Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 80.


__ADS_3

Malam yang dingin membuat, malam malam biasanya akan seperti biasa. Tapi berbeda dengan malam ini yang tidak biasa untuk seorang gadis.


Jika malam biasanya gadis itu menginginkan malam akan panjang agar malam seperti ini tidak akan terlewatkan, Karena Senyuman kebahagiaan bisa berkumpul bersama keluarganya yaitu keluarga kecil Haidar. Walaupun keluarganya sudah berpisah tapi gadis itu masih bisa merasakan kehangatan kasih sayang oleh keluarganya. Kasih sayang yang sama hanya saja rasa yang jauh berbeda.


Tapi berbeda dengan malam ini, Gadis itu menginginkan malam ini cepat berlalu dan berganti pagi, Agar gadis itu bisa mengetahui jika apa yang terjadi malam ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang begitu sangat beruk dari mimpi mimpi buruk lainnya. Tapi Gadis itu sadar kalau apa yang terjadi malam ini memang nyata bukan sekedar mimpi buruk yang selama ini dia takutkan.


Ya. Sebuah kebenaran yang begitu sangat menyakitkan tapi itu sudah memang tertulis di jalan takdir gadis itu.


Jika Gadis itu bisa bertanya kepada sang penulis takdir maka gadis itu akan bertanya kepada sang penulis takdir. Kenapa harus dirinya yang mendapatkan luka ini kenapa bukan yang lain.


Tapi Mengingat setiap Ucapan dari Ayahnya membuat gadis itu sadar jika Ayahnya lah yang jauh lebih terluka di bandingkan dengan dirinya yang hanya mendapatkan setengah dari rasa sakit itu, Selain itu. Hanya ayahnya lah yang tersakiti selama dua puluh tiga tahun.


.


.


Suara bising nya kendaraan masih terdengar karena sekarang masih jam sembilan malam. Orang orang juga masih ada yang berlalu lalang untuk menikmati malam yang indah Apalagi para pejalan kaki sedang menikmati jajanan di sekitarnya pinggiran Jalan yang terdapat para penjual kaki lima yang menjual beberapa macam makanan yang bisa di nikmati.


Jika orang akan menikmati setiap kebersamaan mereka, Tapi berbeda dengan Wiyah yang menikmati malam nya dengan kesendirian. Dengan langkahnya Wiyah melewati jalan yang masih ramai akan kendaraan.


" Bintang apakah kamu tahu, Malam ini adalah pertama kalinya aku keluar malam sendiri." Gumam Wiyah yang memperhatikan jalan sekitar. Jika biasanya Wiyah tidak akan keluar malam jika sendiri, Tapi berbeda dengan malam ini Wiyah harus berjalan sendiri tanpa adanya teman di sampingnya.


Ya. Setelah mendengarkan cerita dari ayahnya, Wiyah memutuskan untuk keluar sebentar keluar meninggalkan keluarganya karena Wiyah menginginkan kesendirian untuk membuatnya sedikit tenang karena cerita dari ayahnya barusan. Jika di bilang Wiyah kecewa. Ya tentu dia merasakan kekecewaan yang begitu sangat besar, sampai sampai membuatnya tidak terima dengan ucapan sang ayah. Wiyah menginginkan setiap perkataan dari ayahnya itu hanya sebuah mimpi buruknya, Tapi dalam kenyataannya setiap perkataan dari ayahnya itu adalah sebuah kebenaran dan bukan kebohongan atau mimpi.


Karena Wiyah terus berjalan menyusuri setiap jalan Raya sampai Wiyah tidak menyadari kalau dirinya sudah di atas jembatan yang memperlihatkan sebuah sungai yang begitu sangat panjang tanpa ada ujungnya sama sekali.


Andai aku bisa seperti sungai yang begitu sangat tenang mengalir tanpa ada ujungnya.


Menjadi sebuah sungai yang tidak merasakan sebuah rasa sakit. Menjadi air yang begitu sangat di butuhkan oleh orang orang.


Gumam Wiyah yang memperhatikan sungai di bawah jembatan itu. Wiyah kembali melanjutkan langkahnya mengarah ke sebuah taman kecil yang berada tepat di samping sungai dan juga jalan raya.


Sesampainya di taman Wiyah berdiri di samping pembatas Taman itu, lalu menghirup dalam dalam angin malam yang begitu sangat dingin menyentuh kulitnya karena Wiyah tidak memakai jaket sama sekali.


Wiyah terdiam sambil berdiri di pembatas taman memandang langit yang di taburi oleh bintang, tapi bintang itu sedikit tertutupi oleh awan.


