Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 79


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain.


Ruangan yang hanya terdengar suara dari alat-alat rumah sakit yang memecahkan keheningan dalam ruang itu. Alat-alat yang membantu agar kehidupan seseorang bisa terselamatkan. Dengan suara nya membuat begitu sangat sakit menusuk sampai kedalam telinga.


Sedangkan Seorang pria sedang memandang adiknya yang sedang terbaring di atas kasur rumah sakit dengan alat alat rumah sakit yang menempel ke tubuhnya agar Pria itu masih bisa untuk hidup.


Pria yang dari tadi duduk di sebelah ranjang dengan pandangan tetap lurus melihat ke arah adiknya yang masih saja menutup matanya setelah dokter menyatakan kalau pria itu kritis karena penyakit yang dia derita.


" Kenapa kamu membohongiku Dil." Tanya pria itu yang tidak lain adalah Fazar yang sedang memandang adiknya yang terbaring di atas kasur rumah sakit, Sedangkan tubuhnya di bantu oleh alat-alat rumah sakit agar membuat hidupnya sedikit panjang." Kamu begitu sangat kuat saat menyembunyikan penyakitmu dari kami semua." Ucap Fazar kembali dengan sangat lirih karena menahan tangisnya.


Fazar tidak mengira kalau ternyata senyuman dan kekocakan adik nya itu hanya menutupi rasa sakitnya agar keluarga nya tidak menyadari kalau Fadil sedang terkena penyakit.


" Abang berjanji, Abang akan melakukan apapun agar kamu bisa sembuh Fadil, Abang berjanji Dil." janji Fazar kepada dirinya sendiri jika adiknya itu bisa sembuh, Dia akan melakukan apapun asal adiknya itu bisa sembuh." Abang hanya minta kamu untuk tetap kuat agar kita bisa bersama." Ucap Fazar kembali. Fazar berdiri dari duduknya lalu mengangkat tangan nya untuk mengusap kapala Fadil yang kini tidak memiliki rambut sama sekali karena rambut itu memang sudah habis karena rontok yang di akibatkan oleh penyakitnya. dan selama ini Fadil hanya mengunakan rambut palsu agar menutupi kalau ternyata Fadil memiliki penyakit kanker.


Fazar begitu sangat sedih melihat keadaan Fadil sekarang yang begitu sangat berbeda dengan empat tahun yang lalu. Jika dulu Fadil memiliki tubuh yang atletis, beda halnya dengan sekarang, Tubuh Fadil sangat kurus. Fazar baru menyadari kalau ternyata selama ini Fadil Benyak berubah tapi Fazar tidak menyadari itu.


" Maafkan Abang, Dil yang terlambat menyadari kalau kamu ternyata memiliki penyakit kanker." Ucap Fazar yang akan terus mengulang kata maafnya sampai seumur hidupnya jika Fazar masih bisa untuk bernafas untuk melihat adiknya untuk sembuh.


Sedangkan tubuh Fadil yang pucat hanya terdiam sambil menikmati tidur nya, melupakan rasa sakitnya sesaat sampai Fadil sadar kembali untuk bertahan saat Fadil bertarung untuk melawan penyakit kanker yang dia derita.


Fazar hanya bisa berdoa agar adiknya itu bisa sembuh dan bisa berkumpul lagi bersama dengan mereka.


" Cepatlah sadar Fadil, Abang janji Abang akan menuruti semua kemauan mu." Bisik Fazar di telinga Fadil.


Fazar begitu sangat berjanji kepada dirinya sendiri. Jika adiknya itu sadar dari kritisnya maka Fazar akan melakukan apapun yang Fadil inginkan. Apapun itu selagi dia bisa untuk melakukannya, Jika Fazar mau. Fazar akan mengeluarkan semua hartanya agar adiknya itu bisa sembuh.


Saat Fazar sedang bersedih dengan keadaan adiknya. Fazar sampai tidak menyadari kalau dari tadi ada orang yang memperhatikannya dari balik pintu yang tidak terlalu di buka dan orang itu memerhatikan Fazar dari sela sela pintu.


Orang itu sama sedih nya seperti Fazar saat melihat keadaan sahabatnya itu yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Orang yang tidak lain adalah Rido hanya bisa memberikan kekuatan agar Fazar selalu kuat menghadapi semua ini dengan keikhlasan hati.


