
Seorang wanita yang sedang asyik dengan kegiatan mencari bahan bahan dapur.
yang dari tadi tidak luput dari tatapan mata pria yang sejak pagi selalu mengikutinya.
Mata pria itu tidak lepas menatap seorang gadis yang dari tadi memilih bahan dapur dan berbicara ke pedagang.
" Cantik." Gumam pria itu sambil melihat kearah gadis yang sudah menempati separuh hati nya.
Pria yang dari tadi menatap Wiyah tidak lain Fadil. Ya Fadil yang dari tadi mengikuti Wiyah sampai kedalam pasar.
Padahal tadi Wiyah sudah melarangnya untuk mengikutinya karena Wiyah mengira kalau Fadil pasti ada urusan lain diluar sana jadi untuk apa juga Fadil mengikutinya sampai kedalam pasar.
Apalagi Wiyah merasa sangat aneh jika harus jalan berdua dengan Fadil yang membuat orang orang menatap mereka berdua.
" Kak Fadil." Panggil Wiyah saat menyadari kalau Fadil dari tadi hanya diam saja sambil memerhatikan." Kenapa kak Fadil, di panggil koh ngga di jawab." Gumam wiyah yang merasa aneh dengan pria yang berada di hadapannya di panggil tapi tidak ada jawaban sama sekali dari pria itu. Sedangkan pandangan orang orang melihat kearah mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.
Wiyah kembali memanggil Fadil yang membuat Fadil sadar dari lamunannya.
" Iya Wiyah." jawab Fadil sedikit salah tingkah.
" Malu banget saat diam di tempat ramai di depan orang yang kita sukai." Batin Fadil menjerit merasa Malu.
" Kenapa kak Fadil diam tadi." Tanya Wiyah.
" Hehe, ngga apa wiyah." Jawab Fadil sambil terkekeh kecil. wiyah hanya mengangguk
" Andai aku bisa mengatakan kalau hari ini kamu cantik banget Wiyah" Puji Fadil tapi hanya lewat perasaannya saja.
" Apa ada yang dibeli lagi." Tanya Fadil disela sela langkah mereka. Apalagi jarak mereka hanya satu meter membuat Fadil bisa leluasa bertanya.
" Masih banyak lagi kak Fadil.'' Jawab Wiyah, Membuat Fadil hanya mengangguk." Kalau Kakak ada urusan ngga apa-apa kak Fadil tinggal saja." Ucap Wiyah.
" Ngga ada Wiyah. Kakak juga lagi ngga ada urusan diluar jadi bisa menemani kamu buat belanja.'' Jawab Fadil.
" Emangnya kak Fadil ngga ngumpul sama keluarga di rumah." Tanya Wiyah.
" Ya ampun sampai lupa kalau hari ini ada janji sama bunda." Batin Fadil saat mendengar pertanyaan dari dari Wiyah barusan membuatnya teringat janjinya kepada sang bunda.
" Ngga ada Wiyah.'' Jawab Fadil bohong padahal dalam batinnya dia menjerit berdosa karena telah berbohong. Sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengerti.
" Maaf ya Bun hari ini Fadil ngga bisa nepatin janji untuk cepat kerumah dan harus bohong demi calon menantu bunda yang sebentar lagi kerumah." Batin Fadil merasa menyesal karena berbohong, apalagi itu urusan bundanya.
Tapi karena cinta membuatnya butah.
" Terus kita mau kemana" Tanya Fadil.
" Mau cari ikan" Jawab Wiyah yang melangkah pergi ke tempat penjual ikan yang jaraknya tidak jauh dari mereka.
Fadil sedikit menjepit hidungnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan penuh dengan belanjaan Wiyah, Karena Fadil tidak terbiasa dengan pasar yang memiliki aroma khas membuat fadil harus menjepit hidungnya agar aroma itu tidak masuk dipenciumannya. berusaha dia untuk mencoba menutupi hidungnya tapi masih saja ada yang masuk.
Apalagi dia yang terlahir dari keluarga yang bercukupan dari lahir sampai dewasa tidak pernah menginjakkan kakinya di pasar.
Membuat Fadil tidak merasa nyaman,
kalau di bilang ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di pasar.
Berbeda dengan abangnya yang pernah kepasar dan alasannya hanya Fazar yang tahu.
Fadil melihat kearah Wiyah yang biasa biasa saja membuat dia sedikit bingung
apa karena Wiyah yang terbiasa dengan keadaan pasar.
Demi gadis yang sudah berani memasuki separuh hatinya membuat Fadil mau menginjakkan kakinya di dalam pasar.