Dalam ingatannya Wiyah mengingat semua perkataan dari ayahnya yang membuat rasa sakit di dadanya kembali lagi. Padahal sebelum dia keluar Wiyah sudah berusaha untuk tegar dan ikhlas menerimanya semuanya.


Tapi entah mengapa ingatan di mana orang tuanya bertengkar di malam itu. Membuat Wiyah kembali mengingat semua cerita yang di ceritakan oleh ayahnya.


Rasa sakit itu membuat Wiyah meneteskan kembali air matanya untuk kesekian kalinya jika dia mengingat setiap cerita menyakitkan itu.


" Ya Allah kuatkan lah hamba mu ini ya Allah, untuk menerima takdir yang tertulis di kehidupan ku. Berikanlah aku keikhlasan hati agar aku bisa menerima semua kebenaran itu walaupun terasa sakit. Aku tahu aku tidak bisa menerima kenyataan itu maka bantulah aku agar mau menerima kebenaran itu dengan ikhlas." doa Wiyah sambil melihat ke arah sungai.


Rasa sesak di dadanya akibat tangisannya membuat Wiyah sulit untuk menopang tubuhnya saat dia berdiri membuat Wiyah melangkah mendekati kursi taman lalu duduk di kursi Taman itu.


" Kenapa sesakit ini ya Allah." Gumam Wiyah yang menangis kembali saat Wiyah mengingat cerita dari ayahnya tadi. Rasanya setiap perkataan dari ayahnya seperti sebuah kaset yang terus terpasang di ingatannya walaupun Wiyah berusaha untuk melupakan semua cerita dari ayahnya dan mencoba menerima dengan ikhlas. Tapi mengingat setiap perkataan dari ucapan ayah membuat Wiyah kembali menangis.


Apalagi Wiyah mengingat statusnya yang ternyata hanya anak haram hasil hubungan ibunya dengan kekasihnya dulu. dan Wiyah sendiri tidak tahu siapa ayahnya sebenarnya.


Tangisan Wiyah kembali pecah untuk yang kesekian kalinya membuat sesak di dadanya semakin sakit. Wiyah memegang dadanya yang terasa sakit bagaikan tusukan ribuan belati.


Apakah segini sakitnya menerima sebuah kenyataan.


Wiyah kembali meluapkan emosi lewat tangisannya yang bisa di rasakan oleh alam. untung taman itu tidak terlalu ramai dan Wiyah berada sendiri jadi tidak akan ada yang tau jika Wiyah sekarang sedang menangis meratapi kesedihannya.


" Kenapa aku kembali menangis Wiyah padahal aku sudah berjanji ke kak Haidar dan juga kak Windi kalau aku tidak akan menangis lagi." Ucap Wiyah di selah selah tangisannya. Wiyah berusaha untuk menghapus air matanya, tapi air mata itu tetap aja keluar dan menetes membasahi pipinya. dada Wiyah juga semakin terasa begitu sangat sakit akibat dirinya berusaha untuk menahan tangisnya.


Saat Wiyah tidak menyadari kalau ada yang memerhatikan nya dari tadi. Dari jarak yang tidak terlalu jauh dengan Wiyah, Jambri menyaksikan kalau putrinya itu kembali menangis untuk kesekian kalinya.


" Maafkan ayah nak." Ucap Jambri yang merasakan kesedihan putrinya itu saat dia menangis.


Jambri tahu kepergian Wiyah tadi hanya ingin membuat dirinya sedikit tenang. Tapi yang Jambri lihat tidak seperti yang dikatakan oleh putrinya itu.

__ADS_1


Jambri bisa melihat bagaimana rapuhnya putrinya itu setelah mendengar ceritanya.


Lama melihat putrinya dari kejauhan. Jambri melangkah mendekati putrinya itu sambil membawa jaket yang segajah Jambri bawah karena Jambri tahu putrinya itu tidak bisa terkena angin malam terlalu lama.


Sedangkan Wiyah tidak menyadari kehadiran ayahnya yang sedang melangkah mendekatinya, Wiyah hanya menghapus sisa-sisa air matanya yang masih jatuh dan menempel di pipinya.


" Jangan terlalu lama di luar nak, Kamu tidak bisa terkena angin malam terlalu lama. Apalagi angin malam ini begitu sangat dingin." Ucap Jambri sambil memasangkan jaket ke tubuh Wiyah yang sedang duduk bangku taman.


