
Di dalam ruangan.
Keduanya kembali terdiam karena Fadil bingung ingin memulai dari mana perbincangan mereka. Fadil bingung saat akan mengatakan apa maksud Fazar memanggilnya kesini." Wiyah, Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Ucap Fadil membuka perbincangan." Tapi berjanjilah kalau kamu tidak akan marah." Ucap Fadil kembali.
Walaupun sedikit bingung, Tapi Wiyah tetap mengangguk menyetujui permintaan Fadil.
Melihat persetujuan dari Wiyah, walaupun hanya mengangguk membuat Fadil dak dik Duk saat ingin menyampaikan maksudnya.
" Wiyah, Aku meminta maaf terlebih dahulu sebelum aku mulai berbicara. Apapun nantinya keputusan mu semua ada pada tanganmu Wiyah." Ucap Fadil sambil menatap kearah Wiyah.
" Kenapa kak Fadil bicara kayak gitu." Batin Wiyah bingung.
Melihat Wiyah hanya terdiam membuat Fadil menghembuskan nafas sebelum Fadil memulai berbicara." Wiyah, Maaf, aku membatalkan niat untuk bertunangan dengan mu. Karena aku terkena penyakit yang membuat hidupku mungkin tidak akan lama lagi. Aku tidak mau membuat kamu menjalin hubungan tanpa kepastian sehingga aku mengambil Keputusan ini dengan membatalkan niat pertunangan kita." Ya akhirnya ucapan itu keluar dari bibir Fadil. Ucap yang dari tadi dia tahan." Maaf Wiyah aku tidak bisa melanjutkannya sampai ke jenjang yang lebih serius." Ucap Fadil kembali sambil menatap kearah Wiyah yang hanya terdiam dari tadi.
Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan dari Fadil cukup terkejut, Tapi berusaha untuk ia tutupi dengan menetralkan ekspresi wajahnya untuk tetap tenang." Ngga apa-apa kak Fadil, Aku mengerti kak." Jawab Wiyah yang tersenyum." Aku tahu berada di posisi Kak Fadil itu begitu sangat sulit. Apalagi memiliki penyakit yang membuat kita tidak tahu apakah Kita masih bisa untuk sembuh atau tidak." Ucap Wiyah yang begitu sangat mengerti perasaan Fadil sekarang." Kak Fadil tidak usah memikirkan batalnya pertunangan kita, Tapi sekarang yang kak Fadil perlu pikiran bagaimana kak Fadil bisa sembuh tanpa memikirkan hal yang lain."
Karena Wiyah tahu berada di posisi Fadil itu sulit, Ketika dirinya harus melawan penyakit kanker yang dia derita dan membuat Wiyah mengerti bagaimana perasaan Fadil.
Sedangkan Fadil mendengar jawaban dari Wiyah membuat Fadil semakin kagum kepada gadis yang baru saja ia batalkan pertunangannya hanya karena satu alasan yaitu penyakit yang dia derita." Di saat seperti ini, Kamu masih mau mengerti aku Wiyah, Padahal aku sudah membatalkan pertunangan kita." Batin Fadil merasa sangat bersalah, Seakan Fadil tidak rela jika Fadil melihat gadis yang dia cintai bersama dengan orang walaupun itu abangnya sendiri. Tapi Mau bagaimana lagi itulah keputusan yang Fadil ambil sekarang.
" Makasih Wiyah sudah mengerti keadaanku dan maaf telah memberikan mu janji palsu." Ucap Fadil kembali yang merasa bersalah dengan Wiyah.
" Tidak apa kak Fadil, Aku mengerti." Jawab Wiyah dengan tersenyum. Fadil yang melihat senyuman itu seakan sakit karena senyuman itu akan hilang karena sebentar lagi senyuman itu akan menjadi milik orang lain.
Fadil menatap tulus kearah Wiyah, Sampai Fadil mengingat apa niatnya tadi, selain meminta maaf dan membatalkan rencana pertunangan mereka." Wiyah, Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting lagi." Ucap Fadil membuat Wiyah mengerutkan keningnya karena Wiyah mengira kalau hanya itu saja yang ingin Fadil Ingin bicarakan, Tapi mendengar kalau ada yang penting lagi membuat Wiyah semakin bingung.
" Apa itu kak Fadil." Tanya Wiyah.
Fadil menatap dalam dalam ke arah Wiyah." menikahlah dengan abangku." Ucap Fadil yang membuat Wiyah semakin terkejut mendengar ucapan dari Fadil. Yang membuat Wiyah semakin terkejut di bandingkan dengan yang tadi.