" Maafkan aku bang, Aku sama sama tidak bisa membantu Fadil di saat kondisinya seperti ini." Ucap Rido yang masih menatap Fazar dari balik pintu. Rido begitu sangat sedih saat mengetahui kalau dirinya ternyata sama-sama tidak bisa mendonorkan sumsum tulang nya untuk Fadil karena sumsum tulang Rido Juga tidak cocok dengan sumsum tulang Fadil.


" Tuan Rido." Panggil Zain saat melihat sahabat dan sekertaris Adik dari bos nya itu sedang berdiri di depan pintu.


Rido yang di panggil menoleh ke arah belakang yang sudah berdiri Zain." Zain kapan kamu disini." Tanya Rido karena dirinya tidak menyadari kedatangan dari Zain.

__ADS_1


" Baru saja tuan Rido." Jawab Zain. Rido mendengar Jawaban dari Zain hanya mengangguk mengerti." Apa kamu ingin bertemu dengan Abang di dalam di dalam." Tanya Rido.


" Iya tuan Rido, saya ingin bertemu dengan tuan Tuan Fazar." Jawab Zain sambil mengangguk.


" Kalau gitu kita masuk barang bareng." Ajak Rido yang mendapatkan anggukan dari Zain.


Rido dan Zain melangkah masuk kedalam ruangan Fadil dengan bersamaan.


Sedangkan Fazar yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang Fadil mendengar kalau ada yang membuka pintu ruangan Fadil melihat ke arah belakang. Fazar ingin memastikan siapakah yang datang.


Fazar bisa bisa melihat kalau ternyata yang masuk adalah Zain dan Rido. Fazar yang melihat kedatangan keduanya membuat Fazar berdiri dari duduknya.


" Zain. apa kamu sudah menemukan orang yang akan mendonorkan sumsum tulang untuk Fadil." Tanya Fazar saat Zain sudah berdiri di depannya.


" Belum tuan, belum ada orang yang mau mendonorkan sumsum tulang mereka." Jawab Zain.


Mendengar Jawaban dari Zain membuat Fazar mengeram kesal." Apa Harga yang ku tawarkan kurang untuk mereka." geram Fazar." Naikan harga dan berikan hadiah yang mau mendonorkan sumsum tulang untuk Fadil." Perintah Fazar membuat Zain mengangguk mengerti.


" Aku akan melakukan apapun demi adikku, walaupun harta dan nyawaku yang akan ku korbankan." Ucap Fazar sambil melihat ke arah Fadil.


Seorang Pria menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata melewati jalan yang masih ramai dengan kendaraan, karena sekarang barulah jam sembilan malam. Melewati beberapa jalan yang tidak terlalu padat oleh kendaraan.


Mobil yang terlihat mewah itu tampak Haning karena di dalam mobil, pria itu hanya sendiri di dalam mobil. Pria yang tidak lain adalah Fazar hanya Fokus ke depan dengan pikiran yang terus saja memikirkan Fadil.


Ya. Fazar barulah pulang dari rumah sakit untuk kembali ke rumah, mengambil beberapa berkas yang harus dia urus.


Sebenarnya Fazar bisa saja menyuruh Zain atau Rido untuk mengurus beberapa berkas penting itu, Tapi mereka masih mengurus beberapa pekerjaan lain yang belum selesai. Apalagi Fazar memerintahkan mereka untuk mengurus surat perpindahan Fadil yang akan di pindahkan ke kota J. Karena Fadil akan di pindahkan di sana untuk melakukan pengobatan.


Karena dokter Faris mengatakan kalau Fadil harus melakukan pengobatan di kota J. yang mungkin lebih baik. mengingat peralatan di rumah sakit tempat Fadil di rawat kurang memadai membuat Fadil harus berobat di Kota J.


Fazar masih mengingat apa yang di katakan oleh dokter Faris tentang keadaan Fadil yang semakin memburuk jika tidak segera di operasi, apalagi daya tahan tubuh Fadil semakin menurun akibat penyakitnya yang membuat daya tahan tubuh Fadil semakin hari semakin menurun.


