
Malam ini, langit terasa begitu pekat dan kelam. Jauh lebih
pekat dari biasanya dan angin yang berhembus pun terasa begitu dingin hingga
membuat bulu kuduk siapapun meremang.
Suara lengkingan makhluk malam yang mulai bangun dari
tidurnya terdengar. Kelelawar, burung hantu, bahkan serangga kecil yang tak
berhargapun mulai naik ke permukaan saat malam mulai beranjak dengan bulan
penuh yang tampak bersinar terang.
Mengiringi hal itu. Darrick, sang penguasa kegelapan dan
pemimpin dari seluruh iblis di neraka juga sedang melakukan hal yang serupa
dengan apa yang malam lakukan. Yaitu membangunkan makhluk kegelapan dan paling
kejam di seluruh neraka untuk di tundukkan. Tujuannya hanya satu, agar makhluk
itu bisa membantunya dalam perang yang akan dia lakukan demi menundukkan
seluruh penjuru surga dan segala isi dunia atas. Juga menguasai tiga dunia dan
membalaskan dendam dai kedua orang tua, adik perempuan serta seluruh rakyatnya.
Dengan seluruh kekuatan serta kekuasaannya pada seluruh
neraka. Dia mulai membangkitkan seluruh makhluk kejam dan segala iblis bahkan
yang paling kelam sekalipun.
“Bangun!!! Aku perintahkan kalian semua untuk bangun! Bangun
dan terimalah perintahku sebagai pemimpin kalian!!!!” pekik Darrick dan
emngangkat tongkatnya yang mulai mengeluarkan sinar berwarna merah dari ujung
atas tongkat itu dan meluncukan sinar tersebut ke arah kawah neraka yang
bergejolak. Dengan api super panas yang membara dan menggelegar kini kawah itu
semakin bergolak hingga api nya pun beberapa berjatuhan dan terciprat ke luar
kawasan kawah.
Bisa di pastikan, bahwa siapapun yang terkena cipratan api
itu akan meleleh dan menyatu bersama api dalam sekejap. Namun Darrick, dia
dengan mudahnya menggenggam lelehan api itu dan menyeret makhluk paling kelam
di neraka itu hanya dengan satu tangannya. Membawa makhluk – makhluk itu
berlutut di bawah kakinya dan bersiap menerima perintah dari pemimpin mereka
yang baru.
“Kami berlutut dan mengakui dirimu sebagai pemimpin kami…”
ujar salah satu makhluk neraka itu sambil menundukkan kepalanya di hadapan
Darrick.
“Berikan kami perintahmu. Yang Mulia…” seru mereka
bersamaan.
Dan segera saja, hal itu membuat Darrick tertawa terbahak –
bahak dan senang bukan kepalang. Pasukannya akan semakin lengkap dengan
kehadiran mereka di sisinya. Pasukannya akan bertambah kuat dan tak akan bisa
di kalahkan dengan mudah, meskipun ada ribuan malaikat yang menyerangnya di
__ADS_1
pertempuran nanti. Dia yakin, bahwa dirinya akan menang dengan telak atas Arrio
serta pasukannya. Juga mampu menguasai tiga dunia beserta seluruh kekuatannya.
“Perintahku akan segera kalian dengar. Persiapkan dulu diri
kalian, dan tunggu saja…” kata Darrick.
Tangannya mengusap dan mengelus kepala para iblis kelam itu
layaknya binatang peliharaan dan membuat suara gemuruh dari sorakan para iblis
yang gembira itu menggema di seluruh penjuru neraka.
“Baik, Yang Mulia,” ucap para iblis itu.
***
Di tempat lain, Ellard juga tengah mempersiapkan pasukan
elit nya. Pasukan para iblis yang mematikan dengan senjata yang lengkap. Tombak,
panah besi, tameng, juga pedang hitam khas milik para iblis kini mulai keluar
dari tempat penyimpanannya dan di asah agar siap di gunakan. Para iblis pun
memulai latihan mereka tiap hari untuk bersiap menghadapi para malaikat.
