Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 19


__ADS_3

Malam berganti pagi,


Setelah menyelesaikan solat subuh keluarga Haidar berkumpul di ruang makan, mereka semua sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan diam.


Wiyah melihat ke arah Haidar yang dari tadi tidak memakan makanannya yang berada di hadapannya, makan yang ada di hadapannya hanya di aduk aduk saja.


" Kaka Idar ngga di makan makanannya." Tanya Wiyah yang dari tadi memperhatikan Haidar.


Sedangkan Haidar tidak merespon pertanyaan dari Wiyah.


" Mas." Panggil Windi yang dari tadi memperhatikan Haidar, Tapi Haidar tetap sama tidak merespon panggilan Windi. Entah apa yang sedang Haidar pikiran sampai sampai tidak merespon panggilan mereka berdua.


" Mas." Windi mengoyakkan tangan Haidar yang membuat Haidar langsung tersadar dari lamunannya.


" Iyaa ada apa." Tanya Haidar melihat ke arah keduanya. Sedangkan Windi dan Wiyah hanya bisa bingung sendiri dengan sikap Haidar pagi ini.


" Mas, makanannya ngga di makan." Tanya Windi kembali saat menyadari kalau suaminya itu sudah sadar dari lamunannya.


" Ini mau di makan sayang." Jawab Haidar.


" Mikirin apa si mas, sampai makan aja ngga fokus." Tanya Windi menatap suaminya itu.


" Ngga ada sayang. Mas lagi malas makan nasi aja." Jawab Haidar membuat Windi mengangguk. Windi tau apa yang sedang Haidar pikirkan sekarang. Pasti karena telfon semalam yang membuat nya ke pikiran dan membuatnya tidak nafsu untuk memakan sesuatu karena pikiran yang melanda nya sekarang.


" Kalau mas ngga mau makan nasi, bagaimana kalau nasi nya di ganti roti aja bagaimana mas." Tawar Windi membuat Haidar mengangguk setuju.


" Bunda." Panggil Rafi. Windi yang sedang menyiapkan roti untuk Haidar, melihat ke arah Rafi.


" hmm, Iya Rafi, ada apa ." Tanya Windi.


" Bunda apa boleh nanti sore Rafi sama Rafa pergi ke taman bermain bersama Acil wiyah dan Acil Fina." Tanya Rafa bukan Rafi.


" Rafa." Teriak Rafi kesal karena ucapannya di ambil Rafa." Harus nya kan Rafi yang tanya bukan Rafa." ucap Rafi kesal.


" Kamu sih lama." Sabung Rafa singkat sambil menjulurkan lidahnya mengejek Rafi.


" Rafa!!" teriak Rafi kesal.


" Udah udah ngga usah bertengkar." lerai Wiyah yang dari tadi diam karena melihat instruksi keduanya.


" Rafa duluan acil." tuduh Rafi.


" Tidak Acil, Rafi duluan." Tolak Rafa yang tidak mau di Salakan.


" Udah, ngga usah berdebat." Cegah Windi dengan tegas. 2R yang mendengar itu langsung terdiam. Ya. Itulah kalau seorang ibu yang angkat bicara maka semuanya akan diam.


" Bunda, apa boleh kami pergi." Tanya 2R bersamaan karena tadi sempat terdiam.


" Tanya Acil kalian, apakah nanti sore Acil bisa antar kalian atau tidak." Jawab Windi melihat ke arah Wiyah.


Keduanya menatap ke arah Wiyah." boleh." Ucap Wiyah tersenyum saat melihat tatapan dari 2R,


" Asik." Teriak keduanya dengan begitu sangat girangnya." Makasih Acil." Ucap keduanya.


" Iya sama-sama." Jawab Wiyah sambil tersenyum." Tapi Acil, tanya Acil Fina dulu ya, Apa Acil Fina sibuk atau tidak." Jelas Wiyah membuat keduanya mengangguk.


" Oke Cil." Jawab keduanya sambil memberikan jempol tanda kalau mereka setuju.

__ADS_1


Sedangkan Fanesya yang dari tadi diam sambil mendengarkan membuka suaranya." Apa Fanesya ngga di ajak cil." Tanya Fanesya yang dari tadi diam melihat para orang dewasa sedang berbincang bincang dan melupakan kehadirannya.


" Fanesya ngga ikut Acil, karena Fanesya ikut bersama bunda." Jawab Windi melihat ke arah Fanesya


" Emangnya Kaka mau kemana." Tanya Wiyah yang mungkin mewakili 2R untuk bertanya.


" Kaka mau kerumahnya mama Rakfili." Jawab Windi membuat wiyah dan 2R hanya mengangguk mengerti.


