
“Hati – hati dengan segala kemungkinan yang ada mulai saat
ini Arrio. Kau tahu, penyatuanmu itu pasti akan menarik perhatian para Iblis
yang merasa terancam dengan penyatuan malaikat utama dengan penyembuhnya.
Meskipun belum sepenuhnya resmi, tapi apa yang sudah kau jalani bersama Arra
sampai malam tadi. sudah cukup untuk membuat pihak Darrick terancam dengan
kehancurannya, kau mengerti maksudku kan?” Athens kini mulai mengoceh dengan
segala kekhawatirannya tanpa mempedulikan wajah bahagia Arrio yang terus
terpancar sejak pagi tadi.
“Ya… tanpa kau minta kak. Aku akan menjaga gadisku dengan
baik…” jawab Arrio santai.
“Kau sama sekali tak memahami situasi ini Arrio? Mereka juga
mengancam pasukan kita. Hal ini bisa saja membuat pasukan Darrick menyerang
kita lebih cepat dari yang sebelumnya kita perhitungkan!” ujar Athens yang
masih frustasi dengan sikap santai Arrio.
“Api birumu… siapkan dia untuk melindungi sang penyembuh,”
tegas Arsen yang di angguki oleh Arrio.
“Sudah ku tinggalkan sebagian kekuatanku bersamanya semalam.
Bersamaan dengan penyatuan kami,” jawab Arrio.
“Baguslah. Oh ya, Arsen… kau temui saja segera Aiden dan
beritahukan soal penyatuan ini dan tanyakan tentang bagaimana sikap ayahnya nanti.”
Athens meminta pada Arsen dan segera di sanggupi oleh malaikat itu.
Arsen dengan cepat melesat ke atas dan meninggalkan Arrio
bersama Athens guna menemui Aiden. Sementara itu, Arrio sendiri melirik ke arah
kamar Andrew yang sejak tadi terasa begitu sunyi. Dia tahu, Andrew sudah bangun
dan mungkin saja mendengar semua pembicaraan mereka.
Bukan soal identitasnya yang Arrio khawatirkan. Namun jika
Andrew tahu bahwa Arra sudah menyerahkan cintanya pada Arrio. Entah apa yang
akan di lakukan pria itu sementara dia mungkin saja tahu cara memberi informasi
pada para iblis melalui luka yang di torehkan oleh para iblis beberapa waktu
yang lalu.
“Aku mau berpamitan dengan Arra dulu sebelum pergi. Kau bisa
menengok Andrew selagi aku bertemu Arra,” kata Arrio dan di angguki oleh
Athens.
***
Arrio membuka pintu kamar Arra perlahan dan dia sudah tak
menemukan sosok gadis itu lagi di balik selimut putih tebal yang semalam
menempel di tubuhnya.
__ADS_1
“Arra… sayang…” panggil Arrio.
“Aku di kamar mandi! Tunggu sebentar!” teriak Arra.
Arrio mengulas senyum tipis dan kembali menunggu gadis
pujaannya itu.
Arra seperti baru teringat akan yang dia katakan dan
kenyataan bahwa handuknya masih ada di meja yang ada di depan pintu kamar
mandi. Sementara Arrio sudah masuk ke dalam kamarnya. Hingga dia akhirnya sadar
dan kembali membuka pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya ke pintu.
“Rio… kamu dimana?” tanya Arra.
Tanpa dia sadari bahwa posisi Arrio yang berada di
hadapannya dan tengah memegang handuk miliknya dan tersenyum jahil.
Arrio melangkah mundur dan mengambil jarak dari Arra sambil
terus memandang wajah gadis itu.
“Kenapa Arra?” lirih Arrio agar suaranya terdengar agak
jauh.
“Ehmm.. itu, handukku…”
“Kau lupa bawa handuk?”celetuk Arrio.
“Iya…” cicit Arra.
“Kalau begitu biarkan saja. Kan hanya aku yang melihat kamu
disini,” ucap Arrio lagi.
