
Smith kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Ruangan dimana kakeknya yang sedang berbaring koma berada. Smith menghela nafasnya ketika dokter mengatakan jika tak ada perubahan sama sekali pada kakeknya itu. Smith menyuruh semua orang keluar kemudian Smith duduk di samping ranjang kakeknya, meraih tangan kakeknya kemudian mencium tangan kakeknya.
" Kakek, bangunlah, jangan terlalu lama tertidur. Aku ingin menceritakan dan berkosultasi padamu tentang banyak hal. Kakek, aku sudah membawa gadis yang telah mencelakaimu sampai membuatmu koma seperti ini. Aku pastikan dia akan membayar semuanya karena membuatmu seperti sekarang ini. Aku tau, kau tak menyukai caraku untuk menghancurkan hidup orang lain seperti yang aku lakukan pada pembunuh ibu. Tapi sekalipun kau tak menyukainya, aku benar – benar sangat marah pada mereka sehingga inilah caraku melampiaskan hal tersebut pada mereka. Apa kakek tau jika aku sangat takut kehilangan kakek? Jadi, aku mohon pada kakek bangunlah, aku sangat merindukanmu. Kakek tak boleh meninggalkan aku sedirian. Kakek tak boleh pergi seperti ibu dan ayah. Jika kakek tak ada di dunia ini, Aku takut aku tak bisa berdiri dengan tegap. Jadi, aku mohon bangunlah. Aku berjanji akan menjadi cucu yang lebih baik lagi. Aku juga berjanji tak akan terlalu banyak bekerja di luar dan menghabiskan waktuku bersamamu. Jadi, bangunlah. Mari jalan – jalan dan pergi memancing bersama. Aku akan menemani kakek memancing dan bermain golf jika kakek bangun nanti. Kakek, aku mohon bangunlah, " ucap Smith sambil meneteskan airmatanya dan mengenggam sedikit erat tangan kakeknya.
•••
Sedangkan di tempat lain. Sandira yang sedang berada di luar rumah sedang menahan udara dingin yang menampar tubuhnya. Sekalipun menggunakan baju tebal, namun udara dingin itu masih terasa menusuk tulang – tulang Sandira. Sandira memaksakan diri untuk tetap menyingkirkan salju – salju yang tak pernah habisnya itu karena hujan saljupun sedang turun.
" Ini sangat dingin , " ucap Sandira sambil mengigil kedinginan. Bibir sandira sudah terlihat membiru dan wajahnya memucat. Tubuhnya yang sedang tak sehat tak bisa menahan lebih lama lagi sehingga Sandira memilih untuk masuk kedalam rumah sebentar untuk menghangatkan diri. Namun, langkahnya terhenti ketika pengilihatannya mulai kabur. Sesaat setelah itu hanya kegelapan yang ada di lihat Sandira, kemudian Sandira terjatuh pingsan.
•••
Setelah puas menyampaikan keluh kesahnya. Smith melangkahkan kaki keluar dari ruangan kakeknya. Smith berjalan ke arah depan rumahnya, berniat untuk melihat hasil kerja Sandira. Mata Smith terbelalak ketika melihat Sandira tergeletak dengan tumpukan salju yang berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
Smith berlari mendekati Sandira dan mengecek keadaannya. Smith buru – buru menggendong Sandira ketika melihat wajah pucat dan bibir Sandira yang membiru. Smith juga menyadari suhu tubuh Sandira yang sangat panas.
Smith membawa Sandira dan berteriak untuk segara memanggilkan dokter. Smith membawa Sandira ke salah satu kamar tamu yang tersedia di rumahnya. Setelah itu, Smith membaringkan tubuh Sandira di atas ranjang kamar tersebut. Melihat tubuh Sandira yang berkeringat, membuat Smith berinisiatif untuk mengganti baju Sandira.
Smith mengambil baju tidur miliknya untuk di pakaikan pada Sandira. Awalnya Smith agak ragu membuka helai demi helai pakaian Sandira. Namun, keraguannya itu sirna ketika melihat Sandira bergumam kepanasan.
"Haruskah aku membukanya? Huh! Aku hanya ingin membantunya. Aku tak bermaksud melihat tubuhnya! Kenapa aku jadi sangat kepanasan seperti ini melihat tubuhnya? Aish! Untuk apa aku menatap tubuhnya lama \- lama! Aku harus cepat memakaikan baju padanya! Tapi, kenapa aku melakukan hal seperti ini ? Kenapa aku tak menyuruh pelayan saja melakukannya? Kenapa juga aku mengkhawatirkannya tadi ketika melihatnya pingsan? Ada apa denganku ? Ah! Mungkin saja karena aku tak mau membiarkannya mati begitu saja. Aku masih belum puas bermain – main dengannya. Ya, aku bukan mengkhawatirkannya. Ini semua hanya untuk balas dendamku padanya karena telah melukai kakekku. Permainanku kan baru di mulai! " ucap Smith dalam hati sambil mengganti baju Sandira.
"Dokter, obati dia. Aku tak akan mengempunimu jika membiarkannya mati begitu saja. Masih banyak urusan yang harus aku urus dengan gadis itu, " ucap Smith sebelum keluar ruangan.
Setelah kepergian Smith, dokter memeriksa keadaan Sandira dan memberikan infus untuk Sandira. Tiba – tiba, ponsel dokter itu berdering. Melihat layar ponselnya. Dokter itu melihat sekelilingnya dan mengecek kembali keadaan Sandira.
Setelah memastikan Sandira masih tak sadarkan diri. Dokter itu mengangkat teleponnya.
__ADS_1
" Hallo, maafkan saya tuan. Keadaan disini ? Gadis itu pingsan karena demam. Aku pikir tuan Smith mulai tertarik padanya karena tuan Smith membuat kehebohan saat melihat gadis itu pingsan, " ucap dokter tersebut kemudian melirik kearah Sandira yang masih tak sadarkan diri.
Dokter tersebut kemudian melanjutkan percakapannya tanpa menyadari jika Sandira mulai sadar.
" Baiklah. Bagaiamana dengan tuan Lory ? Apa yang harus saya lakukan padanya ? Ya, dia masih dalam keadaan koma. Baiklah, besok malam aku akan menghabisi tuan Lory. Aku akan pastikan tuan Lory meninggal karena alasan medis. Baiklah. Saya mengerti, " ucap dokter tersebut.
Sandira terbelalak kaget mendengar percakapan dokter tersebut di telepon. Namun, Sandira terus memejamkan matanya berpura – pura masih tak sadarkan diri.
" Tuan Lory ? Kakek iblis sialan itu ? Dia akan di bunuh besok malam ? Mereka benar – benar! " ucap Sandira dalam hati.
See You Next Bab !
__ADS_1