
“Tapi Arrio… mereka yang di atas sana itu, siapa?” tanya Arra
lagi.
Seolah sadar, Arrio kini menatap para malaikat yang sejak
tadi melihat mereka dan tersenyum pada mereka. Dia menganggukkan kepalanya dan
entah apa yang di utarakan Arrio hingga para malaikat yang juga pengikutnya itu
kini mulai kembali ke tempat mereka masing – masing untuk mempersiapkan perang
seperti sebelumnya.
“Mereka itu keluarga untukku. Mereka yang akan melindungimu
dan semua orang baik di dunia ini…”
Arra hanya mengangguk kecil dan tersenyum mendengar jawaban
Arrio.
“Sayang, apa aku bisa menemui Andrew?” tanya Arra lagi
setelah mereka kini duduk di tepian ranjang.
Tangan Arrio dengan telaten merapihkan rambut Arra yang
berantakan tertiup angin dan menghapus jejak air mata yang tersisa di wajah
gadisnya. Dia terus memandangi kedua bola mata gadisnya yang nampak lebih
bersinar dari sebelumnya.
“Hmm boleh sayang… tapi tidak sekarang ya, mungkin besok…
dan Arra, ada yang ingin aku tanyakan padamu…” tanya Arrio.
“Soal apa?” tanya Arra lagi.
“Pertama, apa aku perlu memberikan penjelasan tambahan setelah
apa yang Aiden ceritakan padamu tadi? atau itu sudah cukup?” tanya Arrio.
“Ada yang masih ingin ku tanyakan padamu…” kata Arra.
“Tanyakan saja, aku akan menjawab semuanya dengan jujur
padamu…”
Arra tersenyum, “Aku ingin tahu apa yang terjadi saat itu.
saat kamu menyelamatkan orang tua Darrick dan mendapat fitnah, sebenarnya… apa
yang terjadi?” tanya Arra.
“Kamu hanya mau menanyakan itu?” tanya Arrio balik.
“Untuk saat ini hanya itu, tergantung bagaimana jawabanmu
nanti sayang…” jawab Arra.
Arrio yang mengerti akhirnya mulai menceritakan semua
kisahnya, dari sejak dia yang mendengar rumor tentang penyerangan para iblis,
dirinya yang mencari sosok Darrick untuk memberikan peringatan, hingga tugas
khusus yang di berikan oleh ayah Aiden yang juga Pemimpin malaikat utama saat
itu untuk menjadi panglima perang dalam malam penyerangan para iblis malam itu,
juga tentang bagaimana dirinya bisa menemukan keberadaan ibu dan adik perempuan
Darrick lalu menyelamatkan mereka, namun justru mendapatkan fitnah dan jebakan
yang membuatnya terbuang dari Dunia Atas dan berakhir di bumi dengan tugas
untuk menemukan Arra.
Semuanya di ceritakan begitu lengkap dan detail pada Arra,
__ADS_1
hingga gadis itu tiba – tiba menyebutkan satu nama yang sudah sangat lama tak
pernah di dengar ataupun di panggil oleh Arrio.
“Illona, apa kau juga dulu mencintai dia? Sama seperti kamu
mencintai aku sekarang?” pertanyaan yang tentu saja begitu berat di jawab oleh
Arrio. Bukan karena Arrio yang masih mengidamkan gadis itu, namun Arrio tahu
ini semacam pertanyaan jebakan yang akan di utarakan oleh seorang perempuan
atas mantan kekasih dari lelakinya.
Dan kali ini, Arrio merasakan langsung bagaimana kelunya
lidah Arrio untuk menjawab pertanyaan Arra yang satu ini.
“Illona itu kesalahan, kesalahan yang besar yang sangat aku
sesali sampai detik ini. Dan soal perasaanku padanya… dulu, memang aku sangat
mencintai dia, tapi… antara cintaku padanya maupun cintaku padamu itu sangat
jauh berbeda sayang…” jelas Arrio pada akhirnya.
“Apa bedanya?” Arra semakin penasaran.
“Kau sungguh ingin aku menjawab ini?” tanya Arrio balik.
Dan Arra mengangguk mantap, “tentu saja, aku ingin tahu
seberapa besar dan dalam perasaanmu pada gadis itu. dan apa mungkin kau akan
kembali padanya jika suatu saat dia kembali muncul disini…” kata Arra dengan
yakin.
