
Sandira dan Smith duduk terdiam dengan saling memalingkan wajahnya satu sama lain.
Bukan tanpa alasan, tapi sejak kejadian yang cukup mengejutkan itu membuat Smith selalu salah tingkah ketika berhadapan dengan Sandira.
Sedangkan Sandira berusaha menghindari Smith karena tak tau harus bersikap seperti apa.
Melihat pemandangan yang ada di hadapannya membuat John merasa sangat tak nyaman.
"Sandira, bukankah kau akan menceritakan kronologi kejadian waktu itu ?" ucap John berusaha mencairkan suasana.
Sandira menatap John kemudian menghela nafasnya dan mulai bercerita.
Flashback,
Sandira berjalan di tengah malam karena hari ini Sandira bekerja lembur di pabrik tempatnya bekerja.
Untuk melepas lelah, Sandira memutuskan untuk beristirahat sejenak di belakang toko roti langganannya.
Sandira tak peduli jika tempat itu tempat jarang di lewati oleh orang yang berlalu lalang tanpa peduli jika dia adalah seorang gadis dan ini sudah tengah malam.
Sandira berjalan menelusuri lorong yang cukup gelap kemudian memengang ponselnya berniat untuk menghubungi Que karena dia tau jika Que hari ini libur dan waktu mereka juga berbeda jauh.
Jika di sini tengah malam maka di Negara yang Que tempati masih siang. Sandira berbincang dengan Que tanpa menyadari jika di dekatnya sedang terjadi sebuah tindak kriminal.
Pembicaraan Sandira dan Que terhenti ketika Sandira melihat seorang yang bertubuh tinggi dan bertopeng menatap Sandira dengan tajam.
" Que, kakak akan menghubungimu nanti lagi. Kakak mengantuk dan ingin tidur, " ucap Sandira kemudian buru – buru menutup teleponnya dan bergegas akan pergi dari tempat itu.
Namun, baru selangkah Sandira akan melangkah pergi pria jangkung itu menghentikan langkahnya.
Mata Sandira terbelalak ketika melihat tak jauh di belakang pria jangkung itu ada seseorang yang berlumuran darah.
__ADS_1
Pria itu menarik Sandira mengikutinya kemudian melemparkan Sandira tepat di hadapan Lory yang sedang mengerang kecil kesakitan.
Pria jangkung itu kemudian merampas tas Sandira dan menfoto identitas Sandira.
Entah apa yang di lakukan pria jangkung tersebut dengan ponsel miliknya karena tak lama setelah itu pria jangkung itu sudah tau semua informasi tentang Sandira.
" Yatim piatu, satu – satunya keluarganya adalah adik yang berkuliah di luar negeri, huh? itupun karena beasiswa, " ucap pria jangkung itu kemudian mengambil pisau yang berlumuran darah kemudian menaruh pisau itu ke gengaman tangan Sandira.
" Diam saja dan terima nasibmu! Jika kau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Aku akan pastikan, adikmu yang akan menjadi taruhannya!" ucap pria jangkung tersebut pada Sandira.
Karena masih sangat ketakutan akan ancaman dan keadaan di sekitarnya.
Sandira menganggukkan kepalanya mengerti. Sesaat kemudian, Sandira menyadari jika pisau yang ada di tangannya itu adalah pisau yang di gunakan untuk menusuk pria yang berbaring di hadapannya.
Melihat pria jangkung itu menggunakan sarung tangan, Sandira menyadari jika ini akan membuatnya menjadi seorang pelaku yang melukai pria yang ada di hadapannya ini.
Sedikit demi sedikit Sandira menyadari apa yang akan terjadi padanya hingga membuatnya gemetaran dan air mata mulai mengalir di pipinya.
Melihat reaksi Sandira, pria jangkung itu tersenyum sinis kemudian meninggalkan Sandira begitu saja.
Beberapa saat setelah ambulans datang, polisi datang karena pihak ambulan melihat keadaan pasien yang tertusuk dan Sandira yang masih memegang pisau berlumuran darah.
Tak lama, polisi pun datang dan menangkap Sandira.
Karena Sandira yang hanya terdiam dan tak menjawab apapun apalagi menyangkal tuduhan tersebut membuat Sandira menjadi seorang pelaku terkuat atas percobaan pembunuhan tersebut.
Terlebih lagi hanya sidik jari Sandira yang di temukan di lokasi tersebut.
Flashback end.
John dan Smith saling melirik satu sama lain saat mendengar cerita Sandira.
__ADS_1
Mereka tak menyangka jika Sandira hanya orang asing yang di jadikan kambing hitam atas kejadian yang menimpa Lory.
Smith semakin merasa bersalah apalagi awal – awal Sandira datang kemari Smith tak memperlakukannya sebagai manusia.
