Cruel Fate

Cruel Fate
PART 15.1


__ADS_3

Arrio terus terdiam setelah pertemuan mereka malam ini. Dia


menatap danau yang norak begitu tenang malam ini. Tanpa riak sedikitpun hingga


dia mendengar sebuah benda kecil di lempar ke arah danau dan menimbulkan riak


kecil sebelum akhirnya menghilang dan kembali tenang seperti semula. Bersamaan


dengan itu, langkah kaki terdengar di telinga Arrio. Dengan hawa dingin yang


mendominasi.


"Athens..." Lirih Arrio.


"Apa yang kau pikirkan? Kau takut untuk pulang ke


rumahmu sendiri dan menemui dia untuk menjelaskan segalanya?" Tanya Athens


pada Arrio.


"Aku sedang merangkai kata yang baik untuk menjelaskan


segalanya pada Arra."


Athens mengernyit mendengar jawaban Arrio. "Kau butuh


merangkai kata untuk itu? Hahahahahaha...!" Tawanya meledak.


"Ada yang lucu?" Tanya Arrio.


"Bukan... Bukan lucu, tapi konyol... Hahahaha..."


Lagi, tawa Athens meledak.


"Aku tak mengerti.." ujar Arrio.


"Kau mencintainya kan?" Tanya Athens pada Arrio


sekarang.


"Jangan membuat semuanya rumit dan memutar ucapan


seperti itu Athens. Cukup katakan apa yang kau maksud sebenarnya?" Tanya


Arrio yang sudah tak sabar.


"Oke, oke... Aku mengerti.." Athens menenangkan


nafasnya dan menatap danau juga, "kalau kau memang mencintai dia. Yang


pasti kau lakukan adalah datang menemuinya dan bertemu dengannya. Tapi kau


sibuk merangkai kata. Yang kemungkinan besar justru tak akan kau pakai


menjelaskan."


Arrio masih diam tak mengerti.


"Dia hanya butuh kau bicara dengannya. Menyapanya


Arrio. Itu yang di inginkan oleh Arra. Gadis itu tak menuntut penjelasan atas


sikapmu. Asal kau berada di hadapannya dan bersikap seperti biasanya. Dia tak


akan mempermasalahkan semuanya..." Kata Athens.


"Aku tak butuh penjelasan apapun?" tanya Arrio


meyakinkan.


"Tidak! Untuk apa sih kau menjelaskan? Nantinya akan


ada penjelasan yang lebih besar yang harus kau siapkan untuk Arra. Di banding


kan semua ini..." Ujar Athens.


"Maksudmu tentang kita?"


"Ya... Tentang kebenaran semua ini dan segala yang kita

__ADS_1


dan terutama kau sembunyikan darinya selama ini..."


***


Di tempat lain, Arra yang baru saja menyuapi Andrew makan


malam. Kini menyiapkan obatnya yang ketiga untuk hari ini. Di tengah dirinya


yang menyiapkan obat untuk Andrew, dia merasakan kalau Andrew mungkin tengah


menatapnya sejak tadi dan membuat Arra cukup jengah juga tak nyaman di buatnya,


namun gadis itu masih tetap tak bergeming dan melanjutkan menyiapkan obat itu.


“Bagaimana buku yang dulu kau ingin tulis itu Arra? Apa sudah


selesai kau buat?” tanya Andrew tiba – tiba.


“Belum, aku masih harus menyiapkan skripsi ku dan segala


tugas yang tertunda selama aku disini. Jadi aku belum memikirkan untuk


melanjutkan penulisan bukunya… mungkin, lain kali…” jawab Arra.


“Arrio pasti membimbingmu selama ini untuk tugas akhirmu


kan?” tanya Andrew lagi.


“Yah.. begitulah. Dia juga cukup sibuk sepertinya dengan


banyak urusan.” Arra kemudian berjalan mendekati ranjang dimana Andrew terbaring.


Jika saja gadis itu bisa melihat, dia pasti bisa mengetahui


dengan jelas betapa wajah Andrew tampak sangat kuyu dan pucat. Bahkan rahang


dokter muda itu yang memang sejak awal terlihat cukup tajam kini semakin


terlihat tajam karena tulang pipi dan rahangnya yang semakin jelas terlihat. Berat


badannya turun drastis dan kondisi badannya masih sangat lemah. Entah racun apa


sekarang.