" Me_nik_ah." Ucap Wiyah terbata bata karena begitu sangat terkejut mendengar Ucapan dari Fadil tadi." Apa maksud kak Fadil." Tanya Wiyah seakan tidak percaya dengan pendengaran nya itu.
" Iya Wiyah menikahlah dengan abangku, sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini. Menikahlah dengannya karena aku tidak ingin melihatnya sendiri maka menikahlah dengan Abang ku." Jawab Fadil yang mencoba menyakinkan Wiyah.
Wiyah terdiam mendengar jawaban dari Fadil." Apa kamu masih mengingat saat kita bertemu satu minggu yang lalu, dan aku ingin mengatakan sesuatu yang penting tapi aku urungkan karena mendapat jawaban darimu yang membuat aku lupa dengan apa yang aku inginkan bicarakan denganmu." Tanya Fadil." Di hari itu aku ingin mengatakan kalau aku datang melamar mu untuk abangku, Tapi aku lupa mengatakan itu karena kamu sudah menerima lamaranku, yang membuat aku mengurungkan niatku untuk memberitahukan ke padamu apa maksudku saat itu karena mengajak kalian di restoran." Jelas Fadil menceritakan maksudnya." Aku hanya ingin melihat kamu menikah dengan abangku karena aku tahu kamu adalah wanita yang tepat untuk abang.''
Wiyah semakin terdiam mendengar setiap ucapan Fadil. Wiyah memberikan dirinya untuk melihat kearah Fadil." Kenapa harus aku. Kenapa kak Fadil mengatakan kalau aku adalah gadis yang pantas untuk abang kak Fadil." Tanya Wiyah untuk pertama kalinya dia menatap Fadil dengan begitu sangat lama.
" Karena kamu adalah gadis yang baik, Gadis yang tepat untuk abangku." Jawab Fadil." Aku hanya meminta terima lah lamaran keduaku tapi bukan untukku melainkan untuk abangku. Kabulkan permintaan ku mungkin untuk yang terakhir kalinya." Ucap Fadil kembali sambil mengutarakan niatnya, tanpa berpikir kalau Gadis yang dia minta bisa saja sakit hati karena permintaannya.
" Maaf kak Fadil, Aku tidak bisa menerima lamaran mu." Jawab Wiyah." Maaf kak Fadil aku tidak bisa memenuhi permintaan kak Fadil karena menurutku aku tidak pantas untuk Abang nya kak Fadil. Kak Fadil bisa mencari gadis lain tapi tidak dengan diriku." Tolak Wiyah dengan selembut mungkin.
Fadil yang mendengar penolakan Wiyah membuatnya merasa kecewa karena penolakannya itu. Tapi Fadil sadar kalau Wiyah belum mengenal abangnya. Apalagi ia malah menyuruh gadis itu untuk menikah dengan abangnya, sedangkan dengan dirinya saja baru tiga bulan saling mengenal, bagaimana dengan abangnya yang baru saja dia kenal hari ini.
" Maaf Wiyah aku lancang dengan menyuruh mu untuk menikah dengan abangku." Ucap Fadil merasa menyesal.
" Tidak apa kak Fadil." Jawab Wiyah." Bisakah saya pulang kak." Tanya Wiyah sopan karena sekarang Wiyah merasa tidak nyaman saat bersama dengan Fadil saat mendengar permintaan Fadil barusan.
Fadil hanya mengangguk mendengar Pertanyaan kalau Wiyah ingin pulang.
" Iya Wiyah, kamu boleh pulang. Terimakasih sudah menjengukku." Ucap Fadil sambil tersenyum.
Wiyah hanya menanggapi dengan senyuman lalu melangkah keluar meninggalkan Fadil di ruangan itu.
Fadil begitu sangat sedih mendengar penolakan dari Wiyah, Tapi mau bagaimana lagi
Fadil yang bisa memaksakan kehendaknya kepada Wiyah walaupun Fadil menginginkannya. Fadil hanya bisa melihat punggung Wiyah yang keluar dari ruangannya.
πππππ.
Cklek,
Wiyah keluar dari ruangan Fadil mengarah kearah Fina yang sedang duduk di kursi tunggu dekat dengan ruangan Fadil.
" Ayo kita pulang Fin." Ajak Wiyah sambil menepuk pelan punggung Fina.
Fina yang menyadari itu melihat kearah samping, dan mendapati Wiyah yang sudah berdiri di sampingnya." Apa sudah selesai Wiyah." Tanya Fina membuat Wiyah mengangguk.
" Ayo kita pergi Fina, karena sekarang sudah memasuki azan magrib." Ajak Wiyah kembali.
