
“Arra… apa kau, mencintai Arrio?” pertanyaan itu meluncur
begitu saja dari bibir Andrew sambil menatap nanar gadis yang duduk di
hadapannya.
Gadis yang selama ini tak bisa dia sentuh dan begitu dia
jaga dan di lindungi dengan mempertaruhkan segalanya. Kini dia melihatnya
begitu berbeda sejak semalam. Ya, semalam saat tak sengaja atau mungkin
sebenarnya sudah di duga sebelumnya oleh Andrew. Saat dirinya menunggu
kedatangan Arrio untuk membicarakan soal keinginannya pulang kembali ke
rumahnya dan melanjutkan pengobatan di tempat itu.
Tapi bukan Arrio yang dia temui, melainkan sebuah kenyataan
pahit yang akhirnya dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Yaitu saat Arra,
gadis itu dengan sukarela dan bahagia memasak untuk Arrio dan bercanda dengan
pria itu sambil bercengkerama. Dan yang jauh lebih menyakitkan lagi bagi Andrew
adalah, bagaimana Arra menutup mata dan membiarkan Arrio mencium bibirnya
dengan lembut malam itu. seolah gadis itu begitu pasrah dan menyukai setiap
sentuhan Arrio.
Gadis polos yang dia kenal bertahun – tahun lalu itu, kini
sudah berubah begitu banyak. Sangat banyak hingga Andrew hampir tak bisa lagi
mengenalinya.
Air mata Andrew kini hanya bisa mengalir tanpa suara
sedikitpun. Dia menahan rasa sakitnya semalaman penuh dan tak bisa lagi menahan
segalanya kini. Begitu dia menatap langsung mata gadisnya.
“Arra, jawab pertanyaanku…” pinta Andrew sekali lagi pada
Arra.
“Apa yang harus aku katakan padamu, Andrew?” pertanyaan itu
lah yang keluar dari bibir Arra.
“Katakan padaku bagaimana perasaanmu sebenarnya. Apa yang
kau rasakan, padaku dan pada Arrio?” tanya Andrew sekali lagi dan menahan
tangisnya. Atau lebih tepatnya, menahan suara tangis yang mungkin bisa
terdengar.
“Maafkan aku Andrew… aku minta maaf, Andrew…” ujar Arra dan
tak mampu lagi menahan tangisnya di hadapan Andrew.
Dia tak bisa berbohong, membohongi Andrew, Arrio bahkan
dirinya sendiri dan keadaan yang ada. Dia tak mampu. Arra hanya bisa memohon
maaf dan ampunan dari Arrio dan Andrew karena dia begitu buruk sebagai seorang
gadis.
“Jangan minta maaf sayang. Aku mengerti, aku tahu kalau hari
ini pasti akan segera datang. Aku tahu kalau kamu akhirnya akan memilih Arrio.
Daripada aku….”
Sakit… sakit yang teramat sangat, begitu terasa di benak
__ADS_1
Andrew dan juga Arra. Rasa bersalah, kecewa dan merutuki diri sendiri kini di
alami gadis itu. sementara Andrew terasa
bebannya seolah terlepas dari pundaknya, namun di waktu yang sama pula. Ada
batu besar yang menindih dadanya hingga sulit untuk menghela nafas meski hanya
sekejap. Sesakit ini rupanya, melepaskan dan merelakan seorang gadis yang kita
cintai.
“Tapi aku tidak akan mundur dan menyerah begitu saja dengan
keadaan. Aku tak akan melepaskanmu begitu saja untuk Arrio. Meskipun aku ingin
merelakan segalanya, tapi aku juga ingin mengatakan padamu. Bahwa aku masih
akan memperjuangkan dirimu, layaknya Arrio yang juga berjuang keras untuk
mendapatkanmu dari pelukanku. Maka aku juga akan berjuang untuk bisa
mengembalikan dirimu untukku…” ujar Andrew.
Andrew memajukan tubuhnya dan berniat memberikan ciuman
terakhirnya pada Arra. Namun dia segera berhenti dan tersenyum kecut saat
mengingat lagi dan menyadari bahwa dia sudah tak pantas melakukan hal ini pada
Arra. Karena dirinya sudah tak lagi ada di hati gadis itu. maka Andrew hanya
mencium keningnya sebentar dan menangis dalam diam sembari melakukannya.
