Cruel Fate

Cruel Fate
Part 13.1


__ADS_3

Arrio pulang cukup larut malam itu dan mendapati lampu kamar


Andrew masih menyala terang. Dia ingin menyapa lelaki itu namun segera di


urungkan karena rasa lelah yang luar biasa seharian ini. Kegiatannya seharian


ini begitu banyak hingga menguras tenaganya.


Bagaimana tidak? Dia harus tetap menajalankan tugasnya


sebagai dosen di Oxford, menyiapkan tugas harian yang harus di kerjakan oleh


Arra dan sekaligus mengoreksi hasil skripsi gadis itu. selain itu, mencari tahu


tentang apa yang di alami oleh Andrew dan mencari tahu informasi apa saja yang


sudah di berikan Andrew selama dia berada di wilayah para Iblis. Mencari cara


untuk melindungi Arra dan lagi, dia juga harus terus menyiapkan pasukannya di


tempat tersembunyi bersama Arsen dan Athens jika sewaktu – waktu hal yang tak


di inginkan terjadi.


Membayangkan apa saja yang sudah dia lakukan seharian ini


membuatnya bertambah lelah. Dan ingin segera melemparkan tubuhnya ke ranjang


dan tertidur.


Belum lagi, rasa lelahnya menahan rindu pada Arra. Ah…


benar, apa saja yang di lakukan gadis itu seharian ini, Arrio sama sekali tak


tahu. Dia belum menanyakan pada Aksel maupun Jason yang sehari – hari bersama


gadis itu.


“Arrio? Kau kah itu?” suara itu menginterupsi gerakan Arrio


yang akan masuk ke dalam kamarnya dan membuatnya menoleh.


“Andrew, kau belum tidur ya?” tanya Arrio balik.


Arrio memang menempatkan kamar Andrew lebih dekat dengan


kamarnya. Dia bertujuan agar jika sewaktu – waktu ada sesuatu yang terjadi. Maka


dirinya lah yang akan lebih dulu mengetahui dan mengatasi masalahnya sebelum


yang lain.


Andrew keluar dari kamar dan memperlihatkan wajah pucatnya. Tubuhnya


masih agak oleng hingga Arrio dengan sigap menahan tubuh pria itu dengan kedua


tangannya dan menatapnya dengan pandangan cemas.


“Aku ingin bicara denganmu, berdua…” ucap Andrew dan membuat


Arrio mengernyitkan keningnya.


“Penting? Kenapa tidak besok pagi saja?” tanya Arrio,


melihat bagaimana kondisi Andrew saat ini.


Lelaki itu kini balik menggeleng sebagai jawaban, “aku sudah


menunggumu sangat lama seharian ini. Untuk bisa bicara secara pribadi denganmu.

__ADS_1


Arrio…” kata Andrew dengan nada memohon.


“Oke. Tapi ijinkan aku untuk mandi sebentar. Tubuhku rasanya


lengket sekali,” ujar Arrio dan di angguki oleh Andrew.


“Aku akan menunggumu di sana,” kata Andrew dan menunjuk


balkon belakang rumah Arrio dengan kepalanya.


“Ya, tunggulah di sana…”


***


Arrio tidak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan ritual


mandinya. Dia hanya ingin mengguyur seluruh tubuhnya dan mendinginkan kepala


sebelum mendengar apa yang akan Andrew katakan padanya. Karena dia yakin,


lelaki itu tak akan menunggunya selama ini hanya untuk mengobrol ringat atau


sekedar mengucapkan kata terima kasih.


Dia pasti punya sesuatu yang cukup rumit di dalam pikirannya


untuk di ceritakan. Dan Arrio harus siap dengan semua itu. dia harus


mendinginkan diri dan otaknya agar dia siap dengan semua itu.


Dengan membawa dua cangkir teh hangat di kedua tangannya.


Arrio menghampiri Andrew dan menutup pintu balkon agar tak sembarangan orang


bisa mendengar obrolan mereka.


“Bagaimana kondisimu? Apa sudah membaik?” tanya Arrio


tangan Andrew.


“Ya, berkat bantuanmu dan juga adik – adikmu. Serta temanmu


yang dokter itu. aku sudah semakin membaik sekarang…” jawab Andrew.


“Syukurlah… katakan saja apa yang kau butuhkan pada adikku. Mereka


akan menyediakan semuanya untukmu.”


“Aku mengerti. Terima kasih banyak Arrio. Aku berhutang


banyak padamu…” ucap Andrew dan mengulas senyum tipis di bibirnya.


“Jadi… apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Arrio


dengan pandangan menelisik.


“Apa kau sudah menemukan mereka?” tanya Andrew balik.


“Me…re…ka?”


“Ya, mereka yang menyerangku. Apa kau sudah menemukannya?” tanya


Andrew lagi.


“Kau sudah tahu jawabannya,” ujar Arrio lagi.


“Sejak kapan kau tahu, kalau mereka bukan manusia Arrio?”


tanya Andrew.

__ADS_1


“Sejak awal aku menemukanmu di mobil hari itu. bersama


dengan Arra. Aku mencium aroma aneh di mobilmu dan juga tubuhmu. Dan juga… kain


yang melilit di dadamu itu. aku melihat semuanya…” kata Arrio.


“Itu sebabnya kau tak menanyakan apapun padaku dan hanya


mencarinya sendiri?”


“Ya. Karena aku sudah tahu semuanya sebelum kau bicara


padaku…”


Andrew menghela nafasnya, “mereka mencari dirimu dan Arra…”


“Aku tahu. Hari ini aku bertemu dengan salah satu dari


mereka…”


Andrew kini menatap lekat pada Arrio.


“Apa ini yang kau maksud saat itu? saat kau katakan padaku,


bahwa Arra seharusnya adalah milikmu. Bukan milikku? Apa ini semua ada


hubungannya?” tanya Andrew.


“Kau jauh lebih pintar dari yang aku bayangkan Andrew. Aku bahkan


tak perlu menjelaskan banyak agar kau bisa mengerti situasi saat ini…” kata


Arrio dan tersenyum simpul. Pandangan matanya mengarah pada kelamnya langit


malam itu dan suara burung hantu yang mulai keluar dari sarangnya.


“Siapa kau sebenarnya Arrio? Kau bertemu dengan mereka dan kau


bisa tetap tenang. Bahkan…” Andrew menghentikan uapannya dan menatap Arrio


sangat lekat dari ujung rambut hingga kakinya. “Bahkan kau sama sekali tak


terluka ataupun syok. Seperti hal nya diriku hari itu….”


“Andrew… ku pastikan, kau adalah orang pertama bahkan


sebelum Arra yang akan tahu lebih dulu siapa diriku sebenarnya. ” Arrio


menggenggam tangan Andrew dan tersenyum hangat.


“Kau bukan…”


“Aku bukan bagian dari mereka. Aku percaya, kau pasti belum


mengatakan apapun pada mereka sampai saat ini dan masih menjadi Andrew yang


baik. Seperti hal nya dirimu yang mempercayakan keselamatanmu di bawahku saat


ini. Aku juga yakin kalau kau tidak akan mengkhianatiku…” tukas Arrio dan


segera meninggalkan Andrew yang masih terdiam di tempatnya sembari terus


berpikir tentang semua yang di ucapkan oleh Arrio barusan.


“Cepatlah masuk ke kamar dan istirahat. Lupakan dulu persaingan


kita saat ini. Kita akan kembali bersaing saat kau sudah kembali pulih seperti


dulu,” ujar Arrio lagi sebelum benar – benar menghilang dari hadapan Andrew.

__ADS_1


***


__ADS_2