
Phoenix hari ini akan terbang kembali ke
pangkuan Arrio, dia akan mengirimkan jawaban dari Aksel yang telah menyisipkan
sebuah surat beserta sebuah peta yang di gambar langsung oleh Aksel. Sebuah
peta yang merujuk pada ruang rahasia yang berada di salah satu ruangan yang
menjadi tempat berkumpul dari Arrio, Jason dan Aksel di rumah mereka yang
berada di dunia atas. Di dalam ruangan itulah, busur beserta panah yang
memiliki kekuatan besar itu berada.
Aksel ingat, kalau kakeknya sempat menitipkan
benda itu untuk di simpan di tempat bermain mereka sesaat sebelum pergi
berkelana dan akhirnya meninggal dunia di makan usia. Dia juga sempat berpesan
pada Aksel untuk hanya menunjukkan benda itu pada Arrio seorang. Bahkan,
orangtua mereka pun tak boleh melihatnya.
Aksel pikir, hal itu karena sang kakek yang
ingin mewariskan senjata tersebut pada Arrio saat Arrio sudah siap. Namun,
ternyata benda ini justru muncul di saat peperangan akan di mulai. Dan Arrio
lah, yang entah dengan kekuatan batin macam apa. Mampu mengetahui bahwa dirinya
yang menjadi tempat paling tepat untuk mengetahui keberadaan benda keramat
tersebut.
“Phoen…” Aksel membulatkan matanya saat dia
melihat yang ada di hadapannya.
Phoenix, burung besar yang biasanya cukup
ganas berada di sekitar orang asing bahkan terkadang terasa begitu ingin
menyerang dirinya dan juga Jason. Kini justru bertengger dengan tenang di
lengan Arra. Gadis yang di sebut penyembuh itu, dan bahkan menerima belaian
dari Arra di kepalanya yang tengah tersenyum memandangi Phoenix dengan sangat
takjub.
“Oh, Aksel! Maaf aku bermain dengan
peliharaanmu sembarangan. Dia terlihat kelaparan tadi, jadi aku beri dia
makan…” kata Arra dengan wajah polosnya dan menunjukkan telapak tangannya yang
menggenggam remahan biskuit dan beberapa kali di patuk oleh Phoenix untuk di
makan.
“D-dia… makan itu?” tanya Aksel.
“Iya… dia suka kok!” kata Arra lagi.
Aksel kini benar – benar di buat diam. Sangat
diam dan kehilangan kata – kata. Demi apapun, ribuan tahun drinya hidup dan
__ADS_1
mengenal burung bernama Phoenix ini, tak pernah sekalipun dia melihat Phoenix
mau bertengger di lengan orang lain kecuali Arrio yang memang adalah
majikannya. Bahkan saat burung itu datang untuk menemuinya kemarin, Phoenix
memilih menunggu di jendela dan Aksel yang menghampirinya.
“Aksel.. kau… kenapa?” tanya Arra yang bingung
melihat raut wajah Aksel.
“Ahh… tidak. Lupakan saja,” Aksel kini
mendekat dan duduk di hadapan Arra. Dia mengikatkan suratnya di kaki Phoenix
dengan sangat berhati – hati.
“Itu surat untuk siapa?” tanya Arra.
“Kak Arrio…” jawab Aksel singkat.
“Arrio? Apa dia baik – baik saja? Kapan dia
akan pulang? Kenapa dia tak juga muncul? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya
Arra secara beruntun.
“Tanyakan saja pada burung besar ini, kak…”
jawab Aksel.
“Hah? Aku tak mengerti maksudmu…”
“Burung ini adalah milik kak Arrio. Bukan
milikku, dia mengirimnya kesini untuk memberi pesan penting padaku. Dan aku
“Dia… baik – baik saja kan?” tanya Arra lagi.
“Hmm.. dia baik – baik saja. Tapi mungkin dia
akan segera kesini untuk menjemputmu dan membawamu pergi jauh dari sini…” jawab
Aksel. “Tak perlu khawatir, kau cukup bersiap saja. Kapanpun itu, pasti ada
waktunya untuk kak Arra pergi dan melihat semuanya…” lanjut Aksel.
“Apa ini juga masih berhubungan dengan para
malaikat?” tanya Arra.
“Jelas, ini sangat berhubungan dengan semua
itu. Apa yang kakak lihat di tempat ini. Semua ‘keajaiban’ yang tercipta
disini. Masih belum ada seujung kuku dari semua yang akan kakak lihat nantinya
di dunia atas. Jadi bersiaplah…” kata Aksel lagi pada gadis itu.
**
Ruangan besar dengan nuansa putih hampir di
setiap sudut itu terasa begitu senyap dan dingin. Aura di dalamnya begitu
mencekam, hingga rasanya tidak akan ada yang mau melewati tempat itu untuk saat
ini. Di dalamnya, terdapat dua malaikat dengan jarak usia yang terpaut cukup
__ADS_1
jauh namun dengan kekuatan yang hampir sama besar berdiri saling berhadapan.
Tatapan keduanya sangat tenang dan sendu, seolah mengisyaratkan bahwa tak ada
kejengkelan atau emosi yang muncul dari keduanya. Namun demikian, mereka berdua
pun sama – sama tahu, bahwa dalam dirinya masing – masing, mereka saling
menyalahkan dan membenci. Kebencian yang begitu besar hingga salah satunya
menjadi dalang dari sebuah fitnah besar yang menghancurkan hidup malaikat
lainnya.
“Apa yang membawamu kesini? Apa kau ingin
mengajukan afiliasi padaku?” tanya August. Ayah Aiden, sang pemimpin tertua
dari klan malaikat terbesar saat ini.
Arrio tersenyum tipis, “aku sangsi kalau kau
akan memberikan bantuan padaku. Meski hanya sebuah ucapan semangat. Aku juga
yakin, anda sudah mendengar bagaimana kondisi dari pasukan kami. Karena banyak
sekali mata dan telinga yang mendengar dan melihat ke arah kami, namun melapor padamu…”
jawab Arrio.
“Jadi apa tujuanmu kesini?” tanya August lagi.
“Lindungi kedua orangtuaku, selama masa
peperangan ini dan setelah peperangan ini selesai…” kata Arrio.
August terkejut mendengar penuturan Arrio.
“Aku tahu, permintaanku terdengar tak masuk
akal untukmu. Namun, aku merasa hanya dirimu yang mampu dan pantas untuk aku
percayai atas keselamatan nyawa kedua orangtuaku. Aku yakin, kau bisa
melindungi mereka dengan sangat baik melebihi diriku sendiri…” kata Arrio lagi.
“Kau yakin dengan ucapanmu?” tanya August.
“tentu saja. Aku sangat yakin. Lagipula, aku
tahu kalian bersahabat begitu dekat. Orang yang sangat di percayai oleh ayahku,
pasti adalah orang baik yang akan sangat loyal padanya. Aku tak memintamu untuk
mengerahkan pasukan besar untuk mengawal mereka. Cukup awasi saja, dan pastikan
bahwa mereka aman di rumah mereka. Tanpa kekurangan suatu apapun…” ujar Arrio
dan menunduk. Memohon pada musuh besarnya sendiri.
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan berusaha
sebaik mungkin melindungi mereka. Dengan segala yang aku miliki… kau tak perlu
khawatir dengan itu semua…” kata August.
“Terima kasih… dan sebagai gantinya, aku akan
pastikan. Putramu juga akan pulang dalam keadaan yang terbaik dari semua
__ADS_1
pasukan…” tukas Arrio sebelum akhirnya pergi dari sana.
****