Cruel Fate

Cruel Fate
Part 12.3


__ADS_3

"Tadi pagi, saat aku bertemu dengan Arra secara tidak langsung. aku melihat dia begitu redup. cahaya di matanya dan wajahnya seolah menghilang dan berganti dengan awan mendung. apa kalian ada masalah?" tanya Arsen pada Arrio.


"Tidak ada. mungkin dia hanya khawatir pada Andrew. kau sendiri tahu bagaimana takutnya dia, saat kemarin Andrew menghilang."


Arsen mengangguk kecil dan menghela nafasnya. "Kau benar... mungkin karena itu. Kau juga jangan lupa, jaga jarakmu dengannya sementara waktu tapi tetap waspada untuk menjaganya. kondisi saat ini sangat tidak bisa di tebak. semua bisa berbalik kapan saja jika kita tak berhati-hati..."


"Ya... aku mengerti..." jawab Arrio lirih.


dalam hatinya, dia sungguh merindukan Arra. rindu suaranya, senyumnya, bahkan omelannya yang sering keluar saat merasakan tak nyaman dengan Arrio yang menggodanya dan mengganggunya terus menerus. juga saat wajah gadis itu merah padam, tiap kali Arrio mengucapkan kata cinta padanya. Sangat manis dan membuat Arrio tak bisa lupa sedikitpun soal itu.


Tapi apa yang di katakan Arsen memang benar. kain hitam yang melilit dada Andrew merupakan pertanda besar. bahwa mata sang penguasa neraka sudah berada di sana. di dekat Arra. dan membuat posisi gadis itu menjadi begitu berbahaya.


aroma malaikat yang di pancarkan Arrio, jelas akan mengundang para iblis yang mengincarnya mendekat. dan apabila mereka mencium aroma itu dari tubuh Arra, bukan tidak mungkin. kalau incaran mereka berubah dari Arrio menjadi Arra.


Hal yang paling tidak di inginkan Arrio sama sekali.


"Andai dia sudah menerima cintaku. dan mencintaiku... maka semuanya akan lebih baik." ucap Arrio.


"Karena kau lebih mudah melindunginya?" tanya Arsen.


"Ya... agar apiku bisa melindunginya. dan membuatnya aman. tapi kalau dia masih menganggap keberadaanku sebagai pengganggu untuknya. maka apiku akan membunuhnya," jawab Arrio.


Arsen menepuk pundak Arrio dan tersenyum.


"Perjuanganmu masih banyak dan berat rupanya..." ujar malaikat bermata bulat itu.


***

__ADS_1


"Ada apa Andrew? kau mencari ku?" tanya Arra begitu dia masuk ke kamar Andrew.


"Arra. kenapa kau keluar?" tanya Andrew.


"Oh, maaf... aku tadi bicara dengan Aksel. apa kau haus? aku ambilkan minum ya? sebentar lagi aku ambilkan makan siang dan obatmu..." kata Arra.


"Arrio..." ucap Andrew memotong ucapan Arra.


"Kenapa?"


"Dimana dia?" tanya Andrew lagi.


"Entahlah, dia sedang keluar. akhir-akhir ini dia sibuk sekali. kata Aksel, dia sedang mencari orang yang melukaimu..." jawab Arra.


"Orang...? yang, melukaiku?" tatapan Andrew kini berubah menjadi nanar. wajahnya yang sendu jadi semakin redup.


"Arra, ada yang ingin aku tanyakan padamu.." kata Andrew.


"soal apa?"


"hari itu, saat kau dan Arrio mencari ku. dan menemukanku... apa yang Arrio katakan?" tanya Andrew.


"Dia tidak mengatakan apapun. dia terdengar panik dan menelepon bantuan. aku pikir, dia akan menelepon ambulans dan membawamu ke rumah sakit. tapi dia justru menelepon temannya yang bernama Arsen dan Athens. dia bilang, Athens adalah dokter yang hebat. dan membawamu ke rumah ini..."


"jadi dia langsung membawaku kesini dan tidak ke rumah sakit?" tanya Andrew sekali lagi.


"Hmm... aku sempat tanya, kenapa dia tak membawamu ke rumah sakit. tapi dia bilang tidak perlu karena kau sudah di obati. hanya tinggal menunggumu pulih."

__ADS_1


ucapan Arra sekali lagi membuat Andrew berpikir. kenapa Arrio melakukan itu? dia yakin kalau dirinya lagi terluka amat parah. terkena panah dari iblis tentu hal besar. sekalipun sudah di obati, itu pasti akan berbeda. tapi kenapa dia justru memilih membawa Andrew ke rumahnya dan merawatnya di sana, juga meminta Arra tetap tinggal dan tidak mengijinkan gadis itu untuk pergi kuliah? atau mungkin...


"Kenapa Andrew?" tanya Arra membuat lamunan Andrew pecah.


"Oh, tidak. bukan apa-apa."


"Aku ambilkan makan siang untukmu dulu ya. nanti setelah itu kau minum obat dan istirahat lagi... suhu tubuhmu masih agak tinggi pagi ini." ujar Arra.


ya, gadis itu terus merawat Andrew. bahkan lebih baik dari perawat dan dokter. meskipun hanya satu yang Andrew makin rasakan selama dirinya di sini dan kekasihnya ini merawatnya.


yaitu, Andrew yang tidak lagi mendengar Arra memanggilnya 'sayang'. tidak ada panggilan itu sejak kemarin dan hanya nama seperti dulu saat mereka pertama kali menjadi teman. Dan entah bagaimana, rasanya Arra semakin menjauh darinya meskipun secara raga dia ada sangat dekat dengan Andrew. rasanya... Andrew sulit untuk menggapai atau memberikan pelukan pada gadis itu seolah ada dinding penghalang yang begitu besar di antara mereka berdua.


"Arra..." panggil Andrew.


"Kenapa?" tanya gadis itu dan berbalik. menghentikan langkahnya yang akan keluar dari kamar Andrew.


"Apa kau... masih mencintai aku?" tanya Andrew dan membuat area tersentak.


"Aku tak mengerti yang kau katakan Andrew. jangan bicara yang macam-macam." jawab gadis itu dan berlalu.


hati Andrew kini terasa getir dan sesak begitu terasa di dadanya. Andrew bukan lelaki bodoh yang tak mengerti apa ini.


Arra... semakin lepas dari genggamannya.


Arrio memang tidak menyatakan cinta atau mengejar gadis itu seperti kemarin... tapi dia tahu, sikap Arrio yang menerima keberadaan Andrew dan merawatnya dengan tulus. justru membuat hati gadis itu berubah. dan perlahan mulai berpindah...


***

__ADS_1


__ADS_2