
Sandira duduk di sofa di kamarnya. " Ini sangat membosankan. Aku hanya berdiam diri di kamar seharian dan tak melakukan apapun. Apa dia menyesal membuat aku sakit? Makanya dia memberi kamar sebagus ini dan memberiku makanan tiga kali sehari layaknya seorang manusia? Dia bahkan tak memberiku pekerjaan apapun setelah aku sesehat ini. Mungkinkah dia sudah tau jika aku memang bukan pelakunya atau mungkin, dia sedang merencanakan sesuatu?" ucap Sandira lirih.
" Apa yang sedang kau katakan pada dirimu sendiri ?" ucap Smith yang datang tak di undang pulangpun tak di antar.
Smith memasuki kamar Sandira dan duduk tepat di hadapannya. " Ada perlu apa? Apa kau mau memberiku pekerjaan ? " ucap Sandira.
" Ada yang ingin aku tanyakan, " ucap Smith yang terlihat sangat serius. Melihat ekspresi Smith yang sangat serius membuat Sandira terlihat cukup tegang dengan suasana diantara mereka.
" Apa yang ingin kau tanyakan ?" tanya Sandira agak cangung.
" Ceritakan padaku, jika memang kau bukan pelakunya. Kenapa kau ada di sana? Kenapa semua bukti ā bukti mengarah padamu ? Beritahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, " ucap Smith yang cukup membuat Sandira terkejut.
" Jika aku menceritakannya, apa kau mempercayaiku? Jika aku menceritakan segalanya, apa kau akan membantuku melepas label kriminal dan melepaskanku ? Jika aku menceritakannya, apa kau sanggup melindungiku dengan adikku ?" ucap Sandira.
Smith tersenyum sinis mendengar perkataan Sandira. " Apa kau selalu bernegosiasi denganku tentang masalah ini ? Bukankah aku sudah melindungi adikmu ? Sekarang kau ingin aku membebaskanmu dan secara bersamaan juga melindungimu? Apa kau tak terlalu serakah akan hal itu ?" ucap Smith.
" Aku tak berpikiran jika aku serakah. Jika kau bertanya padaku, bukankah berarti kau sedang menyelidiki ulang khasus ini ? Mungkin kau juga menemukan sesuatu hingga membuatmu menanyakan hal seperti ini padaku. Itu artinya informasi yang aku berikan mungkin akan bermanfaat untukmu. Jadi, tak ada salahnya aku meminta imbalan atas informasi yang aku berikan, kan ? Aku juga ingin hidup, apa kau tau ? ceritaku mungkin saja akan membahayakan nyawaku dan adikku. Apa yang salah dengan saling memanfaatkan satu sama lain?" ucap Sandira.
__ADS_1
Smith menghela nafasnya menyadari kebenaran tentang perkataan Sandira.
Smith juga berpikir tak ada salahnya untuk melakukan sesuatu yang saling menguntungkan satu sama lain tapi ego Smith mengusai hatinya.
Smith tak ingin melepaskan Sandira begitu saja. " Baiklah aku setuju, tapi aku juga ingin imbalan bukan hanya sebuah informasi saja, " ucap Smith yang membuat Sandira mengerutkan keningnya.
" Imbalan ? Apa yang kau inginkan ? Aku tak punya apapun kecuali sebuah informasi, " ucap Sandira yang terlihat tak suka dengan permintaan Smith.
Smith tersenyum mendengar perkataan Sandira. " Kau punya. Jika kau berikan aku tubuh dan hatimu, aku akan menjamin segalanya. Bukan hanya keselamatanmu dengan adikmu. Tapi, aku akan menjamin kehidupanmu mulai sekarang. Aku akan pastikan kau akan hidup tanpa kekurangan apapun. Kau tak perlu bekerja lagi, kau bisa membelanjakan uangku sesukamu dan masa depan adikmu, aku bisa pastikan itu akan sangat cemerlang jika kau jadi wanitaku, " ucap Smith.
Sandira terbelalak mendengar perkataan Smith. Sandira berpikir Smith sedang tak dalam akal sehatnya.
Smith tersenyum kecil melihat respon Sandira. " Aku serius, apa kau pikir aku bercanda? Apa aku terlihat sedang mabuk ?" ucap Smith.
Sandira menatap Smith dalam, kemudian memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena tak percaya dengan perkataan Smith beberapa saat yang lalu.
Sandira menghela nafasnya menyadari perkataan Smith yang di lontarkan padanya memang serius.
__ADS_1
" Maafkan aku tapi itu mustahil untuk menjadi wanitamu, " ucap Sandira tanpa menatap Smith.
Mendengar penolakan Sandira membuat Smith sangat marah. Smith mendekati Sandira dan memegang kedua pundak Sandira.
" Kenapa mustahil ? Tidak ada yang mustahil di dunia ini ?!" ucap Smith penuh dengan amarah.
Sandira merintih kesakitan karena gengaman Smith yang kencang di bahu Sandira. " Itu mustahil karena aku tak menyukaimu sama sekali, aku tak akan pernah jadi wanitamu, " ucap Sandira yang masih menundukkan mukanya.
Mendengar penolakan Sandira untuk kedua kalinya membuat Smith menutup mata hatinya.
Smith memegang kepala Sandira dengan kedua tangannya kemudian menciumnya.
Sandira terbelalak karena hal itu dan berusaha melepaskan diri dari Smith tapi hal itu semakin membuat Smith menggila.
Smith mendorong Sandira hingga terjatuh dan mulai merobek baju Sandira hingga membuat tubuh Sandira terekspos.
Smith tak peduli jeritan dan tangisan yang Sandira keluarkan.
__ADS_1
See You Next Bab !