Cruel Fate

Cruel Fate
Part 17.2


__ADS_3

“Hati – hati dengan segala kemungkinan yang ada mulai saat


ini Arrio. Kau tahu, penyatuanmu itu pasti akan menarik perhatian para Iblis


yang merasa terancam dengan penyatuan malaikat utama dengan penyembuhnya.


Meskipun belum sepenuhnya resmi, tapi apa yang sudah kau jalani bersama Arra


sampai malam tadi. sudah cukup untuk membuat pihak Darrick terancam dengan


kehancurannya, kau mengerti maksudku kan?” Athens kini mulai mengoceh dengan


segala kekhawatirannya tanpa mempedulikan wajah bahagia Arrio yang terus


terpancar sejak pagi tadi.


“Ya… tanpa kau minta kak. Aku akan menjaga gadisku dengan


baik…” jawab Arrio santai.


“Kau sama sekali tak memahami situasi ini Arrio? Mereka juga


mengancam pasukan kita. Hal ini bisa saja membuat pasukan Darrick menyerang


kita lebih cepat dari yang sebelumnya kita perhitungkan!” ujar Athens yang


masih frustasi dengan sikap santai Arrio.


“Api birumu… siapkan dia untuk melindungi sang penyembuh,”


tegas Arsen yang di angguki oleh Arrio.


“Sudah ku tinggalkan sebagian kekuatanku bersamanya semalam.


Bersamaan dengan penyatuan kami,” jawab Arrio.


“Baguslah. Oh ya, Arsen… kau temui saja segera Aiden dan


beritahukan soal penyatuan ini dan tanyakan tentang bagaimana sikap ayahnya nanti.”


Athens meminta pada Arsen dan segera di sanggupi oleh malaikat itu.


Arsen dengan cepat melesat ke atas dan meninggalkan Arrio


bersama Athens guna menemui Aiden. Sementara itu, Arrio sendiri melirik ke arah


kamar Andrew yang sejak tadi terasa begitu sunyi. Dia tahu, Andrew sudah bangun


dan mungkin saja mendengar semua pembicaraan mereka.


Bukan soal identitasnya yang Arrio khawatirkan. Namun jika


Andrew tahu bahwa Arra sudah menyerahkan cintanya pada Arrio. Entah apa yang


akan di lakukan pria itu sementara dia mungkin saja tahu cara memberi informasi


pada para iblis melalui luka yang di torehkan oleh para iblis beberapa waktu


yang lalu.


“Aku mau berpamitan dengan Arra dulu sebelum pergi. Kau bisa


menengok Andrew selagi aku bertemu Arra,” kata Arrio dan di angguki oleh


Athens.


***


Arrio membuka pintu kamar Arra perlahan dan dia sudah tak


menemukan sosok gadis itu lagi di balik selimut putih tebal yang semalam


menempel di tubuhnya.

__ADS_1


“Arra… sayang…” panggil Arrio.


“Aku di kamar mandi! Tunggu sebentar!” teriak Arra.


Arrio mengulas senyum tipis dan kembali menunggu gadis


pujaannya itu.


Arra seperti baru teringat akan yang dia katakan dan


kenyataan bahwa handuknya masih ada di meja yang ada di depan pintu kamar


mandi. Sementara Arrio sudah masuk ke dalam kamarnya. Hingga dia akhirnya sadar


dan kembali membuka pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya ke pintu.


“Rio… kamu dimana?” tanya Arra.


Tanpa dia sadari bahwa posisi Arrio yang berada di


hadapannya dan tengah memegang handuk miliknya dan tersenyum jahil.


Arrio melangkah mundur dan mengambil jarak dari Arra sambil


terus memandang wajah gadis itu.


“Kenapa Arra?” lirih Arrio agar suaranya terdengar agak


jauh.


“Ehmm.. itu, handukku…”


“Kau lupa bawa handuk?”celetuk Arrio.


“Iya…” cicit Arra.


“Kalau begitu biarkan saja. Kan hanya aku yang melihat kamu


disini,” ucap Arrio lagi.


