang wanita sampai sampai melupakan untuk kemoterapi.
" Ya begitulah dok." Jawab Fadil.
" Begitu bagaimana." Tanya dokter Faris yang penasaran.
" Saya tidak tahu apakah dia mau menerima saya atau tidak." Jawab Fadil yang teringat perkataan gadis yang beberapa jam yang lalu sebelum dia masuk di rumah sakit dan berdada di ruangan yang sekarang sedang menjadi tempat dia di rawat.
Melihat Fadil terdiam membuat dokter Faris tahu jawabannya.
" Tidak usah di pikirkan saya tahu jawabannya." Ucap dokter Faris yang berdiri dari duduknya." saya tidak mau pasien saya yang satu ini kembali ngedrop hanya gara gara pertanyaan saya tadi." Ucap dokter Faris kembali yang memeriksa Fadil dengan teliti.
" Ingat masih banyak orang yang ingin hidup, karena mereka masih ingin bersama Dengan keluarga mereka." Ucap dokter Faris mengingatkan Fadil di sela-sela pemeriksaannya. Dokter Faris mulai memeriksa Fadil dengan serius.
" Saya sudah mengatakan jangan sampai lupa minum obatnya, terus jangan terlalu banyak pikiran kamu bisa saja ngedrop karena terlalu banyak pikiran yang kamu pikirkan." Ucap dokter Faris yang sudah selesai memeriksa Fadil.
Fadil hanya mengangguk." Istirahatlah dan jangan pulang dulu, atau lari dari rumah sakit seperti kemarin kemarin." Dokter Faris memperingatkan Fadil kembali karena sering lari jika dia sedang di rawat inap di rumah sakit " Karena keadaan kamu begitu sangat tidak kuat jika Harus lari Lagi." Ucap dokter Faris kembali
" Siap dokter, saya tidak akan lari lagi." Jawab Fadil." Kalau begitu istirahatlah, saya akan terus memantau mu." Ucap dokter Faris kembali, sedangkan Fadil hanya mengangguk mengerti.
Fadil mulai menutup matanya untuk membuat Fadil sedikit tenang sedangkan dokter Faris dan beberapa perawat wanita yang sedang memantau ke adaan Fadil.
Bersambung.
...Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran. Jangan lupa komen like dan vote nya biar author makin semangat buat updatenya....
__ADS_1