
Aksel memperhatikan setiap apa yang di lakukan Arra di rumah itu dengan Jason yang berdiri di sampingnya sambil fokus melihat materi kuliah.
“Kau yakin sudah melarangnya?” tanya Aksel, wajahnya nampak cemas.
“Hmm… tapi dia sangat keras kepala. Mirip dengan kakak…” tukas Jason tanpa mengindahkan Aksel dan terus fokus pada apa yang dia pegang.
“Mereka itu berjodoh, wajar kalau mereka mirip. Kau ini bagaimana!”
“Jadi, apa kau sudah bicara dengan kak Arrio tentang apa yang di tanyakan Arra kemarin padamu?” tanya Jason kini.
“Belum. Aku bahkan belum sempat bertemu dengannya,” jawab Aksel.
“Dia menanyakan hal yang sama padaku. Dia bahkan bilang kalau kakak membencinya dan menjauhinya…” ungkap Jason dengan pandangan prihatin sekarang. “Haruskah kita bicarakan ini dengan Arsen dan Athens juga? Bersama Aiden tentu saja, bagaimanapun… kakak dan Arra tak boleh di pisahkan terlalu lama kan…”
Aksel kini menatap punggung Arra dan berpikir keras. “Kau yakin ini yang terbaik? Mereka di pisah untuk sementara juga demi keselamatannya,” kata Aksel dan menunjuk ke arah Arra dengan telunjuknya.
“Hmm… harus! Kita harus membicarakan ini dengan mereka semua. Jangan sampai ada kesalahan dalam melakukan apapun saat ini. Resikonya pasti akan sangat besar untuk kita nantinya,” ujar Jason.
“Oke. Aku akan menghubungi mereka semua untuk segera bertemu di tempat ini,” jawab Aksel.
“Kau gila?! Ada Andrew dan Arra di tempat ini. Apa kau mau membuka penyamaran kita selama ini di depan mereka dengan cara seperti ini? Carilah tempat lain yang aman dan agar kita bisa tetap mengawasi mereka berdua dengan mudah. Jangan terlalu jauh dari sini, namun tetap tersembunyi.” Perintah Jason pada Aksel.
“Kau itu, selalu memberikan perintah seperti boss saja. Kau pikir mencari tempat seperti itu saat para iblis tengah mengitari dan mengincar rumah kita adalah hal mudah?” protes Aksel dan bersungut pada Jason.
“Aku tidak memperintahkan mu seperti boss. Tapi aku kan memang kakakmu. Kakak kembarmu, jadi wajar kalau aku menyuruhmu melakukan ini…” jelas Jason, “lagipula, ini bukan hanya untuk aku. Tapi juga demi dia dan kita semua…” ungkap Jason membela diri.
“Ya.. ya… terserah padamu saja bagaimana…”
__ADS_1
“Ingat yang tadi. tempat tersembunyi namun masih bisa jadi tempat kita mengawasi rumah ini dengan mudah…” Jason kembali memperingatkan dan hanya di balas tatapan tajam oleh Aksel.
Sejujurnya Aksel benci saat di suruh – suruh seperti ini oleh Jason atau siapapun seenaknya. Tapi mengingat Arra dan tugas yang memang dia emban yang berhubungan dengan gadis itu. juga situasi dan kondisi yang ada saat ini. Aksel tak bisa dan tak boleh banyak menolak atau protes.
***
---Dua pekan kemudian---
“Sebenarnya, ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan pada kami?” tanya Arrio yang tadi cukup terkejut melihat kedatangan seluruh sahabatnya di tempat ini.
Arsen, Athens, bahkan Aiden juga datang dan dia sama sekali tak tahu.
“Kak, ada yang ingin ku tanyakan padamu…” ujar Jason mengawali perbincangan mereka di sebuah danau yang berada tak jauh dari rumah mereka.
Tempat itu di temukan Aksel saat dirinya mencoba terbang tiga malam lalu dan merasakan atmosfer yang bagus di tempat ini. Juga jaraknya yang tak terlalu jauh dari rumah, serta memungkinkan untuknya menciptakan tameng khusus yang membuat keberadaan mereka tak terlihat oleh makhluk apapun.
