
Arrio pulang cukup larut malam itu dan mendapati lampu kamar
Andrew masih menyala terang. Dia ingin menyapa lelaki itu namun segera di
urungkan karena rasa lelah yang luar biasa seharian ini. Kegiatannya seharian
ini begitu banyak hingga menguras tenaganya.
Bagaimana tidak? Dia harus tetap menajalankan tugasnya
sebagai dosen di Oxford, menyiapkan tugas harian yang harus di kerjakan oleh
Arra dan sekaligus mengoreksi hasil skripsi gadis itu. selain itu, mencari tahu
tentang apa yang di alami oleh Andrew dan mencari tahu informasi apa saja yang
sudah di berikan Andrew selama dia berada di wilayah para Iblis. Mencari cara
untuk melindungi Arra dan lagi, dia juga harus terus menyiapkan pasukannya di
tempat tersembunyi bersama Arsen dan Athens jika sewaktu – waktu hal yang tak
di inginkan terjadi.
Membayangkan apa saja yang sudah dia lakukan seharian ini
membuatnya bertambah lelah. Dan ingin segera melemparkan tubuhnya ke ranjang
dan tertidur.
Belum lagi, rasa lelahnya menahan rindu pada Arra. Ah…
benar, apa saja yang di lakukan gadis itu seharian ini, Arrio sama sekali tak
tahu. Dia belum menanyakan pada Aksel maupun Jason yang sehari – hari bersama
gadis itu.
“Arrio? Kau kah itu?” suara itu menginterupsi gerakan Arrio
yang akan masuk ke dalam kamarnya dan membuatnya menoleh.
“Andrew, kau belum tidur ya?” tanya Arrio balik.
Arrio memang menempatkan kamar Andrew lebih dekat dengan
kamarnya. Dia bertujuan agar jika sewaktu – waktu ada sesuatu yang terjadi. Maka
dirinya lah yang akan lebih dulu mengetahui dan mengatasi masalahnya sebelum
yang lain.
Andrew keluar dari kamar dan memperlihatkan wajah pucatnya. Tubuhnya
masih agak oleng hingga Arrio dengan sigap menahan tubuh pria itu dengan kedua
tangannya dan menatapnya dengan pandangan cemas.
“Aku ingin bicara denganmu, berdua…” ucap Andrew dan membuat
Arrio mengernyitkan keningnya.
“Penting? Kenapa tidak besok pagi saja?” tanya Arrio,
melihat bagaimana kondisi Andrew saat ini.
Lelaki itu kini balik menggeleng sebagai jawaban, “aku sudah
menunggumu sangat lama seharian ini. Untuk bisa bicara secara pribadi denganmu.
__ADS_1
Arrio…” kata Andrew dengan nada memohon.
“Oke. Tapi ijinkan aku untuk mandi sebentar. Tubuhku rasanya
lengket sekali,” ujar Arrio dan di angguki oleh Andrew.
“Aku akan menunggumu di sana,” kata Andrew dan menunjuk
balkon belakang rumah Arrio dengan kepalanya.
“Ya, tunggulah di sana…”
***
Arrio tidak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan ritual
mandinya. Dia hanya ingin mengguyur seluruh tubuhnya dan mendinginkan kepala
sebelum mendengar apa yang akan Andrew katakan padanya. Karena dia yakin,
lelaki itu tak akan menunggunya selama ini hanya untuk mengobrol ringat atau
sekedar mengucapkan kata terima kasih.
Dia pasti punya sesuatu yang cukup rumit di dalam pikirannya
untuk di ceritakan. Dan Arrio harus siap dengan semua itu. dia harus
mendinginkan diri dan otaknya agar dia siap dengan semua itu.
Dengan membawa dua cangkir teh hangat di kedua tangannya.
Arrio menghampiri Andrew dan menutup pintu balkon agar tak sembarangan orang
bisa mendengar obrolan mereka.
“Bagaimana kondisimu? Apa sudah membaik?” tanya Arrio
tangan Andrew.
“Ya, berkat bantuanmu dan juga adik – adikmu. Serta temanmu
yang dokter itu. aku sudah semakin membaik sekarang…” jawab Andrew.
“Syukurlah… katakan saja apa yang kau butuhkan pada adikku. Mereka
akan menyediakan semuanya untukmu.”
“Aku mengerti. Terima kasih banyak Arrio. Aku berhutang
banyak padamu…” ucap Andrew dan mengulas senyum tipis di bibirnya.
“Jadi… apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Arrio
dengan pandangan menelisik.
“Apa kau sudah menemukan mereka?” tanya Andrew balik.
“Me…re…ka?”
“Ya, mereka yang menyerangku. Apa kau sudah menemukannya?” tanya
Andrew lagi.
“Kau sudah tahu jawabannya,” ujar Arrio lagi.
“Sejak kapan kau tahu, kalau mereka bukan manusia Arrio?”
tanya Andrew.
__ADS_1
“Sejak awal aku menemukanmu di mobil hari itu. bersama
dengan Arra. Aku mencium aroma aneh di mobilmu dan juga tubuhmu. Dan juga… kain
yang melilit di dadamu itu. aku melihat semuanya…” kata Arrio.
“Itu sebabnya kau tak menanyakan apapun padaku dan hanya
mencarinya sendiri?”
“Ya. Karena aku sudah tahu semuanya sebelum kau bicara
padaku…”
Andrew menghela nafasnya, “mereka mencari dirimu dan Arra…”
“Aku tahu. Hari ini aku bertemu dengan salah satu dari
mereka…”
Andrew kini menatap lekat pada Arrio.
“Apa ini yang kau maksud saat itu? saat kau katakan padaku,
bahwa Arra seharusnya adalah milikmu. Bukan milikku? Apa ini semua ada
hubungannya?” tanya Andrew.
“Kau jauh lebih pintar dari yang aku bayangkan Andrew. Aku bahkan
tak perlu menjelaskan banyak agar kau bisa mengerti situasi saat ini…” kata
Arrio dan tersenyum simpul. Pandangan matanya mengarah pada kelamnya langit
malam itu dan suara burung hantu yang mulai keluar dari sarangnya.
“Siapa kau sebenarnya Arrio? Kau bertemu dengan mereka dan kau
bisa tetap tenang. Bahkan…” Andrew menghentikan uapannya dan menatap Arrio
sangat lekat dari ujung rambut hingga kakinya. “Bahkan kau sama sekali tak
terluka ataupun syok. Seperti hal nya diriku hari itu….”
“Andrew… ku pastikan, kau adalah orang pertama bahkan
sebelum Arra yang akan tahu lebih dulu siapa diriku sebenarnya. ” Arrio
menggenggam tangan Andrew dan tersenyum hangat.
“Kau bukan…”
“Aku bukan bagian dari mereka. Aku percaya, kau pasti belum
mengatakan apapun pada mereka sampai saat ini dan masih menjadi Andrew yang
baik. Seperti hal nya dirimu yang mempercayakan keselamatanmu di bawahku saat
ini. Aku juga yakin kalau kau tidak akan mengkhianatiku…” tukas Arrio dan
segera meninggalkan Andrew yang masih terdiam di tempatnya sembari terus
berpikir tentang semua yang di ucapkan oleh Arrio barusan.
“Cepatlah masuk ke kamar dan istirahat. Lupakan dulu persaingan
kita saat ini. Kita akan kembali bersaing saat kau sudah kembali pulih seperti
dulu,” ujar Arrio lagi sebelum benar – benar menghilang dari hadapan Andrew.
__ADS_1
***