
---Flashback On---
“Ah, mister Arrio. Duduk, duduk sini. Kami sudah menunggu kehadiranmu disini…” salah satu dosen muda di Oxford itu melambaikan tangannya pada Arrio sejak pria itu masuk ke dalam kafe.
“Maaf aku terlambat. Ada kelas tambahan tadi dan jalanan cukup macet saat aku akan kesini, sudah mulai daritadi?” tanya Arrio.
“Tidak juga, mungkin baru 15 menit. Pesanlah sekalian, kami sudah tadi…” kata dosen muda itu.
Baru beberapa menit matanya fokus pada menu, tiba – tiba ada satu suara yang menarik perhatian Arrio. Suara lembut yang membuat matanya sontak menoleh dan mencari sumbernya. Ada seorang gadis dengan kaki jenjang dan lekuk tubuh yang begitu indah berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Dia menenteng tas bermerk Louis Vuitton keluaran terbaru yang jika di taksir memiliki harga hingga milyaran. Sosoknya terlihat glamour dan mencolok di banding gadis lain di tempat itu.
“Oh ya, kenalkan… ini Arrio. Dia temanku di Oxford. Arrio, ini Illona… dia model yang sempat aku ceritakan padamu dulu, dia sahabatku sejak kecil…” tukas Adrian, sahabat Arrio.
Setelahnya, Illona pun mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang jujur saja begitu memikat di mata Arrio. Cantik dan begitu Anggun serta menawan.
“Illona…” kata gadis itu.
“Arrio…” jawab Arrio dan membalas jabat tangan Illona sembari tersenyum.
Awal perkenalannya dengan Illona pun berlanjut, terlebih saat ada kejadian dimana Illona yang tengah mabuk berat hampir saja menabrakkan mobilnya hingga kehilangan nyawa kalau saja Arrio tak sigap menyelamatkan gadis itu dari maut dan bahaya. Kejadian itulah yang praktis membuat Arrio merasa dia harus melindungi Illona dan terus berada di sisi gadis itu.
Kedekatan yang terjalin antara keduanya di ketahui juga oleh Adrian, yang tak lain adalah sahabat baik dari Illona maupun Arrio. Adrian sendiri terlihat sangat senang hingga dia terus saja menggoda Arrio tiap kali mereka bertemu. Adrian pula yang menjadi tempat Arrio mencurahkan segala isi hatinya tentang hubungan mereka. Karena seluruh keluarga Arrio yang menentang hubungannya dengan Illona.
Pertemuan antara Arrio dan Illona yang selalu mereka lakukan di belakang Jason dan Aksel maupun orangtuanya. Hingga di titik dimana Arrio merasa yakin bahwa Illona adalah penyembuh baginya. Penyembuh yang memberikan
__ADS_1
kehangatan cinta dan perhatian besar padanya. Juga gadis yang mampu mengalihkan dunianya hingga lupa dengan semua kewajibannya juga keluarganya sendiri. Arrio benar – benar buta oleh cinta Illona.
Hingga di bulan ke – 8 hubungan mereka. Saat Arrio akhirnya menemui Illona malam itu, karena gadis itu merengek atas kerinduan yang besar pada Arrio. Membuat Arrio melakukan perbuatan yang tidak seharusnya, Arrio
melakukannya. Hubungan itu, dengan Illona. Arrio benar – benar sudah sangat gelap mata dan terbuai dengan segala kenikmatan dan keindahan dunia yang Illona berikan di hadapannya. Semua pantangan yang seharusnya dia hindari justru dia lewati begitu saja atas nama cinta. Tanpa peduli apakah itu sebuah kebenaran atau justru dosa besar.
Dan saat itu pula, Tuhan sepertinya sudah jengah hingga menjatuhkan hukumannya pada Arrio dengan begitu cepat. Tanpa memberikan Arrio kesempatan untuk bersiap, membuat malaikat itu jatuh dan hancur berkeping
seketika.
Tuhan lah yang menuntun hingga menunjukkan bagaimana gadis yang selama ini di yakini sebagai sang penyembuh itu sebenarnya. Betapa busuk, kejam dan jahatnya. Saat gadis itu meracuni dan berusaha membunuh Arrio lalu membuang jasad malaikat itu dengan meninggalkannya sendirian di dalam mobil. Di tambah
lagi saat Arrio tahu, Illona ternyata berkhianat selama ini dengan Adrian. Sahabatnya sendiri.
Tak sampai di situ saja, kenyataan yang di bawa oleh kedua adiknya yang menceritakan bahwa Illona nyatanya bukan manusia biasa karena dia adalah gadis yang menjadi alat dari August untuk menjebak Arrio selama ini dan
Jika mampu, Arrio ingin membunuh dirinya sendiri sebagai penebusan dosa. Namun dia juga tahu, hal itu tak akan menyelesaikan apapun. Kecuali dia harus bangkit dan kembali menemukan jalan yang tepat, menemukan sang penyembuh yang sebenarnya.
---Flashback Off---
Arra mendengarkan semua cerita Arrio dalam diam. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Pandangan matanya pun seolah menghindari tatapan Arrio yang ingiin tahu ekspresi wajahnya sekarang ini. Arra memang gadis yang tak pandai menutupi hatinya, perasaannya juga pikirannya. Dia tipe yang akan secara jujur
mengekspresikan semua yang dirinya rasakan melalui raut wajah dan tindak tanduknya. Tak peduli itu pada siapapun dan kapanpun, dimanapun tempatnya. Termasuk saat ini.
Awan mendung itu terlihat dari wajah Arra yang begitu kelabu dan sendu
__ADS_1
Arra memang telah menyiapkan hati untuk menerima kenyataan bahwa Illona adalah mantan terindah untuk Arrio. Juga semua cerita manis antara keduanya. Namun, melakukan hubungan itu dengan Illona adalah masalah lain. Arra tak pernah menyangka bahwa kekasihnya telah melakukan ‘hal itu’ bersama Illona, jauh sebelum bersamanya.
Berbanding terbalik dengan dirinya yang tak pernah mengijinkan Andrew melakukan hal tersebut selama bertahun – tahun mereka bersama.
Sesak dan sakit. Dua rasa itu bercampur menjadi satu, hingga Arra tak bisa lagi banyak bicara dan hanya terpaku dalam diam.
“Kau marah lagi padaku ya?” tanya Arrio membaca situasi yang ada.
Arra menggeleng dia tak tahu apa ini. Di bandingkan marah, kecewa mungkin yang paling tepat
menggambarkan perasaannya kali ini.
“Sesak…” lirih Arra dengan suara tercekat.
“Sayang…”
“Aku ingin menangis, yang lama… dan aku tak ingin kau menanyakan kenapa atau menghentikan tangisanku…” kata Arra yang kini balik membuat Arrio terdiam.
Seketika itu juga Arra menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengannya dan menangis sambil duduk tepat di sebelah Arrio. Membiarkan kekasihnya mendengar suara tangisnya sekaligus melihat air mata yang mengalir dari kedua kelopak matanya. Dia tak peduli soal eksistensi Arrio di sana, baginya saat ini Arrio hanya patung mati yang tak punya perasaan.
Grepp!
Arrio memeluk lututnya sendiri dan memiringkan kepalanya memandang gadis itu dengan perasaan sakit yang begitu dalam. Merutuk dan mengutuk kebodohannya di masa lalu.
“Apa kau… menikmatinya?” tanya Arra tiba – tiba. “apa kau, menyukai tubuhnya sebanyak itu, Rio?” tanya gadis itu lagi dengan wajah penuh air mata.
__ADS_1
****