
“Jadi kita sudah kembali pada formasi semula.
Dengan Aiden yang akan menjadi salah satu panglima perang dari para malaikat.
Benar kan, Aiden?” pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir Athens setelah
dia melihat bagaimana Aiden yang menyesali perbuatannya di hadapan Arrio. Pun
dengan Arrio yang kini sudah lebih menerima apa yang terjadi.
“Tentu saja. Dia salah satu panglima terbaik
yang pernah aku kenal. Jadi aku harap, kau tak berpikir untuk mundur dan
mencari pengganti. Karena aku tak menginginkan itu semua, Aiden…” tegas Arrio.
Aiden yang mendengar itu tersenyum getir,
namun dia kini lebih yakin lagi untuk mendukung segala langkah yang di ambil
Arrio. Dan tetap berada di sisi malaikat utama itu, mendukungnya tanpa perlu
lagi Arrio mengkhawatirkan soal kesetiaannya dan pada siapa, dirinya akan
mengabdikan dirinya kini.
“Oke, jadi bagaimana strategimu sekarang? Ada
yang harus kita bahas hari ini kan?” tanya Jason lagi.
“Ah, bagaimana dengan sang penyembuh? Apa dia
sudah belajar?” tanya Arsen sambil berjalan mendekat.
Malaikat itu sejak tadi memang hanya
memperhatikan dari jauh sambil membaca buku tua yang berukuran cukup besar di
meja yang berada di dalam tenda itu dengan seksama. Mencari sesuatu yang harus
dia temukan dan menandainya dengan cermat sebelum bergabung dengan obrolan para
malaikat lainnya kini.
“Hari ini jadwalnya Aksel untuk mengajarinya
tentang sesuatu yang sangat penting. Perlindungan diri sekaligus mengetahui
ilmu apa saja yang di milikinya kini, sebagai seorang penyembuh,” ucap Jason.
“Baguslah. Kalau begitu, kalian berkumpullah
kesini. Aku menemukan sesuatu yang bisa menjadi salah satu kartu AS kita dalam
menghadapi Darrick. Aku mencari ini sejak beberapa malam yang lalu. Dan
akhirnya aku menemukan ini.” Arsen menunjuk pada salah satu halaman dari buku
tua yang besar tersebut.
Terdapat sebuah gambar busur panah yang
berukuran cukup kecil dengan ukiran berbentuk burung phoenix di bagian
tengahnya dan juga sayap burung itu yang membentuk lengkungan busur hingga
terlihat begitu luar biasa. Anak panah yang di gambarkan di sana juga bukan
__ADS_1
sembarang anak panah. Terdapat ukiran kepala burung phoenix di ujung mata
panahnya. Khas sekali dengan senjata yang memang harus di miliki oleh para
malaikat.
“Ini… apa?” tanya Jason.
“Senjata ini bernama busur PHOENIX. Sebuah
busur yang di buat dari batu permata yang di temukan di dalam sebuah gunung api
abadi dari barat. Dia juga di tempat khusus dengan api biru yang berasal dari
gunung yang sama. Sebuah senjata yang sangat mematikan bagi para iblis dan
senjata legenda untuk para malaikat. Sayangnya, sudah beberapa ribu tahun sejak
malaikat terakhir yang melihat, menyentuh, juga menggunakannya dalam medan
perang dengan para Iblis. Dan tak ada yang tahu, siapa malaikat itu sebenarnya
karena dia juga ikut menghilang dari peperangan besar ribuan tahun yang lalu…”
jelas Arsen.
“Jadi, kau ingin kita mencari barang yang
hanya sebuah legenda dan sudah menghilang ribuan tahun. Sementara waktu kita
untuk berperang hanya sedikit lagi?” sergah Aiden.
“Aku tak mengatakan kita harus menemukannya.
Tapi, seandainya para malaikat tahu kita memilikinya. Dan menyebarkan berita
ini, setidaknya ini akan membuat mereka menjadi gentar dan ketakutan. Kau tahu
saat mendapatkan senjata di tangan mereka. Namun apa fungsi senjata itu, andai
mereka tahu. Para malaikat memiliki senjata mematikan semacam ini?” kata Arsen
lagi.
“Kau ingin kita menjebak mereka dalam tipu
muslihat?” tanya Athens memastikan.
“Kau benar… itu yang aku maksudkan. Jason
pasti mampu menemukan material yang mirip dengan ini di bumi, sementara itu aku
dan Aiden yang akan bersiap untuk menempanya dengan api biru yang di miliki
oleh Arrio. Lalu kau, Arrio… persiapkan Arra dengan sebaik mungkin dan bawa dia
ke tempat ini bersama Aksel. Karena Arra juga akan menjadi senjata kuat untuk
kita,” kata Arsen.
“Kau mau menjadikan istriku sebagai senjata
melawan iblis?!” pekik Arrio.
“Kau masih belum menyadari ini?” Arsen kini
menatap tajam Arrio lalu melirik pada Jason.
__ADS_1
“Aku belum bisa menunjukkannya…” gumam Jason.
“Kau akan mengerti nanti. Intinya, bawa saja
dia ke tempat ini. Ini adalah tempat paling aman untuknya sementara kita
berperang melawan para iblis…” pinta Arsen.
“Baiklah, aku mengerti…” Arrio mengangguk
dan kembali memperhatikan gambar busur
serta anak panah yang ada di sana. “Ngomong – ngomong.. senjata ini punya
kemampuan seperti apa hingga sangat di takuti oleh para iblis?” tanya Arrio.
“Senjata ini memang terlihat seperti busur
pada umumnya. Tapi sebenarnya, saat anak panah dari busur ini di arahkan oleh
seorang malaikat terpilih, maka dia tak akan pernah meleset. Dan dimanapun anak
panahnya menancap di tubuh lawannya itu, maka anak panah itu akan segera
melebur ke dalam aliran darah musuhnya untuk menyebarkan racun hingga membunuh
musuh itu seketika. Sementara anak panahnya sendiri akan menghilang dan kembali
pada tangan malaikat yang memilikinya…” jelas Arsen.
“Wow… itu menakjubkan!” pekik Arrio.
“Tidak ada waktu untuk mengagumi benda ini
dalam gambar Arrio. Cepatlah bersiap!” perintah Arsen.
Malaikat itu sendiri tak mengerti kenapa bisa
malaikat ceroboh dan pecicilan seperti Arrio justru di berikan anugerah sebesar
ini untuk menampung kekuatan yang begitu besar dan kuat dalam tubuhnya, juga
seringkali, Arrio akan bertingkah seperti anak kecil ataupun orang bodoh.
Sementara dirinya sendiri sebenarnya sangat jenius dan memiliki ketangkasan
juga cekatan dalam berbagai hal.
Mungkin ini yang di sebut bahwa tiap makhluk
ciptaan Tuhan itu tak ada yang sepenuhnya sempurna.
“Kak, aku mungkin akan pulang terlambat. Atau
tidak akan pulang lebih dulu beberapa waktu, untuk mencari material yang tadi
di katakan oleh Arsen. Jadi aku titip pesan pada Aksel, agar dia yang
mengajarkan Arra tentang ilmu yang terakhir dari gadis itu. Ilmu yang begitu
penting.” Jason menghampiri Arrio dan mengatakannya dengan setengah berbisik.
“Memangnya ilmu apa yang harus dan wajib di
miliki oleh Arra, selain penyembuhannya?” tanya Arrio.
“Ilmu penghancuran…” celetuk Jason sambil
__ADS_1
tersenyum dan berlalu dari hadapan Arrio hari itu.
****