
Arrio melepaskan ciumannya dan menatap Arra sejenak. Nafasnya
tersengal, begitu pun dengan nafas Arra yang sudah terdengar sedikit tercekat
yang membuat Arrio semakin tidak bisa menahan segalanya lagi. Ibu jari Arrio
naik dan mengusap lembut bibir Arra dan menatap bibir itu dengan mata bergetar.
Hingga dia kembali mengecup bibir Arra sekali lagi namun dengan lumatan yang
begitu dalam.
“Aku sangat mencintaimu…” bisik Arrio di telinga Arra dan perlahan
dia merebahkan tubuh gadis itu ke ranjang dengan dirinya yang berada tepat di
atas si gadis.
Matanya tak lepas memandang Arra sementara bibirnya terus mencium
dan menikmati ranumnya bibir gadis yang begitu dia cintai. Semuanya tampak
begitu indah di mata Arrio kini. Dia mencium kening Arra dengan sangat lembut
dan kembali berbisik untuk meminta ijinnya.
“Apa aku boleh?” tanya Arrio dan Arra hanya mampu mengangguk
kecil.
Dia tak akan menahan Arrio lagi dengan alasan apapun. Karena dia
pun mendamba lelaki itu. semua sentuhan yang Arrio berikan di tubuhnya, semua
jejak itu kini di tinggalkan oleh Arrio di setiap inci tubuhnya tanpa berjarak.
Gerakan Arrio yang begitu lembut membuat Arra semakin terbuai, juga dengan kata
cinta yang terus di dengungkan Arrio ke telinga Arra setiap kali lelaki itu
menyentuhnya.
Nafas Arra rasanya seperti panas dan pendek, ada jutaan kupu –
kupu yang menggelitik tubuhnya, perutnya dan dia hanya bisa mencengkeram lengan
juga pundak Arrio yang polos untuk melampiaskan segala perasaan yang baru
pertama kali ini dia rasakan seumur hidupnya.
“I’ll do it softly… for you…”
ucap Arrio dan setelahnya dia segera menyentak tubuhnya pada Arra.
Bibirnya mengunci bibir Arra hingga gadis itu hanya bisa
melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Arrio yang kini sudah penuh dengan
keringat. Keringat mereka berdua…. Malam itu….
Nafas Arrio semakin memburu, beriringan dengan nafas Arra yang
juga semakin tak karuan. Dia tak bisa menahan apapun yang akan meledak dalam
dirinya lagi kini. Gadis itu menutup rapat matanya dan membuka bibirnya
menikmati semua yang Arrio berikan padanya.
Sementara Arrio yang berada di atasnya kini semakin menggila, Arra
yang biasanya tampak begitu cantik, kini jutaan kali lebih menawan dan membuat
Arrio semakin buta karenanya. Cahaya bulan juga menambah kesan cantik pada
gadisnya. Juga kilatan keringat yang ada di wajah dan sekujur tubuh gadis itu
yang kini polos di hadapan Arrio.
__ADS_1
“Rio… ku mohon…” pinta Arra yang entah bagaimana bisa dia
mengatakan hal itu.
Dan seolah mengerti apa yang di ingunkan oleh gadisnya, Arrrio
mempercepat gerakannya dan memberikan apa yang Arra inginkan malam itu. Arra
dan dirinya…
Pekikan tertahan Arra malam itu adalah tanda bahwa mereka sudah
sampai pada apa yang mereka inginkan….
***
Arrio menatap lagi
wajah gadis nya yang kini mulai tenang dengan matanya yang mulai terpejam. Dia
mengecup kening Arra dengan begitu lembut dan membisikkan kata terima kasih
untuk Arra juga ucapan yang membuat gadis itu tersenyum tanpa penyesalan.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, seumur hidupku…” bisik
Arrio.
Arra kini membuka matanya yang terlihat sayu, tangannya
bergerak dan berusaha meraba serta menyentuh wajah Arrio, dari kening, hidung,
mata, dan bibir lelaki itu yang berakhir dengan Arrio yang memberikannya
kecupan di telapan tangan gadis itu yang tengah merabanya.
“Jangan… tinggalkan aku…” ujar Arra.
“Tidak akan pernah…” janji Arrio pada gadis itu.
