
" Apa keluarga ku bisa berkumpul seperti dulu lagi ya Allah." Batin Wiyah yang sedang duduk di atas motor dengan pandangan menatap ke arah jalan raya.
" Apakah nantinya wiyah bisa menerima kenyataan tentang rahasia kedua orang tuanya. " Batin Haidar yang sedang mengendarai motor nya.
Sepanjangan jalan tidak ada perbincangan dari keduanya. Hanya ada suara kendaraan yang sedang berlalu lalang yang Meraka lewati. Haidar atau Wiyah semua diam dalam pikirannya mereka sendiri.
Sampai tidak terasa Wiyah sudah sampai di tempat kerjanya.
" Kaka Idar, makasih sudah mengantarkan ku." Ucap Wiyah yang turun dari motor.
" Iya sama sama dek." Jawab Haidar." Apa nanti kaka yang jemput, Dek." Tanya Haidar.
" Tidak Kaka Idar. Nanti aku pulang nya sama Fina." Jawab Wiyah membuat Haidar mengangguk.
Setelah mencium tangan Haidar. Wiyah melangkah mendekati gerbang. Sedangkan Haidar kembali kerumahnya.
Karena ini adalah hari libur Karena Hari ini adalah hari Sabtu.
Wiyah melangkah masuk kedalam, terlihat kalau di luar sudah sepi karena anak anak pasti sudah masuk ke dalam rumah.
Wiyah melangkah masuk kedalam tempat kerjanya. Bisa melihat kalau teman satu tempat kerjanya sedang mengerjakan sesuatu. yang apa itu namanya, dirinya tidak tahu.
" Assalamualaikum." Salam Wiyah.
" Waalaikumsalam." Jawab teman-teman Wiyah satu tempat kerjanya dengan serempak sambil melihat ke arah Wiyah.
" Tumben Yah.( Yah itu singkatan dari Wiyah, karena mereka sering manggil Wiyah dengan sebutan yah ) datang nya telat." Tanya Inar. melihat ke arah Wiyah.
" kayaknya nyangkut di jalan ya tadi." Sambung indah yang terkenal kocak dengan gayanya yang suka menggoda.
" Ngga Wiyah ngga nyangkut di jalan." Jawab Wiyah karena dirinya yang sudah tahu kelakuan dari teman satu kerajaan nya itu." Kalau Wiyah nyangkut di jalan artinya Wiyah belum datang." Ucap Wiyah kembali.
" Jangan sampai nyangkut di jalan karena yang manis manis." Sambung Amih.
" Yang manis itu gula di tambah dengan senyuman mu."Sambung Indah kembali bercanda.
Tempat kerja itu menjadi ramai karena Candaan dari Indah. Sedangkan Wiyah hanya tersenyum melihat mereka bercanda dan juga menggoda nya. Karena dengan ini Wiyah sedikit terhibur dan bisa melupakan kesedihannya sedikit.
" Udah udah jangan godain Wiyah terus." Ucap Findih teman Wiyah yang terkenal kalem, Yang dari tadi diam melihat mereka bercanda.
" Tuh Yah, anak anak mu sudah pada demo karena kamu belum datang." Ucap Laila yang baru datang dan menghampiri Wiyah
teman yang terkenal baik tapi tatap tegas. Suka menggoda Wiyah sama seperti ke tiga temannya yang lain.
" Iya bunda." Jawab Wiyah." Kalau gitu Wiyah masuk dulu ya bun." Ijin Wiyah sambil melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ruangan tempat anak anak bermain dan beristirahat.
Wiyah meninggalkan kelima teman nya
yang kembali melanjutkan kerjaannya mereka yang sempat tertunda karena sedang menggoda Wiyah tadi.
Mereka melanjutkan merangkai pelajaran yang akan di berikan ke anak anak saat hari Senin nanti. Karena mereka adalah guru di TK di situ.