Dia tahu apa yang semalam dia lakukan dengan Arrio. Dan dia
tahu Arrio sudah melihat semuanya. Tapi tetap saja, semalam itu rasanya
kesadaran Arra tidak penuh dan Arrio membuatnya lupa akan rasa malu. Tapi
sekarang? Saat air dingin baru saja mengguyur kepalanya dan membuat dirinya
sadar sepenuhnya. Tidak mungkin dia akan membiarkan Arrio melihat tubuh
polosnya sekali lagi.
Apalagi ini pagi hari…
“Hahahaha… aku bercanda sayang, ini handuknya,” Arrio
menyerahkan handuk itu pada Arra dan mencekal tangan Arra yang akan menutup
pintu kamar mandi kembali. “Aku tak punya waktu banyak karena harus pergi
sekarang, jadi aku pamit padamu begini saja ya sayang… Aku berangkat dulu, kamu
jangan lupa makan dan jangan mengerjakan pekerjaan rumah apapun karena aku
sudah membereskan semuanya. Hmm?” Arrio berbisik tepat di depan wajah Arra dan
membuat Arra merasakan deru nafas lelaki itu.
“Y-ya… aku tidak akan melakukan apapun. Tapi, aku harus…”
“Kau boleh merawat Andrew dan belajar. Tapi tidak untuk
pekerjaan rumah,” tegas Arrio, malaikat itu menggenggam tangan Arra dan
__ADS_1
menciumnya. “Aku membawamu kesini untuk menjadi Ratuku, jadi aku tidak ingin
kau melakukan hal semacam itu,” pinta Arrio.
“Kalau memasak, untukmu juga?” tanya Arra lagi.
“Tunggu aku pulang ya sayang, aku akan membantumu,” ucapnya
lagi.
“Hmm.. aku mengerti,” balas Arra.
“Aku mencintaimu, Arra…” Arrio mengecup kening dan bibir
Arra sekilas lalu pergi sementara Arra memekik senang dan seperti orang gila
sepeninggal Arrio. Yang tanpa dia tahu, Arrio mendengar teriakannnya dan
tertawa renyah mengetahui reaksi gadisnya.
***
“Kau itu pamitan pada Arra dengan cara apa sih? Lama sekali,
aku sampai bosan menunggu di sini,” keluh Athens pada Arrio saat malaikat itu
datang.
“Kau tahu lah. Bagaimana… aku harus memberikannya kecupan
dimana – mana dan juga--”
“Stop Arrio!” Athens memandang Arrio dan bergumam, “kau
menjijikkan! Dasar Budak Cinta!”
Sementara itu Arrio hanya bisa tertawa renyah mendengar apa
yang Athens katakan. Harinya hari ini sangat menyenangkan hingga dia hampir tak
ingin menghiraukan apapun yang bisa mengubah mood baik nya hari ini. Dia akan
tetap bahagia selama Arra berada di sisinya.
***
Sementara itu, di tempat lain, Arsen terus mencari
keberadaan Aiden yang seolah menghilang. Dia sudah menanyakan pada setiap
penjaga di sana, namun tak menemukan jawaban yang memuaskan. Terakhir kali,
katanya Aiden berada di rumahnya. Namun ibunya bahkan tak tahu keberadaan
malaikat itu. apa iya, Arsen harus menghentakkan kakinya ke bumi agar bisa
membuat Aiden muncul ke permukaan?
“Aiden kau sebenarnya ada di mana?” Arsen hampir saja
terbang ke tempat lain. Saat seorang pengawalnya datang dan menghampirinya
dengan satu informasi.
“Benarkah? Dimana dia sekarang?”
Selesai menerima laporan itu, Arsen menjejakkan kakinya ke
tanah dan segera melesat terbang menuju ke sebuah tempat yang hanya bisa di
jangkau oleh malaikat utama termasuk dirinya.
“Aiden, apa yang kau lakukan?” gumam Arsen melihat tingkah
__ADS_1
Aiden di dalam sana…
***