“Aku akan terus mencintaimu Arra. Sampai kau minta aku untuk
berhenti mencintaimu dan berhenti mengharapkanmu… aku akan terus mencintaimu.
Dan sampai kau… memintaku untuk melepaskanmu, maka aku akan tetap disini… di
sisimu…” putus Andrew dan dia segera beranjak dari tempat itu lalu menghilang
dari hadapan Arra.
kemudian menangis menjerit karena rasa sakit yang dia sebabkan sendiri.
***
---Menjelang Senja\, Oxford University---
Aksel baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya dengan kuis
menyebalkan dari dosen yang paling menyebalkan di Oxford. Menurut dia tentu
saja. Dosen yang sering membuat Aksel uring – uringan seperti anak gadis dan
suka mengomel sampai rasanya kepala Aksel mau pecah mendengar ocehannya.
“Kenapa wajahmu muram begitu?” Jason muncul secara tiba –
tiba dan emngejutkan Aksel. Hingga malaikat muda itu ingin sekali memukul
kepala Jason dengan botol minum yang di pegangnya.
“Kau membuatku terkejut! Sialan!” umpat Aksel.
“Ohoo! Belajar dari mana kau kata umpatan seperti itu?” ejek
Jason.
“Dari mu dan banyak orang di sini!” ungkap Aksel dengan nada
kesal.
“Jangan marah – marah begitu padaku Aksel. Kau masih tetap
sangat menggemaskan meskipun memasang wajah cemberut begitu, kau tahu kan?”
goda Jason lagi.
__ADS_1
“Kau mau pulang kan?” tanya Aksel balik pada Jason.
“Justru itu! itu alasan aku menemui dirimu disini, aku
sepertinya akan pulang sedikit terlambat. Ada tugas kelompok yang harus di
kerjakan segera karena besok aku harus ikut presentasi. Kau tak masalah kan
kalau pulang duluan? Mau bawa mobil?” tanya Jason.
“Tidak. Kau saja, nanti kau pulang malam kan? Aku akan
menggunakan punggungku untuk sampai ke rumah. Sayap putihku ini juga butuh di
fungsikan sesekali agar tak terlalu kaku,” ungkap Aksel.
“Kau yakin? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?” tanya
Jason kurang yakin, karena bagaimanapun mereka tetap harus menyembunyikan
identitas mereka di tempat ini.
“Aku sangat yakin. Kau lupa kalau aku juga punya mantra
pelindung?” timpal malaikat muda itu lagi.
“Baiklah kalau begitu, aku mengerti. Tapi kau harus tetap
hati – hati ya. Ingat kalau banyak iblis yang masih berkeliaran di sekitar kota
Oxford saat ini. Jangan sampai aroma pelindungmu tercium oleh mereka…” ingat
Jason memperingatkan Aksel.
“Aku mengerti. Aku pulang dulu ya,” pamit Aksel pada Jason
yang di jawab dengan anggukan singkat.
***
Aksel baru saja mengembangkan sayapnya saat dia sudah naik
ke lantai atap gedung kampusnya. Ada sebuah firasat tak nyaman yang membuatnya
ingin sekali cepat sampai rumah hari itu. itu pula sebabnya dia menolak menggunakan
mobil karena dia tahu betul bahwa ini jam sibuk yang mungkin menyebabkan
kemacetan di beberapa titik di Oxford.
Malaikat muda itu menengadahkan tangan kanannya dan
bergumam, “Tin Aspida!”
Tak lama, sebuah angin kecil muncul dari telapak tangannya,
Aksel menatap langit sejenak dan menatap angin di tangannya hingga tak lama,
warna angin itu kini begitu mirip dengan warna langit dan awan yang ada di atas
langit Oxford. Telapak tangannya kini di tempatkan ke atas kepalanya dan
membuat angina kecil itu menyelubungi seluruh tubuh Aksel hingga tak lagi
terlihat. Sayap malaikatnya pun mulai terkembang dan warna putih nya kini
semakin memudar, berubah menjadi transparan.
Setelah memastikan semuanya sempurna, malaikat muda itu
menjejakkan kakinya sedikit ke tanah dan membuat tubuhnya melayang sempurna
dengan sayap yang mengembang begitu indah meski tak terlihat oleh mata iblis
maupun manusia.
Aksel nampaknya puas dengan apa yang dia lakukan dan
tersenyum sebelum akhirnya melesat dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke
__ADS_1
rumahnya.
***