Dia tahu apa yang semalam dia lakukan dengan Arrio. Dan dia


tahu Arrio sudah melihat semuanya. Tapi tetap saja, semalam itu rasanya


kesadaran Arra tidak penuh dan Arrio membuatnya lupa akan rasa malu. Tapi


sekarang? Saat air dingin baru saja mengguyur kepalanya dan membuat dirinya


sadar sepenuhnya. Tidak mungkin dia akan membiarkan Arrio melihat tubuh


polosnya sekali lagi.


Apalagi ini pagi hari…


“Hahahaha… aku bercanda sayang, ini handuknya,” Arrio


menyerahkan handuk itu pada Arra dan mencekal tangan Arra yang akan menutup


pintu kamar mandi kembali. “Aku tak punya waktu banyak karena harus pergi


sekarang, jadi aku pamit padamu begini saja ya sayang… Aku berangkat dulu, kamu


jangan lupa makan dan jangan mengerjakan pekerjaan rumah apapun karena aku


sudah membereskan semuanya. Hmm?” Arrio berbisik tepat di depan wajah Arra dan


membuat Arra merasakan deru nafas lelaki itu.


“Y-ya… aku tidak akan melakukan apapun. Tapi, aku harus…”


“Kau boleh merawat Andrew dan belajar. Tapi tidak untuk


pekerjaan rumah,” tegas Arrio, malaikat itu menggenggam tangan Arra dan

__ADS_1


menciumnya. “Aku membawamu kesini untuk menjadi Ratuku, jadi aku tidak ingin


kau melakukan hal semacam itu,” pinta Arrio.


“Kalau memasak, untukmu juga?” tanya Arra lagi.


“Tunggu aku pulang ya sayang, aku akan membantumu,” ucapnya


lagi.


“Hmm.. aku mengerti,” balas Arra.


“Aku mencintaimu, Arra…” Arrio mengecup kening dan bibir


Arra sekilas lalu pergi sementara Arra memekik senang dan seperti orang gila


sepeninggal Arrio. Yang tanpa dia tahu, Arrio mendengar teriakannnya dan


tertawa renyah mengetahui reaksi gadisnya.


***


“Kau itu pamitan pada Arra dengan cara apa sih? Lama sekali,


aku sampai bosan menunggu di sini,” keluh Athens pada Arrio saat malaikat itu


datang.


“Kau tahu lah. Bagaimana… aku harus memberikannya kecupan


dimana – mana dan juga--”


“Stop Arrio!” Athens memandang Arrio dan bergumam, “kau


menjijikkan! Dasar Budak Cinta!”


Sementara itu Arrio hanya bisa tertawa renyah mendengar apa


yang Athens katakan. Harinya hari ini sangat menyenangkan hingga dia hampir tak


ingin menghiraukan apapun yang bisa mengubah mood baik nya hari ini. Dia akan


tetap bahagia selama Arra berada di sisinya.


***


Sementara itu, di tempat lain, Arsen terus mencari


keberadaan Aiden yang seolah menghilang. Dia sudah menanyakan pada setiap


penjaga di sana, namun tak menemukan jawaban yang memuaskan. Terakhir kali,


katanya Aiden berada di rumahnya. Namun ibunya bahkan tak tahu keberadaan


malaikat itu. apa iya, Arsen harus menghentakkan kakinya ke bumi agar bisa


membuat Aiden muncul ke permukaan?


“Aiden kau sebenarnya ada di mana?” Arsen hampir saja


terbang ke tempat lain. Saat seorang pengawalnya datang dan menghampirinya


dengan satu informasi.


“Benarkah? Dimana dia sekarang?”


Selesai menerima laporan itu, Arsen menjejakkan kakinya ke


tanah dan segera melesat terbang menuju ke sebuah tempat yang hanya bisa di


jangkau oleh malaikat utama termasuk dirinya.


“Aiden, apa yang kau lakukan?” gumam Arsen melihat tingkah

__ADS_1


Aiden di dalam sana…


***


__ADS_2