Mendengar ajakan dari Wiyah membuat Fina berdiri dari duduknya.
" Ayo kita pulang, entar keluargamu di rumah khawatir kalau kamu pulangnya malam." Jawab Fina.
__ADS_1
Sedangkan Fazar yang berada di tempat yang sama hanya memperhatikan kedua gadis itu.
" Apa yang gadis itu lakukan di dalam bersama Fadil." Batin Fazar melihat kearah Wiyah yang seperti sedang terburu-buru.
Wiyah dan Fina ingin melangkah meninggalkan ruangan itu, Tapi mereka berdua harus berhenti untuk berpamitan kepada Fazar terlebih dahulu.
" Tuan kami berdua izin pulang dulu." Ucap Fina. Fazar hanya mengangguk sedangkan tatapan masih mengarah kearah Wiyah.
Sedangkan Wiyah yang mendapatkan tatapan dari Fazar merasa risih apalagi Wiyah tahu tatapan apa itu, yaitu tatapan kebencian.
" Orang suruhan ku akan mengantarkan kalian. Karena mereka sudah menjemput kalian, Maka suruhan saya juga yang akan mengantarkan kalian pulang." Ucap Fazar sambil berlalu pergi meninggalkan Keduanya. Belum juga mereka bertanya Fazar sudah meninggal mereka berdua.
Sedangkan Fina dan Wiyah hanya mengangguk. Setelah itu Mereka berdua memasuki pintu lift mengarah kelantai bawah.
" Wiyah apa yang kalian Bahas di dalam." Tanya Fina di sela sela langkahnya saat menyusuri lorong rumah sakit.
" Tidak ada Fin, Kak Fadil hanya membahas soal pertunangan kami yang batal karena kak Fadil terkena penyakit kanker dan Kak Fadil akan melakukan pengobatan.'' Jawab Wiyah jujur tapi tidak memberitahukan kalau Fadil meminta nya untuk menikahi abangnya.
Mendengar jawaban dari sahabatnya itu membuat Fina mengehentikan langkahnya untuk mencerna setiap ucapan dari Wiyah barusan." Jadi kalian tidak jadi untuk melanjutkan hubungan kalian ke jenjang lebih serius." Tanya Fina tidak percaya dengan perkataan Sahabatnya itu.
" Iya Fin Karena Fadil tidak mau membuat hubungan kami terhalang karena penyakitnya." Jawab Wiyah jujur.
" Padahal Kak Fadil masih bisa sembuh, Kenapa juga dia duluan pasrah sendiri." Ucap Fina yang kembali melanjutkan langkahnya.
" Karena kak Fadil tidak mau mengikat hubungan anak orang yang tidak pasti." Jawab Wiyah.
" Andai kamu tahu Fin. apa yang kak Fadil inginkan tadi." Batin Wiyah yang masih mengingat perkataan Fadil tadi.
Mereka Terus melangkah sampai seseorang tidak sengaja menabrak Wiyah.
" Maaf Mbak." Ucap Wanita paruh baya sambil melihat kearah Wiyah.
" Ngga apa-apa Bu." Jawab Wiyah tersenyum karena memang ibu itu tidak sengaja menabraknya. Walaupun ibu itu jalan terlalu terburu-buru.
Sampai beberapa detik Wiyah dan wanita itu saling pandang. Wanita baru baya itu tersenyum melihat kearah Wiyah.
" Nak Wiyah." Pekik Wanita paruh baya itu dengan senyuman mengembang indah.
" Masya Allah Nak Wiyah, kita bertemu lagi." Ucap wanita itu sambil tersenyum." Bagaimana kabarmu Nak Wiyah." Tanya ibu itu sambil terus menatap Wiyah.
" Iya Bu. Alhamdulillah saya baik Bu." Jawab Wiyah sambil tersenyum.
" Alhamdulillah. Nak Wiyah sedang apa di rumah sakit ini." Tanya wanita paruh baya itu.
" Saya sedang menjenguk teman saya Bu, yang sedang di rawat di rumah sakit ini." Jawab Wiyah membuat ibu itu mengangguk mengerti." Maaf kalau ibu." Tanya Wiyah sopan.
" Ibu sedang menemui anak ibu yang juga di rawat di rumah sakit ini." Jawab ibu itu.
Mendengar Jawaban dari ibu itu membuat Wiyah ikut prihatin." Semoga anak ibu cepat sembuh Bu. Maaf Saya tidak bisa menjenguknya."