“Obatnya, Andrew…” Arra mengulurkan obat itu dengan air


putih.


“Terima kasih sayang…” panggilan itu kembali di lontarkan


Andrew. Dan dia melihat Arra tersenyum tipis mendengarnya. Membuat hati Andrew sedikit


membaik melihatnya.


“Andrew…” Arra tertunduk sebentar.


“Hmm, kenapa sayang?” tanya Andrew menatap wajah Arra.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi semakin


rumit tiap harinya?” tanya Arra pada Andrew. “Aku tak tahu kenapa, tapi aku


benar – benar merasa kalau kondisi saat ini sangat buruk. Aku tak bisa keluar


rumah bahkan untuk berangkat kuliah dank au yang sakit. Juga Arrio yang terus


saja menghilang tanpa memberikan penjelasan apapun padaku,” jelas Arra.


“Arrio tak pernah bertemu denganmu dan bicara dengamu?”


tanya Andrew tak percaya.


“Hmm.. dia tak pernah muncul untuk menjelaskan apapun


padaku. Dia menjauh…” ujar Arra.


“Tapi…” Andrew terdiam.


Dia yakin sekali bahwa dia sering melihat Arrio

__ADS_1


memperhatikan Arra dan mendengar bagaimana Arrio selalu memantau Arra dari


kedua adiknya maupun melihat Arra secara langsung tiap malam saat Arrio pulang


ke rumah.


Pria itu pasti akan menghampiri kamar Arra dan melihat


apakah Arra sudah tidur atau belum, mengecup kening gadis itu dan membenarkan


posisi selimut Arra yang berantakan. Bahkan terkadang, Andrew melihat Arrio


terdiam beberapa waktu sembari memandang wajah gadis itu dan menangis dalam


diam. Entah apa yang di tangisi pria itu. namun Andrew merasakan kecemasan yang


besar di tunjukkan Arrio. Dan segala perlindungan yang di berikan oleh Arrio


selama ini.


Juga, percakapan kedua adik Arrio saat melihat Arra memasak


atau mengerjakan pekerjaan rumah. Dimana mereka selalu menyebutkan bahwa Arra


adalah gadis yang begitu istimewa untuk Arrio dan tidak boleh di perlakukan


sembarangan dan harus di berikan penjagaan ekstra serta istimewa. Tapi kenapa


gadis ini justru merasa sebaliknya?


“Tapi apa Andrew?” tanya Arra.


“Tidak. Mungkin dia sedang mencari orang yang menyerangku. Kemarin


saat kami bertemu, tak sengaja saat dia pulang. Dia bilang padaku kalau dia


sangat lelah karena mencari orang – orang itu juga mengurus pekerjaannya di


kampus,” ucap Andrew.


“Benarkah? Bukan karena dia membenciku?” tanya Arra sekali


lagi. Matanya begitu berbinar.


“Membencimu? Aku rasa tidak sayang. Tidak akan ada yang bisa


untuk membencimu dengan alasan apapun. Lagipula…” Andrew menjeda ucapannya


sejenak, “Arrio itu sangat mencintaimu,” lanjut Andrew.


Bodoh! Andrew sangat bodoh mengucapkan hal gila itu.


Bagaimana bisa seorang pria bicara selembut itu tentang pria


lain yang mencintai kekasihnya? Tapi itu terjadi begitu saja. Dan mengalir


begitu saja dari bibir Andrew. Melihat bagaimana reaksi Arra, membuat Andrew


secara tak sadar mengatakan hal gila itu.


“Aku--”


“Aku sudah tahu semuanya Arra. Kami bersaing secara adil


untuk mendapatkanmu. Lebih tepatnya, dia berjuang mendapatkan dirimu dan aku


berjuang untuk mempertahankan mu di sisiku…” jelas Andrew sekali lagi dan


membuat Arra tersentak kaget.


“Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa kalian berdua melakukan


itu?”


“Karena kami mencintai satu orang gadis yang sama. Dan merasa


bahwa cinta kami pun sama besarnya padamu… juga… karena kami tahu, kau begitu


istimewa….”

__ADS_1


***


__ADS_2