Cruel Fate

Cruel Fate
Part 28.2


__ADS_3

Jason dan Aksel yang telah mencapai dunia atas


dengan membawa senjata itu kini segera masuk ke dalam tenda milik Athens dengan


cepat, tanpa melaporkan kehadirannya pada penjaga. Keberadaan benda ini masiih


harus di rahasiakan sampai waktu yang belum pasti. Setidaknya, sampai Arrio


nanti sampai dan menunjukkan sendiri kekuatan yang di miliki oleh senjata milik


leluhur mereka tersebut.


Aiden yang memang saat itu tengah berada di


dalam tenda milik Athens bersama dengan Arsen segera bangkit melihat kedua


malaikat kembar itu dengan sebuah benda yang terbungkus kain putih dan nampak


di lindungi dengan mantra tersebut.


“Arrio mana?” tanya Arsen yang melihat mereka


hanya masuk berdua saja.


“Kami memilih jalur berbeda dengan kak Arrio


dan kak Arra. Mereka masuk lewat jalur antara surga dan neraka. Sementara kami


mengambil jalur barat…” jelas Jason.


“Jalur Barat? Kenapa kalian melakukan itu!


Bukannya tugas kalian juga untuk melindungi sang penyembuh?” ucap Arsen yang


sangat terkejut dengan jawaban Jason.


“Kami membawa benda ini bersama kami. Sehingga


kami tak mungkin mengambil jalur yang sama, dimana nantinya akan semakin


membahayakan posisi sang penyembuh karena benda ini pasti akan lebih menarik


perhatian para iblis dimana pun itu, Kak…” ucap Aksel dan membuka kain


penutupnya.


Arsen yang melihat benda yang di bawa oleh


kedua malaikat tersebut kini balik terkejut dan hampir tak pervaya dengan apa


yang di lihatnya. Sementara Aiden yang juga sangat terkejut, langsung berlari


keluar untuk memanggil Athens masuk ke dalam tenda dan melihat sendiri benda


tersebut.


“Ini asli?” tanya Arsen dengan mata berbinar.


“Hmm… kami membawanya dari tempat penyimpanan,


benda ini milik kakek kami yang di wariskan oleh kakek buyut kami. Kakek


mewariskannya pada kak Arrio dan sempat menunjukkannya pada kami semua agar


menjaganya dengan baik sampai waktunya tiba untuk kak Arrio siap mewarisi


semuanya. Kemarin, kak Arrio mengirim Phoenix dengan gambar busur ini pada


Aksel dan setelahnya kami menemukan fakta, bahwa benda ini lah yang kalian cari


selama ini…” jelas Jason.


“Ya Tuhan… kemenangan ada di tangan kita…”


gumam Aiden yang masuk bersama Athens.

__ADS_1


“Jangan bicara begitu sebelum kita masuk ke


medan perang yang sesungguhnya Aiden. Di medan perang, semuanya bisa terjadi.


Jadi lebih baik kita diam dan menyimpannya, sampai Arrio datang bersama Arra…”


tukas Athens.


Athens kini membuka sebuah lemari yang berada


di ujung tendanya dan meminta senjata itu untuk di simpan di dalamnya. Kemudian


Arsen mulai berjalan mendekat dan memantrai tempat senjata tersebut di simpan,


agar aura yang keluar dari senjata itu tak terlihat oleh para Iblis.


**


Sementara itu, di tempat berbeda, Arrio


menurunkan Arra dari gendongannya di belakang dan mendudukkan gadis itu untuk


bersandar pada pohon besar. Dia menatap wajah Arra yang memucat. Jika tebakan


Arrio benar, gadisnya pasti sudah mengeluarkan cukup banyak tenaga untuk bisa


membantunya dengan banyak merapalkan mantra saat berhadapan dengan iblis sialan


tadi.


“Sayang, apa kau baik – baik saja?” tanya


Arrio dengan wajah cemas.