" Amin ya robbal alamin, Makasih doanya nak Wiyah." Ucap ibu itu menyambut doa Wiyah dengan senang." Ngga apa-apa nak Wiyah. Doa dari mu juga sudah membuat ibu senang." Ucap ibu itu kembali sambil tersenyum.
Ibu itu melihat ke arah samping Wiyah yang terdapat Fina yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan." Kenalkan Bu, Teman saya." Ucap Wiyah memperkenalkan Fina.
Fina melangkah mendekati ibu itu lalu mencium punggung tangan ibu itu." Fina Bu."
" Masya Allah, Cantiknya kamu nak." Puji ibu itu sambil tersenyum melihat ke arah Fina.
Fina yang mendengar pujian dari ibu itu hanya tersenyum." Terimakasih Bu."
" Ibu senang bisa ketemu sama kamu lagi Wiyah." Ucap Ibu itu." Jika Allah masih mengijinkan Kita untuk bertemu maka kita akan bertemu kembali." Ucap ibu itu sedangkan Wiyah hanya mengangguk" Kalau gitu ibu tinggal ya. Maaf ibu ngga bisa lama lama" Pamit ibu itu.
" Oh iya Bu." Jawab Wiyah dan Fina bersamaan, Setelah itu ibu itu melangkah meninggalkan Keduanya. mengarah ke Pitu life.
Sedangkan Keduanya kembali melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti karena pertemuan mereka dengan Ibu tadi.
" Siapa ibu itu Wiyah." Tanya Fina.
" Oh, ibu itu yang pernah aku tolong satu bulan yang lalu saat ibu itu hampir ketabrak truk." Jawab Wiyah membuat Fina mengangguk mengerti karena Wiyah pernah menceritakan kalau Wiyah pernah menyematkan seorang wanita paruh baya yang hampir tertabrak mobil truk karena kelalaian ibu itu yang tidak melihat lihat saat akan menyebrang jalan.
Keduanya kembali melewati lobby rumah sakit untuk melangkah keluar, Tapi baru saja Mereka keluar mereka berdua sudah di sambut oleh dua orang wanita yang menjemput mereka tadi.
" Kalian lagi." Tanya Fina bingung.
__ADS_1
" Kami di Perintahkan oleh tuan Fazar untuk mengantarkan kalian pulang dengan selamat." Jawab wanita itu." Karena kami yang membawa kamu, Maka kami juga harus bertanggung jawab untuk mengantarkan kalian."
" Tidak usah mbak terimakasih kami bisa pesan taksi." Tolak Wiyah Sopan.
" Tidak bisa nona Wisyah, sesuai pesan dari tuan kami harus mengantarkan kalian sampai ke rumah kami. Dan pesan tuan tidak boleh di bantahan." Jelas Wanita itu kembali.
Mendengar penjelasan dari kedua wanita itu membuat Wiyah menyetujuinya kalau kedua wanita itu yang akan mengantarkan Mereka pulang.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Fazar memasuki ruangan adiknya yang terdapat di sana sedang berbaring seperti tadi saat dia meninggalkannya bersama dengan dua orang gadis.
Fazar mendekati ranjang Fadil yang terdapat di sana sedang terbaring dengan pandangan lurus ke depan sedangkan Wajah nya tampak murung.
" Dil." Panggil Fazar yang duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Wiyah.
Mendengar panggilan dari Abangnya, membuat Fadil melihat kearah Fazar." Iya bang." Jawab Fadil dengan muka sedihnya.
Fazar yang melihat wajah dari Fadil merasa heran, bukannya tadi adiknya Heppy Heppy saja, kenapa sekarang wajahnya tampak sedih.
" Bang." Panggil Fadil dengan wajah sedihnya.
" Kenapa Dil." Tanya Fazar yang ingin memastikan kalau Adiknya itu baik baik saja." Apa ada yang sakit," Tanya Fazar yang mulai khawatir.
" iya bang. aku baik baik saja." Jawab Fadil membuat Fazar bernafas lega.
" Jika kamu baik baik saja, kenapa dengan wajahmu yang tampak sedih." Tanya Fazar heran." Apakah karena gadis itu." tebak Fazar. Mendengar tebakan Fazar membuat Fadil mengangguk mengiyakan." Apa yang gadis itu lakukan." Tanya Fazar. Ekspresinya juga sudah menjadi sangat menyeramkan kalau di bisa di lihat dari dekat.
