
Jason dan Aksel yang telah mencapai dunia atas
dengan membawa senjata itu kini segera masuk ke dalam tenda milik Athens dengan
cepat, tanpa melaporkan kehadirannya pada penjaga. Keberadaan benda ini masiih
harus di rahasiakan sampai waktu yang belum pasti. Setidaknya, sampai Arrio
nanti sampai dan menunjukkan sendiri kekuatan yang di miliki oleh senjata milik
leluhur mereka tersebut.
Aiden yang memang saat itu tengah berada di
dalam tenda milik Athens bersama dengan Arsen segera bangkit melihat kedua
malaikat kembar itu dengan sebuah benda yang terbungkus kain putih dan nampak
di lindungi dengan mantra tersebut.
“Arrio mana?” tanya Arsen yang melihat mereka
hanya masuk berdua saja.
“Kami memilih jalur berbeda dengan kak Arrio
dan kak Arra. Mereka masuk lewat jalur antara surga dan neraka. Sementara kami
mengambil jalur barat…” jelas Jason.
“Jalur Barat? Kenapa kalian melakukan itu!
Bukannya tugas kalian juga untuk melindungi sang penyembuh?” ucap Arsen yang
sangat terkejut dengan jawaban Jason.
“Kami membawa benda ini bersama kami. Sehingga
kami tak mungkin mengambil jalur yang sama, dimana nantinya akan semakin
membahayakan posisi sang penyembuh karena benda ini pasti akan lebih menarik
perhatian para iblis dimana pun itu, Kak…” ucap Aksel dan membuka kain
penutupnya.
Arsen yang melihat benda yang di bawa oleh
kedua malaikat tersebut kini balik terkejut dan hampir tak pervaya dengan apa
yang di lihatnya. Sementara Aiden yang juga sangat terkejut, langsung berlari
keluar untuk memanggil Athens masuk ke dalam tenda dan melihat sendiri benda
tersebut.
“Ini asli?” tanya Arsen dengan mata berbinar.
“Hmm… kami membawanya dari tempat penyimpanan,
benda ini milik kakek kami yang di wariskan oleh kakek buyut kami. Kakek
mewariskannya pada kak Arrio dan sempat menunjukkannya pada kami semua agar
menjaganya dengan baik sampai waktunya tiba untuk kak Arrio siap mewarisi
semuanya. Kemarin, kak Arrio mengirim Phoenix dengan gambar busur ini pada
Aksel dan setelahnya kami menemukan fakta, bahwa benda ini lah yang kalian cari
selama ini…” jelas Jason.
“Ya Tuhan… kemenangan ada di tangan kita…”
gumam Aiden yang masuk bersama Athens.
__ADS_1
“Jangan bicara begitu sebelum kita masuk ke
medan perang yang sesungguhnya Aiden. Di medan perang, semuanya bisa terjadi.
Jadi lebih baik kita diam dan menyimpannya, sampai Arrio datang bersama Arra…”
tukas Athens.
Athens kini membuka sebuah lemari yang berada
di ujung tendanya dan meminta senjata itu untuk di simpan di dalamnya. Kemudian
Arsen mulai berjalan mendekat dan memantrai tempat senjata tersebut di simpan,
agar aura yang keluar dari senjata itu tak terlihat oleh para Iblis.
**
Sementara itu, di tempat berbeda, Arrio
menurunkan Arra dari gendongannya di belakang dan mendudukkan gadis itu untuk
bersandar pada pohon besar. Dia menatap wajah Arra yang memucat. Jika tebakan
Arrio benar, gadisnya pasti sudah mengeluarkan cukup banyak tenaga untuk bisa
membantunya dengan banyak merapalkan mantra saat berhadapan dengan iblis sialan
tadi.
“Sayang, apa kau baik – baik saja?” tanya
Arrio dengan wajah cemas.
“Aku baik – baik saja sayang… apa kita sudah
sampai? Kenapa kau membawaku duduk disini?” tanya Arra dengan nafas tersengal.
“Ingat pohon yang Jason katakan? Ini adalah
dan lemas, aku khawatir padamu…” ujar Arrio dan membelai wajah Arra dengan
lembut.
Arra segera menegakkan tubuhnya dan menggeleng
pelan, “ayo pergi sekarang saja… perasaanku tidak enak kalau kita berhenti di
tempat ini sayang…” pinta Arra.
Sejujurnya, Arrio pun merasakan hal serupa.
Dia tahu bahwa kejadian barusan dimana sesosok iblis telah dia bunuh pasti akan
mengundang kawanan iblis lainnya untuk bisa datang ke tempat ini dan menyerang
dirinya juga Arra. Namun, melihat kondisi Arra yang wajahnya memucat, membuat
Arrio tak tega.
“Ayo Arrio, aku mohon…” mohon Arra sekali lagi
dan mengguncangkan lengan malaikat itu.
Arrio menghela nafas dan memicingkan matanya,
menelusuri setiap sudut tempat itu dan mencari tahu apakah ada yang mendekati
mereka. Dengan ketajaman penglihatannya, Arrio bisa melihat asap yang berasal
dari obor milik para iblis dengan jarak beberapa puluh kilometer dari tempatnya
berada saat ini.
“Kau yakin akan baik – baik saja?” tanya Arrio
__ADS_1
pada gadisnya.
“Ya.. aku akan baik – baik saja. Aku mohon,
ayo kita pergi dari sini sekarang… perasaanku tak tenang Arrio…” ucap Arra
dengan suara lemas.
“Baiklah, tapi aku harus mengikat tubuhmu
seperti tadi. Kita akan terbang lebih cepat,” jelas Arrio dan Arra mengangguk
pelan.
“Lakukan apa yang terbaik menrutmu. Aku akan
mengikuti apapun yang kau pilih…” ucap gadis itu yang langsung mengulurkan
tangannya ke arah Arrio.
Dengan sigap, Arrio menerima uluran tangan
Arra lalu segera menggendongnya di bagian depan. Lalu dengan cepat, malaikat
itu menjejakkan kakinya ke tanah dan melayang sebentar di udara sebelum
akhirnya terbang menjauh, melesat dari tempat mengerikan itu.
**
Athens menatap ke arah langit dan menunggu
kedatangan Arrio dengan gelisah. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Arrio
dan Arra saat perjalanan mereka menuju tempat ini. Tidak ada hal lain yang kini
bisa di lakukan oleh Athens selain menunggu dan berdoa. Mengirimkan malaikat
lain untuk mencari mereka, sama saja menunjukkan jalan dan petunjuk bagi para
iblis akan kedatangan sang penyembuh ke tempat ini. Karena mata seluruh pasukan
iblis, tengah tertuju penuh pada kubu mereka.
Hingga…
“Tuanku, Malaikat Utama sudah datang!” pekik
salah satu penjaga yang datang dengan tergopoh – gopoh.
Mata Athens kini berbinar, “benarkah? Dimana
mereka sekarang?” tanya Athens.
“Mereka menuju tenda anda, Tuanku…” lapor
malaikat penjaga itu lagi.
Athens yang mendengarnya segera berlari menuju
tendanya sendiri dan melihat Arrio yang baru saja turun dan melepaskan ikatan
tubuhnya dengan Arra, kemudian menuntun gadis itu memasuki area tenda para
malaikat.
Bisa terlihat jelas, bagaimana pandangan mata
dari para malaikat yang kini menatap ke arah Arra dengan sangat takjub
sekaligus kagum. Mereka bahkan mengikuti setiap gerak tubuh gadis itu hingga
membuatnya sedikit tak nyaman.
“Arrio!” panggil Athens.
__ADS_1
***