
Bukan tanpa alasan Darrick semurka itu pada Arra. Ellard, panglima perang yang juga tangan kanannya sendiri tengah sekarat dan sebagian tubuhnya sudah kaku, sementara para iblis yang menyentuh tubuh Ellard dengan maksud membantu panglimanya justru merasa terbakar dan akhirnya tewas di sana. Jumlah pasukan iblis serta pertahanan semakin melemah. Darrick frustrasi, tidak tahu kekuatan macam apa yang dimiliki Arra.
“Aku tak tahu kalau penguasa iblis bisa merasakan ketakutan, karena manusia,” ujar Arra.
“Kau bukan manusia! Pengawal!” teriak Darrick.
“Ya, tuanku!” Lapor dua orang iblis dengan tombak di tangannya.
“Bunuh gadis itu dengan cara paling kejam! Sekarang!” perintah Darrick. “Kirimkan abu tubuhnya kepada malaikat utama!”
“Mereka tidak akan bisa menyentuhku. Sekalipun tombak itu menusuk, kupastikan, seluruh iblis akan hancur hingga tiap inci!” ujar Arra lagi dengan sengit.
Sementara di dalam hatinya, Arra berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan Aksel maupun Jason. Atau Arrio jika memang bisa. Dia ingin meminta bantuan, dan memberikan informasi tentang apa yang tengah terjadi di tempat ini.
“Jason… Jason… Aksel….” Arra terus memanggil nama adik Arrio di dalam pikiran dan hatinya.
“Arra!” Aksel yang mendengar suara Arra dalam kepalanya, memfokuskan pendengaran dan berkonsentrasi penuh. Malaikat muda itu juga segera masuk ke dalam tendanya sendiri untuk mendapat suasana tenang.
“Mereka akan membunuhku. Aku membunuh Ellard!” kata Arra.
Aksel yang mendengar bahwa Arra membunuh Ellard seakan tak percaya. Bagaimana mungkin gadis itu mampu membunuh seorang Panglima Perang tertinggi dari para iblis itu sendirian? Apa yang sebenarnya terjadi apda gadis itu? Namun, Aksel merasa itu tak penting untuk di pertanyakan saat ini. Karena bisa mengetahui keadaan Arra dan berkomunikasi dengan kakak iparnya jauh lebih baik untuk saat ini.
__ADS_1
“Kau akan aman. Tetaplah tenang. Kami akan menyelamatkanmu!” Sekali lagi, Aksel akan menjadi kunci dari keselamatan Arra.
**
Di tempat lain, August—ayah Aiden—tengah merasa cemas. Dia sudah mendengar langsung kabar bahwa Arrio berhasil menemukan sang penyembuh yang tak lain adalah jodohnya. Dia benci saat menyadari bahwa segala rencananya gagal sejak awal.
Usahanya membunuh Arra dengan menugaskan Illona menabrak mobil yang ditumpangi oleh keluarga Arra. Usahanya membunuh Arrio dengan membuat Illona menuangkan racun, justru membuat gadis yang menjadi umpan untuk menghancurkan Arrio berbalik menjadi pertemuan Arra dan Arrio.
Posisinya sebagai pemimpin dari para malaikat utama terancam. Dulu, saat ayah Arrio dan keluarganya terpandang di kalangan para malaikat, sosok Arrio lebih disegani ketimbang Aiden, putranya sendiri. Dan sekarang, saat August sudah susah payah menjatuhkan keluarga itu atas tuduhan pengkhianatan, membuang Arrio jauh dari surga dan memberikan tugas yang mustahil sebagai hukuman, nyatanya, peperangan yang seharusnya menjadi genderang kemenangan menjadi terompet kekalahan bagi August.
Kehancuran surga ada di depan mata. Dia tak bisa memungkiri kalau dirinya tak bisa mengatasi ini sendiri. Bahkan setelah kehadiran Athens maupun Arsen sekalipun, August butuh Arrio untuk mengatasi semuanya.
