Cruel Fate

Cruel Fate
Part 24.2


__ADS_3

“Jadi kita sudah kembali pada formasi semula.


Dengan Aiden yang akan menjadi salah satu panglima perang dari para malaikat.


Benar kan, Aiden?” pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir Athens setelah


dia melihat bagaimana Aiden yang menyesali perbuatannya di hadapan Arrio. Pun


dengan Arrio yang kini sudah lebih menerima apa yang terjadi.


“Tentu saja. Dia salah satu panglima terbaik


yang pernah aku kenal. Jadi aku harap, kau tak berpikir untuk mundur dan


mencari pengganti. Karena aku tak menginginkan itu semua, Aiden…” tegas Arrio.


Aiden yang mendengar itu tersenyum getir,


namun dia kini lebih yakin lagi untuk mendukung segala langkah yang di ambil


Arrio. Dan tetap berada di sisi malaikat utama itu, mendukungnya tanpa perlu


lagi Arrio mengkhawatirkan soal kesetiaannya dan pada siapa, dirinya akan


mengabdikan dirinya kini.


“Oke, jadi bagaimana strategimu sekarang? Ada


yang harus kita bahas hari ini kan?” tanya Jason lagi.


“Ah, bagaimana dengan sang penyembuh? Apa dia


sudah belajar?” tanya Arsen sambil berjalan mendekat.


Malaikat itu sejak tadi memang hanya


memperhatikan dari jauh sambil membaca buku tua yang berukuran cukup besar di


meja yang berada di dalam tenda itu dengan seksama. Mencari sesuatu yang harus


dia temukan dan menandainya dengan cermat sebelum bergabung dengan obrolan para


malaikat lainnya kini.


“Hari ini jadwalnya Aksel untuk mengajarinya


tentang sesuatu yang sangat penting. Perlindungan diri sekaligus mengetahui


ilmu apa saja yang di milikinya kini, sebagai seorang penyembuh,” ucap Jason.


“Baguslah. Kalau begitu, kalian berkumpullah


kesini. Aku menemukan sesuatu yang bisa menjadi salah satu kartu AS kita dalam


menghadapi Darrick. Aku mencari ini sejak beberapa malam yang lalu. Dan


akhirnya aku menemukan ini.” Arsen menunjuk pada salah satu halaman dari buku


tua yang besar tersebut.


Terdapat sebuah gambar busur panah yang


berukuran cukup kecil dengan ukiran berbentuk burung phoenix di bagian


tengahnya dan juga sayap burung itu yang membentuk lengkungan busur hingga


terlihat begitu luar biasa. Anak panah yang di gambarkan di sana juga bukan

__ADS_1


sembarang anak panah. Terdapat ukiran kepala burung phoenix di ujung mata


panahnya. Khas sekali dengan senjata yang memang harus di miliki oleh para


malaikat.


“Ini… apa?” tanya Jason.


“Senjata ini bernama busur PHOENIX. Sebuah


busur yang di buat dari batu permata yang di temukan di dalam sebuah gunung api


abadi dari barat. Dia juga di tempat khusus dengan api biru yang berasal dari


gunung yang sama. Sebuah senjata yang sangat mematikan bagi para iblis dan


senjata legenda untuk para malaikat. Sayangnya, sudah beberapa ribu tahun sejak


malaikat terakhir yang melihat, menyentuh, juga menggunakannya dalam medan


perang dengan para Iblis. Dan tak ada yang tahu, siapa malaikat itu sebenarnya


karena dia juga ikut menghilang dari peperangan besar ribuan tahun yang lalu…”


jelas Arsen.


“Jadi, kau ingin kita mencari barang yang


hanya sebuah legenda dan sudah menghilang ribuan tahun. Sementara waktu kita


untuk berperang hanya sedikit lagi?” sergah Aiden.


“Aku tak mengatakan kita harus menemukannya.


