
Satu sosok yang di lihat oleh kedua matanya pertama kali,
adalah sosok seorang laki – laki dengan rambut berwarna emas dan kult seputih
susu yang begitu tampan dengan senyum manis yang berdiri di hadapannya. Dan
juga sayap(?) yang bahkan nampak begitu berkilauan seperti sosok peri yang
sering di lihat Arra dulu saat kecil. Tapi ukurannya jauh lebih besar.
Kedua mata nya juga sangat bercahaya dan menatapnya dengan
pandangan sendu yang menenangkan.
“K-kau…?”
“Akhirnya kau bisa melihatku Arra. Aku Aiden…” kata Aiden
memperkenalkan dirinya.
“T-tapi… itu…” Arra berjalan mundur dan menunjuk pada sayap
yang terlihat di tubuh Aiden sekarang.
Aiden hanya membalasnya dengan senyuman dan berjalan
mendekat, “akan aku jelaskan semuanya… semua yang seharusnya Arrio sudah
katakan padamu, namun belum sempat dia ceritakan karena kejadian malam ini…”
ucap Aiden lagi.
**
Arra kini terdiam dan memandang langit hitam dengan bintang
yang hampir menghilang sambil duduk di jendela kamarnya. Gadis itu masih ingat
jelas setiap yang di ucapkan dan di buktikan oleh Aiden pada dirinya. Terlebih
dengan apa yang di alaminya baru saja tadi, semua pertanyaan yang sejak
beberapa jam lalu memenuhi benak Arra kini seolah terjawab dengan semua
penjelasan yang Aiden berikan untuknya. Tidak ada satupun yang malaikat itu
lewatkan dari setiap kejadian itu. termasuk, saat Aiden mengakui kesalahannya…
bahwa dirinya lah yang membuat Arra menjadi buta dengan merenggut cahaya dari
kedua matanya kala itu.
Arra mulanya sangat sulit mempercayai semua yang di katakan
oleh Aiden. Tapi hati dan pikirannya seolah mendukung semua cerita yang di
katakan oleh malaikat itu. terlebih, saat Aiden dengan sengaja terus
menunjukkan wujud malaikatnya pada Arra agar gadis itu terbiasa dan mampu
menerima setiap takdir yang telah Tuhan gariskan padanya.
Aiden juga mengatakan bahwa dia akan mencari tahu, apakah
kecelakaan yang di alami oleh Arra dan kedua orang tua nya beberapa tahun lalu
memang murni kecelakaan biasa, atau ada sesuatu yang membuat hal itu terjadi.
Dia juga benar – benar menyesal serta menangis di hadapan Arra untuk memohon
maaf atas kesalahannya.
Hanya satu hal yang pasti, dia ingin membuktikan bahwa
semuanya adalah benar. Dengan cara yang Aiden ajarkan, yaitu satu tetes
darahnya yang mengenai tempat ini akan membuat semua malaikat berkumpul di atas
langit untuk melihatnya secara langsung dan menundukkan kepala pada Arra yang
__ADS_1
adalah sang Penyembuh.
Maka Arra menggigit ujung jarinya hingga mengeluarkan darah.
Namun dia tersenyum dan merutuki kenapa dia mudah percaya ucapan Aiden, lalu
memiarkan tangannya yang terluka itu begitu saja dan kembali memandang langit,
yang tanpa di sadari olehnya, darah di jarinya kini mulai menetes dan jatuh ke
lantai kamarnya sendiri.
Hingga dalam hitungan detik, Arra melihat langit hitam itu
kini mulai mengeluarkan cahaya dari berbagai arah dan muncul siluet yang mirip
dengan sosok Aiden di atas langit dengan jumlah yang begitu banyak. Mereka
menatap lekat pada Arra yang masih duduk di sana tanpa mengucapkan kata apapun.
Lalu menundukkan kepala mereka bersamaan seolah memberikan penghormatan besar
untuk gadis itu.
Arra menganga, dia tak percaya dengan yang di lihatnya. Dan
lebih mengejutkan lagi, karena Arrio yang mendadak datang masuk ke dalam
kamarnya dengan wujud malaikat yang jauh lebih bersinar terang di antara
semuanya termasuk Aiden, yang juga langsung menghambur pada Arra dan memeluk
gadis itu erat.
“Arra… sayang, kau kenapa? Ada yang melukaimu?” bisik Arrio
yang terdengar begitu ketakutan.
