
Arrio terus terdiam setelah pertemuan mereka malam ini. Dia
menatap danau yang norak begitu tenang malam ini. Tanpa riak sedikitpun hingga
dia mendengar sebuah benda kecil di lempar ke arah danau dan menimbulkan riak
kecil sebelum akhirnya menghilang dan kembali tenang seperti semula. Bersamaan
dengan itu, langkah kaki terdengar di telinga Arrio. Dengan hawa dingin yang
mendominasi.
"Athens..." Lirih Arrio.
"Apa yang kau pikirkan? Kau takut untuk pulang ke
rumahmu sendiri dan menemui dia untuk menjelaskan segalanya?" Tanya Athens
pada Arrio.
"Aku sedang merangkai kata yang baik untuk menjelaskan
segalanya pada Arra."
Athens mengernyit mendengar jawaban Arrio. "Kau butuh
merangkai kata untuk itu? Hahahahahaha...!" Tawanya meledak.
"Ada yang lucu?" Tanya Arrio.
"Bukan... Bukan lucu, tapi konyol... Hahahaha..."
Lagi, tawa Athens meledak.
"Aku tak mengerti.." ujar Arrio.
"Kau mencintainya kan?" Tanya Athens pada Arrio
sekarang.
"Jangan membuat semuanya rumit dan memutar ucapan
seperti itu Athens. Cukup katakan apa yang kau maksud sebenarnya?" Tanya
Arrio yang sudah tak sabar.
"Oke, oke... Aku mengerti.." Athens menenangkan
nafasnya dan menatap danau juga, "kalau kau memang mencintai dia. Yang
pasti kau lakukan adalah datang menemuinya dan bertemu dengannya. Tapi kau
sibuk merangkai kata. Yang kemungkinan besar justru tak akan kau pakai
menjelaskan."
Arrio masih diam tak mengerti.
"Dia hanya butuh kau bicara dengannya. Menyapanya
Arrio. Itu yang di inginkan oleh Arra. Gadis itu tak menuntut penjelasan atas
sikapmu. Asal kau berada di hadapannya dan bersikap seperti biasanya. Dia tak
akan mempermasalahkan semuanya..." Kata Athens.
"Aku tak butuh penjelasan apapun?" tanya Arrio
meyakinkan.
"Tidak! Untuk apa sih kau menjelaskan? Nantinya akan
ada penjelasan yang lebih besar yang harus kau siapkan untuk Arra. Di banding
kan semua ini..." Ujar Athens.
"Maksudmu tentang kita?"
"Ya... Tentang kebenaran semua ini dan segala yang kita
__ADS_1
dan terutama kau sembunyikan darinya selama ini..."
***
Di tempat lain, Arra yang baru saja menyuapi Andrew makan
malam. Kini menyiapkan obatnya yang ketiga untuk hari ini. Di tengah dirinya
yang menyiapkan obat untuk Andrew, dia merasakan kalau Andrew mungkin tengah
menatapnya sejak tadi dan membuat Arra cukup jengah juga tak nyaman di buatnya,
namun gadis itu masih tetap tak bergeming dan melanjutkan menyiapkan obat itu.
“Bagaimana buku yang dulu kau ingin tulis itu Arra? Apa sudah
selesai kau buat?” tanya Andrew tiba – tiba.
“Belum, aku masih harus menyiapkan skripsi ku dan segala
tugas yang tertunda selama aku disini. Jadi aku belum memikirkan untuk
melanjutkan penulisan bukunya… mungkin, lain kali…” jawab Arra.
“Arrio pasti membimbingmu selama ini untuk tugas akhirmu
kan?” tanya Andrew lagi.
“Yah.. begitulah. Dia juga cukup sibuk sepertinya dengan
banyak urusan.” Arra kemudian berjalan mendekati ranjang dimana Andrew terbaring.
Jika saja gadis itu bisa melihat, dia pasti bisa mengetahui
dengan jelas betapa wajah Andrew tampak sangat kuyu dan pucat. Bahkan rahang
dokter muda itu yang memang sejak awal terlihat cukup tajam kini semakin
terlihat tajam karena tulang pipi dan rahangnya yang semakin jelas terlihat. Berat
badannya turun drastis dan kondisi badannya masih sangat lemah. Entah racun apa
sekarang.