Tapi, seandainya para malaikat tahu kita memilikinya. Dan menyebarkan berita


ini, setidaknya ini akan membuat mereka menjadi gentar dan ketakutan. Kau tahu


saat mendapatkan senjata di tangan mereka. Namun apa fungsi senjata itu, andai


mereka tahu. Para malaikat memiliki senjata mematikan semacam ini?” kata Arsen


lagi.


“Kau ingin kita menjebak mereka dalam tipu


muslihat?” tanya Athens memastikan.


“Kau benar… itu yang aku maksudkan. Jason


pasti mampu menemukan material yang mirip dengan ini di bumi, sementara itu aku


dan Aiden yang akan bersiap untuk menempanya dengan api biru yang di miliki


oleh Arrio. Lalu kau, Arrio… persiapkan Arra dengan sebaik mungkin dan bawa dia


ke tempat ini bersama Aksel. Karena Arra juga akan menjadi senjata kuat untuk


kita,” kata Arsen.


“Kau mau menjadikan istriku sebagai senjata


melawan iblis?!” pekik Arrio.


“Kau masih belum menyadari ini?” Arsen kini


menatap tajam Arrio lalu melirik pada Jason.

__ADS_1


“Aku belum bisa menunjukkannya…” gumam Jason.


“Kau akan mengerti nanti. Intinya, bawa saja


dia ke tempat ini. Ini adalah tempat paling aman untuknya sementara kita


berperang melawan para iblis…” pinta Arsen.


“Baiklah, aku mengerti…” Arrio mengangguk


dan  kembali memperhatikan gambar busur


serta anak panah yang ada di sana. “Ngomong – ngomong.. senjata ini punya


kemampuan seperti apa hingga sangat di takuti oleh para iblis?” tanya Arrio.


“Senjata ini memang terlihat seperti busur


pada umumnya. Tapi sebenarnya, saat anak panah dari busur ini di arahkan oleh


seorang malaikat terpilih, maka dia tak akan pernah meleset. Dan dimanapun anak


panahnya menancap di tubuh lawannya itu, maka anak panah itu akan segera


melebur ke dalam aliran darah musuhnya untuk menyebarkan racun hingga membunuh


musuh itu seketika. Sementara anak panahnya sendiri akan menghilang dan kembali


pada tangan malaikat yang memilikinya…” jelas Arsen.


“Wow… itu menakjubkan!” pekik Arrio.


“Tidak ada waktu untuk mengagumi benda ini


dalam gambar Arrio. Cepatlah bersiap!” perintah Arsen.


Malaikat itu sendiri tak mengerti kenapa bisa


malaikat ceroboh dan pecicilan seperti Arrio justru di berikan anugerah sebesar


ini untuk menampung kekuatan yang begitu besar dan kuat dalam tubuhnya, juga


seringkali, Arrio akan bertingkah seperti anak kecil ataupun orang bodoh.


Sementara dirinya sendiri sebenarnya sangat jenius dan memiliki ketangkasan


juga cekatan dalam berbagai hal.


Mungkin ini yang di sebut bahwa tiap makhluk


ciptaan Tuhan itu tak ada yang sepenuhnya sempurna.


“Kak, aku mungkin akan pulang terlambat. Atau


tidak akan pulang lebih dulu beberapa waktu, untuk mencari material yang tadi


di katakan oleh Arsen. Jadi aku titip pesan pada Aksel, agar dia yang


mengajarkan Arra tentang ilmu yang terakhir dari gadis itu. Ilmu yang begitu


penting.” Jason menghampiri Arrio dan mengatakannya dengan setengah berbisik.


“Memangnya ilmu apa yang harus dan wajib di


miliki oleh Arra, selain penyembuhannya?” tanya Arrio.


“Ilmu penghancuran…” celetuk Jason sambil

__ADS_1


tersenyum dan berlalu dari hadapan Arrio hari itu.


****


__ADS_2