Cruel Fate

Cruel Fate
Part 17.1


__ADS_3

Arrio melepaskan ciumannya dan menatap Arra sejenak. Nafasnya


tersengal, begitu pun dengan nafas Arra yang sudah terdengar sedikit tercekat


yang membuat Arrio semakin tidak bisa menahan segalanya lagi. Ibu jari Arrio


naik dan mengusap lembut bibir Arra dan menatap bibir itu dengan mata bergetar.


Hingga dia kembali mengecup bibir Arra sekali lagi namun dengan lumatan yang


begitu dalam.


“Aku sangat mencintaimu…” bisik Arrio di telinga Arra dan perlahan


dia merebahkan tubuh gadis itu ke ranjang dengan dirinya yang berada tepat di


atas si gadis.


Matanya tak lepas memandang Arra sementara bibirnya terus mencium


dan menikmati ranumnya bibir gadis yang begitu dia cintai. Semuanya tampak


begitu indah di mata Arrio kini. Dia mencium kening Arra dengan sangat lembut


dan kembali berbisik untuk meminta ijinnya.


“Apa aku boleh?” tanya Arrio dan Arra hanya mampu mengangguk


kecil.


Dia tak akan menahan Arrio lagi dengan alasan apapun. Karena dia


pun mendamba lelaki itu. semua sentuhan yang Arrio berikan di tubuhnya, semua


jejak itu kini di tinggalkan oleh Arrio di setiap inci tubuhnya tanpa berjarak.


Gerakan Arrio yang begitu lembut membuat Arra semakin terbuai, juga dengan kata


cinta yang terus di dengungkan Arrio ke telinga Arra setiap kali lelaki itu


menyentuhnya.


Nafas Arra rasanya seperti panas dan pendek, ada jutaan kupu –


kupu yang menggelitik tubuhnya, perutnya dan dia hanya bisa mencengkeram lengan


juga pundak Arrio yang polos untuk melampiaskan segala perasaan yang baru


pertama kali ini dia rasakan seumur hidupnya.


“I’ll do it softly… for you…”


ucap Arrio dan setelahnya dia segera menyentak tubuhnya pada Arra.


Bibirnya mengunci bibir Arra hingga gadis itu hanya bisa


melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Arrio yang kini sudah penuh dengan


keringat. Keringat mereka berdua…. Malam itu….


Nafas Arrio semakin memburu, beriringan dengan nafas Arra yang


juga semakin tak karuan. Dia tak bisa menahan apapun yang akan meledak dalam


dirinya lagi kini. Gadis itu menutup rapat matanya dan membuka bibirnya


menikmati semua yang Arrio berikan padanya.


Sementara Arrio yang berada di atasnya kini semakin menggila, Arra


yang biasanya tampak begitu cantik, kini jutaan kali lebih menawan dan membuat


Arrio semakin buta karenanya. Cahaya bulan juga menambah kesan cantik pada


gadisnya. Juga kilatan keringat yang ada di wajah dan sekujur tubuh gadis itu


yang kini polos di hadapan Arrio.

__ADS_1


“Rio… ku mohon…” pinta Arra yang entah bagaimana bisa dia


mengatakan hal itu.


Dan seolah mengerti apa yang di ingunkan oleh gadisnya, Arrrio


mempercepat gerakannya dan memberikan apa yang Arra inginkan malam itu. Arra


dan dirinya…


Pekikan tertahan Arra malam itu adalah tanda bahwa mereka sudah


sampai pada apa yang mereka inginkan….


***


 Arrio menatap lagi


wajah gadis nya yang kini mulai tenang dengan matanya yang mulai terpejam. Dia


mengecup kening Arra dengan begitu lembut dan membisikkan kata terima kasih


untuk Arra juga ucapan yang membuat gadis itu tersenyum tanpa penyesalan.


“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, seumur hidupku…” bisik


Arrio.


Arra kini membuka matanya yang terlihat sayu, tangannya


bergerak dan berusaha meraba serta menyentuh wajah Arrio, dari kening, hidung,


mata, dan bibir lelaki itu yang berakhir dengan Arrio yang memberikannya


kecupan di telapan tangan gadis itu yang tengah merabanya.


“Jangan… tinggalkan aku…” ujar Arra.


“Tidak akan pernah…” janji Arrio pada gadis itu.


