Cruel Fate

Cruel Fate
Part 38.1


__ADS_3

“Aarrgghhh! Kenapa harus kecoa?” pekik Arrio kesal.


“Kalau kau keberatan, kau bisa berhenti sekarang.” Arra muncul di belakang Arrio yang tengah membersihkan rak buku di loteng tokonya. Lelaki itu paling benci kecoa atau serangga jenis apa pun. Dan membersihkan tempat itu berarti memberikan peluang lebih besar untuknya bertemu dengan makhluk-makhluk semacam itu.


Benar saja. Baru beberapa menit Arrio berada di sana, dia sudah disambut puluhan kecoa yang siap menerkam hidup-hidup. Lelaki itu bahkan sempat berpikir apa ada peternakan kecoa di tempat ini. Lagipula, kenapa Arra memintanya melakukan pekerjaan kotor semacam itu bahkan tanpa mengizinkannya menggunakan kekuatan ajaib sebagai malaikat.


Ya Tuhan! Andai dia tak mencintai gadis itu melebihi hidupnya, mungkin Arra sudah berakhir menjadi daging panggang karena kekuatan api yang Arrio miliki.


“Sayang, aku bukannya keberatan. Tapi kecoa ini—”


“Kau takut pada kecoa? Yang benar?” Mata Arra membulat dan sudut bibirnya naik menahan tawa.


“Tidak! Kata siapa aku takut? Aku hanya—uhm… geli! Iya, aku hanya geli pada mereka!”


“Geli dan takut itu beda tipis, Sayang.” kata Arra.


“Ya, terserah. Aku akan membersihkan ini dulu. Janji, setelah ini… jangan mendiamkan aku lagi. Kau tahu tidak, sih, bagaimana aku merindukanmu?” protes Arrio.


Arra memiringkan kepalanya, “Kau tahu tidak, sih, bagaimana aku menunggu sedikit kabar darimu selama ini?” Dia membalik ucapan Arrio.


Arrio sendiri hanya bisa diam tanpa bicara lagi. Dia yakin kalau tidak akan pernah menang melawan Arra.


**


Arrio baru saja selesai membersihkan semuanya dan beristirahat. Dia mengambil jus jeruk buatan Arra dan meminumnya dalam sekali teguk. Membersihkan semua itu sendiri dan tanpa menggunakan kekuatan ajaibnya memang cara tepat untuk memberikan hukuman atas apa yang dia lakukan pada Arra.


Gadis itu sendiri nampak begitu puas karena sudah berhasil mengerjai kekasihnya. Sekaligus membalaskan dendamnya selama ini. Tapi, melihat Arrio yang kelelahan dengan peluh yang membasahi hampir sekujur tubuhnya, membuat Arra juga merasa kasihan pada lelaki itu. Dengan nafas yang masih tersengal dan tangan kanannya yang

__ADS_1


beberapa kali mengusapkan handuk basah ke keningnya sendiri untuk menyeka keringat, akhirnya membuat Arra luluh dan akhirnya mendekati Arrio.


“Capek ya?” tanya gadis itu.


“Capek, tapi senang…” jawab Arrio.


“Senang kenapa?” tanya Arra lagi.


“Karena aku disini bersamamu. Mau selelah apapun aku disini, itu hanya sekejap saja aku rasakan. Karena begitu aku melihat wajahmu ini…” Arrio langsung menoleh dan menyentuh wajah Arra sembari tersenyum, “semua rasa lelahku langsung lenyap di bawa angin…” lanjutnya.


“Cih! Kau memang perayu ulung ya!” kata Arra dengan wajah memerah.


Senyum gadis itu tak elak langsung mengembang dengan sempurna saat mendengar ucapan kekasihnya.


Pipinya bersemu merah dan membuat Arrio sangat gemas hingga ingin sekali menggigit kedua pipi gembung kekasihnya itu.


“Enak. Pintar sekali kan istriku membuat jus jeruk. Manis… mirip seperti senyummu…” lagi, Arrio melancarkan rayuannya untuk Arra.


“Apa kau memang seperti ini sejak dulu, atau memang aku yang merasa kau sangat berubah sejak kita terakhir kali bertemu dua tahun lalu? Atau kau sudah sering bilang begini pada bidadari lain disana, dan sekarang menerapkannya padaku?” tanya Arra menyelidik sambil menatap tajam mata kekasihnya.


“Astaga… kau masih belum percaya padaku, sayang? Sudah ku katakan berulang kali bukan, aku sama sekali tak pernah tertarik dengan bidadari manapun. Melirik saja tidak! Aku hanya mencintaimu, memandangmu, mengagumimu, dan menginginkanmu. Itu saja sayang… percayalah padaku,” kata Arrio lagi.


Arra kini tersenyum dan membelai wajah Arrio, “aku percaya kok. Hanya memastikan saja.”


Jawaban gadis itu tak pelak membuat Arrio bingung, apalagi yang mau di pastikan kekasihnya? Apa dia perlu membuka dadanya sendiri dan menyerahkan jantungnya untuk membuktikan bagaimana besar cinta Arrio pada Arra?


“Rio… aku boleh bertanya padamu, sesuatu?” celetuk Arra tiba – tiba.

__ADS_1


Arrio segera menoleh dan memandang kekasihnya dengan pandangan bertanya. Perasaannya mendadak tak nyaman, seperti akan ada kalimat mematikan yang di ucapkan kekasihnya itu pada dirinya sekarang.


“Tanya saja…” jawab Arrio lirih.


“Ini… tentang dirimu. Aku sempat mendengarnya dulu saat di sana, tapi aku belum pernah punya kesempatan untuk menanyakannya langsung padamu karena keadaan kala itu. Jadi… kalau kau tak keberatan…” Arra menggantung ucapannya.


“Katakan saja sayang, apa yang ingin kau ketahui dariku?” tanya Arrio seolah bisa membaca pikiran gadis itu.


“Illona…”


Pyass! Jantung Arrio rasanya hampir lepas dari tempatnya, nafasnya langsung tercekat dan dadanya terasa begitu sesak saat Arra meloloskan nama itu dari bibirnya. Wajah Arrio pun seketika memucat dan bibirnya kelu.


“Mantan kekasihmu, dia… manusia kan? Aku mendengarnya dari Jason dan Aksel, kalau kau sangat mencintai dia dan sangat tergila – gila padanya, hingga kau menentang keluarga dan juga teman – temanmu sendiri. Dia… seperti apa?” tanya Arra dengan polosnya.


“Maksudmu seperti apa, apa?” tanya Arrio balik.


“Hmm… bagaimana ya aku menjelaskannya. Aku ingin tahu bagaimana dia dan hubungan kalian. Seperti kau yang tahu soal Andrew juga hubungan kami dulu…” kata Arra.


Arrio nampak menghela nafas berat dan panjang. Matanya terpejam. Illona adalah kenangan terburuk sekaligus menyakitkan untuknya selain penyerangan Darrick dan juga di usirnya dia dari dunia atas.


Dia merasa menjadi malaikat paling kotor yang melebihi iblis saat bersama dengan gadis itu. Gadis yang ternyata adalah alat yang di gunakan August untuk menjebaknya menemukan Arra, sang penyembuh. Gadis yang mati – matian dia bela, namun justru menusuk dan menyakitinya begitu dala. Dan juga gadis yang sama, yang ingin


menghancurkan Arra dan membunuh seluruh keluarga Arra, gadis yang paling dia cintai.


“Aku akan menjelaskan semuanya, menceritakannya padamu. Tanpa ada rahasia lagi.”


****

__ADS_1


__ADS_2