Cruel Fate

Cruel Fate
Part 26.1


__ADS_3

Phoenix hari ini akan terbang kembali ke


pangkuan Arrio, dia akan mengirimkan jawaban dari Aksel yang telah menyisipkan


sebuah surat beserta sebuah peta yang di gambar langsung oleh Aksel. Sebuah


peta yang merujuk pada ruang rahasia yang berada di salah satu ruangan yang


menjadi tempat berkumpul dari Arrio, Jason dan Aksel di rumah mereka yang


berada di dunia atas. Di dalam ruangan itulah, busur beserta panah yang


memiliki kekuatan besar itu berada.


Aksel ingat, kalau kakeknya sempat menitipkan


benda itu untuk di simpan di tempat bermain mereka sesaat sebelum pergi


berkelana dan akhirnya meninggal dunia di makan usia. Dia juga sempat berpesan


pada Aksel untuk hanya menunjukkan benda itu pada Arrio seorang. Bahkan,


orangtua mereka pun tak boleh melihatnya.


Aksel pikir, hal itu karena sang kakek yang


ingin mewariskan senjata tersebut pada Arrio saat Arrio sudah siap. Namun,


ternyata benda ini justru muncul di saat peperangan akan di mulai. Dan Arrio


lah, yang entah dengan kekuatan batin macam apa. Mampu mengetahui bahwa dirinya


yang menjadi tempat paling tepat untuk mengetahui keberadaan benda keramat


tersebut.


“Phoen…” Aksel membulatkan matanya saat dia


melihat yang ada di hadapannya.


Phoenix, burung besar yang biasanya cukup


ganas berada di sekitar orang asing bahkan terkadang terasa begitu ingin


menyerang dirinya dan juga Jason. Kini justru bertengger dengan tenang di


lengan Arra. Gadis yang di sebut penyembuh itu, dan bahkan menerima belaian


dari Arra di kepalanya yang tengah tersenyum memandangi Phoenix dengan sangat


takjub.


“Oh, Aksel! Maaf aku bermain dengan


peliharaanmu sembarangan. Dia terlihat kelaparan tadi, jadi aku beri dia


makan…” kata Arra dengan wajah polosnya dan menunjukkan telapak tangannya yang


menggenggam remahan biskuit dan beberapa kali di patuk oleh Phoenix untuk di


makan.


“D-dia… makan itu?” tanya Aksel.


“Iya… dia suka kok!” kata Arra lagi.


Aksel kini benar – benar di buat diam. Sangat


diam dan kehilangan kata – kata. Demi apapun, ribuan tahun drinya hidup dan

__ADS_1


mengenal burung bernama Phoenix ini, tak pernah sekalipun dia melihat Phoenix


mau bertengger di lengan orang lain kecuali Arrio yang memang adalah


majikannya. Bahkan saat burung itu datang untuk menemuinya kemarin, Phoenix


memilih menunggu di jendela dan Aksel yang menghampirinya.


“Aksel.. kau… kenapa?” tanya Arra yang bingung


melihat raut wajah Aksel.


“Ahh… tidak. Lupakan saja,” Aksel kini


mendekat dan duduk di hadapan Arra. Dia mengikatkan suratnya di kaki Phoenix


dengan sangat berhati – hati.


“Itu surat untuk siapa?” tanya Arra.


“Kak Arrio…” jawab Aksel singkat.


“Arrio? Apa dia baik – baik saja? Kapan dia


akan pulang? Kenapa dia tak juga muncul? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya


Arra secara beruntun.


“Tanyakan saja pada burung besar ini, kak…”


jawab Aksel.


“Hah? Aku tak mengerti maksudmu…”


“Burung ini adalah milik kak Arrio. Bukan


milikku, dia mengirimnya kesini untuk memberi pesan penting padaku. Dan aku


“Dia… baik – baik saja kan?” tanya Arra lagi.