Dan setelahnya, Arra mulai menutup matanya perlahan lalu


Bersamaan dengan itu, fajar mulai menyingsing dan sinar


matahari mulai masuk ke dalam kamar Arra hari itu. Arrio sekali lagi mengecupi


wajah Arra yang tengah terlelap, memakaikannya lagi pakaian Arra yang


sebelumnya dan merapihkan segalanya. Sebelum akhirnya dia keluar dari kamar


Arra dengan perasaan yang begitu bahagia.


Dia menang…


Dia begitu lega dan begitu bahagia…


Gadisnya, kini… sudah sepenuhnya menjadi miliknya dan


selamanya… akan dia jaga dengan seluruh jiwa raganya… tanpa ada yang bisa untuk


menyentuhnya.


***


“Selamat pagi!!” Arrio begitu senang pagi ini. Dia menyapa


semua orang dengan antusias.


Termasuk Arsen dan Athens yang pagi ini sudah berada di


rumah Arrio untuk menyiapkan segala yang ada.


“Mana Aiden? Dia tak ikut?” tanya Arrio.


“Tidak, dia sedang ada urusan di sana. Mau menemui ayahnya


untuk meminta bantuan pasukan elite milik ayahnya. Dan juga, mencari informasi

__ADS_1


baru tentang pasukan musuh,” jawab Athens.


“Ahh… begitu…” jawaban Arrio dengan nada dan cara bicara seperti


itu sontak membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan pandangan yang


mengintimidasi. Seolah bingung dengan sikap Arrio pagi ini yang sangat berbeda.


“Ada apa?” tanya malaikat itu lagi, masih dengan mata yang berbinar.


“Kau sudah menyatu dengannya kan?” celetuk Arsen yang tak


memandang Arrio sama sekali dan hanya fokus pada sarapan di hadapannya.


Athens dan Jason yang mendengar itu pun langsung mengerti


apa yang di maksud Arsen dan menatap tajam pada Arrio sementara Aksel masih


terlihat bingung. Dia menatap semua malaikat – malaikat di hadapannya secara


bergantian guna mencari jawaban pasti apa yang di maksud oleh Arsen sebenarnya.


“Kak! Yang benar? Memangnya dia sudah menerimamu?” tanya


Jason terdengar antusias sekaligus tidak percaya.


“Kau… menyatu? Dengan sang penyembuh?” tanya Athens yang


terlihat hampir tersedak dan kehilangan kata – kata lagi.


Arrio tak langsung menjawab namun dia menunduk, wajahnya


yang berseri dan senyum yang hampir tak bisa lepas dari bibirnya saat mengingat


yang terjadi semalam jelas akan memberikan jawaban mutlak atas semua pertanyaan


itu. namun sekali lagi, Arsen mengucapkan satu kata yang membuat posisinya


seperti mati.


“Bulan semalam bersinar jauh lebih terang dan bahkan iblis


pun enggan menatapnya. Seolah sinarnya terasa begitu panas untuk mereka. Itu tanda


penyatuan, aku benar kan?” ujarnya.


“Ahhh! Iya! Semalam bulan sangat terang! Aku sampai mengira


kalau lampu di kamarku di ganti dengan lampu yang lebih besar. Tapi ternyata itu


cahaya bulan! Keren sekali kan?” Aksel menyaut begitu saja ucapan Arsen dengan


jawaban polosnya dan ekspresi wajah yang begitu naïf.


Sementara itu, Jason langsung menutup wajah dengan telapak


tangannya dan mendengus, “bodoh! Bukan itu maksudnya!” keluh Jason.


“Hmm… kau tahu? Dia begitu cantik semalam dan lagi… dia


mengatakan kalau dia mencintaiku,” lirih Arrio. Suaranya memang kecil, hampir


tak terdengar namun telinga malaikat mereka jelas bisa menangkap jelas jawaban


Arrio.


“Akhirnya kalian saling mencintai!” pekik Aksel senang dan


bertepuk tangan seolah merayakan sesuatu dan langsung berdiri dari tempat


duduknya.


Sementara yang lain. Athens dan Jason hanya bisa menghela


nafas dan Arsen sendiri tersenyum getir dengan sedikit kelegaan di hatinya. Setidaknya,


sekarang Arra jauh lebih mudah mendapat perlindungan dari Arrio. Karena api

__ADS_1


biru Arrio akan mengenali nya dengan sangat baik.


***


__ADS_2