“Kau masih mencintai Arra kan?” tanya Jason dan membuat Arrio tak sengaja batuk serta memuntahkan minuman yang berada di mulutnya.
“Apa maksud pertanyaanmu itu?” tanya Arrio dengan wajah merah padam.
“Jangan marah dulu kak. Kami hanya ingin tahu, apa alasan kalian melakukan semua ini. Memisahkan Arra dan kau…” kata Aksel menimpali ucapan Jason.
“Tentu saja untuk melindungi Arra dari para iblis itu,” jawab Arrio.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Athens yang terlihat mulai peka dengan apa yang terjadi.
“Sebenarnya. Bukan terjadi sesuatu. Tapi ada seseorang yang merasakan hal yang berbeda selama ini kak… dan itu adalah Arra…” jawab Aksel.
__ADS_1
“Ya, dia bertanya pada Aksel dan padaku. Mengenai perubahan sikapmu padanya selama ini. Apa kau sudah tak lagi mencintainya, dan bahkan sebuah pertanyaan… apakah kau itu membencinya atau tidak. Dia tidak nyaman tinggak di rumah kita sementara dia tak pernah melihat dirimu dan mendengar sapaanmu… sama sekali…” timpal Jason pada jawaban Aksel.
"Astaga ya tuhan..." Arrio mengusap wajahnya kasar mendengar ucapan adik-adiknya.
"Lalu, apa yang kalian katakan padanya?" Tanya Aiden.
"Jujur, kami sendiri tak mengerti harus bicara atau menjawab apa pada Arra. Kami hanya bilang kalau perasaannya itu tidak benar. Dan tidak berdasar. Karena kak Arrio jelas sangat mencintai dia dan tak ada maksud untuk menyakitinya.." ujar Jason.
"Ya benar... Kami juga terpaksa membiarkan dia melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, membersikan debu, dan bahkan memasak makan siang dan malam untuk kami. Karena dia memaksa melakukannya. Menurutnya, itu akan membuat perasaan nya membaik dan melupakan sikap kak Arrio yang menyakitkan.." timpal Aksel.
Aiden dan yang lainnya menganga. Seorang penyembuh? Melakukan hal semacam itu, dimana seharusnya dia justru menerima perlakuan yang melebihi bidadari manapun yang ada di surga dan mendapat pelayan yang jumlahnya ribuan. Tapi dia justru melayani orang lain?
Sementara itu hanya Arsen yang mengulas senyum seolah dia sudah tahu hal semacam ini akan terjadi.
"bagaimana menurutmu Arrio?" Tanya Arsen dan melirik ke arah malaikat yang tampak frustasi itu.
"Apa yang bagaimana maksudnya? Kau mau menyiksaku lagi? Atau membuatnya lebih tersiksa?" Jawab Arrio.
"Tenanglah... Jangan emosi begitu." Athens menyentuh pundak Arrio sekilas.
"Kau mudah saja bicara begitu karena kau tak ada di posisiku Athens. Aku sendiri hampir gila rasanya karena tak bisa berinteraksi dengannya sampai detik ini. Aku begitu merindukannya bahkan hanya sekedar suaranya saja, aku rasanya sulit sekali menggapai gadis ku sendiri.
"Jadi langkah apa yang seharusnya kita ambil sekarang? Membiarkan mereka bersama meskipun resikonya besar? Atau tetap seperti ini demi melindungi gadis itu juga?" Tanya Aiden.
"Jawabannya ada pada Arrio. Karena apapun yang dia putuskan saat ini. Itu yang akan terjadi dan menjadi tanggung jawab Arrio sepenuhnya atas segala resiko yang akan muncul di kemudian hari." Tukas Arsen dan di angguki oleh Athens.
"Kalau kau tanya padaku. Maka jawabannya, kau harus menjelaskan semua ini dan mulai kembali seperti dulu. Tapi dengan catatan. Kau harus melindungi dia dengan kekuatan penuh dan memastikan bahwa hati Arra sudah menerima kehadiran mu sepenuhnya. Karena itu akan membuat api perlindungan mu bekerja dengan baik atas diri Arra." Jelas Athens lagi.
__ADS_1
***