“Arrio… kau… kenapa?” Arra menjawab dengan masih dalam
pelukan Arrio.
menyeluruh, memeriksa apakah dia terluka atau tidak. Sampai akhirnya ARrio
menemukan jari Arra yang mengeluarkan darah meskipun sudah cukup mengering.
“Siapa yang melukaimu? Apa ada yang berani masuk kesini dan
membuatmu terluka?” tanya Arrio panik.
Sementara Arra yang kini melihat jelas sosok Arrio, sang
malaikat yang di sebutkan Aiden sebagai jodoh dan takdir untuknya kini hanya
bisa terdiam. Tubuhnya terasa membeku di tempat karena begitu terpesona dengan
sosok malaikat itu. wajah oval yang tampan, dengan garis rahang kuat yang
begitu tegas, matanya juga sangat tajam dan bibir tebalnya yang sangat seksi.
Di tambah lagi, kulit yang begitu bersinar dan halus, yang bahkan mengalahkan
kulit Arra sendiri. Arra hampr tak bisa mengedipkan matanya melihat sosok itu
yang dengan suara baritonnya kini terus mencerca Arra dengan pertanyaan yang
penuh kekhawatiran.
“Sayang… sayang, kau kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Arrio
sekali lagi.
Arra kini berhadapan langsung dengan Arrio, wajah mereka
hampir tak berjarak karena Arrio yang menatapnya intens. Bahkan, suara nafas
malaikat itu dan hembusan nafasnya yang hangat terasa sangat jelas di wajah
Arra saat ini. Mata gadis itu kini naik sedikit dan memperhatikan jelas lekuk
__ADS_1
wajah sang malaikat, tangannya kemudian naik dan menangkup wajah Arrio yang
nampak cukup terkejut dengan pergerakan Arra.
“Kau… Ar..rio…?” pertanyaan itulah yang pertama kali di
lontarkan Arra ketika manik matanya bertumbukan dengan manik mata sang
malaikat.
“Ya… aku Arrio… t-tapi, bagaimana mungkin…?” Arrio tak
percaya. “Apa kau bisa melihatku? M-melihat wajahku sayang?” tanyanya sekali
lagi.
Arra kini mengangguk kecil dan air mata meluncur dari kedua
kelopak matanya, dia tak percaya akhirnya bisa melihat lagi dan orang yang ada
di hadapannya benar Arrio. Sosok yang selama ini mencintainya, melindunginya
dan mengorbankan segalanya untuk gadis sepertinya.
“Aku bahkan bisa melihat sayapmu yang berkilau itu,” ujar
Arra lembut dan tersenyum.
“Ya Tuhan!” Arrio yang terkejut setengah mati ingin segera
menutup sayapnya dan menyembunyikan itu dari pandangan Arra.
Namun gadis itu kini malah menahan tangan dan mantra yang
akan di ucapkan oleh Arrio.
“Tidak perlu menyembunyikan apapun lagi dariku sayang.. aku
sudah tahu semuanya, aku sudah mendengar semuanya dari Aiden…” jelas Arra lagi.
“Aiden? Dia yang menemuimu?” tanya Arrio lagi.
Arra kini mengangguk lagi, “dia sudah menceritakan semuanya…
dia juga sudah menjelaskan semua yang terjadi, termasuk… alasan dia mengambil
penglihatanku beberapa tahun yang lalu…”
Arrio kini balik terkejut dengan ucapan Arra, “dia.. apa?”
tanya Arrio lagi.
“Dia yang membuatku buta beberapa tahun yang lalu Arrio.
Karena perintah ayahnya,” jawab Arra lagi tanpa dia tahu kalau Arrio belum tahu
sama sekali mengenai hal ini.
Arrio menghela nafasnya dan memeluk erat tubuh Arra, “jadi
dia datang kesini untuk mengembalikan semuanya yang dia ambil darimu dulu?”
tanya Arrio.
“Iya… aku harus berterima kasih pada Aiden karena sudah
mengembalikan semuanya. Aku juga sudah memaafkannya, dia mungkin tidak tahu
kalau ayahnya juga salah menilaiku kan saat itu?” kata Arra dengan polosnya.
Hal yang membuat dada Arrio terasa begitu sesak hingga ingin
menangis saat itu juga.
“Ya… kita harus memaafkannya. Dia malaikat yang baik, sangat
baik…” bisik Arrio dan mengeratkan lagi pelukannya pada Arra sambil menciumi
pundak gadis itu.
__ADS_1
***