__ADS_1
Baru saja Wiyah melangkah mendekati pintu ruangan itu. Wiyah sudah bisa mendengar kalau anak anak yang sedang riuh seperti orang demo. Apalagi anak anak ada yang menangis dan ada juga yang melapor ke bundanya yang lain, Yang menjaga anak anak saat dirinya belum datang.
Terdengar juga suara bunda mereka yang mulai kewalahan menghadapi tingkah anak anak itu yang terkenal agresif.
" Astaghfirullahaladzim." Wiyah beristigfar mendengar keributan yang berasal dari dalam." Baru saja telat sebentar udah riuh kaya orang lagi demo, apalagi telat lama mungkin pada pingsan." Gumam Wiyah yang sedang mengintip di selah selah pintu.
Sebelum melangkah masuk kedalam, Wiyah menarik nafasnya terlebih dahulu, barulah Wiyah masuk kedalam.
" Bismillahirrahmanirrahim. Mari kita bertempur." Ucap Wiyah menyemangati diri sendiri. Wiyah membuka pintu
dan langsung di suguhkan oleh anak anak yang dari tadi menunggu nya sampai sampai membuat keributan.
Mereka berlari mendekati Wiyah, terhitung kalau anak di situ bukan hanya satu atau empat orang tapi ada tujuh belas orang.
Wiyah melihat ke arah teman kerjanya yang sedang duduk setelah kedatangan." Akhirnya datang juga yah." Ucap Amah teman satu ruangan dengan Wiyah.
Dengan muka lesunya dia terduduk di lantai mengelap, keringat nya yang berada di dahi.
Wiyah melihat itu jadi merasa kasian.
" Bunda." Rengek bocah laki laki yang mendekati Wiyah dengan mata sebab menandakan kalau anak itu baru saja menangis.
" Kenapa." Tanya Wiyah lembut yang berjongkok
menyamakan tingginya dengan anak kecil yang sedang berdiri di depannya.
" Ardi, tadi menggangu aku dan juga memukulku." Aduh anak laki laki itu yang bernama Berim. dengan menunjuk Ardi anak laki laki yang sedang berdiri sambil menatap kearah Wiyah.
Wiyah bingung dengan anak yang bernama Ardi yang terkenal tidak suka memukul atau menggangu temannya, Tapi kini mendapat laporan tentang kelakuannya. Biasanya anak itu yang sering melapor karena dia sering di gangguin oleh temannya tapi ini entah mengapa dia yang dia mendapatkan laporan karena kenakalan nya.
" Ardi tidak menggangu nya bunda." Jawab Ardi tidak terima dengan tuduhan Berim, Wiyah yang mendengarkan itu membuang nafas kasar.
" Tadi Ardi bermain dengan Berim, terus ngga tahu kenapa Berim mengadu kalau Ardi yang memukul Berim." Jelas Ardi, mencoba menjelaskan. Sedangkan Wiyah hanya mengangguk.
" Berim kenapa berim menuduh Ardi yang memukul Berim, apa Berim melihat nya." Tanya Wiyah yang menatap ke arah Berim.
" Tidak bunda." Jawab Berim.
" Kalau Berim tidak melihat Ardi memukul Berim kenapa Berim menuduh Ardi." Tanya Wiyah kembali.
" Karena Ardi yang dekat dengan Berim bunda." Jawab Berim menekuk wajahnya.
" Jadi dengan Ardi dekat dengan Berim artinya Ardi memukul Berim gitu." Tanya Wiyah membuat Berim mengangguk.
" Berim tidak boleh menuduh temannya, jika Berim tidak melihat kalau Ardi yang memukul Berim, belum tentu kan Ardi yang mukul Berim " Nasehat Wiyah." Di sini masih banyak teman yang lain mungkin ada yang usil sama Berim. Tapi Berim tidak tahu." Ucap Wiyah kembali mengusap pipi berim dengan lembut. Sedangkan bocah itu hanya menundukkan wajahnya.