“Hmm.. dia baik – baik saja. Tapi mungkin dia


akan segera kesini untuk menjemputmu dan membawamu pergi jauh dari sini…” jawab


Aksel. “Tak perlu khawatir, kau cukup bersiap saja. Kapanpun itu, pasti ada


waktunya untuk kak Arra pergi dan melihat semuanya…” lanjut Aksel.


“Apa ini juga masih berhubungan dengan para


malaikat?” tanya Arra.


“Jelas, ini sangat berhubungan dengan semua


itu. Apa yang kakak lihat di tempat ini. Semua ‘keajaiban’ yang tercipta


disini. Masih belum ada seujung kuku dari semua yang akan kakak lihat nantinya


di dunia atas. Jadi bersiaplah…” kata Aksel lagi pada gadis itu.


**


Ruangan besar dengan nuansa putih hampir di


setiap sudut itu terasa begitu senyap dan dingin. Aura di dalamnya begitu


mencekam, hingga rasanya tidak akan ada yang mau melewati tempat itu untuk saat


ini. Di dalamnya, terdapat dua malaikat dengan jarak usia yang terpaut cukup

__ADS_1


jauh namun dengan kekuatan yang hampir sama besar berdiri saling berhadapan.


Tatapan keduanya sangat tenang dan sendu, seolah mengisyaratkan bahwa tak ada


kejengkelan atau emosi yang muncul dari keduanya. Namun demikian, mereka berdua


pun sama – sama tahu, bahwa dalam dirinya masing – masing, mereka saling


menyalahkan dan membenci. Kebencian yang begitu besar hingga salah satunya


menjadi dalang dari sebuah fitnah besar yang menghancurkan hidup malaikat


lainnya.


“Apa yang membawamu kesini? Apa kau ingin


mengajukan afiliasi padaku?” tanya August. Ayah Aiden, sang pemimpin tertua


dari klan malaikat terbesar saat ini.


Arrio tersenyum tipis, “aku sangsi kalau kau


akan memberikan bantuan padaku. Meski hanya sebuah ucapan semangat. Aku juga


yakin, anda sudah mendengar bagaimana kondisi dari pasukan kami. Karena banyak


sekali mata dan telinga yang mendengar dan melihat ke arah kami, namun melapor padamu…”


jawab Arrio.


“Jadi apa tujuanmu kesini?” tanya August lagi.


“Lindungi kedua orangtuaku, selama masa


peperangan ini dan setelah peperangan ini selesai…” kata Arrio.


August terkejut mendengar penuturan Arrio.


“Aku tahu, permintaanku terdengar tak masuk


akal untukmu. Namun, aku merasa hanya dirimu yang mampu dan pantas untuk aku


percayai atas keselamatan nyawa kedua orangtuaku. Aku yakin, kau bisa


melindungi mereka dengan sangat baik melebihi diriku sendiri…” kata Arrio lagi.


“Kau yakin dengan ucapanmu?” tanya August.


“tentu saja. Aku sangat yakin. Lagipula, aku


tahu kalian bersahabat begitu dekat. Orang yang sangat di percayai oleh ayahku,


pasti adalah orang baik yang akan sangat loyal padanya. Aku tak memintamu untuk


mengerahkan pasukan besar untuk mengawal mereka. Cukup awasi saja, dan pastikan


bahwa mereka aman di rumah mereka. Tanpa kekurangan suatu apapun…” ujar Arrio


dan menunduk. Memohon pada musuh besarnya sendiri.


“Baiklah, aku mengerti. Aku akan berusaha


sebaik mungkin melindungi mereka. Dengan segala yang aku miliki… kau tak perlu


khawatir dengan itu semua…” kata August.


“Terima kasih… dan sebagai gantinya, aku akan


pastikan. Putramu juga akan pulang dalam keadaan yang terbaik dari semua

__ADS_1


pasukan…” tukas Arrio sebelum akhirnya pergi dari sana.


****


__ADS_2