" Wiyah menolak permintaan lamaran ku bang. Karena katanya dia tidak pantas untuk Abang." Jawab Fadil jujur sambil melihat ke arah Abangnya itu." Aku tahu bang, permintaan ku salah, Tapi mungkin ini yang terbaik. Tapi dia malah menolaknya" Ucap Fadil kembali dengan suara lirihnya. Fadil begitu sangat kecewa mendapatkan penolakan itu, Tapi mau bagaimana lagi itu adalah jawaban dari Wiyah sendiri." Tapi tidak apa apa lah, mungkin permintaan ku terlalu aneh dan terlalu jauh." Ucap Fadil yang berusaha menerima apa yang di Katakan oleh Wiyah tadi.
" Memang yang di katakan wanita ******* itu memang benar, Dil. Dia tidak cocok untukku atau untukmu Dil." Batin Fazar membenarkan jawaban yang dia berikan oleh Wiyah. Fazar seperti senang dan merasa marah saat adiknya itu di tolak permintaannya, Apalagi permintaannya Itu adalah permintaan adiknya sendiri.
Mendengar Apa yang Fadil ucapkan membuat Fazar senang dan marah. Keduanya kata itu seperti menjadi satu bagaikan satu lirik lagu.
Tapi Fazar mengingat pesan dari dokter Faris, Kalau Fadil jangan sampai memikirkan sesuatu yang membuat Fadil ngedrop karena dokter Faris takut kalau Fadil akan semakin para hanya karena Fadil memikirkan sesuatu yang tidak penting.
Dokter Faris juga berpesan kalau Fadil harus bahagia dan jangan sampai membuat Fadil sedih memikirkan satu hal yang tidak penting karena hal itu akan mengurangi kesehatannya.
" Tenanglah Dil, Abang akan memintanya untuk menikah dengan Abang." Ucap Fazar membuat Fadil melihat kearah Fazar." Abang akan memintanya untuk menikah dengan abang dan dia harus setuju dengan itu." Ucap Fazar kembali.
" Kalau bukan karena mu Dil, aku tidak sudi menikah dengan wanita ******* seperti dia." Batin Fadil. Ya apa yang di katakan Fazar itu hanya ingin menenangkan adiknya itu agar tidak stres karena penolakan dari Wiyah.
Karena Fazar tidak mau kalau Fadil sampai stres dan membuat dirinya kembali ngedrop seperti kemarin. Walaupun Fazar tidak sudi untuk menikah dengan Wiyah tapi demi adiknya itu Fazar rela melakukan apapun yang penting Fadil sembuh. Sampai rela mau menuruti kemauan Fadil dengan menikahi Wiyah, Gadis yang selalu dia benci karena satu alasan yang begitu sangat konyol.
" Benarkah itu bang." Tanya Fadil yang tiba-tiba mengubah ekspresi wajah nya menjadi bahagia.
Fazar mengangguk." Iya Dil, Abang akan menikahinya. Apun penolakan yang dia berikan." Batin Fazar.
" Makasih bang. Abang memang Abang yang terbaik." Ucap Fadil begitu sangat senang." Tapi bagaiman Wiyah akan menerima lamaran Abang sedangkan tadi dia menolak nya." Tanya Fadil yang mulai khawatir.
" Abang akan datang kerumahnya dengan melamarnya baik baik, Pasti keluarga nya akan menerimanya termasuk dengan dia." Jawab Fazar." Tenanglah pasti dia tidak akan menolaknya."
Mendengar perkataan Fazar membuat Fadil begitu sangat bahagia.
Saat mereka sedang berbincang, pintu terbuka yang membuat keduanya menghentikan obrolan mereka dan melihat kearah pintu.
" Ibu." Bisik keduanya pada diri mereka sendiri saat melihat Bunda Sisi datang keruangan itu.
" Bunda." Panggil Fadil tersenyum senang.
Ya. orang yang datang di ruangan Fadil tidak lain adalah bunda mereka, Yaitu Sisi.
Sisi melangkah mendekati keduanya. Lalu berdiri di samping ranjang Fadil. Sisi mencium kening putranya itu dengan hati bahagia penuh haru, karena masih bisa melihatnya putranya yang selama seminggu tidak sadarkan diri karena kritis." Bunda senang kamu bisa kembali tersenyum seperti ini."
Sedangkan Fadil hanya tersenyum.
" Jangan pernah menghawatirkan bunda lagi Dil, bunda ngga bisa melihat kamu seperti kemarin." Ucap Sisi dengan meneteskan air matanya.
" Sudah Bun. Jangan menangis hanya karena aku, Karena aku tidak bisa melihatnya bunda menangis." Ucap Fadil yang tidak bisa melihat bundanya itu bersedih karena dirinya.
Bersambung
Jangan lupa like komen dan vote nya.
__ADS_1