“Aku baik – baik saja sayang… apa kita sudah


sampai? Kenapa kau membawaku duduk disini?” tanya Arra dengan nafas tersengal.


“Ingat pohon yang Jason katakan? Ini adalah


dan lemas, aku khawatir padamu…” ujar Arrio dan membelai wajah Arra dengan


lembut.


Arra segera menegakkan tubuhnya dan menggeleng


pelan, “ayo pergi sekarang saja… perasaanku tidak enak kalau kita berhenti di


tempat ini sayang…” pinta Arra.


Sejujurnya, Arrio pun merasakan hal serupa.


Dia tahu bahwa kejadian barusan dimana sesosok iblis telah dia bunuh pasti akan


mengundang kawanan iblis lainnya untuk bisa datang ke tempat ini dan menyerang


dirinya juga Arra. Namun, melihat kondisi Arra yang wajahnya memucat, membuat


Arrio tak tega.


“Ayo Arrio, aku mohon…” mohon Arra sekali lagi


dan mengguncangkan lengan malaikat itu.


Arrio menghela nafas dan memicingkan matanya,


menelusuri setiap sudut tempat itu dan mencari tahu apakah ada yang mendekati


mereka. Dengan ketajaman penglihatannya, Arrio bisa melihat asap yang berasal


dari obor milik para iblis dengan jarak beberapa puluh kilometer dari tempatnya


berada saat ini.


“Kau yakin akan baik – baik saja?” tanya Arrio

__ADS_1


pada gadisnya.


“Ya.. aku akan baik – baik saja. Aku mohon,


ayo kita pergi dari sini sekarang… perasaanku tak tenang Arrio…” ucap Arra


dengan suara lemas.


“Baiklah, tapi aku harus mengikat tubuhmu


seperti tadi. Kita akan terbang lebih cepat,” jelas Arrio dan Arra mengangguk


pelan.


“Lakukan apa yang terbaik menrutmu. Aku akan


mengikuti apapun yang kau pilih…” ucap gadis itu yang langsung mengulurkan


tangannya ke arah Arrio.


Dengan sigap, Arrio menerima uluran tangan


Arra lalu segera menggendongnya di bagian depan. Lalu dengan cepat, malaikat


itu menjejakkan kakinya ke tanah dan melayang sebentar di udara sebelum


akhirnya terbang menjauh, melesat dari tempat mengerikan itu.


**


Athens menatap ke arah langit dan menunggu


kedatangan Arrio dengan gelisah. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Arrio


dan Arra saat perjalanan mereka menuju tempat ini. Tidak ada hal lain yang kini


bisa di lakukan oleh Athens selain menunggu dan berdoa. Mengirimkan malaikat


lain untuk mencari mereka, sama saja menunjukkan jalan dan petunjuk bagi para


iblis akan kedatangan sang penyembuh ke tempat ini. Karena mata seluruh pasukan


iblis, tengah tertuju penuh pada kubu mereka.


Hingga…


“Tuanku, Malaikat Utama sudah datang!” pekik


salah satu penjaga yang datang dengan tergopoh – gopoh.


Mata Athens kini berbinar, “benarkah? Dimana


mereka sekarang?” tanya Athens.


“Mereka menuju tenda anda, Tuanku…” lapor


malaikat penjaga itu lagi.


Athens yang mendengarnya segera berlari menuju


tendanya sendiri dan melihat Arrio yang baru saja turun dan melepaskan ikatan


tubuhnya dengan Arra, kemudian menuntun gadis itu memasuki area tenda para


malaikat.


Bisa terlihat jelas, bagaimana pandangan mata


dari para malaikat yang kini menatap ke arah Arra dengan sangat takjub


sekaligus kagum. Mereka bahkan mengikuti setiap gerak tubuh gadis itu hingga


membuatnya sedikit tak nyaman.


“Arrio!” panggil Athens.

__ADS_1


***


__ADS_2