
“Tuanku…” sesosok iblis muncul di hadapan Ellard dan
membungkuk. Dia kemudian mendekat dan membisikkan laporannya pada Ellard hingga
membuat sang panglima itu tersenyum licik dan senang.
“Kau membawa berita bagus. Awasi terus dia dan pergerakannya
sementara aku akan menemui Yang Mulia Darrick dan membawanya ke tempat para
pecundang itu!” Ellard segera menghentakkan kakinya dan terbang melesat menuju
ke kediaman sang Penguasa Neraka yang menunggunya.
Ellard kini sudah tiba di kediaman Darrick dan menemui
Darrick yang tengah makan malam di temani cahaya lilin merah di sana.
“Yang Mulia… ini malam keberuntungan untuk kita…” lapor
Ellard dengan sunggingan senyum pada Darrick.
Derrick sendiri kini menatap balik sang panglima dengan mata
tajamnya.
“Dia sudah keluar dari sana?” tanya Darrick.
“Ya, masih dengan barang itu menancap kuat di tubuhnya. Kita
akan mudah untuk mengendalikannya sekarang,” lapor Ellard lagi.
“Bagus! Pastikan bahwa dia sudah tidak lagi berada dalam
perlindungan Arrio atau siapapun malaikat utama yang ada di sana. Nanti
sisanya, biar aku yang bereskan… termasuk… perempuan yang di sebut sebagai sang
penyembuh itu,” kata Darrick.
Tanpa menunggu lama, Darrick kini mengajak Ellard dan
beberapa prajuritnya yang memiliki kekuatan besar untuk turut bersamanya dan menjemput Edward. Pria itu di
yakini akan berada di pihak Darrick setelah rasa sakit yang di rasakannya atas
pengkhianatan Arra dan Arrio malam tadi.
***
Sementara itu, Edward yang baru saja sampai ke rumahnya
semakin frustasi karena tak bisa menghapus bayangan saat Arra di cium dan di
cumbu oleh Arrio malam itu. hatinya begitu sakit dan terluka, hingga dia tak
lagi bisa menahan emosinya.
“Aaarrrgghhh!” teriakan itu terdengar dan Andrew dengan
kasar melemparkan semua barang yang ada di sana dengan membabi buta.
Suara Arra yang menerima sentuhan Arrio dan bagaimana gadis
itu hanya diam saat Arrio mendekatinya masih begitu jelas terbayang di kepala
Andrew.
“Aku mencintaimu Arra.. aku sangat mencintaimu, kenapa kau lakukan ini padaku… Arrrrgghh!!!”
Andrew kembali berteriak pilu.
Dia menyiksa dirinya sendiri untuk melampiaskan amarah dan
rasa kecewanya pada gadis yang begitu dia cintai meskipun di dalam hatinya yang
paling dalam, dia masih tak bisa mengingkari kalau dia masih sangat mencintai
Arra sampai detik ini dan tak akan bisa berubah.
Ada rasa sesal yang begitu dalam juga di rasakannya atas apa
yang dilakukan terhadap Arra tadi pagi. Saat dia meninggalkan Arra begitu saja
yang masih menangis tersedu tanpa perasaan dan pertanyaan lainnya. Dia bahkan
__ADS_1
tak membiarkan gadis itu menjelaskan apapun pada dirinya dan berjalan dengan
mudahnya menjauh dari sana.
Begitu sakit yang di rasakan Andrew, dan pastinya juga di
rasakan pula oleh Arra saat ini.
Dengan air mata yang mengalir dan bayangan wajah Arra yang
masih jelas di kepala Andrew, lelaki itu kini berjongkok di sudut ruangan dan
menarik rambutnya.
Dia menunduk dan menangis tersedu, “maafkan aku Arra… aku
minta maaf padamu Arra…” lirihnya.
“Aku--” ucapan Andrew terhenti saat jendela di ruangan itu
tiba – tiba saja terbuka dengan kencang.
Brakk!!!
Andrew menoleh dan melihat satu sosok yang entah datang dari
mana dan dengan cepat menghampirinya lalu menyeretnya sampai terpojok di
dinding dengan leher yang di cekik kencang.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Arra?” kata sosok itu yang
tak lain adalah Arrio.
Wajah garang Arrio dengan bola matanya yang berwarna merah
dan biru berkilat dan sangat tajam sekaligus menakutkan untuk di lihat secara
langsung dari jarak sedekat ini.
“Apa kau sadar dengan tindakanmu? Kau sangat menyakiti
Arra?!” kata Arrio lagi, terlhat sekali kemarahan di dalam suara dan sorot mata
tajamnya itu. dia seolah siap membunuh dan menguliti Andrew saat itu juga.
seolah maut tengah berada tepat di depan Andrew.
