
Sandira berada di depan pintu kamar Smith. Sandira dengan takut – takut namun berusaha menyembunyikan ketakutannya itu mengetuk pintu kamar Smith. Smith menyuruh Sandira untuk masuk kedalalam kamarnya itu. Dengan takut – takut, Sandira memasuki kamar tersebut.
Sandira melihat sekeliling kamar Smith. Kamar yang menurut Sandira terlalu luas jika di huni oleh satu orang saja. Smith menatap Sandira dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapan Smith itu membuat Sandira jadi semakin merasa ketakutan hingga membuat Sandira mengengam ujung kaosnya dengan erat.
" Kau masih tak ingin mengeluarkan suaramu, huh ? " ucap Smith. Sandira hanya diam saja menundukkan kepalanya tak menjawab pertanyaan Smith.
"Karena pasti akan melelahkan mengeluarkan suaraku pada orang – orang seperti kalian. Orang – orang yang sama sekali tak peduli atau percaya padaku. Jika aku berbicara pada kalian mungkin akan semakin menghabiskan tenagaku yang hanya sedikit tersisa karena pekerjaan yang selalu menumpuk setiap harinya. Sejujurnya aku sangat lelah, " ucap Sandira dalam hati.
" Oya, aku dengar kau punya seorang adik yang sedang kuliah di luar negeri. Apa adikmu tau keadaanmu sekarang ini ? " ucap Smith yang membuat Sandira terbelalak dan menatapnya. Smith tersenyum melihat ekspresi wajah Sandira.
" Apa kau mau memberi kabar padanya ? Aku akan mengijinkanmu mengirim pesan padanya. Beritahu dia jika kau sedang sibuk dan tak bisa di ganggu jadi kau tak bisa menghubunginya sementara, " ucap Smith yang membuat Sandira menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Smith memberikan ponselnya pada Sandira sambil tersenyum licik. Sandira mengambil ponsel Smith sambil tersenyum manis. Melihat hal itu Smith jelas terkejut dan terpaku.
__ADS_1
" Terima kasih, " ucap Sandira yang membuat Smith semakin terpaku.
" Apa itu tadi ? Kenapa dia tersenyum padaku dan berbicara padaku ? " ucap Smith dalam hati sambil menatap Sandira yang sibuk dengan ponselnya.
Sesaat kemudian Sandira mengembalikan ponsel Smith dengan senyuman manis yang masih memancar di wajahnya. " Itu artinya adikmu tak akan khawatirkan ?" ucap Smith sambil tersenyum yang dibalas anggukan kepala oleh Sandira.
" Tapi, apa yang akan terjadi pada adikmu jika aku menggunakan kekuasaanku padanya ? Bisa saja aku membuatnya menjadi orang yang sangat sukses tapi aku juga sangat bisa menghancurkan adikmu itu bahkan dalam waktu satu jam. Aku bisa membuatnya menjadi gelandangan di Negara orang. Aku bisa mencabut beasiswanya dan bahkan bisa memasukkannya kedalam penjara. Haruskah aku melakukan hal itu karena kakaknya adalah seorang kriminal yang tak termaafkan ? Apa yang akan kau lakukan jika aku melakukan hal tersebut pada keluargamu satu – satunya? " ucap Smith yang membuat Sandira terbelalak dan airmata mulai mengalir di pipinya.
Sandira menangis mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Smith. Sedangkan Smith tersenyum senang melihat ekpresi yang di perlihatkan oleh Sandira di hadapannya itu.
" Kau tak ingin aku melakukan hal itu kan ? Itu artinya kau harus menuruti perkataanku kan ? Apapun yang aku katakan kau akan melakukannya kan ? Bukankah itu adil? " ucap Smith yang berjalan mendekati Sandira.
__ADS_1
" Kau akan melakukan apapun yang aku inginkan, kan ?" ucap Smith yang di jawab anggukan kepala oleh Sandira.
" Yang pertama, gunakan mulutmu untuk berbicara ketika aku menanyakan sesuatu padamu. Diamlah jika aku menyuruhmu diam atau memang kau harus diam. Yang kedua, tutup matamu, " ucap Smith kemudian berjalan semakin mendekati Sandira.
Sandira bingung dengan perintah Smith. " Aku bilang tutup matamu sekarang, " ucap Smith yang kemudian di turuti oleh Sandira. Senyum Smith terpancar ketika melihat Sandira menutup matanya. Tatapan mata Smith mengarah pada bibir Sandira. Bibir yang tersenyum pada Smith beberapa detik yang lalu. Berlahan, Smith semakin mendekatkan bibirnya dan bibir Sandira. Smith mencium Sandira. Menyadari hal itu, Sandira membuka matanya, melepas ciuman Smith dan menampar Smith.
" Hey! Apa kau baru saja menamparku ? Apa kau tadi menamparku?!" teriak Smith tak percaya dengan reaksi Sandira. Sandira hanya menatap Smith dengan tatapan marah untuk menanggapi pertanyaan Smith tersebut.
"Kau memang pantas mendapatkannya, pria brengsek!" ucap Sandira dalam hati.
" Baiklah, jadi kau lebih suka aku menghancurkan hidup adikmu daripada menuruti apa yang aku perintahkan kan ? Kau bahkan memukulku hanya karena aku menciummu. Asal kau tau saja, banyak wanita di luar sana yang menginginkan dicium olehku! Kau pikir kau siapa berani memukulku seperti itu?!" ucap Smith dengan marah yang membuat Sandira terbelalak.
__ADS_1
Karena itu juga, airmata Sandira akan keluar namuan Sandira menahannya.
See You Next Bab !