Sesampainya di penjual ikan langganan Wiyah dan Windi. Wiyah mulai memilih ikan yang di pesan oleh Windi tadi.
" Pak tolong ikan kakap merahnya dua kilo." Ucap Wiyah yang sudah memilih ikan pesanan dari Windi.
__ADS_1
" Baik nak wiyah, segera di laksanakan." Ucap penjual ikan itu yang sudah lama mengenal Wiyah dan Windi. Malahan mereka menjadi langganan tetap dari penjual ikan itu.
" Langsung di bersihkan saja pak." Ucap Wiyah.
" Baik nak Wiyah." Jawab penjual ikan itu dengan senyuman, yang dibalas dengan senyuman oleh Wiyah.
Semua itu tidak luput dari tatapan Fadil.
Fadil semakin suka dengan Wiyah karena sifatnya itu yang sangat baik dan selalu lembut setiap perkataannya.
" Ngga sia-sia aku jatuh cinta sama kamu Wiyah.'' Batin Fadil bangga.
" Nak Wiyah siapa pria di sebelah nak Wiyah. " Tanya penjual itu penasaran saat melihat Fadil untuk pertama kalinya apalagi jalan bersama dengan Wiyah.
" Teman saya pak." Jawab Wiyah. Sedangkan Fadil memperkenalkan dirinya kepada penjual ikan itu.
" Fadil pak." Ucap Fadil membungkuk hormat.
" Wah teman nak Wiyah, Masyaallah ganteng banget." Puji penjual ikan itu yang melihat kearah Fadil sekilas lalu kembali meneruskan membersihkan ikannya.
" Makasih pak atas pujiannya." ucap Fazar tulus. sedangkan Wiyah hanya tersenyum menanggapi pujian dari penjual ikan itu.
Saat sedang menunggu ikan yang sedang di bersihkan terdengar dari sebelah, ada ibu ibu yang sedang kebingungan sedangkan penjual itu sedang marah marah.
" Kalau ngga ada uang, ngga usah beli ikannya, kalau cuman bohong saja.'' Ucap penjual wanita yang sama sama penjual ikan.
" Maaf Bu, Tapi saya benar-benar lupa dompet saya tadi.'' Jawab ibu itu lagi sambil memeriksa tasnya.
Wiyah yang melihat itu merasa sangat kasian.
karena kasian kepada ibu itu membuatnya melangkah mendekati kedua ibu itu.
Sedangkan Fadil hanya mengikuti langkah Wiyah yang sama sama melihat kearah dua ibu itu.
" Maaf Bu ada apa ya." Tanya Wiyah lembut saat sudah berdiri di samping kedua ibu itu.
" Tapi saya benar benar lupa nak." Jawab ibu itu kembali sambil memeriksa tasnya.
Sedangkan wiyah hanya mengangguk paham,
namanya manusia pasti tidak luput dari kata lupa jadi di maklumi saja.
" Baiklah bu kalau gitu biar saya yang bayar ikan itu gimana." Tawar Wiyah.
" Ngga usah nak, terimakasih.'' Tolak ibu itu merasa tidak enak hati
" Ngga apa-apa Bu, saya ikhlas mau bantuin ibu.'' Jawab Wiyah tulus.
" tuh dengar, untungnya ada anak muda ini yang mau membantumu untuk membayar ikan ini kalau tidak, mungkin bisa rugi saya, habis di timbang tapi ngga mau di beli.'' Ucap penjual itu dengan ketus." Nih ambil ikannya, mana duitnya." Ucap ibu itu kembali dengan ketus.
Wiyah hanya menggeleng melihat penjual itu yang terkenal Dengan tidak Rama kepada setiap pembeli.
Sedangkan Fadil hanya bisa melihat semua instruksi itu. Fadil melihat kearah Wiyah, yang membuat Fadil semakin jatuh cinta dengan gadis yang berada disebelahnya. Sedangkan kepada penjual itu dia merasa jengah.
" penjual koh gini amat, apa ngga takut jualannya ngga habis. Kalau jualannya dengan nada bicaranya ketus." Batin Fadil yang merasa jengah karena penjual ikan itu.
" Berapa Bu.'' Tanya Wiyah.
" Dua ratus tujuh puluh." Jawab penjual ikan itu.
Wiyah mengambil dompetnya. Tapi Fadil yang duluan memberikan uang kepada penjual ikan itu..
" Ambil sekalian sama kembalianya.'' Ucap Fadil memberikan uang sebesar lima ratus ribu kepada penjual ikan itu. Sedangkan penjua ikan itu tampak berbinar.
