Cruel Fate

Cruel Fate
Part 36.2


__ADS_3

“Kau itu gadis pintar yang bodoh dan polos…” celetuk Arsen yang membuat Arra menoleh.


“Hah? Apa maksudmu?” tanya Arra.


“Kau pikir, siapa malaikat yang akan di percaya oleh Arrio menjaga bidadari kesayangannya disini? Apa sembarangan malaikat dengan membawa tombak kecil seperti dalam film?” sindir malaikat itu dan tersenyum.


Arra nampak bingung lalu menatap Arsen dan melihat tampilan Arsen yang lebih mirip pemuda tampan di usia 20 tahunan dan juga mahasiswa teladan di banding sebagai malaikat. Sampai gadis itu mengerjapkan mata dan memiringkan kepalanya.


“Kau… malaikat itu? Yang menjagaku dan memberikan kabar pada Arrio setiap saat?” tanya Arra lagi.


“Tepat! Hahahah…” tawa renyah itu kembali terdengar.


Ya Tuhan, bodohnya Arra yang tak pernah merasakan kejanggalan yang selama ini dia alami. Saat semua orang mengeluh karena cuaca panas dan dia hanya merasakan sejuk, dan saat orang lain sudah basah karena hujan. Dia bahkan tak merasakan tetesan hujan sedikitpun karena hujan akan selalu turun setelah dia memijakkan kakinya


di dalam rumah.


Dan banyak hal lain yang awalnya terasa aneh. Namun tak di hiraukan oleh gadis itu selama dua tahun dirinya tinggal di sini.


“Kau juga yang membuat tugas akhirku menjadi mudah?” tanya Arra lagi.


Arsen nampak menyesap teh yang di suguhkan padanya sebelum menjawab, “kalau itu tidak. Aku hanya mempermudah kau untuk menemukan dimana buku dan referensi untukmu menyelesaikan tugas akhirmu saja. Selebihnya, kau yang bertanggung jawab atas pekerjaanmu sampai akhir,” kata Arsen lagi.


Arra kini kembali duduk di hadapan Arsen, “dia tak pernah menghubungiku. Padahal aku sangat merindukannya….”


“Dia juga sangat merindukanmu. Itu sebabnya dia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Dan… dia mengirimkan ini untukmu,” kata Arsen.


Malaikat itu menengadahkan tangannya dan membaca sebuah mantra hingga setangkai bunga muncul di tangannya. Bunga mawar berwarna merah yang begitu indah.

__ADS_1


“Simpan ini, bunganya akan layu saat Arrio menemuimu nanti. Itu tanda, bahwa dia akan membawakan bunga baru yang lebih indah. Tapi sementara itu, bunga ini yang akan menemanimu disini…” kata Arsen.


Arra menerima bunga dari Arsen dengan senyum merekah. Begitu bunga tersebut tersentuh oleh kulit Arra, seketika bunga mawar yang sebelumnya kuncup itu mekar, dan dari satu tangkainya muncul tangkai yang lain hingga muncul banyak bunga mawar baru yang membentuk satu buket besar bunga mawar dengan wangi yang


semerbak.


“Ini… wangi…” kata Arra dan mencium bunganya.


“Tentu saja, bunga itu akan menjadi pewangi di tubuhmu mulai saat ini. Penanda, bahwa kau hanya milik Arrio.” Kata – kata Arsen membuat senyum Arra semakin merekah. “Selamat atas kelulusanmu, kata Arrio. Dan…” Arsen menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, “dia bilang, ‘aku mencintamu, sangat…’. hehehe…”


“Terima kasih Arsen… oh ya! Kau belum makan malam kan? Mau ku buatkan sesuatu? Kau pasti lapar,” kata Arra yang segera membawa bunga itu ke kamarnya.


“Masakkan apa saja untukku. Aku akan menguji apakah kau layak menjadi pendamping Arrio atau tidak,” gumam Arsen dengan suara lirihnya. “dan lagi, kenapa baru sekarang kau peduli soal aku yang kelaparan? Ckckck…”


**


 Pagi menyapa di minggu ke – 5 setelah kedatangan Arsen untuk menjenguknya dan mengantarkan bunga pemberian Arrio pada Arra. Apa yang di katakan oleh malaikat itu memang benar, bahwa bunga mawar itu


Pagi ini adalah pagi yang sangat istimewa untuk Arra. Karena hari ini adalah hari elulusannya, sekaligus wisuda untuknya. Gadis itu bahkan sudah bangun saat matahari sama sekali belum muncul di ufuk timur. Hanya sisa angin malam yang bertiup cukup kencang menemani gadis itu mempersiapkan hari istimewanya.


Arra duduk di hadapan meja riasnya, menatap wajahnya dari cermin dan tersenyum sendu. Andai orangtuanya masih hidup, mereka pasti akan sangat bahagia. Karena impiannya agar Arra bisa lulus dengan nilai memuaskan kini terwujud. Dan andai Arrio pun ada di tempat ini, pasti akan jauh lebih lengkap mengingat betapa istimewanya pria itu dalam hidupnya kini.


Trring!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan sigap, gadis itu mengambil ponsel miliknya dan membuka pesan tersebut.


Sudah bangun? 30 menit lagi aku sampai, mau titip apa untuk sarapanmu?

__ADS_1


Jangan berharap bahwa itu adalah pesan dari Arrio. Karena nyatanya, Andrew lah yang mengirimkannya.


Sedang merias wajahku secantik mungkin. Tidak lapar, tapi mungkin… susu hangat dan macaroni scottel? Aku tidak suka makanan manis...


Arra kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan merias wajah yang sejak tadi belum selesai. Rasa kantuk sedikit merasukinya dan membuat gadis itu ingin berbaring sebentar sebelum berangkat ke tempat wisudanya nanti.


**


“Woah!” Arra melempar topi wisuda dan bersorak bersama semua teman-teman kampusnya setelah prosesi wisuda.


“Arra! Ayo ambil foto!” ujar Reynold, salah satu sahabatnya di kampus dan mengambil ponsel sambil merangkul Arra, “Satu… dua… tiga! Cheese!”


“Yey! Sudah, kan?” tanya Arra pada Reynold.


“Sudah, kok. Oh, ya. Selamat, ya. Semoga sukses ke depannya!” ujar Reynold sambil memeluk Arra.


“Terima kasih. Kamu juga, sukses terus!” jawab Arra dan menjabat tangan Reynold sambil tersenyum manis.


“Kamu lihat itu, kan?” Andrew menunjuk ke arah Arra yang masih sibuk dengan Reynold dan beberapa


temannya.


“Dia tersenyum begitu lebar. Apa benar dia merindukanku seperti yang kau ceritakan?” jawab


seseorang yang berdiri tepat di sebelah Andrew dengan bunga di tangannya.


Benar…

__ADS_1


bunga di rumah Arra mendadak layu dan mati. Kelopaknya kini berguguran dan membuat semua wanginya berganti menjadi bunga lily putih. Bunga yang kini berada dalam genggaman Arrio. Kekasihnya.


****


__ADS_2