Cruel Fate

Cruel Fate
Part 20.1


__ADS_3

“Tuanku…” sesosok iblis muncul di hadapan Ellard dan


membungkuk. Dia kemudian mendekat dan membisikkan laporannya pada Ellard hingga


membuat sang panglima itu tersenyum licik dan senang.


“Kau membawa berita bagus. Awasi terus dia dan pergerakannya


sementara aku akan menemui Yang Mulia Darrick dan membawanya ke tempat para


pecundang itu!” Ellard segera menghentakkan kakinya dan terbang melesat menuju


ke kediaman sang Penguasa Neraka yang menunggunya.


Ellard kini sudah tiba di kediaman Darrick dan menemui


Darrick yang tengah makan malam di temani cahaya lilin merah di sana.


“Yang Mulia… ini malam keberuntungan untuk kita…” lapor


Ellard dengan sunggingan senyum pada Darrick.


Derrick sendiri kini menatap balik sang panglima dengan mata


tajamnya.


“Dia sudah keluar dari sana?” tanya Darrick.


“Ya, masih dengan barang itu menancap kuat di tubuhnya. Kita


akan mudah untuk mengendalikannya sekarang,” lapor Ellard lagi.


“Bagus! Pastikan bahwa dia sudah tidak lagi berada dalam


perlindungan Arrio atau siapapun malaikat utama yang ada di sana. Nanti


sisanya, biar aku yang bereskan… termasuk… perempuan yang di sebut sebagai sang


penyembuh itu,” kata Darrick.


Tanpa menunggu lama, Darrick kini mengajak Ellard dan


beberapa prajuritnya yang memiliki  kekuatan besar untuk turut bersamanya dan menjemput Edward. Pria itu di


yakini akan berada di pihak Darrick setelah rasa sakit yang di rasakannya atas


pengkhianatan Arra dan Arrio malam tadi.


***


Sementara itu, Edward yang baru saja sampai ke rumahnya


semakin frustasi karena tak bisa menghapus bayangan saat Arra di cium dan di


cumbu oleh Arrio malam itu. hatinya begitu sakit dan terluka, hingga dia tak


lagi bisa menahan emosinya.


“Aaarrrgghhh!” teriakan itu terdengar dan Andrew dengan


kasar melemparkan semua barang yang ada di sana dengan membabi buta.


Suara Arra yang menerima sentuhan Arrio dan bagaimana gadis


itu hanya diam saat Arrio mendekatinya masih begitu jelas terbayang di kepala


Andrew.


“Aku mencintaimu Arra..  aku sangat mencintaimu, kenapa kau lakukan ini padaku… Arrrrgghh!!!”


Andrew kembali berteriak pilu.


Dia menyiksa dirinya sendiri untuk melampiaskan amarah dan


rasa kecewanya pada gadis yang begitu dia cintai meskipun di dalam hatinya yang


paling dalam, dia masih tak bisa mengingkari kalau dia masih sangat mencintai


Arra sampai detik ini dan tak akan bisa berubah.


Ada rasa sesal yang begitu dalam juga di rasakannya atas apa


yang dilakukan terhadap Arra tadi pagi. Saat dia meninggalkan Arra begitu saja


yang masih menangis tersedu tanpa perasaan dan pertanyaan lainnya. Dia bahkan

__ADS_1


tak membiarkan gadis itu menjelaskan apapun pada dirinya dan berjalan dengan


mudahnya menjauh dari sana.


Begitu sakit yang di rasakan Andrew, dan pastinya juga di


rasakan pula oleh Arra saat ini.


Dengan air mata yang mengalir dan bayangan wajah Arra yang


masih jelas di kepala Andrew, lelaki itu kini berjongkok di sudut ruangan dan


menarik rambutnya.


Dia menunduk dan menangis tersedu, “maafkan aku Arra… aku


minta maaf padamu Arra…” lirihnya.


“Aku--” ucapan Andrew terhenti saat jendela di ruangan itu


tiba – tiba saja terbuka dengan kencang.


Brakk!!!


Andrew menoleh dan melihat satu sosok yang entah datang dari


mana dan dengan cepat menghampirinya lalu menyeretnya sampai terpojok di


dinding dengan leher yang di cekik kencang.


“Apa yang sudah kau lakukan pada Arra?” kata sosok itu yang


tak lain adalah Arrio.


Wajah garang Arrio dengan bola matanya yang berwarna merah


dan biru berkilat dan sangat tajam sekaligus menakutkan untuk di lihat secara


langsung dari jarak sedekat ini.