" Sayang mau ngapain ke sana." Tanya Haidar yang dari tadi diam mendengarkan." Tapi kenapa mas engga di kasih tau sayang." Tanya Haidar menatap istrinya itu.


" Mau bantuin mama Rakfili membuat kue mas." Jawab Windi." Bukannya tadi malam aku udah bilang mas." Jelas Windi.


" Tapi sayang ngga ngomong sama mas." Ucap Haidar yang merasa tidak di beritahu.


" Mas, Tadi malam itu aku udah ngomong sama mas. Katanya sih iya, terus kata mas nanti mau nganterin aku dan anak anak kerumahnya mama Rakfili." Jelas Windi kembali.


" Masa sih sayang." Tanya Haidar yang masih belum percaya.


" Iya mas, aku ngga bohong." Jawab Windi meyakinkan." Kalau mas ngga percaya juga ngga apa apa, nanti aku ngga jadi ke sana." sambung Windi kembali dengan wajah yang mulai sedih.


Haidar yang melihat wajah sang istri mulai yang mulai sedih merasa bersalah kepada sang istri." Iya mas percaya sama kamu sayang." Jawab Haidar mengusap tangan Windi yang memang duduk di sebelahnya." Maaf sayang mungkin mas, tidak mendengar saat sayang minta izin sama mas tadi malam, makanya mas tanya kembali." Jelas Haidar kembali.


" Makasih ya mas." Ucap Windi sambil tersenyum.


" Iya sayang." Jawab Haidar mengusap lembut kepala istrinya itu. ( Haidar suami idaman benget 😌 )


" Ehem " Wiyah berdehem karena melihat tingkah ke dua kakaknya itu. " Ingat di rumah masih ada bocah polos." Wiyah mengingat tapi ada sindiran di dalamnya.


Sedangkan keduanya hanya tersenyum." Bunda jadi Fanesya ikut bunda dan ayah." Tanya Fanesya.


" Iya sayang." jawab Windi tersenyum menanggapi pertanyaan putri kecilnya itu.


" Bukan nya nanti kalian pergi sama Acil Wiyah." Jawab Windi.


" Tapi kan Acil Wiyah turun kerja bunda." ucap Rafi.


" Bukannya kalian perginya nanti sore." Tanya Windi membuat keduanya hanya mengangguk." Bunda juga ngga pergi sekarang, tapi bunda perginya nanti sore, Setelah kalian pergi Baru itu bunda juga pergi." Jelas Windi. Membuat keduanya hanya mengangguk angguk


" Dek Wiyah, nanti sore Kaka titip 2R ya." Ucap Windi.


" Iya Kaka, nanti Wiyah jagain." Jawab Wiyah sambil tersenyum.


" Yee nanti sore kita jalan." Teriak 2R begitu sangat bahagia. Windi Haidar, dan Wiyah hanya tersenyum melihat tingkah 2R yang begitu menggemaskan.


" Apakah keluarga ku bisa berkumpul seperti ini lagi." Batin Wiyah sedih melihat kebahagian keluarga Haidar yang selalu berkumpul. Bukannya Wiyah merasa iri dengan keluarga Haidar. Hanya saja Wiyah begitu sangat merindukan keluarganya yang membuatnya mengingat berapa tahun yang lalu. Di saat keluarganya masih berkumpul sama seperti keluarga yang lainnya.


Wiyah begitu merindukan masa masa di mana keluarganya selalu berkumpul.


Bercanda, tertawa bersama dan jika satu terluka maka mereka akan sama sama mengobati satu sam lainnya.


Wiyah begitu sangat merindukan saat menjahili ke empat adiknya, Abang dan kedua orang tuanya yang ikut mendapatkan kejahilan dari Wiyah. Wiyah begitu sangat merindukan semua momen bersama dengan keluarga nya.


Apakah keluarga baik baik saja di sana, Apakah keluarganya juga merindukannya sama seperti dia merindukan mereka. Apakah keluarga nya akan berkumpul seperti dulu. Pikir Wiyah yang selalu menanyakan itu kepada dirinya sendiri.


Wiyah hanya bisa melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan dari keluarga yang mereka punya, Sedangkan dia entah kemana keluarganya sebenarnya.


Walaupun Wiyah selalu mendapatkan kasih sayang dari Haidar dan Windi, Tapi Wiyah Juga begitu sangat merindukan sosok ayah dan ibunya.

__ADS_1


Wiyah begitu sangat merindukan semua tentang kedua orang tuanya, Termasuk kasih sayang yang mereka berikan untuknya dan juga saudaranya.


Apakah suatu saat nanti dia akan bertemu dengan keluarganya dan kembali berkumpul seperti dulu atau tidak.


Apakah nanti keluarganya akan menjadi cerita untuknya, atau hanya sebuah dongeng yang akan di bawakan untuknya di saat menjelang tidur. Semua pertanyaan itu selalu Wiyah tanyakan kepada dirinya sendiri.


