Cruel Fate

Cruel Fate
Part 18.2


__ADS_3

“Arra… apa kau, mencintai Arrio?” pertanyaan itu meluncur


begitu saja dari bibir Andrew sambil menatap nanar gadis yang duduk di


hadapannya.


Gadis yang selama ini tak bisa dia sentuh dan begitu dia


jaga dan di lindungi dengan mempertaruhkan segalanya. Kini dia melihatnya


begitu berbeda sejak semalam. Ya, semalam saat tak sengaja atau mungkin


sebenarnya sudah di duga sebelumnya oleh Andrew. Saat dirinya menunggu


kedatangan Arrio untuk membicarakan soal keinginannya pulang kembali ke


rumahnya dan melanjutkan pengobatan di tempat itu.


Tapi bukan Arrio yang dia temui, melainkan sebuah kenyataan


pahit yang akhirnya dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Yaitu saat Arra,


gadis itu dengan sukarela dan bahagia memasak untuk Arrio dan bercanda dengan


pria itu sambil bercengkerama. Dan yang jauh lebih menyakitkan lagi bagi Andrew


adalah, bagaimana Arra menutup mata dan membiarkan Arrio mencium bibirnya


dengan lembut malam itu. seolah gadis itu begitu pasrah dan menyukai setiap


sentuhan Arrio.


Gadis polos yang dia kenal bertahun – tahun lalu itu, kini


sudah berubah begitu banyak. Sangat banyak hingga Andrew hampir tak bisa lagi


mengenalinya.


Air mata Andrew kini hanya bisa mengalir tanpa suara


sedikitpun. Dia menahan rasa sakitnya semalaman penuh dan tak bisa lagi menahan


segalanya kini. Begitu dia menatap langsung mata gadisnya.


“Arra, jawab pertanyaanku…” pinta Andrew sekali lagi pada


Arra.


“Apa yang harus aku katakan padamu, Andrew?” pertanyaan itu


lah yang keluar dari bibir Arra.


“Katakan padaku bagaimana perasaanmu sebenarnya. Apa yang


kau rasakan, padaku dan pada Arrio?” tanya Andrew sekali lagi dan menahan


tangisnya. Atau lebih tepatnya, menahan suara tangis yang mungkin bisa


terdengar.


“Maafkan aku Andrew… aku minta maaf, Andrew…” ujar Arra dan


tak mampu lagi menahan tangisnya di hadapan Andrew.


Dia tak bisa berbohong, membohongi Andrew, Arrio bahkan


dirinya sendiri dan keadaan yang ada. Dia tak mampu. Arra hanya bisa memohon


maaf dan ampunan dari Arrio dan Andrew karena dia begitu buruk sebagai seorang


gadis.


“Jangan minta maaf sayang. Aku mengerti, aku tahu kalau hari


ini pasti akan segera datang. Aku tahu kalau kamu akhirnya akan memilih Arrio.


Daripada aku….”


Sakit… sakit yang teramat sangat, begitu terasa di benak

__ADS_1


Andrew dan juga Arra. Rasa bersalah, kecewa dan merutuki diri sendiri kini di


alami gadis itu.  sementara Andrew terasa


bebannya seolah terlepas dari pundaknya, namun di waktu yang sama pula. Ada


batu besar yang menindih dadanya hingga sulit untuk menghela nafas meski hanya


sekejap. Sesakit ini rupanya, melepaskan dan merelakan seorang gadis yang kita


cintai.


“Tapi aku tidak akan mundur dan menyerah begitu saja dengan


keadaan. Aku tak akan melepaskanmu begitu saja untuk Arrio. Meskipun aku ingin


merelakan segalanya, tapi aku juga ingin mengatakan padamu. Bahwa aku masih


akan memperjuangkan dirimu, layaknya Arrio yang juga berjuang keras untuk


mendapatkanmu dari pelukanku. Maka aku juga akan berjuang untuk bisa


mengembalikan dirimu untukku…” ujar Andrew.


Andrew memajukan tubuhnya dan berniat memberikan ciuman


terakhirnya pada Arra. Namun dia segera berhenti dan tersenyum kecut saat


mengingat lagi dan menyadari bahwa dia sudah tak pantas melakukan hal ini pada


Arra. Karena dirinya sudah tak lagi ada di hati gadis itu. maka Andrew hanya


mencium keningnya sebentar dan menangis dalam diam sembari melakukannya.