Ya, para malaikat yang berada di bawah komando Arrio adalah
malaikat – malaikat terpilih dan terkuat dalam sejarah. Pasukan itu merupakan
pasukan besar yang sangat sulit, bahkan mustahil untuk di kalahkan. Ellard
sendiri tak pernah lupa, bagaimana kekalahannya beberapa ratus tahun lalu di
hadapan Athens dan Arsen. Para panglima besar pasukan malaikat yang bergerak di
bawah komando Arrio. Mereka menebas habis seluruh pasukannya tanpa tersisa
seorang pun.
karenanya. Dan membuat harga diri serta kemampuan perangnya di remehkan oleh
para malaikat sekaligus para iblis.
Perang kali ini. Bukan hanya akan menjadi ajang pembalasan
dendam bagi Darrick atas keluarga dan rakyatnya. Namun sekaligus pesta balas
dendam bagi Ellard atas kekalahannya di masa lalu. Serta menunjukkan diri,
bahwa dia mampu untuk membuat para malaikat tunduk di hadapan pasukannya.
“Ellard!” suara Darrick memanggilnya terdengar.
“Yang Mulia. Apa yang membawa Yang Mulia datang ke tempat
ini?” tanya Ellard yang cukup terkejut dengan kedatangan Darrick ke tempatnya.
“Aku hanya ingin melihat langsung bagaimana mereka
mempersiapkan diri. Ingat! Waktu kita semakin dekat dan mereka juga pasti
sedang mempersiapkan diri. Aku tidak ingin ada kekalahan di pihak kita. Untuk alasan
apapun!” ujar Darrick.
“Tentu saja Yang Mulia. Saya pastikan, kita aka menang telak
dan membuat Arrio si malaikat itu terbunuh di tangan anda…” jawab ellard.
“Bagus…” mata Darrick kini mengarah pada pasukan yang jumlahnya
begitu besar di hadapannya.
Pasukan iblis itu sepertinya sudah sangat siap dengan perang
__ADS_1
yang akan terjadi.
“Aku tak akan membiarkanmu menang kali ini Arrio. Aku akan
membuat kau dan pasukanmu itu, juga seluruh malaikat memohon ampun dan berlutut
di hadapanku.”
***
---Dunia atas di waktu yang hampir sama---
“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Athens yang melihat
wajah Aiden murung.
“Kau tahu. Aku terus terpikir tentang sang penyembuh,” jawab
Aiden.
“Memangnya kenapa dengannya?”
“Aku seperti pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Entah dimana
dan bagaimana. Tapi kemarin, saat aku bertemu dengannya dan melihatnya di rumah
Arrio. Rasanya itu bukan yang pertama untuk kami,” jelas Aiden pada Athens.
“Kau malaikat, mungkin saja kau pernah berpapasan dengannya
saat melakukan tugas.” Athens menjawab sambil mengusap pedangnya yang
mengkilat.
“Tugas? Kau lupa ya, aku sudah berapa waktu ini tida pernah
turun ke bumi untuk urusan tugas. Terakhir kali aku turun, itu juga atas
perintah ayah dan itupun sudah sangat lama. Aku bahkan tak ingat kapan waktu
tepatnya,” ucap Aiden.
“Lalu? Kenapa itu seperti sanga mengganggu untukmu?”
Aiden kini kembali menatap pada Athens, “aku berusaha keras
mengingatnya Athens. Ada perasaan tak enak dan mengganjal di hatiku karena hal
ini.”
“Kau kan tidak sedang melakukan kesalahan padanya Aiden. Jangan
terlalu memikirkan itu, mungkin kau hanya pernah berpapasan dengannya beberapa
kali.”
“Hmm… mungkin saja…”
Athens kini tersenyum tipis mendengar jawaban Aiden dan
melirik ke arah pasukannya yang ada di sana dengan jumlah besar.
“Arsen belum datang ya?” tanya Aiden.
“Belum, aku rasa dia akan datang agak terlambat saat ini. Karena
banyak hal yang harus di lakukan di sana…” jawan Athens.
“Menurutmu, apa kita akan menang?” tanya Aiden menelisik, “ayahku
masih belum berubah pikiran. Dia sama sekali tak menginginkan perang ini.”
Athens terdiam sejenak dan pandangannya jadi menerawang,“Tidak
ada satupun yang menginginkan perang untuk alasan apapun Aiden. Bahkan aku pun,
ingin menghentikan perang ini jika bisa. Dan membawa kedamaian juga ketenangan
__ADS_1
di tempat ini…”
***