Pengaruh Arrio memang tak pernah hilang atau berkurang secuil pun meski sudah terusir dari surga dalam waktu yang lama. Pengikut setianya masih lebih banyak dari yang dimiliki August. Bahkan kekuatan yang dimiliki Arrio sebenarnya mampu mengalahkan August dengan begitu mudah. Dia adalah malaikat dengan kekuatan yang tak bisa ditakar.
“Aiden?” August berbalik dan melihat putranya memasuki ruangan lengkap dengan memakai baju zirahnya. Pedang dan busur juga sudah terpasang di tubuhnya.
“Kenapa kau berpakaian seperti itu, anakku? Apa perang sudah akan terjadi?” tanya August.
Hal yang tak pernah di lakukan Aiden selama hidupnya sebagai seorang anak terjadi. Aiden berlutut di hadapan ayahnya dan menunduk, menangis dengan suara bergetar.
“Aku ingin meminta maaf padamu, Ayah…” ucap Aiden dengan air mata berurai dan hati yang begitu sakit. Membuat August yang mendengarnya merasa terluka.
__ADS_1
“Apa maksudmu nak? Kau ingin minta maaf untuk apa?” tanya August yang tak mengerti dengan maksud ucapan sang anak.
“Aku ingin minta maaf pada Ayah sebelum aku pergi berperang, Ayah. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku rasa… ini akan jadi perang terakhir untukku. Aku tak bisa berjanji padamu, bahwa aku akan pulang ke rumah dalam kondisi selamat atau utuh,” kata Aiden, membuat hati August teriris.
“Kau pasti selamat. Aku percaya padamu.” August menguatkan dirinya. Sementara Aiden hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang ayah.
“Aku pergi, Ayah. Anggaplah ini sebagai penebus dosa atas apa yang Ayah lakukan selama ini, dan Ayah sembunyikan dariku….” Kata-kata Aiden segera menyentak August. Dia tak menyangka putranya mengetahui dan tetap diam.
Belum sempat August membalas ucapan sang anak, Aiden sudah pergi ke medan perang dengan hati hancur karena hingga akhir sekali pun, sang ayah tak pernah berniat memperbaiki keadaan dan meminta maaf.
**
“Aksel! Ayo cepat!” teriak Jason dari luar tenda yang sama sekali tak di jawab oleh Aksel.
Malaikat muda itu lebih memilih kemnbali berkonsentrasi untuk mendengarkan setiap informasi yang tengah di berikan oleh Arra melalui telepatinya. Dan beberapa kali, Aksel nampak tersentak juga terkejut mendengar kenyataan yang di ceritakan oleh Arra pada dirinya.
Bagaimana cara gadis itu membunuh sang Panglima Perang yang berusaha melecehkan dirinya dengan kedua tangannya sendiri. Juga memberitahu pada Aksel di tenda mana dirinya berada. Juga berapa jumlah pengawal yang menjaganya di tempat itu besefrta senjata yang mereka bawa untuk menyakitinya dan mengancam nyawa Arra.
“Aku mengerti kak. Aku sudah memahami maksud dari semua pesan yang kau berikan. Akan aku sampaikan pada semuanya, bertahanlah sebentar lagi karena aku dan Jason yang akan datang untuk menjemputmu. Jangan pernah berhenti untuk terus terhubung dengan ku, Kak… bertahanlah, aku mohon…” ucap Aksel dalam hatinya.
Malaikat muda itu membuka matanya tepat saat Jason masuk ke dalam tenda dengan wajah kesal karena teriakannya yang tak di jawab. Namun, belum sempat Jason melayangkan protesnya, Aksel sudah lebih dulu menghentikan itu dengan ucapannya.
__ADS_1
“Kak Arra di sekap di tenda besar berwarna hitam yang tidak jauh dari tenda milik Ellard. Dan panglima itu sudah terbunuh di tangan kak Arra…” tukas Aksel yang membuat Jason ternganga tak percaya.
****