
Sandira membereskan kamar tidurnya. Sandira tak lupa menaruh sepucuk surat di meja dekat ranjangnya.
Sandira memandang sekilas kamar yang sempat di tempatinya itu. Sandira menghela nafas sambil menahan airmatanya.
" Ketika aku datang kemari, aku pikir ini adalah neraka. Aku mengerutuki nasibku yang sangat kejam ketika memulai hari – hariku di sini dengan hanya makan sekali atau dua kali sehari.
Aku juga merasa sangat marah dengan pelecehan yang di lakukan Smith padaku. Tapi, aku sadar semuanya tak seburuk yang aku pikirkan.
Nasibku tak sekejam yang aku bayangkan. Saat tau Smith mulai tertarik padaku aku mulai sedikit berharap sekalipun aku berusaha mengelak.
Aku mulai bertanya – tanya jika dia serius atau hanya bermain – main denganku saja. Tapi, ketika melihatnya melindungiku waktu itu aku mulai menumbuhkan sebuah keyakinan jika Smith serius menyukaiku.
Saat itu, aku juga menyadari jika aku mulai menyukainya. Tapi, aku tak mau mengambil resiko ini. Duniaku dan Smith terlalu berbeda.
Mungkin saja dia sekarang menyukaiku tapi aku tak tau kapan dia akan berhenti menyukaiku. Aku memilih untuk pergi karena aku ingin melarikan diri.
__ADS_1
Melarikan diri dari perasaan yang mulai tumbuh ini. Melarikan diri dari harapan dan mimpi – mimpi yang mungkin akan menghancurkanku.
Harapan tentang Smith yang akan terus menyukaiku, harapan untuk hidup bersamanya. Mimpi yang membuatku bukan hanya menjadi wanitanya tapi menjadi istrinya.
Memikirkan hal itu membuatku bergidik ngeri karena aku terlalu mengharap dan bermimpi terlalu tinggi.
Smith mungkin saja menyukaiku dan ingin menjadikanku wanitanya tapi dengan status sosialku dia tak akan pernah mau menjadikan aku sebagai istrinya.
Aku sadar diri jadi aku lebih memilih pergi. Jadi, Selamat tinggal, " ucap Sandira dalam hati.
Sandira berjalan hingga keluar rumah yang cukup megah tersebut dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal langsung pada Smith dan John.
Sesampainya di rumah yang di tempatinya. Sandira cukup terkejut karena pemilik rumah memintanya untuk pindah karena sudah menyewakan rumahnya pada orang lain karena Sandira sudah tak membayar sewa rumah dua bulan lamanya.
Pemilik rumah juga sudah membereskan barang – barang Sandira dan mengusirnya hari itu juga.
__ADS_1
Tak hanya di usir dari rumah yang di tinggalinya selama bertahun – tahun itu tapi hari itu juga Sandira mendapat kabar jika dia sudah di pecat dari pabrik tempatnya bekerja karena tak berangkat tanpa ijin selama ini.
Sandira hanya menghela nafasnya menerima nasibnya. " Aku keluar dari rumah itu kemudian semuanya menjadi lebih buruk. Tak ada kata kembali seperti semula lagi karena aku kehilangan tempat tinggal dan pekerjaanku. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Ponselku juga tak ada," ucap Sandira lirih sambil membawa barang – barangnya untuk mencari tempat tinggal yang baru.
" Tapi, aku masih cukup beruntung karena masih punya ini, " ucap Sandira sambil menatap kartu ATM di tangannya.
Sandira kemudian pergi mencari tempat tinggal dengan harga yang cukup terjangkau dengan kantongnya.
Setelah menemukan tempat tinggal yang cocok dengan kantongnya. Sandirapun mulai membereskan barang – barangnya.
Kali ini Sandira tak sanggup untuk menyewa satu rumah. Sandira hanya sanggup menyewa satu petak ruangan beserta satu kamar mandi dalam karena Sandira harus membeli ponsel baru untuk berkomunikasi dengan adiknya.
Sandira kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kasur lantai yang tersedia di ruangan tersebut.
" Besok aku akan mencari pekerjaan. Aku harus bekerja secepatnya karena tabunganku semakin menipis, " ucap Sandira lirih.
__ADS_1
See You Next Bab !