
Arrio melepaskan pelukannya dari Arra dan menatap wajah gadis itu
dengan lekat. Sorot matanya yang begitu teduh membuat Arra dapat merasakannya
dengan jelas meski gadis itu tak bisa melihatnya secara langsung. Tangan ARrio
kini kembali menggenggam tangan Arra dan mengecupi buku – buku jari gadis itu
lalu menempelkan punggung tangan Arra ke pipinya.
“Aku tidak akan memaksamu menerimaku secepat ini, dan tidak akan
memaksamu mencintaiku. Cukup… kau mengetahui perasaanku dan menerimanya, lalu
aku yang akan melakukan segalanya. Untuk bisa mendapatkan dirimu, hmm…” bisik
Arrio sekali lagi dan mengecup punggung tangan Arra lembut.
Arra hanya bisa menunduk dan membiarkan air matanya kembali jatuh
dari pelupuk matanya dan mengalir ke pipinya. Dia merasa begitu bahagia
mendapat cinta yang begitu besar dari Arrio dan kehangatan dari lelaki ini.
Namun di sisi lain, dia pun tahu persis. Bahwa dirinya sudah mengkhianati
Andrew dengan menerima segala perlakuan manis dari lelaki lain, selain
kekasihnya.
Dan dia juga tak bisa lagi membohongi serta menutupi perasaannya
yang sesungguhnya. Bahwa dia sudah jatuh cinta pada Arrio. Lelaki yang selama
ini berusaha keras mendapatkan cintanya. Dia berhasil… Arrio, sudah
mendapatkannya.
***
Arrio selesai membersihkan dapur dan mencuci piring beserta semua
perkakas yang kotor. Dia tidak membiarkan Arra menyentuh semua itu lagi dengan
kedua tangannya. Gadis nya itu sangat istimewa, dan tidak akan dia sembarangan
memperlakukan Arra terlebih setelah percakapan singkat mereka tadi.
“Rio. Kalau belum selesai, biar aku membantumu ya..?” ujar Arra
dan melongokkan kepalanya di pintu dapur.
“Hmm… sudah selesai sayang, jangan khawatir. Duduklah di sana ya,
habiskan teh hangatmu dan setelah ini aku akan mengantarkanmu tidur di kamar,”
kata Arrio setengah berteriak.
Arrio mempercepat gerakannya dan segera menghampiri Arra yang
__ADS_1
tengah menunggunya. Dia tersenyum lagi pada Arra dan meraih tangan gadis itu.
“Sudah larut malam sekarang sayang, jam 12 lewat. Ayo tidur, hmm?”
ajak Arrio pada Arra.
“Iya, aku juga sudah mengantuk…”
Arra membalas genggaman tangan Arrio dan mengikuti langkah Arrio
yang menuntunnya kembali ke kamar di lantai dua rumah itu. Arrio benar – benar
menjaga gadis itu sepenuhnya karena dia terus melangkah di samping gadis itu
dan menjaga setiap langkah Arra setiap dia menaiki tangga rumahnya agar tak
terluka.
“Hati – hati, perhatikan langkahmu. Rasakan ujung tangganya
sayang. Perlahan saja, aku disini…” kata – kata itu terus di bisikkan oleh
Arrio dengan kedua tangannya menahan lengan dan menggenggam tangan Arra.
Sampai akhirnya mereka sampai di kamar Arra. Pun dengan Arrio yang
membukakan pintu kamarnya dan menuntun gadis itu sampai ke ranjangnya.
“Minumannya ada di meja dekat ranjangmu, kalau kau haus, kau bisa
langsung meminumnya ya. Aku sudah mengisinya sampai penuh. Dan jangan takut
tak akan terluka.” Arrio memberikan instruksinya.
“Hmm, aku mengerti Rio…” jawab Arra sambil mengangguk kecil.
“Ini, ada ponsel. Taruh ini di dekat bantalmu, kalau terjadi
sesuatu. Nyalakan saja kuncinya dan katakan ‘Arrio’ maka dia akan langsung menghubungkannya dengan ponselku,” kata Arrio lagi,
“cobalah sayang…” pinta lelaki itu.
Arra mengikuti instruksi Arrio. Dia menekan tombol kunci dan
membuat layar ponselnya menyala, setelahnya dia mendekatkan bibirnya ke arah
ponsel dan berkata “Arrio!”. Dan benar saja, seperti apa yang Arrio ucapkan,
ponsel Arrio kini bordering dan Arrio sedikit menggeser posisi tubuhnya untuk
menjauh dari Arra.
“Ya sayang,” jawab Arrio melalui panggilan telepon itu.
“A-aku hanya mencoba teleponnya,” balas Arra dengan suara
tercekat.
“Aku tahu, aku sedang memandangmu dari sini,” balas Arrio lagi.
__ADS_1
“Memandangku?” Arra sungguh tak mengerti dengan apa yang di maksud
oleh Arrio.
“Kau, sangat cantik. Dengan cahaya bulan yang menyinar wajahmu.
Kau benar – benar… sangat cantik!” puji Arrio dengan mata yang tak lepas
memandang wajah Arra.
Langkah Arrio kini kembali mendekati gadis itu perlahan dan tanpa
melepaskan pandangannya dari wajah Arra. Arrio menyukai setiap gerak gerik
gadis nya yang malam ini terasa begitu berbeda.
“Aku mencintaimu…”
Bukan! Bukan Arrio yang mengatakan itu. namun Arra… gadis itu,
dengan begitu tiba – tiba menyatakan perasaannya pada Arrio dan membuat lelaki
itu tercenung sesaat hingga menghentikan langkahnya. Air matanya mengalir
dengan tangan yang gemetar sembari memegang ponsel di tangan kanannya.
“Arrio…? Apa kau?”
Arra tak mampu melanjutkan ucapannya. Karena Arrio yang
mempercepat langkahnya setelah tersadar dari lamunannya segera membungkam bibir
gadis itu dengan ciuman hangatnya.
Tangan Arrio merengkuh tubuh Arra, dengan satu tangannya yang
menahan kepala gadis itu dan membuat wajahnya langsung menghadap pada Arrio.
Dan saat itu juga, Arrio mendaratkan bibirnya pada bibir Arra. Mengecupnya
lembut dan begitu hangat, dan semakin panas tiap detiknya.
Kecupan lembut itu kini mulai berubah menjadi lumatan kecil di
setiap sudut bibir Arra. Gadis itu sempat terkejut dan hampir melepaskan diri
dari Arrio. Namun entah apa yang mendorongnya hingga dia akhirnya menrima
setiap sentuhan Arrio sekali lagi, untuk malam ini. Sekaligus, ciuman ini dan
semuanya. Dia begitu menikmati apapun yang Arrio berikan hingga menutup matanya
dan mengikuti setiap gerakan Arrio pada bibirnya.
Bahkan saat tangan Arrio mulai naik dan meraba tubuhnya sekalipun,
Arra tetap diam dan membiarkan semuanya seolah ini adalah sesuatu yang benar
karena dia mencintai Arrio dengan seluruh hati dan raganya.
__ADS_1
***