Cruel Fate

Cruel Fate
Part 37.1


__ADS_3

Andrew terkejut saat melihat sosok Arrio sudah berdiri di sebelahnya dengan membawa satu buket bunga lily putih yang besar dengan penampilan yang sangat tampan dan bersinar. Terlihat sekali auranya, kalau dia memang bukanlah manusia. Andrew bisa melihat dengan jelas, banyak mata gadis yang langsung terpana menatap


ketampanan malaikat satu ini. Yang membuat Andrew sendiri berdecak.


Setelan jas berwarna biru gelap dengan kemeja putih yang kancingnya sengaja di lepas satu, juga bentuk tubuhnya yang tercetak jelas begitu atletis dan sepatunya yang mengkilap. Di tambah lagi, tatanan rambutnya yang begitu luar biasa memang sangat menarik perhatian.


“Kau sedang tebar pesona disini?” tanya Andrew sembari menyindir.


“Aku sedang menunggu kekasihku,” jawab Arrio tanpa menoleh.


“Ahhh… dia sedang bersenang – senang. Kau lihat kan. Dia sangat popular di antara para


pria di kampus ini. Cantik, pintar, dan baik hati. Sangat pas untuk--”


“UNTUKKU! Arra itu hanya cocok dan pas untukku!” kata Arrio yang kini dengan langkah mantap mendekati kekasihnya yang tengah bersenda gurau dengan beberapa temannya.


Memang ada yang perempuan, tapi laki – laki yang berdiri di samping gadis itu terasa sangat mengganggu pandangan Arrio. Malaikat itu beberapa kali melihat kalau si pria ingin melakukan kontak fisik dengan menyentuh tangan atau lengan kekasihnya. Atau sengaja menempelkan lengannya ke lengan Arra.


“Sialan kau!” lirih Arrio geram.


Pundak Arrio di tepuk dari belakang dan Andrew terlihat di sana.


“Namanya Harold. Dia itu lulusan terbaik. Ya… bisa dibilang, dia itu salah satu most wanted di kampus. Kau tidak tahu, ya? Kau kan dulu sempat menjadi dosen di sini,” kata Andrew dan tersenyum jahil.


“Ini tidak bisa dibiarkan!” Andrew bertepuk tangan dan tertawa saat melihat Arrio menghampiri Arra sambil menggerutu.


“Maafkan aku, Arra sayang, sedikit bermain-main,” ujar Andrew dan berlalu dari sana.


**

__ADS_1


“Kita harus sering bertukar kabar setelah kelulusan nanti,” kata Harold pada Arra.


“Ya, tentu saja. Asal nomor teleponmu tidak berubah saja.” Gadis itu tertawa.


“Nomor telepon siapa yang tidak berubah?” Arrio membuat tawa Arra terhenti. Gadis itu terkesiap, menatap Arrio yang begitu serius.


“Arr—”


“Halo, kenalkan. Aku Arrio, kekasih sekaligus calon suami Arra. Kau… siapa?” Arrio mengulurkan tangannya pada Harold.


“O-oh, astaga… maaf. Aku tak tahu Arra sudah memiliki seseorang di hatinya. Aku Harold.” Harold membalas jabatan tangan Arrio dan tersenyum canggung mendapat tatapan mengintimidasi.


“Sekarang kau sudah tahu, kan?” balas Arrio. Harold mengangguk lalu melirik Arra sekali lagi sebelum pergi dari sana.


Arrio berbalik menatap Arra dengan lekat, mencoba memperlihatkan wajah garangnya, berakting seolah marah dan cemburu saat melihat Arra bersama dengan laki-laki lain. Namun, belum sempat bibir Arrio berucap, dia justru sudah melihat air mata menetes dari kedua pelupuk mata gadis itu.


“Loh, Sayang? Kenapa kamu?”


tanpa henti, lalu pergi begitu saja meninggalkan Arrio yang tertegun sambil menggenggam buket bunga.


**


Arrio segera mengejar Arra agar gadis itu tak berlari terlalu jauh. Dan benar saja, gadis itu nampak berhenti di dekat taman tempat wisuda di langsungkan. Terlihat dia sedang berusaha melepaskan sepatu ber hak tinggi itu dari kakinya. Mungkin agar dia bisa berlari lebih cepat dan menghindari kejaran Arrio.


Namun…


Grepp


Arrio memeluk gadis itu dari belakang dan membuat tubuh Arra terasa lemas hingga sulit untuk bergerak. Otaknya menyuruh Arra pergi sejauh mungkin, tapi hatinya menyuruh gadis itu tetap diam dan merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


“Maafkan aku sayang… aku minta maaf. Maaf karena aku terlalu lama membuatmu menunggu dan tak


pernah memberikanmu kabar. Aku benar – benar minta maaf…” bisik Arrio sangat lembut di telinga Arra.


Membuat air mata gadis itu meleleh tak tertahan hingga mengalir di pipinya.


“Kau jahat! Jahat!” lirih gadis itu sambil terus menangis, sementara Arrio masih memeluknya sangat erat.


Arrio kemudian membalikkan tubuh Arra agar menghadap padanya dan tangannya naik untuk menyeka


air mata gadisnya.


“Sssttt… nanti riasanmu rusak sayang…” kata Arrio.


“Biar saja! Aku tak peduli lagi dengan riasan! Toh aku tetap lulus meskipun tak memakai riasan!” ujar Arra dengan kesal.


Arrio kembali merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dan mengusap lembut punggung Arra. Wajahnya di benamkan ke ceruk leher gadis itu dan ikut meneteskan air mata. Rasa bersalah itu menjalar ke seluruh hatinya, dia tahu kalau dirinya sudah sangat menyakiti hati Arra yang menunggunya begitu lama. Janjinya sekali lagi


tak bisa dia penuhi untuk secepatnya kembali ke dalam pelukan Arra.


“Aku--”


“Jangan pernah berjanji apapun lagi padaku, Rio! Aku tak akan percaya lagi pada setiap janjimu! Kau sudah dua kali membohongiku!” kata Arra dan melepaskan pelukannya dari Arrio.


Gadis itu lalu pergi begitu saja dan berjalan menjauh dengan bertelanjang kaki.


Arrio menghela nafas dan mengucapkan mantranya, mengarahkannya pada gadisnya yang tengah terluka dan kecewa, juga menangis di sana. Setidaknya, dia ingin telapak kaki Arra tetap dingin dan nyaman tanpa terluka meskipun tak beralaskan apapun saat menyentuh aspal panas siang ini. Juga awan yang mengikuti langkah gadis itu, memastikan teriknya matahari tak akan mengganggu gadisnya.


“Maafkan aku Arra…” lirih Arrio.

__ADS_1


Malaikat itu bukan tak mau mengejar lagi gadisnya. Dia akan tetap mengikuti langkah Arra meskipun dari jarak yang agak jauh, Arrio berniat memberikan Arra cukup waktu untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum mereka bisa bicara dengan keadaan lebih baik. Dari hati ke hati. Bukan dengan air mata dan penuh emosi seperti saat ini.


__ADS_2