Wiyah begitu sangat terkejut saat merasakan ada benda hangat yang menempel di bahunya. dan mendengar suara ayahnya yang sudah berada di belakang nya apalagi Wiyah merasakan kalau itu adalah jaket yang terpasang di pundaknya." Ayah." Ucap Wiyah dengan suara serak nya karena Habis menangis.


Jambri tersenyum lalu melangkah mendekati bangku taman untuk duduk di sebelah Wiyah yang terkejut karena kedatangannya." Kapan ayah kesini." Tanya Wiyah yang bingung kapan ayahnya datang dan kenapa Ayahnya bisa tahu kalau dirinya berada di taman.


" Ayah dari tadi disini." Jawab Jambri." Iya ayah mengikuti mu saat kamu meninggalkan rumah tadi." Jawab Jambri yang seperti tahu apa yang Wiyah pikirkan.


Ya, Saat Jambri melihat putrinya keluar sendiri di malam hari membuat Jambri mengikuti Wiyah. Apalagi di saat Wiyah dalam keadaan sedih membuat Jambri takut kalau Wiyah akan melakukan hal nekat karena kesedihannya.


" Kenapa ayah mengikuti Wiyah." Tanya Wiyah sambil memandang ayahnya itu.


" Karena ayah menghawatirkan mu nak, jika kamu jalan sendiri di waktu malam." Jawab Jambri.


" Tapi kenapa Ayah masih menghawatirkan Wiyah padahal Wiyah bukanlah anak ayah, dan kerena kehadiran Wiyah juga, Ayah harus menderita selama bertahun-tahun." Tanya Wiyah.


" Walaupun kamu bukanlah anak ayah, Tapi kamu tetap putrinya ayah. Putri pertama ayah, putri yang membuat ayah bahagia dan bisa berkumpul bersama dengan ibumu walaupun tidak lama. Karena kehadiran mu bukanlah sebuah kesalahan melainkan anugrah terindah buat ayah. Walaupun kamu hadir karena ketidak kesengajaan tapi kehadiran mu adalah kehadiran yang paling indah untuk ayah. Hanya saja ayah terlalu mementingkan diri ayah sendiri membuat ayah meninggalkan kamu Karena rasa sakit ayah. Padahal di situ kamu tidak bersalah." Jawab Jambri menatap Wiyah begitu sangat dalam." Maafkan ayah Saat tiga tahun yang lalu membencimu dan menyalahkan kehadiran mu. Maafkan ayah karena ayah tidak sama sekali datang untuk menemui mu atau memberikan kabar untukmu. Maafkan ayah yang kembali menyakitimu setelah tiga tahun lalu memberikan kamu luka yang begitu sangat dalam dengan menceritakan kebenaran menyakitkan itu. Maafkan ayah yang sudah membuat kamu menangis lagi. maafkan ayah nak." Ucap Jambri begitu sangat bersalah telah membuat putrinya kembali terluka kembali.


Jambri bisa melihat di mata kedua putrinya itu bengkak karena menangis seharian dan itu karena ulahnya.


Ya Allah pantaskah aku di sebut sebagai seorang ayah. Batin Jambri merasa bersalah.


Mendengar Jawaban dari ayahnya membuat Wiyah semakin sedih ternyata ayah sangat menyayanginya hanya saja karena lukanya membuat ayahnya itu membencinya.


Wiyah begitu sedih mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Ayah nya, Yang menurutnya itu tidak pantas ayahnya itu katakan. Apalagi kesalahan itu bukan di sengaja melainkan Ayahnya itu benar benar terluka dan kecewa.


" Ayah jangan pernah mengulang kata maaf itu karena ayah tidak bersalah. Walaupun ayah Pernah meninggalkan Wiyah karena luka itu. Tapi sungguh ayah tidak bersalah." Jawab Wiyah." Wiyah menginginkan, ayah Jangan pernah mengucapkan kata maaf itu lagi ayah." Ucap Wiyah membuatnya kembali menangis." Seharusnya itu Wiyah yang harus minta maaf ke ayah bukan ayah." Ucap Wiyah kembali sambil menangis.


Sedangkan Wiyah yang mendapatkan pelukan dari ayahnya begitu sangat senang karena pelukan yang selama tiga tahun dia rindukan akhirnya iya mendapatkan nya kembali. Pelukan yang membuatnya tenang saat menangis saat dia masih kecil. Pelukan yang begitu sangat hangat ketika Wiyah meminta perlindungan saat dirinya merasa takut.


Ya pelukan ayah nya itu adalah pelukan yang paling sangat dia rindukan." Jangan menyalakan diri ayah, Karena Wiyah menangis bukan karena ayah." Jawab Wiyah yang masih menangis di dalam pelukan Jambri.