“Obatnya, Andrew…” Arra mengulurkan obat itu dengan air
putih.
“Terima kasih sayang…” panggilan itu kembali di lontarkan
Andrew. Dan dia melihat Arra tersenyum tipis mendengarnya. Membuat hati Andrew sedikit
membaik melihatnya.
“Andrew…” Arra tertunduk sebentar.
“Hmm, kenapa sayang?” tanya Andrew menatap wajah Arra.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi semakin
rumit tiap harinya?” tanya Arra pada Andrew. “Aku tak tahu kenapa, tapi aku
benar – benar merasa kalau kondisi saat ini sangat buruk. Aku tak bisa keluar
rumah bahkan untuk berangkat kuliah dank au yang sakit. Juga Arrio yang terus
saja menghilang tanpa memberikan penjelasan apapun padaku,” jelas Arra.
“Arrio tak pernah bertemu denganmu dan bicara dengamu?”
tanya Andrew tak percaya.
“Hmm.. dia tak pernah muncul untuk menjelaskan apapun
padaku. Dia menjauh…” ujar Arra.
“Tapi…” Andrew terdiam.
Dia yakin sekali bahwa dia sering melihat Arrio
__ADS_1
memperhatikan Arra dan mendengar bagaimana Arrio selalu memantau Arra dari
kedua adiknya maupun melihat Arra secara langsung tiap malam saat Arrio pulang
ke rumah.
Pria itu pasti akan menghampiri kamar Arra dan melihat
apakah Arra sudah tidur atau belum, mengecup kening gadis itu dan membenarkan
posisi selimut Arra yang berantakan. Bahkan terkadang, Andrew melihat Arrio
terdiam beberapa waktu sembari memandang wajah gadis itu dan menangis dalam
diam. Entah apa yang di tangisi pria itu. namun Andrew merasakan kecemasan yang
besar di tunjukkan Arrio. Dan segala perlindungan yang di berikan oleh Arrio
selama ini.
Juga, percakapan kedua adik Arrio saat melihat Arra memasak
atau mengerjakan pekerjaan rumah. Dimana mereka selalu menyebutkan bahwa Arra
adalah gadis yang begitu istimewa untuk Arrio dan tidak boleh di perlakukan
sembarangan dan harus di berikan penjagaan ekstra serta istimewa. Tapi kenapa
gadis ini justru merasa sebaliknya?
“Tapi apa Andrew?” tanya Arra.
“Tidak. Mungkin dia sedang mencari orang yang menyerangku. Kemarin
saat kami bertemu, tak sengaja saat dia pulang. Dia bilang padaku kalau dia
sangat lelah karena mencari orang – orang itu juga mengurus pekerjaannya di
kampus,” ucap Andrew.
“Benarkah? Bukan karena dia membenciku?” tanya Arra sekali
lagi. Matanya begitu berbinar.
“Membencimu? Aku rasa tidak sayang. Tidak akan ada yang bisa
untuk membencimu dengan alasan apapun. Lagipula…” Andrew menjeda ucapannya
sejenak, “Arrio itu sangat mencintaimu,” lanjut Andrew.
Bodoh! Andrew sangat bodoh mengucapkan hal gila itu.
Bagaimana bisa seorang pria bicara selembut itu tentang pria
lain yang mencintai kekasihnya? Tapi itu terjadi begitu saja. Dan mengalir
begitu saja dari bibir Andrew. Melihat bagaimana reaksi Arra, membuat Andrew
secara tak sadar mengatakan hal gila itu.
“Aku--”
“Aku sudah tahu semuanya Arra. Kami bersaing secara adil
untuk mendapatkanmu. Lebih tepatnya, dia berjuang mendapatkan dirimu dan aku
berjuang untuk mempertahankan mu di sisiku…” jelas Andrew sekali lagi dan
membuat Arra tersentak kaget.
“Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa kalian berdua melakukan
itu?”
“Karena kami mencintai satu orang gadis yang sama. Dan merasa
bahwa cinta kami pun sama besarnya padamu… juga… karena kami tahu, kau begitu
istimewa….”
__ADS_1
***