
Andrew kini tengah sibuk mengobati lengannya
yang secara tak sengaja terkena senjata milik Ellarrd pada malam itu. Malam
dimana dia pertama kali melihat wujud dari Arrio sesungguhnya dan juga mengetahui
segala rahasia yang selama ini tersembunyi. Kondisinya sudah semakin membaik
seiring berjalannya waktu, tak seperti beberapa waktu lalu yang bahkan dia
merasa seperti waktunya akan segera habis di dunia ini. Rekan dokter yang
datang untuk membantunya dan mengobati dirinya bahkan sangat terkejut melihat
luka yang ada di tubuh Andrew, dia juga bertanya – tanya mengenai apa yang
sebenarnya terjadi pada rekannya tersebut hingga kondisinya semacam ini.
Namun jelas saja, Andrew tak akan bisa
menceritakan segala yang sebenarnya terjadi. Karena rekannya itu tak akan
percaya juga mengerti tanpa melihatnya secara langsung. Rekannya pula yang
membantunya mengurus izin cuti untuk dirinya selama 2 bulan ke depan dan
mengurus izin cuti kuliah untuk Arra yang kini entah berada di mana.
Mengenai Arra sendiri, Andrew masih merasakan
rasa bersalah yang begitu dalam pada gadis tersebut. Karena secara tidak
langsung, dirinya telah menjadi komplotan iblis dan secara tidak langsung
membantu mereka menangkap Arrio juga Arra dan mengancam nyawa gadis yang di
cintainya.
Andai Arra tahu segalanya, Andrew yakin gadis
itu tak akan memaafkan dirinya begitu saja.
Di tengah lamunannya dan menahan rasa sakit
yang teramat sangat karena cairan obat yang merembes ke dalam lukanya. Mendadak
jendela balkon yang berada di kamarnya terbuka lebar dengan angin kencang yang
bertiup tak beraturan. Membuat tirai di kamarnya hampir terlepas dari kaitannya
dan kedua mata Andrew sulit untuk melihat karena terpaannya.
Andrew terpaksa menunduk dan menutup matanya
sejenak, sampai dia merasakan tangannya di genggam erat oleh seseorang saat
ini.
“Andrew… apa yang terjadi? Kenapa kau
terluka?” suara itu kini terdengar.
Suara yang begitu familiar di telinga dokter
muda tersebut dan sangat di rindukannya setengah mati selama beberapa bulan
ini.
Andrew perlahan membuka matanya, dan kedua
manik mata pria itu pun bertumbukan dengan kedua manik mata Arra yang kini
tengah menatapnya sendu.
“Arra… k-kau?” Andrew terhenyak, dia langsung
duduk dengan tegak dan balas menatap lekat gadis yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Apa ini sangat sakit? Kau menangis, karena
sakit, ya?” tanya Arra lagi lalu tangannya terulur untuk menyentuh luka Andrew.
Andrew yang melihat gerakan tangan Arra juga
arah pandangan mata gadis itu kini semakin terkejut karena dia menyadari satu
hal, bahwa Arra sudah bisa melihat kembali saat ini.
“Arra… apa kau, bisa melihatku?” tanya Andrew
tak yakin.
Arra tersenyum begitu manis dan mengangguk
kecil, “Ya… aku bisa melihat lagi sekarang. Temannya Arrio yang membantuku
sampai aku bisa melihat lagi Andrew, dia--” ucapan Arra terhenti, dia seolah
sadar akan sesuatu dan segera menunduk.
“Ahh… begitu rupanya. Tak apa Arra, aku tahu
siapa teman dari Arrio dan kenapa dia bisa membantumu melihat lagi, aku paham
semuanya…” ujar Andrew.
“K-kau sudah tahu?” tanya Arra lagi.
“Tentu Arra. Aku sudah pernah melihat wujud
Arrio secara langsung dan aku mengerti semuanya saat itu juga…” jelas Andrew
yang kini balik mengejutkan Arra. “Tunggu dulu! K-kenapa kau bisa datang ke
tempat ini? Apa kau sendirian? Apa yang terjadi, dimana Arrio sekarang?” tanya
Andrew beruntun.