Jambri membiarkan putrinya itu menangis di dalam pelukannya.


Sampai beberapa saat tangisan itu berhenti.


membuat Jambri melepaskan pelukannya untuk melihat putrinya sudah berhenti menangis. Jambri mengangkat kedua tangannya untuk menghapus sisa-sisa air yang menempel di pipi Wiyah." Jangan ada tangisan lagi, Ayah tidak suka itu." Ucap Jambri sambil menghapus sisa sisa air matanya yang berada di pipi Wiyah." Kamu boleh menangis selain itu adalah tangisan kebahagiaan." Ucap Jambri kembali membuat Wiyah hanya mengangguk.


" Maafkan Wiyah yah_" Ucapan Wilayah terhenti karena Jambri tidak membolehkan kata itu untuk keluar dari mulut putrinya.


" Tidak ada kata maaf lagi, Karena kamu tidak bersalah." Ucap Jambri lalu mencium kening putrinya itu dengan sangat sayang." Ayah tidak suka dengan kata maaf itu lagi." Ucap Jambri kembali.


Wiyah hanya mengangguk mendengar semua ucapan dari ayahnya." Kalau gitu tersenyum lah." Wiyah tersenyum mendengar ucapan dari ayahnya." Ayah begitu sangat menyayangi putri ayah dan begitu sangat merindukan putri ayah yang cerewet."


Wiyah tersenyum saat mendengar perkataan dari ayahnya itu." Wiyah juga sangat merindukan ayah yang begitu sangat tegas tapi begitu sangat cerewet." Ucap Wiyah yang membuat Jambri terkekeh karena putrinya itu masih mengingat dirinya yang begitu tegas tapi cerewet.


" Ternyata masih ingat ya." Ucap Jambri sambil mengacak jilbab yang digunakan oleh Wiyah.


" Hihi, Tentu yah, Wiyah akan selalu mengingat itu semua. karena ayah adalah ayah Wiyah dan tidak akan pernah tergantikan." Ucap Wiyah begitu sangat tulus membuat Jambri merasa bersalah telah menceritakan kebenaran itu. Tapi mau bagaimana lagi Jambri sudah mengambil keputusan itu karena Jambri sendiri tidak tahu kapan hidupnya akan berakhir.


Ayah dan anak itu melupakan sebentar kesedihan mereka dengan kembali bercanda dan tertawa bersama di taman kecil itu yang bisa memperlihatkan sungai yang tampak indah walaupun di malam hari. Mereka melupakan kalau ada masalah tadi, karena kini keduanya menikmati kebersamaan mereka yang selama tiga tahun mereka berpisah.


" Wiyah, ayo kita pulang karena sudah terlalu Malam. Wiyah juga tidak bisa terlalu lama di luar karena Wiyah ngga bisa kena angin malam." Ajak Jambri yang merasakan kalau angin Malam begitu dingin.


Wiyah yang mendengar ajakan dari ayahnya mengangguk setuju. Karena dia sendiri merasakan bagaimana dinginnya angin malam ini.


" Iya Ayah, Ayo." Jawab Wiyah yang berdiri dari duduknya lalu memakai Jaket yang terpasang di pundaknya tadi.

__ADS_1


" Ayah." Panggil Wiyah melihat ayahnya yang sudah berdiri di sebelahnya.


" Hmm." Jawab Jambri bergumam.


" Kita cari terang bulan dulu ya Ayah." Ajak Wiyah. Jambri melihat ke arah putrinya itu dengan tersenyum.


" Oke." Jawab Jambri. Membuat Wiyah begitu sangat senang sampai sampai lupa dengan kesedihan nya tadi." Makasih ayah." Ucap Wiyah senang membuat Jambri melihat senyuman itu ikut merasakan bagaimana senang nya putrinya itu.


" Ternyata dengan hal kecil putri ku bisa tersenyum, melupakan sedikit masalahnya." Gumam Jambri. Jambri mengikuti langkah anaknya itu.


" Ayah, apakah kita akan jalan kaki." Tanya Wiyah di sela sela langkahnya.


Jambri mengangguk.". Soalnya ayah ngga bawa motor tadi." Jawab Jambri." Tapi ngga apa-apa kan kita jalan kaki." Tanya Jambri memastikan kalau putrinya itu masih sanggup untuk berjalan kaki.


" Iya, yah ngga apa-apa, yah. orang tadi Wiyah kesini jalan kaki. Rumah Kak Idar juga ngga terlalu jauh dari sini yah. Mungkin jalan tiga puluh menit udah sampai." Jawab Wiyah membuat Jambri tersenyum.