“Ya Tuhan sayang… apa kau tak percaya padaku? Aku sangat
mencintaimu. Aku tak akan pernah berkhianat apalagi kembali pada Illona. Aku
kata Arrio dengan nada putus asa, “percayalah padaku…” pintanya.
“Aku hanya ingin mendengarnya lagi, langsung dari bibirmu…”
kata Arra, “apa itu sulit untuk--”
Cupp!
Arra tak sempat melanjutkan ucapannya karena Arrio kini sudah
mencium dan memagut bibirnya dengan ketat. Malaikat itu menggunakan kedua
tangannya untuk menahan tubuh dan kepala Arra agar tetap menempel padanya dan
menikmati setiap inci bibir gadis itu yang terasa begitu manis dan candu
untuknya.
Dia seolah ingin membungkam Arra dan menjawab semua rasa
cemburu dan penasaran gadis itu dengan tindakan yang terasa begitu nyata di
bandingkan hanya bicara saja.
Arrio perlahan melepaskan ciumannya hanya sekedar untuk
memberi ruang Arra bernafas dan mengambil oksigen sebelum kembali menautkan
bibirnya kembali dan memberikan ciuman dan kecupan yang tak ada habisnya.
Rasanya, bibir Arra seperti kebas karena ciuman yang terus menerus tak berjeda
dari Arrio malam itu.
Hingga setelah cukup lama, Arrio benar – benar melepaskan
ciumannya dari bibir Arra dan menempelkan keningnya di kening Arra dengan nafas
terengah yang terdengar dari keduanya secara beriringan.
__ADS_1
“Kau harus tahu satu hal sayang…” bisik Arrio dengan suara
lembutnya, “aku hanya mencintaimu, kemarin, saat ini dan untuk selamanya…” ucap
Arrio, “aku akan melindungimu dari semua yang bisa menyakitimu dengan
mempertaruhkan apapun, sekalipun itu nyawaku sendiri… karena aku mencintaimu…
sangat…” tukas Arrio sekali lagi dengan nada yang begitu lembut.
Arra tak mampu menjawab ucapan Arrio dan hanya memejamkan
matanya, membiarkan perasaan hangat itu menyebar ke seluruh hati dan tubuhnya.
Membiarkan Arrio mengekspresikan seluruh rasa cintanya dengan kembali menarik
tubuh Arra ke dalam pelukannya.
“Jangan pernah menyebutkan nama wanita lain di antara kita.
Karena tidak aka nada wanita lain di hidupku, selain dirimu… hmm?” lirih Arrio
lagi dan Arra kini mengangguk kecil, tangannya juga membalas pelukan Arrio
dengan sangat erat.
“Aku juga mencintaimu, Arrio…” balas Arra kemudian.
**
Jason dan Aksel kini menatap Arra dari atas ke bawah dan
seterusnya sampai membuat wajah gadis itu mengernyit.
“Aku… aneh ya?” tanya Arra kemudian.
“Tidak, kau tidak aneh sama sekali. Hanya saja…” Jason
menggantung ucapannya.
“Kami pertama kalinya melihatmu memandang kami seperti ini
secara langsung. Jadi terasa agak canggung dan aneh,” celetuk Aksel dengan
wajah datarnya yang membuat Jason memutar bola matanya.
“Tutup mulutmu dan jaga bicaramu! Dia calon kakak ipar
kita!” kata Jason mengingatkan.
“Tenang saja, aku tidak akan marah hanya karena hal itu.
memang seperti itu juga kenyataannya, dan aku juga mengerti jelas maksudmu…”
jawab Arra dengan senyuman.
“Yeyy! Sudah ku duga! Kakak ipar kita memang akan menjadi
orang yang paling pengertian! Terutama untukku!” pekik Aksel senang dan
menghambur memeluk Arra. “Selamat datang di rumah kak Arra. Aku harap, kau bisa
menerima aku dan Jason menjadi adikmu,” pintanya dengan mata berbinar.
“Tentu saja… aku juga berharap kalian akan menerima aku
sebagai kakak kalian nantinya…”
“Kau sudah jadi kakak kami. Kakak terbaik kami, Arr--” Jason
menutup bibirnya dan tersenyum kecil, “maksudku kak Arra. Maaf, aku kelepasan
memanggilmu…” ujar Jason.
“Tak apa, panggil saja aku Arra. Aku tak masalah selagi
kalian tak memanggilku dengan sebutan yang kasar dan menyakitkan…” ucap gadis
itu dengan lebih santai.
***
__ADS_1