Kita harus melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang untuk Fadil karena kondisi Fadil yang mulai menurun. Tapi mengingat, Sumsum tulang kalian tidak ada yang cocok membuat Ku berpikir kalau Fadil harus di kirim di kota J, untuk mendapatkan pengobatan di sana. Mungkin bisa lebih baik daripada disini. mengingat kalau di Kota J, Kalian memiliki Keluarga yang mungkin bisa membantu Fadil, karena memiliki Sumsum tulang yang sama.


Mendengar apa yang Dokter Faris katakan membuat Fazar menyetujui apa yang di sarangkan oleh dokter Faris. Tapi yang membuat Fazar bingung. Apakah dia harus kembali ke kota yang penuh kenangan menyakitkan itu atau tidak. Tapi Fadil sangat membutuhkan nya untuk kembali ke kota itu mengingat kondisi Fadil. Tapi dirinya belum siap untuk kembali ke kota J di waktu yang dekat.

__ADS_1


" Ya Allah berikanlah aku solusi." Gumam Fazar yang bingung dengan keadaan yang membuatnya berdiri di tengah tengah antara memilih adik nya atau memilih menghindar dari kota yang memiliki banyak kenangan bersama dengan mantan kekasihnya dulu.


" Di saat Seperti ini aku masih memikirkan masalahku sendiri. Memang begitu sangat egois dirimu Fazar." Gumam Fazar yang menyalahkan dirinya sendiri karena selalu mementingkan dirinya sendiri.


Fazar membuang nafasnya mencari ketenangan karena sekarang pikirannya sedang Kacau. Tapi semakin dia berusaha untuk tenang, semakin membuat kepalanya terasa sakit.


" Lebih baik aku berhenti sebentar untuk mengurangi beban pikiranku dari pada aku menyiksa diriku karena pikiranku yang buntu." Gumam Fazar.


Fazar melihat ke arah sekitar yang melihatkan tempat yang menurutnya nyaman untuk menenangkan pikirannya sebentar.


Fazar memberhentikan mobilnya pinggir dekat dengan taman kecil berdampingan dengan sungai dan juga jalan raya. Sungai yang begitu sangat panjang mengalir tanpa ada ujungnya sama sekali.


Fazar turun dari mobilnya melangkah masuk ke taman kecil yang berada di pinggir sungai. Fazar melangkah mendekati bangku taman.


Saat Fazar duduk di bangku taman itu, Fazar bisa merasakan hembusan angin malam yang begitu sangat dingin menyentuh kulitnya.


" Lebih tenang dari pada tadi." Ucap Fazar saat merasakan kalau dia jauh lebih tenang daripada tadi saat dia berada di dalam mobil.


Fazar bisa merasakan paduan alam di tambah bisingnya kota karena sekarang Fazar berada di tengah tengah keduanya.


Fazar mengarahkan pandangannya ke arah sungai yang tampak tenang.


Aku seperti sungai, yang begitu sangat tenang tanpa masalah saat orang melihatku. Tapi yang mereka tidak tahu di balik ketenangan ku aku juga memiliki masalah yang sama seperti mereka.


Fazar merasakan ketenangan saat dia berada sendiri dekat dekat dengan sungai, membuat Fazar sedikit melupakan maslahah nya seperti saat ini. Mungkin masalah yang hilang walaupun hanya sebentar.


Sampai rasa nyaman berada di taman kecil itu membuat Fazar melupakan tujuan utamanya.


" Aku harus kembali ke rumah setelah itu aku harus kembali lagi ke rumah sakit." Ucap Fazar yang mengingat tujuannya. Fazar berdiri dari duduknya.


Melangkah kembali mengarah ke mobilnya, Tapi baru saja Fazar melangkah belum jauh dari Taman itu. Fazar melihat seseorang yang begitu sangat dia kenal walaupun namanya dia tidak tahu. Seorang gadis yang beberapa kali dia temui tapi dengan cara tidak sengaja.


" Dasar m*rahan." Gumam Fazar melihat gadis itu yang sedang memeluk seorang pria. Fazar bisa melihat dari cahaya lampu taman ,kalau pria yang di pelupuk pria itu sudah berumur, mungkin seumuran dengan ibunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2