
Jika di sisi lain ada seorang pria yang terluka karena menerima satu kenyataan kalau Saudara nya terkena penyakit yang sangat mematikan, dan mungkin hidup nya akan di gantung antara hidup dan mati. Lain halnya dengan Seorang Gadis yang baru saja menerima satu kenyataan yang membuat hati nya tersakiti.
Bagaikan dua orang yang memiliki perjanjian, Dua orang ini memiliki rasa sakit yang sama, Hanya saja luka yang mereka memiliki berbeda. Rasa bersalah dan kecewa itu memiliki rasa sakit yang berbeda, Tapi tetap memiliki rasa sakitnya bisa menusuk sampai ke ulu hati.
.
.
Malam ini tidak seperti malam yang biasanya, Hanya saja malam ini sangat berbeda. Jika malam malam sebelumnya akan ada canda tawa kebahagiaan. Berbeda dengan malam ini yang hanya ada kesunyian tanpa satu orang pun membuka suara. Semua orang hanya diam sambil memikirkan sesuatu.
Haidar dan Jambri yang sedang berada di ruang keluarga hanya bisa diam. Keduanya tidak ada yang mengangkat perbicangan karena keduanya hanya diam sambil bergulat dengan pikiran mereka sendiri.
Sedangkan Windi yang di temani oleh ketiga anaknya yang berada di dapur hanya bisa terdiam memikirkan masalah yang baru saja terjadi. Memikirkan itu membuat Windi semakin bingung memikirkan masalah yang hadapi oleh Wiyah.
" Bun, kenapa Acil Wiyah ngga bantuin bunda." Tanya Rafa saat menyadari Kalau Wiyah tidak ada di dapur untuk membantu sang bunda.
Windi yang mendengar pertanyaan dari Rafa hanya tersenyum." Acil kalian lagi ngga enak badan Rafa, makanya ngga bantuin bunda." Jawab Windi sambil tersenyum melihat kearah putranya itu yang hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban darinya.
" Tapi bunda, Siapa orang di depan. Sepertinya Rafi pernah lihat, Tapi di mana ya" Tanya Rafi yang penasaran karena untuk pertama kalinya melihat Jambri, Mungkin tiga tahun yang lalu mereka sering bertemu dengan Jambri, Hanya saja itu sudah terlalu lama dan mungkin Rafi sudah lupa siapa Jambri sebenarnya.
" Itu kakek Rafi, Ayah dari acil Wiyah." Jawab Windi menjelaskan membuat Rafi dan Rafa mengangguk mengerti.
" Tapi bunda, Kenapa kakek baru datang, Padahal kakek udah lama perginya." Tanya Rafa yang ikut penasaran dengan Kakek nya itu. Walaupun mereka kembar, Tapi ingatan Rafa jauh lebih besar di bandingkan Rafi yang bersifat dewasa.
" Karena Kakek berkerja di keluar kota Rafa makanya Kakek ngga sempat untuk pulang dan hari ini baru kakek sempat pulang." Jawab Windi memberikan penjelasan agar membuat Rafa mengerti.
" Jadi kakek baru sempet pulang ya Bun, Pantas kita ngga pernah ketemu." Ucap Rafa membuat Windi hanya tersenyum.
" Kalau gitu kita bertiga ada kakek ya bunda." Sambung Fanesya yang dari tadi mendengarkan kedua abangnya yang sedang berbincang bersama dengan sang bunda.
" Iya sayang, Kalian punya kakek." Jawab Windi sambil tersenyum.
Windi melihat kearah ketiga anaknya itu." Apakah ada yang mau di tanyakan lagi." Tanya Windi yang ingin memastikan jika ketiganya tidak akan bertanya lagi di saat Windi sedang sibuk untuk memasak.
" Tidak ada bunda." Jawab ketiganya membuat Windi bernafas lega.
__ADS_1
" Kalau gitu bunda lanjut masak lagi ya." Ucap Windi yang mendapatkan Anggukan dari ketiga.
" Bunda biar kami bantu ya." Tawar 2R.
" Emangnya anaknya bunda bisa." Tanya Windi.
" Insyaallah bisa bunda, Kan kami sering bantu acil Wiyah masak." Jawab 2R membuat Windi menampilkan senyum bahagia nya.
" Kalau gitu Rafa sama Rafi, Bantu bunda potong wortel." Suruh Windi mendapatkan anggukan dari keduanya." Hati hati pisaunya tajam, pelan-pelan saja." Ucap Windi kembali.
" Siap bunda." Jawab keduanya.
" Bunda kalau Fanesya." Tanya Fanesya yang ingin membantu sang bunda.
" Fanesya masih kecil, Nanti kalau udah besar baru bantuin bunda ya." Jawab Windi lembut.
Fanesya yang mendengar Ucapan dari sang bunda merasa sedih, Tapi mau bagaimana lagi dia masih kecil. Jadi harus bisa mengerti.
" Baiklah kalau gitu bunda." Jawab Fanesya membuat Windi gemas dengan anaknya itu.
" Kalau gitu bunda lanjut lagi buat masaknya." Ucap Windi mendapatkan anggukan dari ketiganya.
.
.
Sedangkan di dalam kamar seorang gadis Masih sama yaitu di tempat nya seperti tadi, tidak bergeser sama sekali sedangkan pandangannya lurus ke depan. Gadis yang tidak lain adalah Wiyah hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong setelah mendengar ucapan ayahnya tadi.