" Jadi , kau hanya orang yang kebetulan lewat dan bisa di katakan kau adalah saksi mata satu – satunya?" ucap John yang di jawab anggukan kepala oleh Sandira.
" Kenapa kau tak mengatakannya dari awal ?" ucap Smith yang merasa sangat bersalah.
" Jika aku mengatakannya dan menceritakannya dari awal, apa kau mempercayainya? " ucap Sandira yang membuat Smith menundukkan kepalanya.
" Mungkin tidak, tapi mungkin aku akan mengeceknya ulang lebih awal. Aku juga akan memeriksa nomer panggilan di rumah sakit. Jika memang yang kau katakan benar, pasti nomermu tercantum di panggilan mereka, " ucap Smith.
" Tapi, jika aku mengatakannya dan kau tak mempercayaiku. Kau mungkin bisa mendapatkan informasi dan mengeceknya tapi kau tak menjamin keselamatan adikku kan? Jadi, aku menunggu kesempatan untuk seseorang mempercayai semua ceritaku karena dalam hal ini nyawa sebagai taruhannya. Aku butuh kepercayaan sehingga akan menjamin keselamatan adikku, dia satu – satunya keluargaku yang tersisa. Kau pasti paham bagaimana perasaanku karena kau juga hanya punya satu keluarga yang tersisa, " ucap Sandira.
" Maafkan aku, " ucap Smith.
" Jadi, karena semua semakin jelas. Apa kau tau , kira – kira petunjuk yang membuat kita tau siapa pelakunya?" ucap John. Sandira menganggukkan kepalanya.
" Di lokasi tersebut, ada sebuah CCTV tersembunyi " jelas Sandira.
" CCTV ?" ucap John dan Smith secara bersamaan.
" Ya CCTV, aku lewat tempat ini hampir setiap hari. Jadi, aku sangat mengenal tempat ini. Tak jauh dari tempat tersebut adalah sebuah toko roti. Atau lebih tepatnya lokasi kejadian itu adalah di belakang toko roti langgananku. Pemiliknya adalah seorang kakek tua. Di belakang toko roti tersebut ada sebuah mobil antik yang sudah tak terpakai lagi tapi itu sangat bersejarah bagi kakek pemilik toko. Jadi, sebulan sebelum kakek pemilik toko kembali ke kampung. Dia memintaku untuk menemaninya membeli sebuah CCTV yang tak bisa di ketahui hanya dengan sekali lihat. CCTV yang sangat kecil dan di pasang secara tersembunyi di belakang toko rotinya. CCTV yang di maksudkan untuk mengawasi mobil bersejarahnya itu karena kakek pemilik toko berniat mengecek keadaan mobil tersebut sesekali. Aku pikir kakek pemilik toko berencana kembali ke kampung selama 6 bulan dan tak bisa membawa mobil antik bersejarahnya itu jadi dia membeli CCTV untuk mengawasinya. Sekarang ini kemungkinan kakek pemilik toko masih berada di kampungnya, " jelas Sandira.
" Tapi kenapa polisi tak mengatakan apapun tentang mobil yang terparkir di dekat lokasi ini ? Apa mereka tak berpikir untuk memeriksa kotak hitam di mobil ini? Bukankah kotak hitam di dalam mobil bisa di jadikan sebagai bukti akurat? " ucap John penasaran.
Sandira tersenyum kecil mendengar perkataan John.
" Mungkin karena mobil ini tak terlihat seperti mobil yang masih di gunakan. Mungkin juga polisi sudah tau jika mobil ini hanya mobil rongsokan yang tak mempunyai kotak hitam atau bahkan mereka tak ingin terlalu pusing memeriksanya. Mungkin polisi pikir sudah cukup bukti sehingga tak mencari bukti yang lain. Aku tak menyangkal tuduhan yang mereka berikan sehingga mereka mungkin berpikir ini sudah cukup bukti dan tak perlu memeriksanya lebih lanjut lagi untuk mencari siapa pelaku yang sebenarnya karena semua bukti mengarah padaku, " ucap Sandira.
John dan Smith kembali saling melirik satu sama lain. " Jadi maksudmu, mobil ini tak mempunyai kotak hitam sehingga polisi tak menyertakan masalah ini atau bukti yang mungkin ada dalam mobil ini? " ucap Smith yang di jawab anggukan kepala oleh Sandira.
__ADS_1
" Jika memang begitu, aku harap CCTV yang tersembunyi itu akan menghasilkan sebuah bukti akurat dan bisa membersihkan namamu dan menemukan siapa pelaku yang sebenarnya di balik semua kejadian ini, " ucap Smith kemudian mengajak Sandira untuk menemui kakek pemilik toko roti di kampungnya.
See You Next Bab !