Cruel Fate

Cruel Fate
Part 27.2


__ADS_3

Andrew kini tengah sibuk mengobati lengannya


yang secara tak sengaja terkena senjata milik Ellarrd pada malam itu. Malam


dimana dia pertama kali melihat wujud dari Arrio sesungguhnya dan juga mengetahui


segala rahasia yang selama ini tersembunyi. Kondisinya sudah semakin membaik


seiring berjalannya waktu, tak seperti beberapa waktu lalu yang bahkan dia


merasa seperti waktunya akan segera habis di dunia ini. Rekan dokter yang


datang untuk membantunya dan mengobati dirinya bahkan sangat terkejut melihat


luka yang ada di tubuh Andrew, dia juga bertanya – tanya mengenai apa yang


sebenarnya terjadi pada rekannya tersebut hingga kondisinya semacam ini.


Namun jelas saja, Andrew tak akan bisa


menceritakan segala yang sebenarnya terjadi. Karena rekannya itu tak akan


percaya juga mengerti tanpa melihatnya secara langsung. Rekannya pula yang


membantunya mengurus izin cuti untuk dirinya selama 2 bulan ke depan dan


mengurus izin cuti kuliah untuk Arra yang kini entah berada di mana.


Mengenai Arra sendiri, Andrew masih merasakan


rasa bersalah yang begitu dalam pada gadis tersebut. Karena secara tidak


langsung, dirinya telah menjadi komplotan iblis dan secara tidak langsung


membantu mereka menangkap Arrio juga Arra dan mengancam nyawa gadis yang di


cintainya.


Andai Arra tahu segalanya, Andrew yakin gadis


itu tak akan memaafkan dirinya begitu saja.


Di tengah lamunannya dan menahan rasa sakit


yang teramat sangat karena cairan obat yang merembes ke dalam lukanya. Mendadak


jendela balkon yang berada di kamarnya terbuka lebar dengan angin kencang yang


bertiup tak beraturan. Membuat tirai di kamarnya hampir terlepas dari kaitannya


dan kedua mata Andrew sulit untuk melihat karena terpaannya.


Andrew terpaksa menunduk dan menutup matanya


sejenak, sampai dia merasakan tangannya di genggam erat oleh seseorang saat


ini.


“Andrew… apa yang terjadi? Kenapa kau


terluka?” suara itu kini terdengar.


Suara yang begitu familiar di telinga dokter


muda tersebut dan sangat di rindukannya setengah mati selama beberapa bulan


ini.


Andrew perlahan membuka matanya, dan kedua


manik mata pria itu pun bertumbukan dengan kedua manik mata Arra yang kini


tengah menatapnya sendu.


“Arra… k-kau?” Andrew terhenyak, dia langsung


duduk dengan tegak dan balas menatap lekat gadis yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Apa ini sangat sakit? Kau menangis, karena


sakit, ya?” tanya Arra lagi lalu tangannya terulur untuk menyentuh luka Andrew.


Andrew yang melihat gerakan tangan Arra juga


arah pandangan mata gadis itu kini semakin terkejut karena dia menyadari satu


hal, bahwa Arra sudah bisa melihat kembali saat ini.


“Arra… apa kau, bisa melihatku?” tanya Andrew


tak yakin.


Arra tersenyum begitu manis dan mengangguk


kecil, “Ya… aku bisa melihat lagi sekarang. Temannya Arrio yang membantuku


sampai aku bisa melihat lagi Andrew, dia--” ucapan Arra terhenti, dia seolah


sadar akan sesuatu dan segera menunduk.


“Ahh… begitu rupanya. Tak apa Arra, aku tahu


siapa teman dari Arrio dan kenapa dia bisa membantumu melihat lagi, aku paham


semuanya…” ujar Andrew.


“K-kau sudah tahu?” tanya Arra lagi.


“Tentu Arra. Aku sudah pernah melihat wujud


Arrio secara langsung dan aku mengerti semuanya saat itu juga…” jelas Andrew


yang kini balik mengejutkan Arra. “Tunggu dulu! K-kenapa kau bisa datang ke


tempat ini? Apa kau sendirian? Apa yang terjadi, dimana Arrio sekarang?” tanya


Andrew beruntun.