“Arrio di luar mengawasi situasi dan memberiku
akan pergi dan mengikuti Arrio, aku memang tak memahami sepenuhnya apa yang
tengah terjadi saat ini padaku dan kita semua. Tapi yang pasti, aku harus ikut
dengannya agar aku bisa selamat…” jelas Arra pada Andrew.
Andrew tersenyum getir mendengarnya. Andai dia
bisa memiliki kekuatan yang setara dengan yang Arrio miliki, mungkin dia akan
menahan Arra untuk terus berada di sisinya dan menjaganya dengan mempertaruhkan
apapun. Namun, kenyataan pahit memang yang harus dia telan, dimana dia sadar,
bahwa lawannya bukanlah manusia biasa yang akan terluka hanya dengan luka
tembak atau tusukan pisau. Bersamanya, Arra justru akan semakin berada dalam
bahaya yang lebih besar. Dan bahkan dia tidak yakin mampu melindungi Arra
dengan baik, saat melindungi dirinya sendiri pun Andrew tak mampu.
“Aku ingin berterima kasih padamu, Andrew.
Terima kasih atas segala yang telah kau lakukan untukku selama ini. Karena kau
telah menjagaku dan juga mencintaiku dengan sangat tulus, selama ini. Dan
karena kau selalu berada di sisiku dalam kondisi apapun. Aku tak tahu bagaimana
caraku bisa membalas semua kebaikanmu padaku…” ujar Arra memecah lamunan Andrew
dan membuat lelaki itu tersenyum miris.
“Cukup ikuti ucapan Arrio dan tetap hidup juga
__ADS_1
baik – baik saja. Itu lebih dari cukup untuk kau bisa membayar semua yang
selama ini ku berikan padamu…” kata Andrew lagi.
“Apa kau membenciku Andrew?” tanya Arra.
“Kenapa aku harus membencimu sayang?” tanya
Andrew balik pada Arra.
“Karena aku memilih untuk bersama Arrio dan
meninggalkanmu. Pasti aku sudah sangat menyakitimu. Iya kan?” tanya Arra dengan
suara lirihnya.
Kini tangan Andrew terulur dan membelai wajah
Arra penuh kasih sayang, pandangan matanya pun tak berubah. Masih sama persis
seperti dulu saat dia masih berstatus menjadi kekasih Arra. Dia masih sangat
mencintai gadis itu sampai detik ini.
“Aku tak pernah membencimu. Kau juga tak
menyakitiku, sayang. Apa yang terjadi antara kita bertiga itu adalah sebuah
takdir yang telah Tuhan gariskan. Justru aku yang berterimakasih karena aku di
berikan kesempatan untuk bisa mencintaimu, menjagamu dan berada di sisimu
meskipun hanya sekejap. Aku tak akan pernah melupakanmu, sayang…” jelas Andrew.
Air mata Arra kini mengalir begitu deras
begitu dia mendengar ucapan Andrew padanya. Baginya, itu lebih terasa
menyesakkan ketimbang apapun. Namun, hatinya memang tak bisa berdusta, kalau
dirinya jauh lebih mencintai Arrio untuk alasan apapun.
Arrio kini masuk ke dalam ruangan itu dan
menatap keduanya. Manik matanya bertumbukan dengan manik mata Andrew yang
memberikan senyum tipis.
“Sayang… sudah waktunya kita pergi…” kata
Arrio.
“Y-ya… sebentar…” Arra menoleh sebentar dan
kembali menatap Andrew, “aku tak tahu ini berhasil atau tidak, tapi--” Arra
kini mengarahkan tangannya dan mengusap bagian tubuh Andrew yang terluka
sembari bibirnya bergerak mengucapkan beberapa mantra. Dan ajaibnya, luka
tersebut langsung menutup dengan sempurna hingga wajah Andrew yang semula pucat
kini jadi lebih cerah.
“Aku pergi Andrew, terima kasih dan maafkan
aku…” Arra kini bangkit dan mendekati Arrio.
Gadis itu langsung naik ke gendongan Arrio
yang kemudian terbang melesat dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
“Ku mohon…
jaga dia dengan baik.”Andrew
mengatakanya pada Arrio melalui hatinya yang terdengar oleh malaikat itu dan di
__ADS_1
jawab anggukan oleh Arrio.
***