Rasa sakit dan kecewa seperti menyatu dalam hati Wiyah, Rasanya Wiyah ingin berteriak menanyakan kenapa harus dirinya yang mendapatkan masalah sebesar ini, Kenapa harus dirinya. Pikir Wiyah.
Wiyah masih bertanya tanya apakah Karena kelahirannya keluarga nya harus berpisah. Dan malam di mana orang tuanya sedang bertengkar, mungkin mereka sedang membahasnya Karena dirinya bukanlah anak dari ayahnya. Mungkin begitu atau ada hal yang lain.
" Aku harus bertanya Jika tidak masalah ku tidak akan selesai. Mungkin dengan aku mendengar jawaban dari ayah, Aku akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan ku selama tiga tahun terakhir, Kenapa ayah berpisah dengan ibu." Gumam Wiyah yang mengambil keputusan untuk menanyakan soal perpisahan kedua orang tuanya.
Sebenarnya Wiyah tidak ingin menanyakan Hal itu karena Wiyah tahu itu adalah masalah orang tuanya. Tapi Wiyah berpikir, Dia berhak mendapatkan jawaban karena pertanyaan yang selama ini Wiyah pertanyakan kepada kakaknya dan kini harus di jawab dengan jujur, Karena Wiyah tidak mau mendengar kebohongan setelah tadi Dia mendengar ucapan dari ayahnya, Yang membuat Wiyah tidak percaya apa yang dikatakan oleh ayahnya itu adalah benar atau tidak.
__ADS_1
Wiyah tidak mau kalau mendengar adanya kebohongan untuk kesekian kalinya karena apa yang selama ini Wiyah terima hanya kebohongan dan Kini Wiyah harus mengetahui rahasia sebenarnya.
Wiyah juga baru sadar ternyata, Jawaban dari Haidar yaitu pertanyaan dua bulan yang lalu hanya setengah dari cerita aslinya. Cerita sebenarnya baru saja akan di mulai.
Wiyah tidak tahu akan mengambil keputusan apa jika dia mendengar penjelasan dari ayahnya nanti. Tapi Wiyah akan menerima apa yang ayah nya nanti katakan, Siapa dirinya dan juga siapa sebenarnya ayahnya itu.
Setelah mengambil keputusan, Wiyah turun dari kasur nya, melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya Karena saat tadi dia belum sempat untuk mandi.
Lima belas menit kemudian, Wiyah sudah selesai membersihkan tubuhnya. Tubuhnya tadi terasa lengket kini kembali seger setelah Dia selesai membersihkan tubuhnya.
Wiyah melangkah ke arah cermin, Wiyah bisa melihat pantulan dirinya di cermin, Wiyah juga bisa melihat di bagian matanya yang bengkak karena dia terlalu lama menangis karena begitu sangat terkejut mendengar ucapan dari sang Ayah.
Setelah itu Wiyah mengambil hijab lalu Iya memakai L nya untuk bersiap siap keluar dari kamarnya, Menemui sang ayah yang selama ini Wiyah rindukan tapi bisakah dia memeluknya dan apa mungkin itu adalah pelukan terakhir dari sang ayah, pertemuan yang mungkin akan menjadi pertemuan yang terakhir setelah nanti mendengar penjelasan dari ayahnya.
Semuanya itu hanya waktu yang menjawab karena Kita hanya bisa mengikuti alurnya saja.
Wiyah melangkah kaki nya untuk keluar dari kamar, Tapi sebelum Wiyah benar benar keluar, Wiyah melihat ke arah Foto keluarga yang mungkin hanya sebuah kenangan nantinya.
Senyum itu hanya sebuah kenangan untuknya, Apapun kenyataan nya Wiyah akan tetap menerima dengan keikhlasan hati menerima dengan lapang dada apa pun kenyataan yang ayahnya akan katakan.
" Apapun itu Wiyah tetap semangat untukmu." Ucap Wiyah menyemangati Dirinya walaupun dirinya tahu itu terlalu sakit.
Di Rungan keluarga.
Haidar atau Jambri Hanya sama sama diam dalam pikiran mereka sendiri sedangkan pandangannya mereka saling menatap.
Haidar menatap lekat lekat paman nya itu karena Haidar merasa sangat kecewa dengan paman nya saat ini. Haidar begitu sangat kecewa saat Jambri mengatakan Kalau Wiyah bukanlah anak dari pamannya itu apalagi paman nya tadi mengatakan dengan lantang, sampai sampai Wiyah mendengar perkataan dari paman tadi membuat Wiyah mengetahui yang sebenarnya.
Padahal Haidar ingin Wiyah tidak mengetahui kenyataan itu, Tapi apa yang akan dia lakukan Wiyah sudah mendengar semuanya yang nantinya akan membuatnya bertanya kembali.
Padahal dua bulan yang lalu Haidar mencoba untuk membuat Wiyah diam tidak bertanya lagi dengan mengarang sebuah kisah sebenarnya tapi dengan sedikit kebohongan agar adiknya itu percaya dan tidak bertanya lagi. Tapi karangan itu seperti lenyap saat Wiyah mendengar nya dan membuat adiknya itu mengais hanya karena rahasia itu.
Mereka terus diam sampai pendengaran mereka mendengar pintu yang terbuka.
Mendengar itu membuat Haidar dan Jambri melihat kearah kamar Wiyah. Haidar dan Jambri bisa melihat kalau Wiyah sudah berdiri di depan pintu kamar nya. Jambri juga melihat kalau putri itu sudah tidak kusut seperti tadi saat Wiyah mendengar ucapannya yang membuat putri nya menangis.
__ADS_1
Bersambung.
jangan lupa like ya 😁