“Arrio di luar mengawasi situasi dan memberiku


akan pergi dan mengikuti Arrio, aku memang tak memahami sepenuhnya apa yang


tengah terjadi saat ini padaku dan kita semua. Tapi yang pasti, aku harus ikut


dengannya agar aku bisa selamat…” jelas Arra pada Andrew.


Andrew tersenyum getir mendengarnya. Andai dia


bisa memiliki kekuatan yang setara dengan yang Arrio miliki, mungkin dia akan


menahan Arra untuk terus berada di sisinya dan menjaganya dengan mempertaruhkan


apapun. Namun, kenyataan pahit memang yang harus dia telan, dimana dia sadar,


bahwa lawannya bukanlah manusia biasa yang akan terluka hanya dengan luka


tembak atau tusukan pisau. Bersamanya, Arra justru akan semakin berada dalam


bahaya yang lebih besar. Dan bahkan dia tidak yakin mampu melindungi Arra


dengan baik, saat melindungi dirinya sendiri pun Andrew tak mampu.


“Aku ingin berterima kasih padamu, Andrew.


Terima kasih atas segala yang telah kau lakukan untukku selama ini. Karena kau


telah menjagaku dan juga mencintaiku dengan sangat tulus, selama ini. Dan


karena kau selalu berada di sisiku dalam kondisi apapun. Aku tak tahu bagaimana


caraku bisa membalas semua kebaikanmu padaku…” ujar Arra memecah lamunan Andrew


dan membuat lelaki itu tersenyum miris.


“Cukup ikuti ucapan Arrio dan tetap hidup juga

__ADS_1


baik – baik saja. Itu lebih dari cukup untuk kau bisa membayar semua yang


selama ini ku berikan padamu…” kata Andrew lagi.


“Apa kau membenciku Andrew?” tanya Arra.


“Kenapa aku harus membencimu sayang?” tanya


Andrew balik pada Arra.


“Karena aku memilih untuk bersama Arrio dan


meninggalkanmu. Pasti aku sudah sangat menyakitimu. Iya kan?” tanya Arra dengan


suara lirihnya.


Kini tangan Andrew terulur dan membelai wajah


Arra penuh kasih sayang, pandangan matanya pun tak berubah. Masih sama persis


seperti dulu saat dia masih berstatus menjadi kekasih Arra. Dia masih sangat


mencintai gadis itu sampai detik ini.


“Aku tak pernah membencimu. Kau juga tak


menyakitiku, sayang. Apa yang terjadi antara kita bertiga itu adalah sebuah


takdir yang telah Tuhan gariskan. Justru aku yang berterimakasih karena aku di


berikan kesempatan untuk bisa mencintaimu, menjagamu dan berada di sisimu


meskipun hanya sekejap. Aku tak akan pernah melupakanmu, sayang…” jelas Andrew.


Air mata Arra kini mengalir begitu deras


begitu dia mendengar ucapan Andrew padanya. Baginya, itu lebih terasa


menyesakkan ketimbang apapun. Namun, hatinya memang tak bisa berdusta, kalau


dirinya jauh lebih mencintai Arrio untuk alasan apapun.


Arrio kini masuk ke dalam ruangan itu dan


menatap keduanya. Manik matanya bertumbukan dengan manik mata Andrew yang


memberikan senyum tipis.


“Sayang… sudah waktunya kita pergi…” kata


Arrio.


“Y-ya… sebentar…” Arra menoleh sebentar dan


kembali menatap Andrew, “aku tak tahu ini berhasil atau tidak, tapi--” Arra


kini mengarahkan tangannya dan mengusap bagian tubuh Andrew yang terluka


sembari bibirnya bergerak mengucapkan beberapa mantra. Dan ajaibnya, luka


tersebut langsung menutup dengan sempurna hingga wajah Andrew yang semula pucat


kini jadi lebih cerah.


“Aku pergi Andrew, terima kasih dan maafkan


aku…” Arra kini bangkit dan mendekati Arrio.


Gadis itu langsung naik ke gendongan Arrio


yang kemudian terbang melesat dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


“Ku mohon…


jaga dia dengan baik.”Andrew


mengatakanya pada Arrio melalui hatinya yang terdengar oleh malaikat itu dan di

__ADS_1


jawab anggukan oleh Arrio.


***


__ADS_2