Dan setelahnya, Arra mulai menutup matanya perlahan lalu
Bersamaan dengan itu, fajar mulai menyingsing dan sinar
matahari mulai masuk ke dalam kamar Arra hari itu. Arrio sekali lagi mengecupi
wajah Arra yang tengah terlelap, memakaikannya lagi pakaian Arra yang
sebelumnya dan merapihkan segalanya. Sebelum akhirnya dia keluar dari kamar
Arra dengan perasaan yang begitu bahagia.
Dia menang…
Dia begitu lega dan begitu bahagia…
Gadisnya, kini… sudah sepenuhnya menjadi miliknya dan
selamanya… akan dia jaga dengan seluruh jiwa raganya… tanpa ada yang bisa untuk
menyentuhnya.
***
“Selamat pagi!!” Arrio begitu senang pagi ini. Dia menyapa
semua orang dengan antusias.
Termasuk Arsen dan Athens yang pagi ini sudah berada di
rumah Arrio untuk menyiapkan segala yang ada.
“Mana Aiden? Dia tak ikut?” tanya Arrio.
“Tidak, dia sedang ada urusan di sana. Mau menemui ayahnya
untuk meminta bantuan pasukan elite milik ayahnya. Dan juga, mencari informasi
__ADS_1
baru tentang pasukan musuh,” jawab Athens.
“Ahh… begitu…” jawaban Arrio dengan nada dan cara bicara seperti
itu sontak membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan pandangan yang
mengintimidasi. Seolah bingung dengan sikap Arrio pagi ini yang sangat berbeda.
“Ada apa?” tanya malaikat itu lagi, masih dengan mata yang berbinar.
“Kau sudah menyatu dengannya kan?” celetuk Arsen yang tak
memandang Arrio sama sekali dan hanya fokus pada sarapan di hadapannya.
Athens dan Jason yang mendengar itu pun langsung mengerti
apa yang di maksud Arsen dan menatap tajam pada Arrio sementara Aksel masih
terlihat bingung. Dia menatap semua malaikat – malaikat di hadapannya secara
bergantian guna mencari jawaban pasti apa yang di maksud oleh Arsen sebenarnya.
“Kak! Yang benar? Memangnya dia sudah menerimamu?” tanya
Jason terdengar antusias sekaligus tidak percaya.
“Kau… menyatu? Dengan sang penyembuh?” tanya Athens yang
terlihat hampir tersedak dan kehilangan kata – kata lagi.
Arrio tak langsung menjawab namun dia menunduk, wajahnya
yang berseri dan senyum yang hampir tak bisa lepas dari bibirnya saat mengingat
yang terjadi semalam jelas akan memberikan jawaban mutlak atas semua pertanyaan
itu. namun sekali lagi, Arsen mengucapkan satu kata yang membuat posisinya
seperti mati.
“Bulan semalam bersinar jauh lebih terang dan bahkan iblis
pun enggan menatapnya. Seolah sinarnya terasa begitu panas untuk mereka. Itu tanda
penyatuan, aku benar kan?” ujarnya.
“Ahhh! Iya! Semalam bulan sangat terang! Aku sampai mengira
kalau lampu di kamarku di ganti dengan lampu yang lebih besar. Tapi ternyata itu
cahaya bulan! Keren sekali kan?” Aksel menyaut begitu saja ucapan Arsen dengan
jawaban polosnya dan ekspresi wajah yang begitu naïf.
Sementara itu, Jason langsung menutup wajah dengan telapak
tangannya dan mendengus, “bodoh! Bukan itu maksudnya!” keluh Jason.
“Hmm… kau tahu? Dia begitu cantik semalam dan lagi… dia
mengatakan kalau dia mencintaiku,” lirih Arrio. Suaranya memang kecil, hampir
tak terdengar namun telinga malaikat mereka jelas bisa menangkap jelas jawaban
Arrio.
“Akhirnya kalian saling mencintai!” pekik Aksel senang dan
bertepuk tangan seolah merayakan sesuatu dan langsung berdiri dari tempat
duduknya.
Sementara yang lain. Athens dan Jason hanya bisa menghela
nafas dan Arsen sendiri tersenyum getir dengan sedikit kelegaan di hatinya. Setidaknya,
sekarang Arra jauh lebih mudah mendapat perlindungan dari Arrio. Karena api
__ADS_1
biru Arrio akan mengenali nya dengan sangat baik.
***