“Apa kau sadar dengan tindakanmu? Kau sangat menyakiti


Arra?!” kata Arrio lagi, terlhat sekali kemarahan di dalam suara dan sorot mata


tajamnya itu. dia seolah siap membunuh dan menguliti Andrew saat itu juga.


seolah maut tengah berada tepat di depan Andrew.


 “Kalian berdua sudah


menyakiti aku…” ucapnya.


“Kalian berdua? Maksudmu aku dan Arra sudah menyakitimu?”


cekikan Arrio di leher Andrew semakin kuat sekarang dan membuat Andrew sangat


sulit bernafas. “Kita sudah sepakat untuk hal ini jauh sebelumnya Andrew. Arra


tidak bersalah dalam hal ini. Tidak pernah! Karena kita yang menempatkan dia


dalam posisi sulit ini. Lagipula, ini adalah persaingan terbuka yang apapun


bisa terjadi selama persaingan berlangsung. Jadi… aku tidak menerima alasan


apapun, jika kau berani menyakiti gadis yang aku cintai!!!!” teriak Arrio.


Matanya kini berubah keseluruhan menjadi merah menyala,


wajahnya semakin mengerikan dan tangan yang mencengkeram leher Andrew terasa


panas dan semakin panas meskipun udara di sekitarnya justru terasa sangat


dingin.


Andrew kini merasa begitu ngeri dan merinding melihat wajah


murka Arrio yang pertama kali di lihatnya.


“Jika kau ingin menghancurkan seseorang karena rasa sakit mu


itu, maka orang itu adalah aku! Bukannya Arra!” pekik Arrio lagi.


“Hahahaha… jangan menipuku Arrio, aku tahu kau senang dengan


keputusan dan juga tindakanku saat ini karena akan membuat kau lebih mudah

__ADS_1


mendapatkan Arra! Benar kan?!” balas Andrew tak kalah sengit.


“Brengsek!!! Kau memang tak pernah pantas bersama dengan Arra!”


ucap Arrio.


Malaikat itu menyiapkan tinjunya dan sudah hampir meremukkan


wajah Andrew atau bahkan membunuhnya, tepat saat angina besar kembali datang ke


ruangan itu dengan aura kuat yang tak asing untuk di rasakan oleh Arrio yang


langsung berbalik dan melepaskan cengkeramannya dari leher Andrew dan membuat


manusia itu menarik nafas sangat panjang dan terduduk lemas sambil menyandar ke


dinding.


“Lama tidak bertemu denganmu… sahabat lamaku…” sapa Darrick


dengan senyum licik dan menyebalkan khas dirinya.


“Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana mungkin--”


Darrick kini menatap ke arah Andrew yang masih lemas setelah


mendapat serangan mendadak dari Arrio dan tersenyum teduh pada pria itu.


“Terima kasih banyak Andrew… ini seperti Jackpot untukku


karena kau membawakan mangsa besar dan yang utama tepat di hadapanku.


Hahahaha…” tawa Darrick kini meledak dan dia begitu senang melihat kehadiran


Arrio di sana.


Arrio yang tak menyangka itu pun kini menoleh pada Andrew


yang tengah melihat sosok Ellard yang berdiri di belakang Darrick dengan


congkaknya. Bola matanya membulat, nampak bahwa dia juga sangat terkejut dengan


kedatangan para iblis di hadapannya.


Terlebih, penampakan Darrick dan anak buahnya yang tak


menutupi jati diri mereka sedikitpun.


Sayap hitam dan mirip kelelawar dengan bagian runcing di


beberapa sisi dan juga tanduk yang terlihat di kepala Darrick membuat


tampilannya tampak sangat berkarisma sekaligus mengerikan bagi semua manusia


yang menatapnya secara langsung.


“Kami memang tak salah karena memilihmu sebagai mata – mata


sekaligus jalan penghubung kami disini Andrew… aku mengharapkan kau membawa


kami pada sang penyembuh namun kau justru membawakan sang malaikat utama


kesini… hahahaha…” Darrick menatap tajam pada Arrio kini.


“Kau pengkhianat!” lirih Arrio pada Andrew.


“T-tidak… bagaimana mungkin?” gumam Andrew.


“Kau lupa dengan benda yang menempel di dadamu itu Andrew?”


kata Darrick yang membuat Andrew secara refleks menyentuh bagian dadanya. “Apa


kau juga merasa di khianati sekarang Arrio?” katanya dan berbalik melihat pada


Arrio.


“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Arrio.


“Kau… sungguh menanyakan itu padaku Arrio?” balas Darrick.


“Jawab saja pertanyaanku…” kata Arrio lagi.


“Aku… hanya ingin kau dan penyembuhmu itu lenyap,


selamanya…” tegas Darrick pada Arrio.

__ADS_1


***


__ADS_2