Mereka berdua melanjutkan langkah mereka meninggalkan taman kecil itu. Dengan rasa bahagia nya mereka melupakan kalau tadi, Anak dan ayah itu memiliki masalah.


Tapi yang mereka tidak tahu Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka, Ada seorang pria yang dari memerhatikan mereka berdua.


" Dasar m*rah*n." Gumam Pria yang tidak lain adalah Fazar yang dari tadi melihat keduanya.


Ya orang yang dari Fazar perhatikan tadi adalah Wiyah dan ayahnya." Ternyata begitu sangat m*rah*nnya wanita seperti kamu. Sampai sampai pria berumur juga dia jebak.


Hanya terlihat alim di luar tapi begitu murah di dalam. Ternyata wanita itu sama saja seperti wanita lain yang suka nya menjebak dengan dengan tingkah mereka. Baju yang dia gunakan hanya menutupi siapa dirinya agar bisa mendapatkan mangsa baru." Gumam Fazar yang dari memerhatikan Wiyah dan juga Jambri.


Entahlah apa yang sedang Fazar pikirkan sampai sampai menuduh orang seperti itu, tanpa mencari tahu terlebih dahulu.


Fazar kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Melanjutkan langkahnya mengarah ke mobilnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tidak terasa seminggu sudah Setelah kejadian di mana Jambri memberitahukan semua rahasia kenapa dirinya berpisah dengan mantan istrinya tiga tahun yang lalu.


Kini Jambri telah kembali ke Kota B. Untuk melakukan pekerjaan nya selama seminggu dia tinggalkan atau lebih tepatnya Jambri harus kembali di rawat karena penyakitnya kembali Kembu.


Kini Keluarga Haidar kembali normal seperti biasanya hanya saja mereka merasa berbeda dengan Wiyah yang semakin berubah menjadi pendiam daripada kemarin kemarin nya.


Bukan Saja Haidar dan Windi merasakan aneh dengan perubahan Wiyah, Sahabat Di tempat di mana Wiyah bekerja juga merasakan perubahan Wiyah yang berubah total setelah kejadian di mana dia mengetahui kebenaran kenapa kedua orang tuanya berpisah.


Rasanya Wiyah begitu sangat pendiam yang di ajak bercanda tapi tidak mendapatkan tanggapan.


Seperti Siang ini Wiyah tidak kuliah atau berkerja karena sedang tanggal merah, Jadi Wiyah tidak kuliah atau berkerja.


Wiyah dan keluarga kecil Haidar berkumpul di ruang keluarga sambil menemani Fanesya, Rafa dan Rafi yang sedang menonton kartun kesukaan mereka, Yaitu kartun kartun dua bocah kembar yang berkepala gundul.


Ketiganya begitu sangat asik menikmati Film kesukaan mereka itu.


Sedangkan Haidar dan Windi sedang menatap adiknya itu yang dari tadi dia tanpa mengeluarkan pembicaraan sama sekali.


Haidar yang melihat itu saling pandang meminta jawaban kenapa adiknya itu berubah total setelah di mana paman nya mengungkapkan kenapa mereka berpisah.


" Mas, Kenapa Wiyah hanya diam aja setelah seminggu ini." Tanya Windi yang menatap adiknya itu hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.


" Mungkin Wiyah belum percaya dengan apa yang paman katakan seminggu yang lalu maka dari itu Wiyah berusaha untuk menerimanya dengan keikhlasan hati." Jawab Haidar." Mas yakin Wiyah bisa menerima semua kenyataan pahit itu Sayang. Mas tahu Wiyah adalah gadis yang begitu sangat kuat menghadapi semua masalah yang ada pada dirinya." Ucap Haidar sambil menatap Wiyah.


" Kita hanya bisa membantu nya walaupun dengan doa Kita." Ucap Windi membuat Haidar mengangguk setuju.


" Semoga ada orang yang bisa menghapus luka mu dek, dan kamu juga bisa menjadi obat nya yang bisa menghapus lukanya." Doa Haidar.


Sejenak mereka berusaha untuk membuat Wiyah selalu tersenyum, Tapi mereka juga tidak akan melarang Wiyah untuk bersedih karena rasa sakitnya. Mereka akan selalu menghibur nya di saat Wiyah sedang bersedih. Bahagia di saat Wiyah sedang berbahagia.


Bersambung.

__ADS_1


Percaya apa yang Allah rencanakan lebih indah daripada yang kamu rencanakan.


__ADS_2