" Maaf bunda." Lirih Berim menundukkan wajahnya. Wiyah yang melihat itu hanya tersenyum.
Wiyah memegang dagu Berim dengan lembut lalu mengangkatnya." Berim jangan minta maaf sama bunda tapi sama Ardi." Jelas Wiyah membuat Berim hanya mengangguk.
Berim memalingkan tubuhnya menghadap Ardi
__ADS_1
" Ardi, Maafkan Berim ya yang sudah menuduh Ardi yang tidak tidak." Ucap Berim yang masih menundukkan wajahnya.
" Tidak apa Berim, Ardi juga udah maafin Berim. " Ucap Ardi Sam sambil tersenyum. Berim mengangkat wajahnya lalu menatap ke arah Ardi.
" Makasih Ardi." Ucap Berim dengan senang lalu memeluk Ardi dengan wajah berbinar bahagia.
" Sama sama Berim." Balas Ardi.
Wiyah yang melihat itu hanya tersenyum. Rasanya dengan menyelesaikan masalah anak anak yang sekecil ini membuat Wiyah merasa begitu sangat senang.
Selesai menyelesaikan masalah Berim dan Ardi
Wiyah kembali menyelesaikan masalah anak yang lain.
Seperti anak anak yang saling mengolok satu sama lain, merebut mainan temannya dan masih banyak lagi yang Wiyah selesaikan
sampai sampai anak anak yang tadi berdemo kini diam dan kembali bermain seperti tidak terjadi sesuatu.
" Huu, Akhirnya selesai juga." Ucap Wiyah tersenyum menyaksikan anak anak yang kembali tentram bagaikan ulat bulu yang memakan daun.
Sedangkan teman Wiyah yang melihat kalau Wiyah bisa menyelesaikan masalah anak anak hanya tersenyum Amah tahu. Kalau sahabatnya ini adalah pawang anak anak jika mereka sudah ribut dan tidak terkendali seperti tadi.
Amah mendekati Wiyah.
" Selesai juga masalah mereka Wiyah." Ucap Amah datang menghampiri Wiyah.
" Ya. Begitulah Amah, kalau mereka sudah membuat drama." Jawab Wiyah sambil terkekeh geli mengingat tingkah anak anak. Wiyah melirik anak anak yang sudah mulai bermain seperti biasa.
Sedangkan Amah hanya mengangguk dan tersenyum sambil melihat kearah anak anak yang sudah berhenti berdemo.
" Aku sangat bersyukur memiliki saudara yang banyak. Karena mereka mengajariku banyak hal seperti menghadapi anak anak yang penuh dengan drama seperti ini." Batin Wiyah yang mengingat tingkah saudaranya yang sama seperti anak anak yang dia jaga sekarang.
Sedangkan di luar ruangan
mereka yang mendengar anak-anak yang sudah peda diam dan tidak berdemo seperti tadi Hanya bisa tersenyum. Karena mereka tahu anak-anak yang berada di penitipan ini paling dekat dengan Wiyah.
" Kalau pawang nya sudah datang pasti, para pendemo diam." Ucap indah, sedangkan yang lain hanya mengangguk.
💮💮💮💮💮
Sedangkan di tempat lain.
Fadil yang sedang duduk di dalam mobil sambil di temani dengan sekertaris yang berkedok sahabat itu. Hanya terduduk lesu karena orang yang ingin dia temui ternyata sudah pergi tanpa Fadil menyapa nya.
Padahal tadi dirinya ingin bertemu dengan orang itu. Tapi karena sekertaris berkedok sahabat itu telah menggagalkan nya dengan mitos palsu nya itu yang membuat dirinya telat untuk menemui calon masa depan nya.
Tapi yang Fadil tidak tahu. Rido lah yang membantunya bangun dengan mitos palsunya itu. Kalau tidak Rido mungkin dirinya tidak akan bangun sampai sekarang.
Bersambung.
Jangan lupa komen, like dan vote ya.
__ADS_1
author ngga maksa ko 😁