“Aku akan terus mencintaimu Arra. Sampai kau minta aku untuk


berhenti mencintaimu dan berhenti mengharapkanmu… aku akan terus mencintaimu.


Dan sampai kau… memintaku untuk melepaskanmu, maka aku akan tetap disini… di


sisimu…” putus Andrew dan dia segera beranjak dari tempat itu lalu menghilang


dari hadapan Arra.


kemudian menangis menjerit karena rasa sakit yang dia sebabkan sendiri.


***


---Menjelang Senja\, Oxford University---


Aksel baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya dengan kuis


menyebalkan dari dosen yang paling menyebalkan di Oxford. Menurut dia tentu


saja. Dosen yang sering membuat Aksel uring – uringan seperti anak gadis dan


suka mengomel sampai rasanya kepala Aksel mau pecah mendengar ocehannya.


“Kenapa wajahmu muram begitu?” Jason muncul secara tiba –


tiba dan emngejutkan Aksel. Hingga malaikat muda itu ingin sekali memukul


kepala Jason dengan botol minum yang di pegangnya.


“Kau membuatku terkejut! Sialan!” umpat Aksel.


“Ohoo! Belajar dari mana kau kata umpatan seperti itu?” ejek


Jason.


“Dari mu dan banyak orang di sini!” ungkap Aksel dengan nada


kesal.


“Jangan marah – marah begitu padaku Aksel. Kau masih tetap


sangat menggemaskan meskipun memasang wajah cemberut begitu, kau tahu kan?”


goda Jason lagi.

__ADS_1


“Kau mau pulang kan?” tanya Aksel balik pada Jason.


“Justru itu! itu alasan aku menemui dirimu disini, aku


sepertinya akan pulang sedikit terlambat. Ada tugas kelompok yang harus di


kerjakan segera karena besok aku harus ikut presentasi. Kau tak masalah kan


kalau pulang duluan? Mau bawa mobil?” tanya Jason.


“Tidak. Kau saja, nanti kau pulang malam kan? Aku akan


menggunakan punggungku untuk sampai ke rumah. Sayap putihku ini juga butuh di


fungsikan sesekali agar tak terlalu kaku,” ungkap Aksel.


“Kau yakin? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?” tanya


Jason kurang yakin, karena bagaimanapun mereka tetap harus menyembunyikan


identitas mereka di tempat ini.


“Aku sangat yakin. Kau lupa kalau aku juga punya mantra


pelindung?” timpal malaikat muda itu lagi.


“Baiklah kalau begitu, aku mengerti. Tapi kau harus tetap


hati – hati ya. Ingat kalau banyak iblis yang masih berkeliaran di sekitar kota


Oxford saat ini. Jangan sampai aroma pelindungmu tercium oleh mereka…” ingat


Jason memperingatkan Aksel.


“Aku mengerti. Aku pulang dulu ya,” pamit Aksel pada Jason


yang di jawab dengan anggukan singkat.


***


Aksel baru saja mengembangkan sayapnya saat dia sudah naik


ke lantai atap gedung kampusnya. Ada sebuah firasat tak nyaman yang membuatnya


ingin sekali cepat sampai rumah hari itu. itu pula sebabnya dia menolak menggunakan


mobil karena dia tahu betul bahwa ini jam sibuk yang mungkin menyebabkan


kemacetan di beberapa titik di Oxford.


Malaikat muda itu menengadahkan tangan kanannya dan


bergumam, “Tin Aspida!”


Tak lama, sebuah angin kecil muncul dari telapak tangannya,


Aksel menatap langit sejenak dan menatap angin di tangannya hingga tak lama,


warna angin itu kini begitu mirip dengan warna langit dan awan yang ada di atas


langit Oxford. Telapak tangannya kini di tempatkan ke atas kepalanya dan


membuat angina kecil itu menyelubungi seluruh tubuh Aksel hingga tak lagi


terlihat. Sayap malaikatnya pun mulai terkembang dan warna putih nya kini


semakin memudar, berubah menjadi transparan.


Setelah memastikan semuanya sempurna, malaikat muda itu


menjejakkan kakinya sedikit ke tanah dan membuat tubuhnya melayang sempurna


dengan sayap yang mengembang begitu indah meski tak terlihat oleh mata iblis


maupun manusia.


Aksel nampaknya puas dengan apa yang dia lakukan dan


tersenyum sebelum akhirnya melesat dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke

__ADS_1


rumahnya.


***


__ADS_2