.


Sedangkan di sisi lain.


Suara ponsel mengusik tidur seorang pria yang masih nyenyak dalam tidurnya, biasanya pria itu sudah bangun dari tadi dan melakukan aktifitas pagi nya dengan berolahraga, tapi berbeda dengan pagi ini, pria yang tidak lain Fadil masih nyenyak dalam tidurnya.


Dengan memeluk bantal guling, membuat dia semakin Engan untuk meninggalkan tempat tidurnya yang membuat dirinya melupakan rencananya pagi ini.


Sampai suara ponsel yang membuat dia terusik dari tidur nyenyak nya.


" Siapa sih yang menggangu tidurku." Gerutu Fadil kesal mendengar suara ponselnya yang berdering. Dengan mata yang masih terpejam Fadil mengambil ponselnya yang berada di atas lemari kecil dekat dengan tempat tidurnya.


Bukannya mengangkatnya Fadil malah mematikan ponselnya itu dan kembali tidur.


Fadil lupa dengan rencananya karena lembur semalam, Jika saja dia hanya lembur itu tidak masalah, tapi yang membuat dia pusing itu ketika karena harus mendapatkan kesialan semalam.


Flashback.


Fadil yang ingin pulang kerumahnya karena pekerjaannya sudah selesai harus di hentikan oleh mobilnya yang mogok, dan sialnya lagi Fadil tempat berhenti di depan bengkel yang sudah tutup karena ini sudah larut malam. Kalau saja itu di waktu siang pasti bekel yang memang berada di hadapannya ini pasti buka.


Cukup sial mungkin, bengkel sudah berada di hadapannya tapi harus tutup karena malam.


Jika saja Fadil pemilik bengkel itu mungkin Fadil akan menyuruh para karyawannya untuk segera membukanya dan memperbaiki mobilnya yang sekarang sedang mogok.


" Sepertinya besok aku harus membeli bengkel ini, supaya kalau mobil ku mogok, aku tidak perlu memperbaikinya sendiri." Gumam Fadil yang sedang memperbaiki mobilnya, karena tidak ada yang membantunya.


Fazar ingin menelfon anak buahnya tapi terkendala karena ponselnya yang sedang lowbat dan ponsel yang satunya lagi di sita oleh Fazar. Suguh apes hari ini nasib Fadil, Sudah dapat lembur sampai malam, Tapi giliran pulang mobilnya mogok di tengah jalan dan sialnya lagi ponsel yang di gunakan Fadil lowbat


Kesal, Pusing, Marah, Jengkel semua menjadi satu seperti gado-gado, Jika saja itu beneran gado gado, pasti sungguh nikmat kalau di makan 😋


Tempat jam dua Fadil baru selesai memperbaiki mobilnya dan bisa di Kendarai kembali.


" Sungguh aku tidak sia sia aku belajar memperbaiki mobil yang mogok dari pak Asep " Ucap Fadil yang begitu sangat senang, karena mobilnya bisa di hidupkan kembali berkata kemampuannya. Ya semu itu berkat Fadil belajar dari montir kepercayaan keluarga nya. yaitu pak Asep. Pak Asep adalah orang bengkel kepercayaan di rumah Fadil dia sudah bekerja selama dua puluh tahun di sana.


Flashback off


Fadil yang sedang menikmati tidurnya


beda jauh dengan sekertaris dan juga sahabat


yang dari tadi merana menunggu Fadil tidak kunjung datang


" Bunda apa Fadil belum turun." Tanya Rido yang sedang duduk di meja makan bersama Sisi dan juga Fazri. Rido memanggil bunda ke Sisi karena itu permintaan dari Sisi sendiri.


" Mungkin saja kak Fadil masih tidur, kak Rido." Sambung Fazri yang mengetahui kalau Fadil sedikit berubah selama dua hari ini, Fadil yang biasanya bangun dari awal kini sering telat bangun, entah apa yang dia kerjakan.


" Mungkin beberapa hari ini Fadil sedikit kecapean makanya dia sering bangun sedikit ke siangan." Sambung sisi


" Bukan kecapean bunda, tapi kak Fadil sedang bahagia karena jatuh cinta, Makanya Kak Fadil susah tidur terus bangun ke siangan." Fazri tidak sengaja keceplosan, Fazri segera menutup mulutnya karena keceplosan, jika saja Fadil tau Fazri keceplosan mungkin uang jajannya akan di potong.


Fazri sudah mengetahui kalau Fadil sedang jatuh cinta, karena saat Fadil sedang memandang sebuah foto seseorang Fazri melihat itu dan Fazri memanfaatkan itu semua, dengan cara memeras Kaka keduanya itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2