“Kalian berdua sudah
menyakiti aku…” ucapnya.
“Kalian berdua? Maksudmu aku dan Arra sudah menyakitimu?”
cekikan Arrio di leher Andrew semakin kuat sekarang dan membuat Andrew sangat
sulit bernafas. “Kita sudah sepakat untuk hal ini jauh sebelumnya Andrew. Arra
tidak bersalah dalam hal ini. Tidak pernah! Karena kita yang menempatkan dia
dalam posisi sulit ini. Lagipula, ini adalah persaingan terbuka yang apapun
bisa terjadi selama persaingan berlangsung. Jadi… aku tidak menerima alasan
apapun, jika kau berani menyakiti gadis yang aku cintai!!!!” teriak Arrio.
Matanya kini berubah keseluruhan menjadi merah menyala,
wajahnya semakin mengerikan dan tangan yang mencengkeram leher Andrew terasa
panas dan semakin panas meskipun udara di sekitarnya justru terasa sangat
dingin.
Andrew kini merasa begitu ngeri dan merinding melihat wajah
murka Arrio yang pertama kali di lihatnya.
“Jika kau ingin menghancurkan seseorang karena rasa sakit mu
itu, maka orang itu adalah aku! Bukannya Arra!” pekik Arrio lagi.
“Hahahaha… jangan menipuku Arrio, aku tahu kau senang dengan
keputusan dan juga tindakanku saat ini karena akan membuat kau lebih mudah
__ADS_1
mendapatkan Arra! Benar kan?!” balas Andrew tak kalah sengit.
“Brengsek!!! Kau memang tak pernah pantas bersama dengan Arra!”
ucap Arrio.
Malaikat itu menyiapkan tinjunya dan sudah hampir meremukkan
wajah Andrew atau bahkan membunuhnya, tepat saat angina besar kembali datang ke
ruangan itu dengan aura kuat yang tak asing untuk di rasakan oleh Arrio yang
langsung berbalik dan melepaskan cengkeramannya dari leher Andrew dan membuat
manusia itu menarik nafas sangat panjang dan terduduk lemas sambil menyandar ke
dinding.
“Lama tidak bertemu denganmu… sahabat lamaku…” sapa Darrick
dengan senyum licik dan menyebalkan khas dirinya.
“Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana mungkin--”
Darrick kini menatap ke arah Andrew yang masih lemas setelah
mendapat serangan mendadak dari Arrio dan tersenyum teduh pada pria itu.
“Terima kasih banyak Andrew… ini seperti Jackpot untukku
karena kau membawakan mangsa besar dan yang utama tepat di hadapanku.
Hahahaha…” tawa Darrick kini meledak dan dia begitu senang melihat kehadiran
Arrio di sana.
Arrio yang tak menyangka itu pun kini menoleh pada Andrew
yang tengah melihat sosok Ellard yang berdiri di belakang Darrick dengan
congkaknya. Bola matanya membulat, nampak bahwa dia juga sangat terkejut dengan
kedatangan para iblis di hadapannya.
Terlebih, penampakan Darrick dan anak buahnya yang tak
menutupi jati diri mereka sedikitpun.
Sayap hitam dan mirip kelelawar dengan bagian runcing di
beberapa sisi dan juga tanduk yang terlihat di kepala Darrick membuat
tampilannya tampak sangat berkarisma sekaligus mengerikan bagi semua manusia
yang menatapnya secara langsung.
“Kami memang tak salah karena memilihmu sebagai mata – mata
sekaligus jalan penghubung kami disini Andrew… aku mengharapkan kau membawa
kami pada sang penyembuh namun kau justru membawakan sang malaikat utama
kesini… hahahaha…” Darrick menatap tajam pada Arrio kini.
“Kau pengkhianat!” lirih Arrio pada Andrew.
“T-tidak… bagaimana mungkin?” gumam Andrew.
“Kau lupa dengan benda yang menempel di dadamu itu Andrew?”
kata Darrick yang membuat Andrew secara refleks menyentuh bagian dadanya. “Apa
kau juga merasa di khianati sekarang Arrio?” katanya dan berbalik melihat pada
Arrio.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Arrio.
“Kau… sungguh menanyakan itu padaku Arrio?” balas Darrick.
“Jawab saja pertanyaanku…” kata Arrio lagi.
“Aku… hanya ingin kau dan penyembuhmu itu lenyap,
selamanya…” tegas Darrick pada Arrio.
__ADS_1
***