" Makasih nak." Ucap penjual itu senang
" Iya Bu sama-sama." Jawab Fadil dengan suara dinginnya.
__ADS_1
" Kak Fadil kenapa kak Fadil yang bayar kan bisa Wiyah." Ucap Wiyah tidak terima karena setiap belanjaannya selalu Fadil yang bayar.
" Ngga apa-apa Wiyah kan cuman sedikit saja " Jawab Fadil. Membuat Wiyah hanya bisa menghela nafasnya saja.
" Sekali lagi makasih nak" Ucap ibu itu tulus, sambil memegang belanjaannya.
" Iya Bu sama-sama." Jawab Fadil dan Wiyah bersamaan.
" Sekali lagi terimakasih, semoga rezeki kalian di permudahkan selalu di berikan kesehatan.'' Doa ibu itu.
" Amin Bu, terimakasih doanya.'' Ucap Wiyah tulus.
Ibu itu berlalu pergi meninggalkan keduanya setelah mengucapkan terimakasih.'' Wiyah kamu memang sangat baik." puji Fadil.
" Bukannya sesama manusia harus saling membantu dan berbuat baik kak Fadil." Jawab Wiyah disela sela langkah mereka yang mengarah ke tempat penjual ikan langganan Wiyah.
" Jadi makin suka sama kamu Wiyah.'' Gumamnya hampir tidak terdengar, kalau saja didengar Wiyah mungkin membuat Wiyah bingung.
" Berapa pak." Tanya Wiyah yang sudah melihat ikan itu sudah terbungkus rapi
" Tujuh puluh ribu, karena bapak kasih diskon untuk nak Wiyah." Ucap penjual itu.
" Ngga usah toh pak "
" Ngga apa-apa nak Wiyah, kan nak wiyah sudah jadi langganan bapak sudah sangat lama" Jawab bapak penjual ikan itu.
" Kalau gitu makasih pak.'' Ucap Wiyah tulus.
" Iya sama sama nak Wiyah.''
Saat wiyah akan memberikan uangnya seperti tadi tap Fadil duluan memberikan uangnya kepada bapak itu sebanyak lima ratus ribu
" kakak Fadil kenapa kak Fadil lagi yang bayar." Tanya Wiyah mulai kesal karena setiap belanjaan nya pasti yang bayar itu Fadil,
" Ngga apa-apa Wiyah." Jawab Fadil.
Sedangkan bapak penjual ikan itu tampak terkejut karena mendapatkan uang sebanyak lima lembar di tangan nya." Kenapa banyak nak, bukannya ikannya hanya tujuh puluh ribu.'' Tanya bapak penjual ikan itu menatap heran kearah Fadil yang tadi memberikannya uang sebanyak lima ratus ribu rupiah.
" Ngga apa-apa pak, anggap ini rejeki bapak, yang Allah titipkan dari saya, jadi terima saja pak lumayan untuk modal usaha jualan ikan bapak." jawab Fadil dengan senyumannya,
" Kalau begitu makasih nak Fadil, semoga nak Fadil mendapatkan rejeki yang melimpah dari Allah dan selalu .di berikan kesehatan." Doa bapak penjual ikan itu.
" Amin, makasih pak doanya.'' Ucap Fadil tulus dengan senyuman kasnya yang ngga pernah pudar dari bibir tipis itu.
" Kalau gitu kami permisi pak" Ijin wiyah dan Fadil bersamaan
" Silahkan nak. hati-hati." Jawab bapak itu.
Wiyah dan Fadil meninggalkan penjual ikan itu dengan senyuman mereka.
" Wiyah sini biar saya yang bawa." Ucap Fadil yang mau membawa belanjaan Wiyah.
" Ngga usah kak Fadil." Tolak Wiyah." Kakak sudah banyak bawaannya." Ucap Wiyah sambil melihat beberapa kresek yang di pegang oleh Fadil ditangannya begitu sangat banyak.
" Ngga apa-apa Wiyah, ini sedikit saja, sini biarkan saya yang membawanya.'' Ucap Fadil yang memaksa.
" Baiklah, tapi kalau kak Fadil ngga bisa bawah biar saya bantu." Ucap Wiyah membaut Fadil mengangguk. Wiyah mengambil kresek ikan itu dari tangan Wiyah.
Setelah perdebatan kecil Keduanya melanjutkan langkah mereka untuk mencari beberapa hal lagi setelah itu mereka bisa pulang.
Bersambung.
Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya
biar author makin semangat buat up.
makasih buat teman teman yang sudah mau mendukung author 🤗
__ADS_1
salam manis dari author***